Baca Juga
Pemasaran Jasa
Bab
I
Klasifikasi
dan Karakteristik Jasa
Deskripsi
Usaha:
Tour and Travel Organizer merupakan usaha jasa yang memberi
jasa berupa pelayanan tour dan travel domestik. Usaha ini bergerak di bidang
pariwisata. Pelayanan yang diberikan kepada konsumen dapat disesuaikan dengan
paket dan fasilitas yang diinginkan konsumen. Fasilitas yang diberikan kepada
konsumen antara lain akomodasi kendaraan (bus, minibus, pesawat terbang),
reservasi hotel, reservasi rumah makan/restoran/catering, tiket masuk tempat
wisata, tour leader dan tour guide serta fasilitas lainnya sesuai keinginan
konsumen. Usaha ini melayani tour ke beberapa tujuan seperti wisata pulau jawa,
bali, lombok dan wisata religi/ziarah.
Tujuan dari tour and travel organizer ini adalah memberi
kemudahan kepada konsumen yang ingin berwisata, sehingga tidak perlu susah dan
repot untuk mengatur dan memesan akomodasi serta keperluan lainnya pada saat
berwisata.
Klasifikasi Jasa:
- Usaha tour and travel organizer ini termasuk kedalam klasifikasi Jasa utama yang didukung dengan barang minor. Penawaran jasa utamanya adalah konsumen yang ingin berwisata akan mendapat pelayanan dari pihak travel sesuai paket yang dipilih atau diinginkan. Jasa/ barang minor tambahan sebagai pelengkapnya adalah selama perjalanan, konsumen akan mendapat snack, soft drink/air mineral, tanda pengenal, kaos peserta, dll.
- Berdasarkan tingkat kontak konsumen, usaha jasa ini termasuk kedalam klasifikasi High Contact System. Karena pada saat perjalanan wisata, konsumenlah yang ikut serta secara langsung dalam kegiatan tour yang sedang dilakukan. Konsumen berinteraksi secara langsung dengan tour leader dan tour guide yang menemani selama perjalanan.
- Berdasarkan kesamaannya dengan operasi manufaktur, usaha jasa ini dikategorigan sebagai produk jasa Pure Service karena tour and travel organizer memberikan pelayanan jasanya pada saat konsumen datang atau ada.
Karakteristik Jasa
- Karakteristik dari usaha jasa salon mobil ini adalah Intangibility. Dalam hal ini konsumen tidak bisa merasakan, mendengan atau mencium sebelum kegiatan tour dilaksanakan. Setelah tour dilaksanakan barulah konsumen bisa merasakan fasilitas sesuai dengan keinginan mereka.
- Karakteristik yang kedua adalah Heterogeinity. Termasuk dalam karakteristik ini karena usaha ini sangat bergantung pada sumber daya manusia yang dimiliki. Tour leader dan tour guide yang disediakan untuk membantu perjalanan sangat berperan penting dalam kelancaran serta kenyamanan konsumen, kerna mereka berinteraksi langsung dengan konsumen.
- Karakteristik yang ketiga adalah Lack of Ownership. Pada jasa ini tidak terjadi pemindahan kepemilikan kepada konsumen. berbagai akomodasi yang telah disiapkan hanya bisa dinikmati konsumen saat berwisata.
Bab
2
Pemasaran
Relational dalam Pemasaran Jasa
Bentuk-bentuk
relationship marketing yang dilakukan oleh usaha tour dan travel organizer ini
antara lain :
- Hubungan dengan Pelanggan (Customer Relationship)
Tujuan dari pemasaran relational adalah menciptakan hubungan
yang kuat dan bertahan lama dengan kelompok pelanggan. Dalam usaha ini,
pelanggan merupakan aspek utama, karena pelanggan yang menggunakan jasa tour
organizer tentunya orang-orang yang ingin merasakan kenyamanan dan kebahagiaan
saat berwisata. Untuk itu hubungan pelanggan harus diutamakan, mulai dari
pelayanan pada saat menawarkan paket, fasilitas dan harga, kemudian pelayanan
yang maksimal pada saat pelaksanaan tour dan pelayanan setelah tour berlangsung
agar pelanggan tetap menggunakan jasa ini secara berulang.
