Baca Juga
Setiap
individu memiliki tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan system nilai yang
berlaku pada dirinya. Semakin tinggi penilaian terhadap kegiatan dirasakan
sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinngi pula kepuasan terhadap
kegiatan tersebut. Dengan demikian kepuasan kerja merupakan gambaran evaluasi
seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas atau tidak puas
dalam bekerja. Beberapa teori mengenai kepuasan kerja yang telah cukup dikenal
antara lain sebagai berikut :
Teori
ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara sesuatu
yang seharusnya terjadi dengan kenyataan yang dirasakan karyawan. discrepancy positif terjadi apabila yang
diperoleh karyawan lebih besar (tinggi) dari pada yang vseharusnya sehingga
memberikan kepuasan yang lebih besar pada karyawan tersebut, sedangkan discrepancy negatif jika terjadi
sebaliknya.
2. Teori Keadilan
(equity theory)
Teori
ini mengatakan bahwa kepuasan tergantung dari ada atau tidaknya keadilan di
dalam bekerja. Berdasarkan teori ini kepuasan dipengaruhi oleh input
(sesuatu yang mendukung pekerjaan seperti pendidikan, pengalaman, kecakapan,
beban kerja dan sabaginya) vs output (sesuatu yang dianggap bernilai
yang diterima karyawan seperti gaji dan kompensasi finansial lainnya,
penghargaan, promosi, dan sebagainya). Karyawan akan selalu membandingkan rasio
input-output dirinya dengan rasio input-output orang lain. Bila perbandingan
ini seimbang berarti telah terjadi keadilan dan jika terjadi sebaliknya berarti
terjadi ketidakadilan.
3. Teori dua faktor (two factor theory)
Teori
ini menggap kepuasan kerja dan ketidakpuasan sebagai hal yang berbeda dan
mengelompokkan karakteristik pekerjaan menjadi dua yaitu satisfies (Motivator) dan
dissatisfies.
Kelompok satisfies merupakan faktor –
faktor atau situasi yang dibutuhkan sebagai sumber kepuasan kerja seperti :
pekerjaan yang menarik; penuh tantangan; kesempatan berprestasi; kesempatan
memperoleh penghargaan dan promosi. Terpenuhinya faktor – faktor tersebut akan
menimbulkan kepuasan, tetapi jika tidak terpenuhi tidak selalu menimbulkan
ketidakpuasan. Kelompok dissatisfies
merupakan faktor-faktor yang menjadi sumber ketidakpuasan seperti gaji/upah,
pengawasan, hubungan antarpribadi, kondisi kerja dan status. Jika faktor –
faktor ini tidak terpenuhi, karyawan akan merasa tidak puas tetapi jika
besarnya faktor ini memadai untuk memenuhi kebutuhannya karyawan tidak akan
kecewa walaupun belum terpuasakan.
Apakah
perusahaan telah mampu memberikan kepuasan kepada karyawannya atau apakah
perusahaan menjadikan kepuasan karyawan sebagai bagian strategi untuk mencapai
keunggulan bersaing? Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal sebagai indikator kepuasan
kerja karyawan seperti tingkat absensi dan perputaran karyawan yang rendah
motivasi serta loyalitas karyawan yang tinggi, kecelakaan kerja yang rendah
produktivitas karyawan tinggi dan beberapa faktor yang menyebabkan kepuasan
kerja. Faktor – faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Tempat
bekerja yang tepat
b. Pembayaran
yang sesuai
c. Organisasi
dan manajemen
d. Supervise
yang tepat
e. Pekerjaan
yang tepat.
Untuk menilai apakah karyawan telah mendapatkan
kepuasan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, perlu dilakukan
pengukuran terhadap kepuasan kerja karyawan tersebut di samping itu, pengukuran
kepuasan kerja karyawan juga bermanfaat untuk memetakan faktor – faktor yang menjadi
penyebab ketidakpuasan karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal ini
penting karena dengan identifikasi permasalahan, dapat dirancang program
berikutnya untuk meminimalkan pengaruh negatif dari penyebab ketidakpuasan
tersebut.
Sumber : Bayangkara,
IBK. 2017. “Audit Manajemen Prosedur dan
Implementasi.Edisi 2.” Jakarta:Salemba Empat.
Editor : Admin Coretan Mahasiswa
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas