BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Allah SWT sebagai pencipta telah menciptakan langit
dan bumi, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Salah satu ciptaan
Allah itu adalah manusia, yang diberi keistimewaan berupa kemampuan berpikir
yang melebihi jenis makhluk lain yang sama-sama menjadi penghuni bumi.
Kemampuan berpikir itulah yang diperintahkan Allah agar dipergunakan untuk
mendalami wujud atau hakikat dirinya dan tidak semata-mata dipegunakan untuk
memikirkan segala sesuatu di luar dirinya.
Demikianlah kenyataannya bahwa manusia tidak pernah
berhenti berpikir, kecuali dalam keadaan tidur atau sedang berada dalam situasi
diluar kesadaran. Manusia berpikir tentang segala sesuatu yang tampak atau
dapat ditangkap oleh pancaindera bahkan yang abstrak sekalipun. Dari sejarah
kehidupan manusia ternyata tidak sedikit usaha manusia dalam memikirkan wujud
atau hakikat dirinya, meskipun sebenarnya masih lebih banyak yang tidak menaruh
perhatian untuk memikirkannya. Dalam firman Allah surat Ar-Rum ayat 30
mengandung perintah agar manusia dalam mempergunakan pikirannya selalu
dilandaskan pada iman yang terarah lurus pada agama Allah SWT. Demikian pula dalam
berpikir fundamental tentang hakekat atau wujud dirinya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Hakekat Manusia menurut Islam ?
1.2.2 Bagaimana Konsep Manusia dalam Islam ?
1.2.3 Bagaimana Martabat Manusia dalam Islam ?
1.2.4 Bagaimana Eksistentensi Manusia dalam
pandangan Islam ?
1.2.5 Bagaimana Tanggung Jawab Manusia dalam
pandangan Islam ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
Hakekat Manusia menurut Islam.
1.3.2 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami Konsep
Manusia dalam Islam.
1.3.3 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
Martabat Manusia dalam Islam.
1.3.4 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
Eksistensi Manusia dalam pandangan Islam.
1.3.5 Mahasiswa Dapat Mengetahui Tanggung Jawab
Manusia dalam Pandangan Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Manusia Menurut Islam
Penciptaan manusia terdiri dari bentuk jasmani yang
bersifat kongkrit, juga disertai pemberian sebagian Ruh ciptaan Allah SWT yang
bersifat abstrak. Manusia dicirikan oleh kemampuan mengasihi dan ketulusan,
bukan sekedar refles-refleks egoistis. Sedangkan, binatang, tidak mengetahui
apa-apa diluar dunia inderawi, meskipun barangkali memiliki kepekaan tentang
yang sakral.
Manusia perlu mengenali hakekat dirinya, agar akal
yang digunakannya untuk menguasai alam dan jagad raya yang maha luas
dikendalikan oleh iman, sehingga mampu mengenali ke-Maha Pekasaan Allah dalam
mencipta dan mengendalikan kehidupan ciptaan-Nya. Dalam memahami ayat-ayat
Allah dalam kesadaran akan hakekat dirinya, manusia menjadi mampu memberi arti
dan makna hidupnya, yang harus diisi dengan patuh dan taat pada
perintah-perintah dan berusaha menjauhi larangan-larangan Allah. Berikut adalah
hakekat manusia menurut pandangan Islam:
1.
Manusia
adalah Makhluk Ciptaan Allah SWT
Hakikat
pertama ini berlaku umum bagi seluruh jagat raya dan isinya yang bersifat baru,
sebagai ciptaan Allah SWT di luar alam yang disebut akhirat. Alam ciptaan
meupakan alam nyata yang konkrit, sedang alam akhirat merupakan ciptaan yang
ghaib, kecuali Allah SWT yang bersifat ghaib bukan ciptaan, yang sendiri adanya.
Firman Allah SWT mengenai penciptaan manusia dalam Q.S. Al-Hajj ayat 5 yang
artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes air mani menjadi segumpal darah, menjadi segumpal daging yang diberi
bentuk dan yang tidak berbentuk, untuk Kami perlihatkan kekuasaan Tuhanmu.”
