Baca Juga
Manajemen Periklanan
5.1. Kesempatan untuk Periklanan
Kegiatan
periklanan (sebagai bagian dan marketing mix) yang dilakukan oleh
sebuah perusahaan tergantung pada beberapa faktor,
seperti :
• Jenis produk
• Sifat pasarnya
• Keadaan persaingan
• dan sebagainya.
• Sifat pasarnya
• Keadaan persaingan
• dan sebagainya.
Dengan
adanya berbagai faktor tersebut di mana setiap perusahaan mempunyai perbedaan,
kegiatan periklanan yang dilakukan juga berbeda. Hal ini dapat secara lebih
jelas dilihat pada biaya periklanan masing-masing.
Periklanan
merupakan salah satu aspek dari komunikasi pemasaran perusahaan.
Keputusan-keputusan yang menyangkut periklanan selalu berkaitan dengan aspek
komunikasi pemasaran lainnya, seperti personal
selling, promosi penjualan,
publisitas, dan hubungan masyarakat.
Rangkaian keputusan tersebut tidak terlepas dari pengembangan komunikasi
pemasaran di samping tahap-tahap pengumpulan datanya.
Sebelum
menentukan anggaran dan perencanaan periklanan yang lain. manajer harus
menentukan lebih dulu apakah periklanan perlu dilakukan. Penaksiran kesempatan
untuk periklanannya dimulai dengan memperkirakan potensi permintaan primer
dan permntaan selektif. Manajer harus mengetahui keadaan-keadaan yang
merupakan akibat terhadap periklanan.
5.2.
Akibat Periklanan pada Permintaan Primer dan Selektif
Periklanan
dapat mendorong baik permintaan primer maupun permintaan selektif atau
kedua-duanya. Pada permintaan primer
terdapat kenaikan permintaan untuk kategori produk melalui peningkatan
konsumsi per kapita atau melalui penambahan beberapa pembeli baru. Sedangkan
pada permintaan
selektif terdapat kenaikan permintaan untuk suatu merk tertentu dalam
kategori produk.
Ada suatu
anggapan bahwa sejauh ini kurve permintaan yang dijumpai perusahaan adalah
tetap. Jika harga diturunkan maka kurve permintaannya
akan mempunyai arah menurun dan penjualan meningkat. Tingkat
penjualan baru tersebut cenderung menghasilkan laba lebih besar seperti yang
terlihat pada sebuah fungsi dan bentuk kurve permintaan dan tingkah-Iaku biaya
variabel.
Peningkatan
biaya periklanan dapat merubah kurve permintaan ke kanan dan dapat pula merubah
bentuknya. Misalnya, jumlah penjualan dalam unit produk “X” (Q) merupakan
fungsi harga (P) :
Q (0) = 4.000 — 40 P
Fungsi
permintaan ini menganggap bahwa peniklanannya sama dengan nol. Fungsi untuk biaya periklanan (A) sebanyak
Rp 10.000,- adalah :
Q (10.000) = 4.800 — 40
P
Perubahan
ini dapat kita lihat pada gambar 11.1. Di sini, perusahaan dapat rnencapai
penjualan lebih besar pada tingkat harga yang sama. Pada harga Rp 60,-
perusahaan berharap dapat menjual 2.400 unit produk X, tidak lagi 1.600
unit. Dalam diagram tersebut, hal ini ditunjukkan dengan perubahan dan titik P1
ke titik P2. Pada alternatif
lain perusahaan dapat menetapkan harga lebih tinggi dengan volume yang ada.
Dengan meningkatkan periklanan perusahaan dapat menaikkan harga produknya dari
Rp 60,- menjadi Rp 80,- dan masih menjual 1.600 unit. Hal ini dapat kita lihat
sebagai perubahan dari titik P1 ke titik
P3.
![]() |
|
Gambar 5.1. Fungsi permintaan produk X
|
5.3. Kriteria untuk Periklanan
yang Efektif
Kenaikan yang terjadi pada permintaan primer dan permintaan selektif adalah berbeda-beda
dari segi kategori produk dan merk-nya. Untuk merubah kesempatan periklanannya,
manajer harus mengetahui faktor-faktor mana yang dapat memperkuat pengubahan
tersebut. Dalam hal ini ada empat faktor yang paling penting, yaitu :
1.Trend
permintaan primernya menguntungkan.
