Baca Juga
Strategi Penentuan Harga
4.1. Pengertian Harga
Harga, nilai dan
faedah (utility) merupakan konsep-konsep yang sangat berkaitan. Utility
adalah atribut suatu produk yang dapat memuaskan kebutuhan. Sedangkan nilai adalah ungkapan secara kuantitatif
tentang kekuatan barang untuk dapat menarik barang lain dalam pertukaran. Dalam
perekonomian kita sekarang ini untuk mengadakan pertukaran atau untuk mengukur
nilai suatu produk kita menggunakan uang, bukan sistem barter. Jumlah uang yang
digunakan didalam pertukaran tersebut mencerminkan tingkat harga dari suatu
barang.
“Harga
adalah jumlah uang (ditambah beberapa
produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari
produk dan pelayanannya.”
4.2. Tujuan Penetapan Harga
Dalam strategi
penentuan harga, manajer harus menetapkan dulu tujuan penetapannya. Tujuan ini
berasal dari perusahaan itu sendiri yang selalu berusaha menetapkan harga
barang dan jasa setepat mungkin. Banyak perusahaan yang mengadakan pendekatan
terhadap penentuan harga berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya.
Keputusan untuk
menetapkan harga sering melibatkan kepentingan pimpinan (top manager) terutama
untuk produk baru. Penentuan tingkat harga tersebut biasanya dilakukan dengan
mengadakan beberapa perubahan untuk menguji pasarnya, apakah menerima atau
menolak ?. Jika pasar menerima penawaran tersebut maka harga itu sudah sesuai.
Tetapi jika mereka menolak maka harga tersebut perlu diubah secepatnya. Jadi
ada kemungkinan keliru tentang keputusan harga yang diambil oleh manajer.
Sehingga kita
perlu meninjau apakah yang menjadi tujuan bagi penjual dalam menetapkan harga
produknya. Tujuan-tujuan tersebut adalah :
- Meningkatkan penjualan
- Mempertahankan dan memperbaiki market share
- Stabilitas harga
- Mencapai target pengembalian investasi
- Mencapai laba maksimum
4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Harga
Dalam
kenyataannya, tingkat harga yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain :
1.
Keadaan Perekonomian
Keadaan
perekonomian sangat mempengaruhi tingkat harga yang berlaku dipasaran. Misalnya
pada periode Resesi, yang merupakan suatu periode dimana ada keputusan
Pemerintah 15 November 1978 yang menentukan nilai tukar $ 1,- (satu dolar)
Amerika dari Rp. 415,- menjadi Rp. 625,-. Sehingga terjadilah reaksi-reaksi
dari kalangan masyarakat bisnis. Reaksi spontan terhadap keputusan tersebut
adalah adanya kenaikan harga-harga barang, khususnya kenaikan harga
barang-barang mewah, barang impor dan barang-barang yang dibuat dengan bahan
atau komponen dari luar negeri.
2.
Penawaran dan Permintaan
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli
oleh pembeli pada tingkat harga tertentu. Pada umumnya tingkat harga yang lebih
rendah akan mengakibatkan jumlah yang diminta lebih besar. Hubungan antara
harga dengan permintaan dapat digambarkan dalam bentuk kurve, disebut kurve
permintaan.
Penawaran merupakan kebalikan dari
permintaan, yaitu suatu jumlah yang ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat
harga tertentu. Pada umumnya harga yang lebih tinggi mendorong jumlah yang
ditawarkan lebih besar. Hubungan antara harga dengan jumlah yang ditawarkan
dapat digambarkan dalam bentuk kurve, disebut kurve penawaran.
Menurut teori
ekonomi, harga akan ditentukan pada suatu
titik pertemuan antara kurve permintaan dan kurve penawaran. Hal ini dapat
dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar.
Kurve Permintaan dan Penawaran, Penentuan Harga
![]() |
| Kurve Permintaan dan Penawaran, Penentuan Harga |
3. Elastisitas Permintaan
Faktor lain yang
dapat mempengaruhi penentuan harga adalah sifat
permintaan pasar. Selain mempengaruhi penentuan harga, sifat permintaan
pasar ini juga mempengaruhi volume yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis
barang, harga dan volume penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika
terjadi kenaikan harga maka penjualan akan menurun dan sebaliknya.
·
Inelastis
Jika permintaan itu bersifat inelastis, maka perubahan harga akan
mengakibatkan perubahan yang lebih kecil pada volume penjualannya.
·
Elastis
Apabila permintaan itu bersifat elastis, maka perubahan harga akan
menyebabkan terjadinya perubahan volume penjualan dalam perbandingan yang lebih
besar.