Firman tersebut menjelaskan pada manusia tentang
asal muasal dirinya, bahwa hanya manusia pertama Nabi Adam AS yang diciptakan
langsung dari tanah, sedang istrinya diciptakan dari satu bagian tubuh
suaminya. Setelah itu semua manusia berikutnya diciptakan melalui
perantaraan seorang ibu dan dari seorang ayah, yang dimulai dari setetes air
mani yang dipertemukan dengan sel telur di dalam rahim.
Hakikat pertama ini berlaku pada umumnya manusia di seluruh jagad raya
sebagai ciptaan Allah diluar alam yang disebut akhirat. Alam ciptaan merupakan
alam nyata yang konkrit sedangkan alam akhirat merupakan ciptaan yang ghaib
kecuali Allah yang bersifat ghaib bukan ciptaan yang ada karena dirinya sendiri.
2.
Individual dan Makhluk Sosial
Kemanunggalan tubuh dan jiwa yang diciptakan Allah
SWT , merupakan satu diri individu yang berbeda dengan yang lain. Setiap
manusia dari individu memiliki jati diri masing-masing. Jati diri tersebut
merupakan aspek dari fisik dan psikis di dalam kesatuan. Setiap individu
mengalami perkembangan dan berusah untuk mengenali jati dirinya sehingga
mereka menyadari bahwa jati diri mereka berbeda dengan yang lain. Firman
Allah dalam Q.S. Al-A’raf 189 yang artinya:
“Dialah yang menciptakanmu dari satu diri”
Firman tersebut jelas menyatakan bahwa sebagai satu diri (individu) dalam
merealisasikan dirinya melalui kehidupan, ternyata diantaranya terdapat manusia
yang mampu mensyukurinya dan menjadi beriman.
Di dalam sabda Rasulullah SAW menjelaskan petunjuk tentang cara mewujudkan
sosialitas yang diridhoi-Nya, diantara hadist tersebut mengatakan:
“Seorang dari kamu tidak beriman sebelum mencintai kawannya seperti
mencintai dirinya sendiri” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
“Senyummu kepada kawan adalah sedekah” (Diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban dan Baihaqi)
Kebersamaan (sosialitas) hanya akan terwujud jika
dalam keterhubungan itu manusia mampu saling menempatkan sebagai subyek, untuk
memungkinkannya menjalin hubungan manusiawi yang efektif, sebagai hubungan yang
disukai dan diridhai Allah SWT. Selain itu manusia merupakan suatu kaum
(masyarakat) dalam menjalani hidup bersama dan berhadapan dengan kaum (masyarakat)
yang lain. Manusia dalam perspektif agama Islam juga harus menyadari bahwa
pemeluk agama Islam adalah bersaudara satu dengan yang lain.
3.
Manusia
merupakan
Makhluk yang
Terbatas
Manusia memiliki kebebasan dalam mewujudkan diri
(self realization), baik sebagai individu maupun
sebagai makhluk sosial, ternyata tidak dapat melepaskan diri dari berbagai
keterikatan yang membatasinya. Keterikatan atau keterbatasan itu merupakan
hakikat manusia yang melekat dan dibawa sejak manusia diciptakan Allah SWT.
Keterbatasan itu berbentuk tuntutan memikul tanggung jawab yang lebih berat
daripada makhluk-makhluk lainnya. Tanggung jawab yang paling asasi sudah
dipikulkan ke pundak manusia pada saat berada dalam proses penciptaan setiap
anak cucu Adam berupa janji atau kesaksian akan menjalani hidup di dalam fitrah
beragama tauhid. Firman Allah Q.S. Al-A’raf ayat 172 yang artinya sebagai
berikut:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian jiwa mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul
Engkau Tuhan kami dan kami bersaksi.”