- Kemitraan dengan pemasok (supplier relationship).
Pemasok dalam hal ini dapat
dicontohkan ketika kami melaksanakan progrram tour wisata, kami membutuhkan snack
(roti,dll), soft drink/air mineral. Untuk itu kami bermitra dengan toko
kue/roti serta toko minuman untuk memasok kebutuhan selama tour.
- Kemitraan antar perusahaan (lateral partnership).
Kemitraan
antar perusahaan yang dibangun dalam hal ini antara lain kemitraan dengan
penyedia angkutan seperti bus wisata, agen tiket pesawat terbang, pemilik
hotel, pemilik rumah makan /catering serta dengan sesama tour organizer lainnya
untuk memudahkan dalam pelaksanaan program tour.
- Hubungan dengan lembaga penyedia asuransi.
Hubungan dengan lembaga penyedia
asuransi dibutuhkan karena pada saat membawa group tour, beberapa resiko
mungkin terjadi seperti kecelakaan, bencana atau hal-hal yang tidak diinginkan
lainnya. Untuk itu setiap peserta diberikan asuransi yang digunakan selama tour
berlangsung.
Bab
III
Perumusan
Strategi Perusahaan Jasa
- Visi
Visi
merupakan keinginan perusahaan yang bersifat ideal yang dirumuskan secara
seksama, yang menentukan arah atau keadaan masa depan.
Visi
: Menjadi perusahaan tour and travel organizer yang terdepan dengan standart
pelayanan terbaik.
- Misi
Misi
perusahaan merupakan perwujidan dari visi perusahaan. Keduanya merupakan acuan
utama dari segala perubahan yang terjadi dalam perusahaan.
Misi
: Memberikan layanan pariwisata terbaik dengan harga sesuai keinginan konsumen
dan menyediakan fasilitas yang istimewa.
- Analisis SWOT
Analisis
SWOT adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths),
kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threats) dalam suatu
proyek atau spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang
spesifik dari bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan
eksternal yang mendukung. Analisis SWOT juga merupakan salah satu model analisis
lingkungan perusahaan yang berfungsi untuk menjelaskan pertanyaan dimana posisi
perusahaan sekarang, serta menjelaskan strategi apa yang nanti cocok digunakan
oleh perusahaan.
Berikut
adalah analisis SWOT dari usaha jasa Tour and Travel Organizer :
1.Kekuatan
(strenghts)
Kekuatan
adalah suatu kunci bagi perusahaan untuk bertahan didalam persaingan dengan
perusahaan lain. Dengan demikian akan berdampak pada suatu keunggulan bagi
perusahaan itu sendiri.Kekuatan dari usaha jasa Tour and Travel Organizer
sebagai berikut :
- Yang menjadi kekuatan jasa tour and travel organizer ini adalah usaha tersebut mengutamakan kebebasan dan kemudahan konsumen dalam menentukan tujuan, fasilitas, akomodasi serta harga yang diinginkan oleh konsumen itu sendiri dan kami menyediakan keseluruhan yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen.
2.Kelemahan (weakness)
Kelemahan adalah faktor internal yang dimiliki oleh
perusahaan merupakan suatu keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber daya
manusia, kemampuan, keterampilan serta yang menjadi penghalang serius bagi
kinerja organisasi atau perusahaan.Kelemahan dari usaha jasa tour and travel
organizer sebagai berikut :
- Kurangnya jumlah sumber daya manusia ketika kami akan membawa group dengan jumlah banyak (ratusan orang dengan lebih dari 5 bus).