2. Pembedaan produk (product differentiation) telah dilakukan.
3. Kualitas produk adalah penting bagi konsumen.
4. Dana untuk periklanan telah tersedia.
2. Pembedaan produk (product differentiation) telah dilakukan.
3. Kualitas produk adalah penting bagi konsumen.
4. Dana untuk periklanan telah tersedia.
Faktor-faktor
sosial dan Iingkungan yang mendukung trend dalam permintaan produk sering lebih
penting daripada jumlah biaya periklanannya. Di samping itu periklanan dapat menyelaraskan permintaan
yang terjadi tanpa periklanan. Pada saat permintaan bertambah sering
terdapat kesempatan untuk daya tarik periklanan yang selektif.
5.4. Tujuan Periklanan
Pada
umumnya, tujuan utama perusahaan adalah mencari laba.. Konsekuensinya,
manajer harus memilih alternatif periklanan yang dapat menciptakan ni/al
sekarang (present value) tertinggi untuk laba jangka panjangnya. Sedangkan
organisasi non laba lebih mementingkan manfaat daripada laba.
Tujuan
periklanan bagi suatu barang akan tergantung pada tahap yang ada di dalam
siklus kehidupan produk (product life
cycle). Semua itu ditujukan untuk mempertahankan posisi pasar produk
tersebut. Biasanya, periklanan produk baru dilakukan untuk :
·
Memberikan kesadaran pada pembeli tentang adanya produk
baru tersebut.
• Mendorong distribusi merk baru.
• Menunjukkan kepada pembeli dengan suatu
alasan bagi pembelian produk tersebut.
Tugas periklanan juga merupakan
suatu fungsi dan kategori produk. Untuk barang-barang yang berharga lebih mahal
seperti mobil, proses keputusannya (oleh pernbeli) dilakukan dengan lebih
hati-hati dan waktunya lama. Dalam hal ini, pembeli mudah sekali membedakan rnerk-merk yang ada. Tetapi
untuk barang-barang yang secara fisik hampir sama, seperti sabun mandi, kurang
begitu diperhatikan oleh pembeli.
Adapun
tujuan pokok dari periklanan adalah untuk meningkatkan permintaan bagi
produk. Permintaan dapat ditingkatkan dengan cara :
• Menaikkan jumlah pembeli.
·
Menaikkan tingkat penggunaan barang di antara pembeli
yang ada
Pembeli
baru mungkin berasal dan pembeli merk saingan. Sedangkan tingkat penggunaan
yang semakin besar dapat terjadi bilarnana perusahaan selalu mengingatkan
pembeli untuk menggunakan merknya, atau dapat pula mengatakan pada pembeli
tentang penggunaan baru dan produknya. Sering pula perikianan ditujukan pada perantara
dalam saluran distribusi. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong para
penyalur (pedagang besar dan pengecer) untuk bersedia menjualkan atau
mempromosikan merk produsen tersebut.
5.5. Jenis Periklanan
Berdasarkan
tujuannya, apakah ditujukan kepada pembeli akhir atau ditujukan kepada
penyalur, periklanan dapat dibedakan ke dalam dua golongan. Jenis periklanan
tersebut adalah :
1. Pull Demand Advertising
Pull
demand advertising adalah periklanan yang ditujukan kepada pembeli akhir
agar permintaan produk bersangkutan meningkat. Biasanya produsen menyarankan
kepada para konsumen untuk membeli produknya ke penjual terdekat. Pull demand advertising juga disebut consumer
advertising.
2. Push
Demand Advertising
Push demand advertising adalah periklanan yang ditujukan
kepada para penyalur. Maksudnya agar para penyalur bersedia meningkatkan
permintaan produk bersangkutan dengan menjualkan sebanyak-banyaknya ke
pembeli/pengecer. Barang yang diiklankan biasanya berupa barang industri.
Push demand advertising juga disebut trade advertising.
5.6.
Mendefinisikan Tujuan Periklanan
Pihak
pemasang iklan perlu menentukan tujuan periklanannya dan mengukur hasil yang
dicapai dari periklanan tersebut. Pengukuran hasil yang dimaksud adalah
pengukuran secara kuantitatif.
Pengukuran tersebut dapat ditinjau pada segi penjualannya karena
mempunyai hubungan erat dengan laba yang diperoleh. Ada dua situasi dalam mana
penjualan tidak dapat digunakan. Situasi tersebut adalah :
• Pada
waktu pengaruh periklanan tidak dapat dipisahkan dan pengaruh elemen lain dalam marketing mix.