Kesaksian tersebut merupakan sumpah yang mengikat
atau membatasi manusia sebagai individu bahwa didalam kehidupannya tidak akan
menyembah selain Allah SWT. Bersaksi akan menjadi manusia yang bertaqwa pada
Allah SWT. Manusia tidak bebas menyembah sesuatu selain Allah SWT, yang sebagai
perbuatan syirik dan kufur hanya akan mengantarkannya menjadi makhluk yang
terkutuk dan dimurkaiNya.
B.
Konsep Manusia menurut Islam
Manusia diciptakan tentu memiliki tujuan. Bagi umat
islam konsep manusia adalah dilihat dari bagaimana maksud atau tujuan Allah
menciptakan manusia dalam kehidupan
ini. Sebagian umat lain menganggap bahwa manusia tercipta sendirinya dan
melakukan hidup dengan apapun yang mereka inginkan, sebebas-bebasnya. Dalam
ilmu
pendidikan islam, yang berbicara mengenai konsep manusia tentunya
tidak didefinisikan seperti itu.
Konsep manusia dalam berbagai aspek,yaitu :
A) Historis
: Bani Adam (Al-A’raf 31)
B) Biologis
: Basyar (Ar-Rum 20)
C) Intelektual
: Insan (At-Tin 4)
D) Sosiologis
: Naas (Al-Hujarat 13)
E) Posisional
: Abd(Saba’ 9)
F) Khalifah
(Al-Baqarah 30)
1. Tahapan Penciptaan Manusia
Allah
(SWT) berfirman dalam surat As-Sajdah, (Ayat 7-9), tentang asal-usul manusia,
"Dia orang yang unggul dalam segala sesuatu yang Dia ciptakan, dan Dia
mulai menciptakan manusia dari tanah liat dan keturunan manusia kemudian dibuat
dari cairan berharga, kemudian Dia membuatnya dan ditiupkan ke dalam dirinya
dari jiwanya, dan dibuat untuk Anda pendengaran, penglihatan, dan hati, dan
berkat kecil yang Anda memberi. "
2. Manusia adalah Makhluk Terhormat
Allah (SWT) berfirman dalam
surat Al-Isra (Ayat 70),yang artinya :
"Kami telah menghormati anak-anak Adam dan membawa mereka di bumi
dan di laut dan memberikan kepada mereka rezeki yang baik. Dan kita membuat
mereka lebih baik daripada banyak dari apa yang kita buat. "
Kemudian Allah SWT menjelaskan
bahwa Dia membuat seluruh alam semesta untuk melayani manusia. Dia mengatakan
dalam surat Al-Luqman (Ayat 20),yang rtinya :
"Apakah Anda tidak melihat bahwa Allah disediakan bagi Anda apa yang
di langit dan di bumi dan membanjiri Anda dengan banyak berkat dikenal dan
tidak dikenal."
3. Manusia Memiliki Kemampuan Mengetahui dan Memilih Antara Baik dan Buruk
Allah (SWT) berfirman dalam
surat Ash-Syams (Ayat 7-10 ),yang artinya :
"Dan
dengan Nafs (jiwa), dan Allah yang sempurna dia dalam proporsi; Kemudian Dia
mengilhami dia korupsi dan kebenaran nya. Memang ia berhasil yang memilih untuk
memurnikan diri sendiri-Nya. Dan memang ia gagal yang merusak diri sendiri nya
"
4. Manusia Dapat Memperoleh Pengetahuan
Allah (SWT) berfirman dalam
surat Al-Alaq (Ayat 3-5),yang artinya :
"Bacalah dan Tuhan Anda adalah yang paling murah hati, Orang yang
mengajar dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak tahu” .
Allah (SWT) memberikan
keistimewaan pada manusia,Allah SWT berfirman dalam surat Al-Araf (Ayat
179),yang artinya :
"Mereka memiliki hati yang
mereka tidak mengerti, mereka memiliki mata yang dengannya mereka tidak
melihat, dan mereka memiliki telinga yang mereka tidak mendengar, mereka
seperti binatang dan bahkan lebih buruk, mereka adalah pelupa atau lalai
".