- Kelemahan yang kedua adalah ketika menerima order dari konsumen dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan pelaksanaan, terkadang kesulitan untuk mendapatkan akomodasi yang masih tersedia untuk tanggal yang sudah ditentukan tersebut.
3.Peluang (opportunity)
Peluang
adalah berbagai faktor situasi lingkungan luar perusahaan yang menguntungkan
bagi kegiatan perusahaan.Peluang yang dimiliki usaha jasa tour and travel
organizer sebagai berikut :
- Peluang dari usaha ini didapat dari melihat lokasi usaha yang berada di sekitar berbagai instansi (kantor, sekolah, pemerintahan) yang setiap periode tertentu mengadakan program tour bagi civitas instansi mereka.
- Banyaknya destinasi wisata baru di berbagai kota yang menjadikan daya tarik bagi konsumen untuk mengunjunginya, sehingga konsumen membutuhkan jasa tour organizer untuk mengantar mereka ke tempat tersebut.
4.Ancaman (Threats)
Ancaman
merupakan suatu kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan bagi suatu bisnis
perusahaan. Ancaman yang dimiliki usaha jasa tour and travel organizer :
- Kondisi jalan atau cuaca yang kurang baik seperti macet pada jalur darat, delay penerbangan pada jalur udara dan cuaca buruk pada penyeberangan kapal menjadikan ancaman bagi lancarnya program tour karena waktu yang molor dari estimasi yang sudah ada.
- Banyaknya pesaing dan oknum yang merusak harga pasar sehingga para konsumen tergiur dengan harga yang murah dan pada akhirnya tidak mendapat fasilitas yang layak.
- Tidak menentunya harga tiket pesawat terbang serta kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang sewaktu-waktu terjadi menjadikan kami harus mengestimasi biaya lebih untuk kemungkinan tersebut.
Bab
4
Segmentasi,
Targeting dan Positioning
. A. Segmentasi
Segmentasi
pasar adalah pembagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibedakan menurut
kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku yang mungkin membutuhkan produk
yang berbeda. Setelah usaha ini berjalan sekitar 2 tahun, segmentasi pasar
yang dituju adalah :
- Segmentasi Demografis
Berdasarkan segmen demografis, usaha
ini melihat dari factor pendapatan dan pekerjaan. Seseorang dengan pekerjaan
yang membuat mereka jenuh, pasti membutuhkan refreshing salah satunya dengan
berwisata dan sebagian besar dari mereka menggunakan jasa tour organizer untuk
membantunya berwisata.
- Segmentasi Psikografis
Berdasarkan
segmen psikografis, dapat dilihat dari tingkah laku dan gaya hidup masyarakat.
Dapat kita ketahui bahwa akhir-akhir ini banyak bermunculan lokasi atau
destinasi wisata baru di berbagai kota di Indonesia, hal ini berpengaruh pada
gaya hidup masyarakat yang senang berwisata dan rasa ingin tahu terhadap tempat
tersebut. Tentunya hal ini dapat menjadikan segmentasi pasar bagi usaha tour
organizer.
- Segmentasi Geografis
Berdasarkan
segmen geografis, pertimbangan dalam menentukan lokasi operasi usaha juga
diperlukan. Lokasi usaha ini terletak di sekitar pemukiman penduduk, instansi
swasta dan pemerintahan serta instansi pendidikan (sekolah). Segmen ini dapat
dijadikan sasaran bagi usaha tour organizer karena dari kepadatan penduduk dan
berbagai instansi di sekitar lokasi usaha yang setiap periode tertentu
mengadakan program wisata ataupun tour bagi civitas instansi mereka.
B.
Targeting
Setelah
mengevaluasi segmen pasar yang ada, lalu diputuskan segmen yang akan dilayani.
Ini merupakan seleksi pasar sasaran. Pasar sasaran terdiri atas kumpulan
pembeli dengan kebutuhan atau karakteristik serupa yang akan dilayani
perusahaan.