·
Unitary Elasticity
Apabila permintaan itu bersifat unitary elasticity, maka perubahan harga
akan menyebabkan perubahan jumlah yang dijual dalam proporsi yang sama. Dengan
kata lain, penurunan harga sebesar 10% akan mengakibatkan naiknya volume
penjualan sebesar 10%.
4.
Persaingan
Harga jual
beberapa barang sering dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada.
Barang-barang dari hasil pertanian dijual dalam keadaan persaingan murni (pure
competition). Dalam persaingan ini penjual yang berjumlah banyak aktif
menghadapi pembeli yang berjumlah banyak pula. Sehingga dengan banyaknya jumlah
penjual dan pembeli menyulitkan penjual perorangan untuk menjual dengan harga
lebih tinggi. Macam persaingan yang lain :
·
Persaingan tidak sempurna
Untuk barang-barang yang dihasilkan dari pabrik (barang-barang manufaktur)
dengan merk tertentu kadang-kadang mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Hal
ini dapat disebabkan karena harganya lebih tinggi dari barang sejenis dengan
merk lain. Keadaan pasar seperti mi disebut persaingan tidak sempurna (imperfect competition), di mana barang
tersebut telah dibedakan dengan memberikan merk.
·
Oligopoli
Dalam keadaan oligopoli beberapa penjual menguasai pasar, sehingga harga yang ditetapkan dapat lebih tinggi daripada kalau dalam persaingan sempurna
Dalam keadaan oligopoli beberapa penjual menguasai pasar, sehingga harga yang ditetapkan dapat lebih tinggi daripada kalau dalam persaingan sempurna
·
Monopo!i
Dalam keadaan monopoli jumlah penjual yang ada di pasar hanya satu, sehingga penentuan harga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti :
Dalam keadaan monopoli jumlah penjual yang ada di pasar hanya satu, sehingga penentuan harga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti :
- permintaan barang bersangkutan
- harga barang-barang substitusi/pengganti
- peraturan harga dan pemerintah
- harga barang-barang substitusi/pengganti
- peraturan harga dan pemerintah
5. Biaya
Biaya merupakan
dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak dapat menutup
biaya akan mengakibatkan kerugian. sebaliknya, apabila suatu tingkat harga
melebihi semua biaya, baik biaya produksi, biaya operasi maupun biaya non
operasi, akan rnenghasilkan keuntungan.
6. Tujuan Perusahaan
Penetapan
harga suatu barang sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Setiap perusahaan
tidak selaiu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya.
Tujuan-tujuan yang hendak dicapai tersebut antara lain :
Laba
maksimum
Volume
penjualan tertentu
Penguasaan
pasar
Kembalinya
modal yang tertanam dalain jangka waktu tertentu.
7. Pengawasan Pemerintah
Pengawasan
pemerintah juga merupakan faktor penting dalam penentuan harga.
Pengawasan pemerintah tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk : penentuan harga
maksimum dan minimum, diskriminasi harga, serta praktek-praktek lain yang
mendorong atau mencegah usaha-usaha ke arah monopoli.
4.4.
Keputusan Tentang Harga
Ada
beberapa keputusan menyangkut penentuan harga, temasuk harga tertentu yang
dibebankan kepada masing-masing produk atau jasa yang dipasarkan. Tetapi harga
itu juga dapat ditentukan oleh pembeli yang membeli produk atau jasa
perusahaan.
Perusahaan
juga harus mengambil keputusan tentang perlu/tidaknya memberikan potongan untuk
pembayaran yang lebih awal. Jika perusahaan mengambil kebijaksanaan untuk
mernberikan potongan tunai, maka perlu ditentukan kapan seorang pembeli akan
menerima potongan tunai dan berapa besar jumlah potongannya. Dan apakah
potongan tersebut diperuntukkan bagi penyalur juga.
Semua
keputusan dan masalah tersebut sebenarnya cukup sulit ditentukan apalagi bagi
perusahaan yang menjual berbagai macam produk. Hal ini disebabkan karena setiap
jenis produk memerlukan penetapan harga yang berbeda-beda. Pada masa lampau,
keputusan-keputusan seperti itu cenderung bersifat pasif di mana perusahaan
menggunakan praktek penetapan harga dari pesaing. Sekarang, dalam kondisi
persaingan yang semakin ketat, perusahaan-perusahaan berubah meningkatkan efisiensi cara produksinya dan menekan biaya. Semua ini ditujukan
untuk menekan harga supaya mendapatkan posisi yang baik dalam persaingan.
