Baca Juga
Kesadaran Nasional - Makalah Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan
2.2 Peran Manifesto
Politik 1925, Kongres 1928 dan Perempuan Pertama dalam Proses Pembentukan
Identitas Kebangsaan Indonesia.
- Peran Manifesto Politik 1925 dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia.
Pada tahun 1908 di
negeri Belanda berdirilah organisasi Indische Vereenlging. Organisasi ini
didirikan para mahasiswa yang belajar di negeri Belanda. Mereka itu adalah
Sutan Kasayangan Sorlpada, R.N. Noto Suroto, R.P. Sosrokartono, R. Husein
Djayadiningrat, Notodiningrat, Sumitro Kolopaking, dan dr. Apituley. Tujuan organisasi ini
adalah memajukan kepentingan-kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal
dari Indonesia, maksudnya orang-orang pribumi dan non pribumi bukan Eropa di
negeri Belanda.
Pada mulanya organisasi
ini bersifat sosial budaya, namun sejak berakhirnya Perang Dunia I perasaan
anti kolonialisme dan imperialisme tokoh-tokoh Indische Vereeniging semakin
menonjol. Mereka mengubah suasana dan semangat kegiatan organisasi ke dalam
bidang politik. Hal ini dipengaruhi oleh kedatangan tiga tokoh Indische Partij
yang dibuang Belanda yakni Dr. Cipto Mangunkusumo, R.M. Suwardi Suryaningrat,
dan E.F.E. Douwes Dekker, yang berjiwa Nasionalis.
Manifesto politik
adalah suatu pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau
suatu kelompok terhadap masalah negara. Pada masa pergerakan nasional,
Perhimpunan Indonesia mengeluarkan pernyataan politik yang berkaitan dengan
nasib dan masa depan bangsanya. Pernyataan politik ini amat penting artinya
bagi terwujudnya Indonesia merdeka yang didengar dan didukung oleh dunia
Internasional.
Konsep-konsep manifesto
politik Perhimpunan Indonesia sebenarnyatelah dimunculkan dalam Majalah Hindia
Poetra, edisi Maret 1923. Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia baru menyampaikan
manifesto politiknya secara tegas pada awal tahun 1925 yang kemudian dikenal
sebagai Manifesto Politik 1925. Indische Verreniging sejak berdirinya tahun
1908 belum pernah terjadi perubahan yang mendasar. Dengan mengikuti lajunya
perkembangan jaman, terutama dalam bidang pergerakan nasional maka organisasi
yang dibentuk di negeri Belanda juga mengalami perkembangan.
Pada tahun 1924 nama
majalah Hindia Poetra diubah menjadi Indonesia Merdeka. Kemudian tahun 1925
dipakailah nama baru organisasi Indonesische Vereeniging menjadi Perhimpunan
Indonesia (PI). Kegiatan organisasi PI ini semakintegas dalam bidang politik. Dengan bertambahnya
mahasiswa yang belajar di negeri Belanda, maka bertambah pulalah kekuatan
organisasi PI. Pada permulaan tahun 1925 dibuatlah suatu Anggaran Dasar baru
yang merupakan penegasan lebih jelas dari perjuangan PI. Pada saat itu PI di
bawah pimpinan Dr. Sukiman Wiryosanjoyo. Anggaran Dasar baru itu merupakan
manifesto politik, di dalamnya dimuat prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan
oleh gerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan.
Cita-cita Perhimpunan
Indonesia tertuang dalam 4 pokok ideologi dengan memerhatikan masalah sosial,
ekonomi dengan menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan politik yang dikembangkan
sejak tahun 1925 dirumuskan sebagai berikut :
- Kesatuan Nasional : mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit seperti yang berkaitan dengan kedaerahan, serta perlu dibentuk suatu kesatuan aksi untuk melawan Belanda untuk mentiptakan negara kebangsaan Indonesia yang merdeka dan bersatu.
- Solidaritas : terdapat perbedaan kepentingan yang sangat mendasar antara penjajah dengan yang dijajah (Belanda dengan Indonesia). Oleh karena itu haruslah mempertajam konflik antara orang kulit putih dan sawo matang tanpa melihat perbedaan antara orang Indonesia.
- Non-kooperasi : harus disadari bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, oleh karena itu hendaknya dilakukan perjuangan sendiri tanpa mengindahkan lembaga yang telah ada yang dibikin oleh Belanda seperti Dewan Perwakilan Kolonial (Volksraad).