Dengan mempertimbangkan lima pola product specialization, usaha tour and travel organizer ini menggunakan Selective Specialization yaitu perusahaan memutuskan memilih beberapa segmen dan merancang barang untuk masing-masing segmen. Dalam hal ini usaha tour and travel organizer membuat beberapa penawaran paket tour yang ditujukan untuk masing-masing segmen seperti segmen pelajar dan mahasiswa, segmen instansi swasta maupun pemerintahan, segmen keluarga dan beberapa segmen lainnya. Yang membedakan adalah pada harga dan fasilitas dalam paket yang ditawarkan.
Dapat kita lihat bahwa segmen pelajar/mahasiswa tentu mempunyai budget yang berbeda dengan segmen konsumen dari instansi atau pekerja yang sudah mempunyai penghasilan dan hal ini berpengaruh pada pemilihan paket wisata yang akan diambil.
C.
Positioning
Positioning
adalah bagaimana sebuah produk dimata konsumen yang membedakannya dengan produk
pesaing. Dalam hal ini termasuk brand image, manfaat yang dijanjikan serta
competititve advantage. Inilah alasan kenapa konsumen memilih produk suatu
perusahaan bukan produk pesaing. Positioning yang dibentuk dari usaha tour
and travel organizer ini antara lain, yang pertama yaitu bonus berupa
hadiah barang yang diberikan kepada customer pada saat tour belangsung maupun
setelah tour selesai dilaksanakan. Misalnya, ketika tour menggunakan bus, pada
saat perjalanan seorang tour leader yang memimpin tour mengadakan games kecil
ataupun kuis dan memberikan hadiah kepada pemenangnya. Tujuannya adalah membuat
suasana perjalanan agar tidak jenuh dan membosankan dan customer merasa
berkesan dengan adanya hadiah yang diberikan. Selain itu ketika tour selesai,
pihak tour organizer member hadiah yang diperuntukkan bagi operasional instansi
yang telah menggunakan jasa ini misalnya, dispenser, kipas angin dll.
Yang kedua yaitu memberikan fasilitas tour guide yang memandu dalam kegiatan selama berwisata. Tour guide yang dipilih harus bisa memandu dengan cara yang unik dan materi yang disampaikan relevan dengan keadaan saat ini serta sesuai dengan segmen customer yang dilayani. Dengan hal ini bisa membantu pihak tour organizer dalam memberikan image yang baik kepada konsumen.
Belajar
dari Krisis Perbankan
Perkembangan dunia perbankan yang sangat pesat setelah terjadi deregulasi di bidang keuangan, monoter dan perbankan pada juni 1983 engakibatkan kebutuhsn dana secara langsung maupun tidak langsung yang mendorong tumbuhnya perbankan menyangkut produk, jumlah bank maupun jumlah cabank yang pada gilirannya semakin menjangkau banyak masyarakat yang membtuhkan jasa perankan.
Krisis
perbankan tahun 1997/1998 memberikan pelajaran serius dalam bisnis perbankan.
Bank kesulitan likuiditas, kualitas aset memburuk, tidak mampu menciptakan
earning dan modal terkuras dalam waktu yang sangat cepat. Kondisi ini
berlangsung hingga tahun 2004 yang di cerminkan oleh return on asse (ROA)
negatif, terjadi negatif spread, sedikit bank yang membagi deviden, likuiditas
rendah, kredit bermasalah, dan rasio kecukupan bank di bawah 8%. Kesulitan bank
di indonesia semakin berkepanjangan meskipun bank indonesia telah menjalankan
tugasnya sebagai leader of last ressort yaitu fungsi yang elekat sebagai
pelindung bank dalam hal terjadi kesulitan likuiditas, serta memberi pinjaman
penuh atas simpanan masyarakat. Ini menunjukkan ada kebijakan perbankan yang
keliru ataupun kelemahan manajerial lain dalam perbankan indonesia,
Menurut
Halim dan Mishkin (2000) menyebutkan bahwa akar krisis perbankan Asia Tenggara
karena adanya liberalisasikeuangan yang di timbulkaan semakin bebasnya arus
dana asing masuk ke sektor perbankan. Peningkatan capita flow di sebabkan
negara berkembang membutuhkan dana untuk pertumbuhn ekonomi. Disamping itu,
pemerintah juga memberikan jaminan tidak langsung terhadap investor asing
melalui kebijakan manageable floating rate, sehingga resiko forex semakin
kecil, sementara IMF memberi dukungan dengan menjamin bahwa investasi akan aman
bila dilakukan di negara berkembang khususnya asia tenggara.