5. Manusia Bertanggung Jawab Atas Perbuatannya
Allah (SWT) berfirman dalam surat
Az-Zalzalah (Ayat 7-8),artinya :
"Dan
barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan
melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat
zarahpun, niscahya dia akan (melihat) balasannya"
NabiMuhammad (SAW) mengatakan
dalam sebuah hadits otentik yang dilaporkan oleh Imam At-Tirmidzi," Para
hamba Allah akan ditanya tentang empat hal pada hari kiamat: sekitar hidupnya
dan apa yang ia lakukan dengan itu. Dan tentang pengetahuan dan apa yang ia
lakukan dengan itu.nDan tentang uangnya? Dari mana dia mendapatkannya dan di
mana ia menghabiskan itu? Dan tentang tubuhnya bagaimana ia menggunakannya.?
"
C. Martabat Manusia dalam Islam
Martabat saling berkaitan
dengan maqam, maksudnya adalah secara dasarnya maqam merupakan tingkatan
martabat seseorang hamba terhadap khalik-Nya, yang juga merupakan sesuatu
keadaan tingkatannya seseorang sufi dihadapan Tuhannya pada saat dalam
perjalanan spiritual dalam beribadah kepada Allah SWT. Maqam ini terdiri dari
beberapa tingkat atau tahapan seseorang dalam hasil ibadahnya yang di wujudkan
dengan pelaksanaan dzikir pada tingkatan maqam tersebut, secara umum dalam thariqat naqsyabandi tingkatan maqam ini
jumlahnya ada 7 (tujuh), yang di kenal juga dengan nama martabat tujuh,
seseorang hamba yang menempuh perjalanan dzikir ini biasanya melalui bimbingan
dari seseorang yang alim yang paham akan isi dari maqam ini setiap tingkatnya, seseorang hamba tidak
di benarkan sembarangan menggunakan tahapan maqam ini sebelum menyelesaikan
atau ada hasilnya pada riyadhan dzikir pada setiap maqam, ia harus ada mendapat
hasil dari amalan pada maqam tersebut. Adapun 7 amalan dzikir pada maqam,dapat
di uraikan dengan beberapa sifat maqam, yaitu :
1)
Taubat
2)
Zuhud ( rendah diri )
3)
Sabar
4)
Syukur
5)
Khauf ( takut )
6)
Raja’ ( harap )
7)
Tawakkal
D. Eksistensi
Manusia Menurut Islam
1. Eksistensi manusia dalam perspektif
Al-Quran adalah merupakan perpaduan antara unsur jasmani dan unsur rohani atau
antara unsur materi dan unsur immateri, yaitu perpaduan antara badan (sebagai
unsur materi), akal dan ruh (sebagai unsur immateri). Unsur-unsur tersebut
mewujud dalam diri manusia dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisah-pisahkan.
2. Menurut perspektif Q.S. Al-Baqarah : 30
- 33, manusia sejak saat penciptaannya telah dibekali oleh Allah berupa potensi
"berpengetahuan". Potensi ilmu atau pengetahuan inilah yang kemudian
membedakan manusia dari makhluk yang lain. Karena potensi ini pula ia menjadi
makhluk yamg mulia dan memiliki nilai lebih sehingga ia diangkat menjadi
khalifah di muka bumi.
3. Kemampuan mengetahui yang ada pada
manusia adalah karena manusia dikaruniai akal oleh Allah. Akal dalam Al-Quran
juga bisa diterjemahkan dengan hati. Akal dalam konteks sebagai alat untuk
berfikir berfungsi untuk menangkap hal-hal yang fenomenal. Sementara akal dalam
konteks sebagai hati berguna untuk menangkap hal-hal yang nomenal, yaitu yang
tidak bisa dirasionalkan.