- Swadaya : perjuangan yang dilakukan haruslah mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dengan demikian perlu dikembangkan struktur alternatif dalam kehidupan nasional, politik, sosial, ekonomi, hukum yang kuat berakar dalam masyarakat pribumi dan sejajar dengan administrasi kolonial. Dalam rangka merealisasikan keempat pikiran pokok berupa ideologi.
Dalam deklarasi
tersebut ditekankim pula pokok-pokok, seperti ide unity (kesatuan), equality
(kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Perhimpunan Indonesia berusaha
menggabungkan semua unsur tersebut sebagai satu kebulatan yang belum pernah
dikembangkan oleh organisasi-organisasi sebelumnya. Perhimpunan Indonesia
percaya bahwa semua orang Indonesia dapat menerima dan menciptakan gerakan yang
kuat dan terpadu untuk memaksakan kemerdekaan kepada pihak Belanda.
- Peran Kongres Pemuda 1928 dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia.
Sejak berdirinya Budi
Utomo (20 Mei 1908) maka muncullah organisasi organisasi pergerakan kebangsaan
di berbagal daerah. Di antaranya organisasi pemuda Tri Koro Dharmo (7 Maret1915)
yang dldlrikan di Jakarta oleh Dr. R. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman dan
Sunardi. Tujuan organisasi ini adalah mencapai Jawa-Raya dengan jalan lain
memperkokoh persatuan antara pemuda Jawa, Sunda, dan Madura. Untuk rnenghindari
perpecahan maka pada waktu kongres di Solo ditetapkan bahwa mulai tanggal 12
Juni 1918 namanya diubah menjadi Jong Java.
Jong Java bertujuan
mendidik para anggotanya supaya kelak ia dapat menyumbangkan tenaganya untuk
pembangunan Jawa-Raya dengan jalan mempererat persatuan, menambah pengetahuan
anggota, serta berusaha menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri. Dalam
perkembangannya, ternyata Jong Java juga ikut berpolitik.
Seiring dengan
berdirinya Jong Java, berdiri pula perkumpulan-perkumpulan pemuda bersifat kedaerahan,
seperti Pemuda Pasundan, Jong Sumateranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong
Ambon, dan Jong Celebes (Sulawesi). Semua organisasi kepemudaan ini
bercita-cita ke arah kemajuan Indonesia terutama memajukan budaya dan daerahnya
maslng-masing.
Dengan munculnya
perkumpulan-perkumpulan ini ternyata terdapat benih-benih yang dapat disatukan
ke arah persatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu pemuda-pemuda Indonesia
merasa, perlu membentuk suatu wadah untuk menyamakan langkah dalam mencapai
tujuan. Wadah kegiatan itulah yang dikenal dengan Kongres Pemuda yang disebut
juga dengan nama Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda yang
kemudian dikenal sebagai sebuah tonggak dalam sejarah Indonesia tidak dapat
dilepaskan dari organisasi kepemudaan seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar
Indonesia (PPPI). Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia ini yang mendapat
dukungan dari organisasi kepemudaan yang lain sepertiJong Java, Jong Sumatera
dan sebagainya dengan penuh keyakinan ingin mencapai tujuannya yaitu persatuan
Indonesia. Organisasi yang bernama Jong Indonesia yang didirikan pada Februari
1927 ini kemudian mengganti nama menjadi Pemuda Indonesia. Para anggotanya
terdiri dari murid-murid yang berasal dari AMS, RHS, dan Stovia.
Dalam perjalanannya para pemuda ini menginginkan suatu
upaya penyatuan peletakan dasar untuk kemerdekaan dengan menentang
ketidakadilan yang dialami selama masa penjajahan. Pertemuan awalnya dimulai 15
Nopember 1925 dengan membentuk panitia Kongres Pemuda Pertama yang bertugas
menyusun tujuan kongres.
- Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926) Tempat kongres di Jakarta, tujuan kongres:menanamkan semangat kerjasama antara perkumpulan pemuda di Indonesia untuk menjadi dasar bagi persatuan Indonesia.
- Kongres Pemuda II, Kongres ini berlangsung di Gedung Indonesische Club, di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta, pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Kongres ini terlaksana atas inisiatif dari PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) dan Pemuda Indonesia. Ketua kongres ini adalah Sugondo Joyopuspito.
Keputusan-keputusan
Kongres Pemuda II sebagai berikut :
- Mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda.
- Menetapkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.
- Menetapkan sang Merah Putih sebagai bendera Indonesia.
- Melebur semua organisasi pemuda menjadi satu dengan nama Indonesia Muda.
Kongres Pemuda II
berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan yang sangat penting untuk
modal perjuangan selanjutnya. Sumpah Pemuda amat berpengaruh bagi upaya
mencapai lndonesia merdeka. Partai-partai yang ada segera menyesualkan diri
dengan cita-cita pemuda. Semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang telah
menjiwai partai-partai di Indonesia itu diwujudkan dalam wadah baru bernama
Gabungan Poitik Indonesia (GAPI).
Demikian pula beberapa
perkumpulan wanita yang kemudian bergabung dalam Perikatan Perhimpunan Isteri
Indonesia, juga semua, organisasi kepanduan yang membentuk persatuan dengan
nama Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI).
Dengan Kongres Pemuda
itu identitas kebangsaan Indonesia semakin terbentuk. Identitas itu kini
berwujud: tanah air, bangsa, bahasa dan persatuan dengan nama Indonesia. Dengan
Kongres Pemuda II, rasa persatuan dan kesatuan di kalangan pemuda dan bangsa
Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini merupakan suatu keberanian dan
keuletan yang luar biasa dari pemuda kita. Walaupun di bawah tekanan senjata
polisi Kolonial Belanda, mereka tetap melaksanakan kewajiban dan pengabdian
guna memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah airnya.
Kongres Pemuda II ini
sangat penting bagi terbentuknya identitas sebagai bangsa Indonesia. Karena
pentingnya peristiwa Kongres Pemuda II bagi bangsa Indonesia, maka tanggal 28
Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda
- Peran Kongres Perempuan Pertama dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia.
Pergerakan kaum wanita
di Indonesia dirintis oleh R.A. Kartini (1879 - 1904). Perjuangan R.A.Kartini
memunculkan semangat nasionalisme bagi kaum wanita. Sebagai penerus R.A.
Kartini adalah Dewi Sartika (1884 - 1974) dari Jawa Barat. Berkat cita-cita
R.A. Kartini, muncullah gerakan-gerakan penididikan wanita di Indonesia.
Dalam perkembangannya
sejak tahun 1920 organisasi-organisasi ke-wanitaan tersebut mulai terlibat
dalam gerakan politik. Pada tanggal 22 De-sember 1928 diadakan Kongres
Perempuan I. Kongres ini diselenggarakan di Yogyakarta, dipimpin oleh R.A.
Sukanto.
Tujuan Kongres
Perempuan I adalah sebagai berikut :
- Mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan kaum wanita.
- Menyatukan organisasi-organisasi wanita yang beraneka ragam.
Kongres Perempuan I
membicarakan masalah persatuan di kalangan wanita, masalah wanita dalam
keluarga, masalah poligami dan perceraian serta sikap yangharus diambil
terhadap kolonialisme Belanda. Keputusan terpenting dalam kongres tersebut adalah mendirikan gabungan
perkumpulan wanita yang disebut Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI).
Pada tahun 1929
Perserikatan Perempuan Indonesia berganti nama menjadi Perserikatan Perhimpunan
Istri Indonesia (PPII). Kongres Perempuan I besar pengaruhnya dalam perjuangan
bangsa Indonesia dalam membentuk identitas kebangsaan sebagai berikut :
- Kongres Perempuan I merupakan kebangkitan kesadaran nasional di kalangan wanita. Di samping berperan penting dalam keluarga atau masyarakat, wanita juga berperan penting dalam perjuangan mencapai kemerdekaan bangsa dan negara.
- Kongres Perempuan I membuka kesadaran kaum wanita untuk ikut berjuang dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, sosial, ekonomi, politik dan lain-lain.
Dengan pentingnya
peristiwa Kongres Perempuan I tersebut maka tanggal 22 Desember ditetapkan
sebagai Hari Ibu. Peran generasi muda maupun perempuan di masa perjuangan
sampai di zaman kemerdekaan ini sangat penting. Mereka menjadi penggerak
perubahan dan pembaharuan. Hal itu sudah diawali dengan adanya kegiatan Kongres
Pemuda 1928 maupun Kongres Perempuan I 1928.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari apa yang telah dipaparkan oleh penulis, dapat
disimpulkan bahwa:
- Pergerakan nasional Indonesia muncul akibat kesatuan nasib yang ingin merdeka dan penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan Belanda.
- Organisasi-organisasi pergerakan nasional muncul karena keinginan untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia.
- Kemerdekaan yang dicapai Indonesia saat ini tidak lepas dari perjuangan para tokoh ataupun organisasi-orgnisasi yang meluangkan semua pikiran dan tenaganya demi sebuah kemerdekaan Indonesia.
Sumber : Nunung Asmahani.
Editor : Admin Coretan Mahasiswa.