4.5. Prosedur
Penetapan Harga
Jika
tujuan penetapan harga sudah ditentukan, maka manajemen dapat mengalihkan
perhatian pada prosedur penentuan harga barang atau jasa yang ditawarkan.
Prosedur penentuan harga yang dipakai melputi enam tahap, yaitu:
1. Mengestimasikan Permintaan untuk Barang Tersebut
Dalam
tahap pertama ini, penjual membuat estimasi permintaan barangnya secara total.
Hal ini lebih mudah dilakukan terhadap permintaan barang yang ada dibandingkan
dengan permintaan barang baru. Pengestimasian perrnintaan tersebut dapat
dilakukan dengan :
a. Menentukan
harga yang diharapkan (expected price), yaitu harga yang diharapkan dapat diterima oleh konsumen,
b. Mengestimasikan
volume penjualan pada berbagai
tingkat harga. Hal ini menyangkut pula
pertimbangan tentang masalah elastisitas permintaan suatu barang.
Mengestimasikan volume penjualan pada berbagai tingkat harga yang berbeda
adalah penting juga dalam hubungannya dengan penentuan break-even point.
Tabel 4.1. Metode Pengestimasian
Permintaan
|
Metode
|
Bentuk
|
Tujuan
|
|
Survey
|
Daftar
pertanyaan(wawancara secara pribadi, telepon, surat)
|
Untuk
menciptakan fakta dan opini dari responden yang berkaitan baik terhadap
proyeksi kuantitas pada berbagai tingkat harga ataupun terhadap keinginan untuk
membeli segera
|
|
Eksperimen
laboratorium
|
Contoh
wisata untuk berbelanja
|
Untuk
memisahkan dan mengawasi berbagai dorongan pasar yang mempengaruhi
permintaan, dan kemudian mengamati reaksi pembeli terhadap perubahan factor
pendorong tersebut
|
|
Eksperimen
lapangan
|
Penyimpangan harga yang terkendali ditoko
|
Untuk mengamati reaksi terhadap harga dalam suatu
lingkungan alami
|
|
Statistik
|
Derivasi
persamaan permintaan dari sejumlah pengamatan
|
Untuk mengestimasikan hubungan harga kuantitas
|
2.
Mengetahui Lebih Dulu Reaksi dalam Persaingan
Kondisi
persaingan sangat mempengaruhi kebijaksanaan penentuan harga bagi perusahaan
atau penjual. Oleh karena itu penjual perlu mengetahui reaksi persaingan yang
terjadi dipasar mengetahui reaksi persaingan yang terjadi di pasar serta
sumber-sumber penyebabnya. Adapun
sumber-sumber persaingan yang ada dapat berasal dari :
- Barang sejenis yang dihasilkan oleh perusahaan lain.
- Barang pengganti atau substitusi.
- Barang-barang lain yang dibuat oleh
perusahaan lain yang sama-sama menginginkan uang konsumen.
3. Menentukan Market Share yang Dapat
Diharapkan
Perusahaan yang agresif selalu
menginginkan market share yang lebih
besar. Kadang-kadang, perluasan market share harus dilakukan dengan mengadakan
periklanan dan bentuk lain dan persaingan bukan harga. Market share yang
diharapkan rersebut akan dipengaruhi oleh kapasitas produksi yang ada, biaya
ekspansi, dan mudahnya memasuki persaingan.
4. Memilih Strategi Harga untuk Mencapai Target Pasar
Dalam hal
ini penjual dapat memilih di antara dua macam strategi harga yang dianggap
paling ekstrim, yaitu : skim-the-cream-pricing
dan penetration pricing
5. Mempertimbangkan Politik Pemasaran Perusahaan
Tahap
selanjutnya dalam prosedur penentuan harga adalah mempertimbangkan politik pemasaran
perusahaan dengan melihat pada barang, sistem distribusi, dan program
promosinya. Perusahaan tidak dapat menentukan harga suatu barang tanpa
mempertimbangkan barang lain yang dijualnya. Demikian pula dalam saluran
distribusinya, harus diperhatikan ada atau tidaknya penyalur yang juga menerima
sebagian dari harga jual.
4.6.
Penentuan Harga Dasar dan Laba yang Diharapkan
Dalam
kaitannya dengan prosedur penetapan harga maka perlulah ditentukan berbagai
alternatif harga untuk mengetahui seberapa besar laba yang bisa diharapkan.