4. Dalam perspektif pendidikan, Q.S.
Al-Baqarah : 30 - 33 memberikan gambaran bahwa manusia adalah makhluk
paedagogik yaitu makhluk yang mempunyai potensi untuk dididik dan mendidik. Dalam
konteks ayat ini disimbolkan dengan pengajaran Allah kepada Adam tentang
nama-nama benda seluruhnya.
Dengan
demikian pendidikan merupakan suatu proses yang niscaya bagi manusia dalam
rangka untuk membimbing dan mengarahkan serta mengaktualisasikan potensi yang
ada pada diri manusia.
5. Bertitik tolak dari cara pandang di
atas, maka Pendidikan Islam harus didasarkan pada cara pandang Al-Quran
terhadap manusia yang secara eksistensial merupakan satu kesatuan yang utuh
antara badan (sebagai unsur materi), akal dan ruh (sebagai unsur Immateri).
6. Nilai pendidikan Islam terletak pada
keseimbangan antara aspek pemikiran dan perasaan atau antara pikir dan dzikir.
Maka pendidikan Islam harus dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara
pendidikan aqliyah dan qalbiyah. Pemisahan antara kedua aspek ini dalam proses
pendidikan akan menyebabkan manusia kehilangan keseimbangannya, sehingga ia
tidak akan pernah menjadi manusia utuh dan sempurna.
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan
Tuhan, sebagai khalifah-Nya di muka bumi,yaitu tugas kepemimpinan,wakil Allah
di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam. Agar manusia dapat
menjalankan kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepada manusia
kebenaran dalam segala ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep-konsep serta
melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.
Disamping peran manusia sebagai khalifah di muka bumi
yang memiliki kebebasan, ia juga sebagai hamba Allah (Abdullah). Seorang
hamba Allah harus ta’at dan patuh kepada perintah Allah. Kekuasaan manusia
sebagai khalifah Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang
telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang
tertulis dalam kitab suci al-Qur’an, maupun yang tersirat dalam kandungan alam
semesta ( Al-Kaun ). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili
adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati
kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawabannya
terhadap penggunaan kewenangannya dihadapan yang diwakilinya, sebagaimana
firman Allah dalam Al-Quran Q.S Fathir (35): 39, yang artinya :
“Dialah yang menjadikan kamu
khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya
menimpa dirinya sendiri.
Makna yang esensial dari kata ’abd (hamba) adalah
ketaatan, ketundukan dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan manusia
hanya layak diberikan kepada Allah yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan
dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan.
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan sangat
tergantung pada kualitas komunikasinya dengan Allah dan kualitas interaksi
sosialnya dengan sesama manusia melalui muamalah.
E. Tanggungjawab Manusia
1. Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah
Hakikat
kehambaan kepada Allah adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan.
“Hanya Allah-lah yang disembah dan hanya
kepada allah-lah manusia memohon pertolongan” (Q.S, Al-Fathihah:5).
Beribadah kepada Allah merupakan prinsip hidup yang paling hakiki bagi orang
islam, sehingga perilakunya sehari-hari senantiasa mencerminkan pengabdian itu
diatas segala-galanya.
2. Tanggung jawab Manusia sebagai Khalifah Allah
Tuhan
telah menyampaikan kepada malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah(wakil)
dimuka bumi yaitu manusia yang tugasnya adalah mengurus bumi dan seluruh
isinya, dan memakmurkannya sebagai amanah dari Allah. Sebagai penguasa dibumi,
manusia berkewajiban membudayakan alam semesta ini guna menyiapkan kehidupan
yang bahagia dan sejahtera.
M.
Quraish Shihab mengemukakan beberapa potensi tersebut yang diberikan Allah
kepada manusia sehubungan dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah dibumi:
1. Kemampuan untuk mengetahui sifat,
fungsi dan kegunaan segala macam benda. Melalui potensi ini manusia dapat
menemukan hukum dasar alam semesta, menyusun konsep, mencipta, mengembangkan
dan mengemukakan gagasan untuk melaksanakanya serta memiliki pandangan
menyeluruh terhadapnya.