Arus
dana asing yang masuk ke dalam lembaga perbankan domestik sebagian besar di
tempatkan pada kredit untuk membiayai proyek yang mempunyai keungtungan tinggi
begitujuga memiiki resiko yang tinggi. Penentuan bunga kredit di tentukan dari
tiggak resiko proyek yang di biayai, semakin tinggi resiko maka semakin tinggi
dalam menentukan premi resiko. Dalam istilah perbankan, lembaga teah melakukan
adverse selection, yaitu pembebanan bunga di dasarkan pada kemampuan dam
kemauman peminjam dalam membayar kembali secara parsial, yang didasarkan pada
probabilitas kegagalan peminjam berkualitas rendah. Oleh karena itu, tingkat
bungs kredit jugs tinggi dsn di bebankan kepada semua calon peminjam termasuk
yang berkualitas tinggi sehingga peminjam kualitas tinggi memiih modal sendiri
dari pada meminjam bank. Akibatnya penempatan dana tersalurkan ke peminjam
kualitas rendah atau pelaku bisnis beresiko tinggi.
Bank
yang berada di negara berkembang sekarang sedang melakukan liberalisasi
keuangan, umumnya memiliki persoalan pada aspek atau teknik manajerial yaitu
kurang memilikli loan offifec yang terlatih, pemahaman risk assesment system
sangat lemah, keahlian manajemen relatif buruk. Ini engakibatkan pertumbuhan
kredit yang sangat tinggi pada sektor usaha beresiko tinggi yang memperluas
sumber sumber pengawasan bank. Dalam liberalisasi banyak terdapat regulasi
finansial yang buruk. Otoritas pengawas bank gagal melakukan supervisi terhadap
bank. Penempatan kredit beresiko tinggi, buruknya kemampuan anajemen,
lemahnya keahlian loan officer, dan buruknya regulasi serta pertumbhan kredit
yang sangat tinggi menciptakan dalam ketidakpastian pada dunia perbakan di
negara berkembang.
Pada
tahap ke dua, lemahnya kondisi perbnkan memicu munculnya tindakan spekulatif
yang begitu gencr untuk memperoleh keuntngan melalui pasar uang dan memperlemah
posisi domestik curency yang akan mendorong bank sentral melakukan penguatan
melalui peningkatan suku bunga pasar (SBI). Kenaikan SBI diharapkan dapat
meningkatkan bunga simpanan masyarakat sehingga dana masyarakat dapat di himpun
secara cepat dan oleh bank dapat di tempatkan kembali di SBI.dengan
demikian, dapat mengurangi mata uang domestik yang beredar dan menguatkan
posisi tawar mata uang domestik terhadan dolar AS, dengan demikian untuk kasus
indonesia diharapkan rupiah menguat terhadap dolar AS.
Hahm
dan mishkin (2000) menyatakan bahwa keputusan menaikkan BI rate adalah
keputusanyang salah karena adanya kesenjangan jatuh tempo dana antara aktiv
adan pasiva bank yang tidak tepat. Ini akan memperburuk neraca lembaga perbakan
. apabila terjadi kenaikan tingkat bunga pasar maka akan menimbulkan penurunan
nilai ekayaan bersih tau modal bank sebab nilai sekarang akan lebih
rendah daripada pressent value dari pasiva.