Alternatif-alternatif tersebut akan tergantung pada pemilihan perusahaan dan
elastisitas yang ada. Dengan semakin luas jarak masing-masing alternatif harga
dan semakin besar elastisitas permintaannya, maka semakin banyak pula alternatif
harga yang harus dipertimbangkan.
Titik
break-even ini sangat penting karena dapat menunjukkan tingkatan operasi yang
menguntungkan. Adanya peningkatan dalam permintaan atau penurunan dalam biaya
total akan memperluas tingkat operasi yang menguntungkan dan meningkatkan laba.
4.7. Penetapan Harga Dasar dalam Kondisi yang Tidak Pasti
Dalam pembahasan
tentang penentuan harga dasar, kita telah melihat bahwa hal ini penting bagi
perencanaan pemasaran untuk mengestimasi volume penjualan pada masing-masing
alternatif harga, dan ini semakin sulit dengan semakin tidak pastinya keadaan.
![]() |
|
gambar 4.3 Pendekatan
Break Even terhadap Penentuan Harga
|
Sebuah
pendekatan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan teori
keputusan. Teknik tersebut mengharuskan manajer pemasaran untuk menentukan
tingkatan harga yang layak. Sebuah contoh tentang penerapan teknik tersebut
dapat dilihat berikut ini. Dianggap bahwa pada setiap tingkatan harga akan
menghasilkan tiga tingkatan permintaan, yaitü :
• Qo =
Permintaan yang optimis
• Qm = Permintaan yang paling rnungkin.
• Qp = Permintaan yang pesimis.
• Qm = Permintaan yang paling rnungkin.
• Qp = Permintaan yang pesimis.
Tabel 4.3.
memperlihatkan estimasi permintaan Qo , Qm dan Qp
untuk enam tingkatan harga. Setiap kolom dalam tabel dianggap sebagai
pencerminan kurve permintaan. Kurve-kurve ini dapat dilihat garnbarnya pada
gambar 10.4, beserta kurve pendapatan totalnya. Jika dianggap bahwa biaya tetap
= Rp 300.000,- dan biaya variabelnya = Rp 33,33 per unit, maka kurve biaya
totalnya juga dapat digambarkan.
![]() |
| Tabel 4.3. Skedul tentang Estimasi Permintaan |
Dari
gambar 4.4
tersebut dapat
dilihat bahwa pada harga P1 (Rp. 85,-),
jumlah 6.000 unit akan merupakan permintaan yang pesirnis. HaI ini dapat dikatakan sebagai batas
harga tertinggi karena laba = 0. Demikian pula, pada harga P2 (Rp 60,-), jumlah yang diminta akan
sebanyak 11.000, unit, dan hal ini dapat dikatakan sebagai batas harga terbawah
karena laba yang dihasilkan juga = 0.
Jadi, harga yang mungkin ditetapkan adalah berkisar antara Rp 60,- dengan Rp
85,-
Sesudah
menetapkan daerah penetapan harga yang rnungkin dilakukan, tahap berikutnya
adalah menghitung laba untuk
masing-masing tingkat harga pada setiap kondisi permintaan dengan suatu
tabel (lihat tabel 4.4). Kita perlu membuat suatu kriteria dan memilih tingkat
harga yang paling baik bagi kriteria tersebut. Misalnya dianggap bahwa
kriterianya adalah maksimisasi laba yang diharapkan. Dengan membuat
suatu timbangan / weight (probabilitas
subyektif) untuk setiap estimasi permintaan, maka kita dapat menghitung laba
yang diharapkan pada setiap alternatif harga.
Susunan probabilitas tersebut adalah sebagai berikut :
Susunan probabilitas tersebut adalah sebagai berikut :
Qp = 0,2 ; Qm = 0,6 ; Qo = 0,2
Nilai
laba yang diharapkan dapat dilihat pada Kolom terakhir dan tabel 10.4.. Strategi penetapan harga Rp 80,00 akan menghasilkan laba tertinggi
sehingga dapat dipilih sebagai harga dasar dalam kasus tersebut.
![]() |
|
Gambar 4.4. Analisa Break
Even dalam kondisi tidak pasti
|
![]() |
|
Tabel 4.4.
Matriks Laba untuk Beberapa Alternatif Harga (Ribuan Rp)
|
4.8. Metode Praktis
Penetapan
harga barang dan jasa yang efisien sering merupakan masalah yang sulit bagi
sebuah perusahaan. Penetapan ini didasarkan pada biaya, persaingan, permintaan
dan laba, tetapi kombinasi optimal dari faktor-faktor tersebut berbeda sesuai
dengan sifat produknya, pasarnya, dan tujuan perusahaan.Teknik yang sering dipakai dalam penetapan harga adalah :
TBE (Rp) = BTT/ (1-(BV/P)) dan TBE (unit)
= BTT/ (H-BVR)
dimana :
TBE
= titik break even
BTT
= biaya tetap total
BV = biaya variabel
P = penjualan
H
= harga jual per unit
BVR = biaya variabel rata-rata
Untuk
meninjau break-even pricing secara lebih mendalam kita bisa mengadakan analisa tabuler. Volume break-even
diperoleh dari pembagian antara biaya tetap total dengan marjin yang ada pada
setiap tingkat harga.
Kemungkinan
masalah yang paling serius dalam penetapan harga break-even ini adalah masalah
kurangnya permintaan. Penentuan harga yang optimal sangat dipengaruhi oleh
hubungan antara harga jual eceran dengan jumlah produk X yang akan dibeli oleh
konsumen. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan ini antara lain:
• Faktor saingan
• Pengalaman dalam penetapan harga.
• Kondisi dan produk yang ditawarkan.
• Pengalaman dalam penetapan harga.
• Kondisi dan produk yang ditawarkan.
![]() |
| Gambar 4.5. Analisa Break-even untuk produk |
3. Penetapan Harga Rate of Return
(Rate of Return Pricing)
Kebijaksanaan penetapan harga untuk
mencapai tingkatan pengembalian investasi (rate
of return on investment) merupakan kebijaksanaan yang banyak dipakai oleh
perusahaan-perusahaan besar. Faktor utama untuk dapat dilaksanakannya prosedur
tersebut adalah :
·
Estimasi
permintaan
·
Penggunaan
fasilitas
Tingkat pengembalian pada Investasi (return on investment) dapat dicari
dengan rumus :
ROI
= Laba x
100 %
Adapun
masalah-masalah yang dihadapi dalam rate
of return pricing, adalah :
· Pengestimasian
penjualan yang dipakai untuk menentukan harga meskipun jumlah unit yang terjual
itu sendiri merupakan fungsi harga.
· Rate of return pricing ini dapat menimbulkan fluktuasi dalam
keuntungan karena jumlah penghasilan yang diterima langsung dipengaruhi oleh
estimasi penjualan.
4.Penetapan Harga Biaya Variabel
(Variabel Cost Pricing)
Penetapan harga biaya variabel ini
didasarkan pada suatu ide bahwa biaya total tidak selalu harus ditutup untuk
menjalankan kegiatan bisnis yang menguntungkan. Sistem penetapan harga biaya
variabel ini dapat dipakai untuk menentukan harga minimum yang dapat dikuasai.
Penetapan harga biaya variabel ini
sering dijumpai dalam situasi dimana biaya tetap merupakan bagian yang besar
dalam biaya total. Perusahaan angkutan kereta api dan perusahaan penerbangan
adalah dua contoh industri yang memerlukan biaya tetap tinggi dan sering
memakai penetapan harga biaya variable untuk meningkatkan volumenya. Sebagai
contoh, mereka sering memberikan reduksi kepada anak-anak sekolah atau
rombongan tertentu.
5. Penetapan Harga Beban Puncak (Peak
Load Pricing)
Peak-load pricing ini dapat dipakai
bila jumlah barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan sangat terbatas,
dan permintaan pembeli cenderung berubah di kemudian hari. Sebagai contoh
perusahaan telepon telah menggunakan kapasitas untuk melayani 97 % langganannya
selama periode ramai meskipun pada akhir pecan dan malam hari sering
menganggur.
Dengan peak load pricing ini, perusahaan dapat menaikkan tarif diatas
biaya rata-rata selama periode permintaan tinggi dan mengurangkan pada biaya
variabelnya diluar periode ramai. Tarif rendah yang dikenakan pada jam-jam
/hari-hari tidak ramai kemungkinan dapat meningkatkan pendapatan dengan menarik
langganan yang jarang menggunakan
telepon.Perusahaan telepon sering menggunakan peak load pricing dalam
penentuan tariff untuk hubungan langsung jarak jauh
Contoh lain dari penggunaan teknik ini
adalah pada pertunjukan bioskop dimana tariff yang lebih rendah dikenakan pada
jam-jam siang hari (permintaan relatif sedikit). Jadi peak load pricing memiliki keuntungan, antara lain :
·
Menekan
permintaan pada periode ramai
·
Meningkatkan permintaan pada periode tidak ramai
·
Meningkatkan
efisiensi penggunaan fasilitas yang ada.
Sumber
: Sri Retnoningsih
Editor :
Admin Coretan Mahasiswa