2. Pengalaman selama berada di surga,
baik yang manis seperti kedamaian dan kesejahteraan maupun yang pahit seperti
keluarnya adam dan hawa dari surga akibat terbujuk oleh rayuan syaitan.
Pengalaman ini amat berharga dalam menghadapi rayuan syaitan didunia,
sekaligus peringatan bahwa jangankan yang belum masuk sorga, yang sudah masuk
surgapun, bila mengikuti rayuan syaitanpun akan diusir dari surga.
3. Tuhan telah menakhlukan dan
memudahkan alam semesta ini untuk diolah oleh manusia. Penakhlukan yang tidak
mungkin dilakukan oleh manusia sendiri, melainkan hanya oleh Allah. Dengan
demikian , manusia dan seluruh isi dialam semesta ini memiliki kedudukan
yang sama dari segi ketundukan (penghambaan diri) kepada Allah.
4. Tuhan memberikan petunjuk kepada
manusia selama masih dibumi.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Berdasarkan
berbagai aspek yang telah kami bahas, maka dapat kami menyimpulkan bahwa manusia adalah
makhluk ciptaan Allah SWT yang istimewa,karena dikaruniai akal dan perasaan. Selain itu, manusia diciptakan Allah SWT dalam bentuk yang
paling baik dan ciptaan Allah yang paling sempurna.
A.
Hakekat manusia menurut islam,yaitu :
1.
Manusia
adalah Makhluk Ciptaan Allah SWT
2.
Individual dan Makhluk Sosial
3.
Manusia
merupakan
Makhluk Yang Terbatas
B.
Konsep Manusia menurut Islam,yaitu :
1.
Tahapan Penciptaan Manusia
2.
Manusia adalah Makhluk
Terhormat
3.
Manusia Memiliki Kemampuan Mengetahui
dan Memilih Antara Baik dan Buruk
4.
Manusia Dapat Memperoleh
Pengetahuan
5.
Manusia Bertanggung Jawab Atas
Perbuatannya
C. Martabat Manusia dalam Islam
Adapun 7 amalan dzikir pada maqam,dapat di uraikan dengan beberapa sifat
maqam, yaitu :
1)
Taubat
2)
Zuhud ( rendah diri )
3)
Sabar
4)
Syukur
5)
Khauf ( takut )
6)
Raja’ ( harap )
7)
Tawakkal
D.
Eksistensi Manusia Menurut
Islam
1.
Eksistensi manusia dalam perspektif
Al-Quran adalah merupakan perpaduan antara unsur jasmani dan unsur rohani atau
antara unsur materi dan unsur immateri.
2.
Menurut perspektif Q.S. Al-Baqarah :
30 - 33, manusia sejak saat penciptaannya telah dibekali oleh Allah berupa
potensi "berpengetahuan".
3.
Kemampuan mengetahui yang ada pada
manusia adalah karena manusia dikaruniai akal oleh ALLAH.
4.
Dalam perspektif pendidikan, Q.S.
Al-Baqarah : 30 - 33 memberikan gambaran bahwa manusia adalah makhluk
paedagogik.
5.
Bertitik tolak dari cara pandang di
atas, maka Pendidikan Islam harus didasarkan pada cara pandang Al-Quran
terhadap manusia.
6.
Nilai pendidikan Islam terletak pada
keseimbangan antara aspek pemikiran dan perasaan atau antara pikir dan dzikir.
E. Tanggung jawab Manusia,dibagi sebagai berikut :
1.
Tanggung jawab manusia sebagai hamba
Allah
2.
Tanggung
jawab Manusia sebagai Khalifah Allah
DAFTAR PUSTAKA
http://arikathemousleemah.blogspot.co.id/2013/11/hakikat-dan-martabat-manusia-menurut.html
http://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/ekonomi-makro/kelebihan-dan-kekurangan-ekonomi-campuran
Sumber : Anggraini
Editor : Admin Coretan Mahasiswa