Lembaga
perbankan gagal menyesuaikan posisi mismatch antara aktiva dan pasiva dalam
waktu yang singkat untuk menghindari resiko bank. Seharusnya durasi aset lebih
pendek dari pada durasipasiva ketika tingkat suku bunga diprediksi akan naik.
Dengan kata lain, bank gagal menyesuaikan posisi dari kesenjangan durasi
positif ke negatif dalam waktu yang sangat singkat.
Kondisi
ini diperparah dalam pasiva bank terdapat pinjaman dalam dolar AS yang telah
mengapresiasi domestic currency. Hal ini akan mempersulit peminjam dalam
emenuhi kewajibannya. Depresiasi nilai uang dalam negri dan kenaikantingkat
bunga meningkatkan resiko kredit meningkat dan cara mengatasinya adalah
melakukan penghapusbukuan. Namun ada kecenderungan untuk menghindari write off
sebab ketakuatan akan terjadi liquid freeze up yang akan memperburuk ekonomi.
Nilai
domestik yang melemah juga mengakibatkan inflasi aktual dan inflasi yang
diharapkan, yang pada gilirannya akan meningkatkan interest rate. Peningkatan
pembayaran bung apada gilirannya menurunkan cast flow yang mengarah pada
memburuknya neraca. Posisi nerac anon bank menjadi faktor kritis bagi
menguatnya problem asimetri informasi dalam sistem keuangan. Jika ada faktor
kemerosotan yang semakin buruk dari neraca atau peminjam maka akan meperburuk
dalam problem adverse selection maupun moral hazard dalam pasar keuangan,
sehingga memperburuk krisis perbankan.
Kondisi
bank yang relatif buruk akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Bank yang
buruk akan di luiditas oleh bank indonesia. Dan di satu sisi pemerintah
melakukan peminjman penuh di samping pinjaman batas dan explisit untuk simpanan
masyarakat. Otoritas pengawas memperketat regulasi perbankan dan telah
mendapatkan arah kebijakan perbankan yang tercermin pada arsitektur perbankan
indonesia.pengawasan lembaga perbankan bergeser dari pengawasan berbasis
kepatuhan ke pengawasan berbasis resiko yang berlaku umum pada dunia
internasional yang di dalamnya memperhatikan persyaratan modal minimum,
supervisory review dan marker dicipline. Supervisor review memastikan bahwa
bank secara konsisten memenuhi persyaratan modal minimun, sedangkan disiplin
pasar lebih menekankan peran publik. Dari hal-hal di atas, bisnis
perbankan memerlukan sikap yang hati hati terutama dalam menghadapi perubahan.
Produk bank sebagian besar sangat dipengaruhi oleh perubahan pasar, perubahan
nilai uang dan perilaku suka bunga harus di sikapi secara professional. Bank
perlu selalu menjaga kepercayaan masyarakat dengan cara memelihara likuiditas
yang memadai, tanpa mengorbankankeperntingan memperoleh profit dan selalu
mematuhi regulasi yang bersentuhan dengan bidang perbankan.
Pemahaman
manajemen perbankan dimuali dari bab 1 mengenai bank dan perbankan serta
jenis bank. Karakteristik usaha perbankan dan keunikannya, kegiatan usaha
perbankan, sistem perbankan, lingkungan perbankan, persaingan bank, dan arah
kebijakan perbankan di indonesia. Pada bab bab selanjutnya akan dibhas isi
perut lembaga perbankan yang dimulai pentingnya memahani laporan keuangan dan
kinerja bank sebagai prasyarat kebijakan dan partisipasi pasar dalam melakukan
monitoring bank. Pembaca akan di ajak untuk memahami manajemen pasiva bank,
permodalan bank, investasi dan perkreditan bank, peminjaman kredit hingga
penyelamatankredit, manajemen aktiva pasiva dan sistem penilaian kesenatan
bank.
Writer
: Laeli M
Editor
: Admin Coretan Mahasiswa