·
Pada saat pengaruh periklanan yang sedang dilakukan tidak
dapat dipisahkan dan pengaruh periklanan yang lalu.
Jadi,
apabila tujuan periklanan tidak dapat dinyatakan dalam istilah penjualan, maka
harus didefinisikan dalam istilah variabel-variabel campuran yang menghubungkan
perikianan dengan penjualan. Pendekatan
antara periklanan dan penjualan adalah :
1.
Hirarki
Pengaruh
Hirarki tentang hipotesa pengaruh
menyatakan bahwa periklanan memberikan petunjuk kepada konsumen melalui suatu
rangkaian tahap yang mencapai puncaknya dalam pembelian. Dalam hal ini, konsumen dapat digolongkan ke dalam
tujuh kelompok, yaitu :
a. Kelompok
pertama terdiri atas pembeli-pembeli potensial yang tidak
menyadari tentang adanya produk
tersebut.
b. Kelompok
kedua terdiri atas konsumen yang menyadari adanya produk
tersebut.
c. Kelompok
ketiga terdiri atas konsumen yang mempunyai pengetahuan tentang
produk tersebut beserta manfaatnya.
d. Kelompok keempat terdiri atas
konsumen yang menyukai produk tersebut.
e. Kelompok
kelima merupakan kelornpok konsumen yang mempunyai pilihan terhadap
produk tersebut melebihi semua kemungkinan lainnya.
f. Kelompok
keenam terdiri atas konsumen yang mempunyai keyakinan bahwa
mereka harus membeli produk tersebut.
g. Kelompok
terakhir terdiri atas konsumen yang mernbeli produk tersebut.
Kegiatan
periklanan untuk mengalihkan konsumen dari kelompok pertama ke kelompok yang
lain akan cenderung berbeda-beda. Dengan suatu survey dapat diperoleh data yang
diperlukan untuk menaksir nilai ekonomi tentang sebab-sebab perubahan kelompok
tersebut.
2.Kualifikasi
Beberapa usaha telah dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hirarki hipotesa pengaruh. Misalnya, suatu studi telah menjumpai adanya hubungan yang kuat antara kesadaran konsumen dengan market share. Dapat terjadi bahwa tingkat kegiatan periklanan yang lebih tinggi tidak berhasil memperkuat hubungan antara kesadaran dengan pembelian. Dalam beberapa kasus, periklanan dapat berpengaruh terhadap kesadaran yang kemudian dinyatakan dalam perilaku melalui sikap.
Beberapa usaha telah dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hirarki hipotesa pengaruh. Misalnya, suatu studi telah menjumpai adanya hubungan yang kuat antara kesadaran konsumen dengan market share. Dapat terjadi bahwa tingkat kegiatan periklanan yang lebih tinggi tidak berhasil memperkuat hubungan antara kesadaran dengan pembelian. Dalam beberapa kasus, periklanan dapat berpengaruh terhadap kesadaran yang kemudian dinyatakan dalam perilaku melalui sikap.
Model
Proses Periklanan
Sebuah
model yang menunjukkan bagaimana sikap itu dipengaruhi oleh perik/anan dan
bentuk komunikasi lainnya .Jika orang bersikap terbuka terhadap suatu iklan
maka perusahaan perlu memanfaatkan keterbukaan tersebut dengan menambah
periklanan atau mengarahkan pembeli untuk membeli. Selain periklanan, sikap itu
juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor
antara lain
•
Keinginan pribadi
• Produk
itu sendiri
• Iklan
saingan
•
Komentar dari orang lain
Beberapa strategi periklanan dapat dipakai untuk
menerapkan model proses periklanan,
yaitu :
a.
Mempengaruhi kriteria yang menentukan pemilihan golongan barang.
b.
Mengubah relevansi atribut produk (menciptakan atribut baru yang menonjol).
c.
Mengubah atribut yang harus memiliki merk perusahaan.
d. Mengubah atribut yang sudah
bermerk.
e. Mengubah atribut yang juga dimiliki
oleh merk saingan.
Perlu diketahui bahwa strategi ini
tidak berusaha untuk merubah tingkat ketidak-pastian tentang jumlah yang
dirasakan dari suatu atribut. Strategi yang pertama berusaha
mendorong permintaan primer dengan mengembangkan motivasi dan kriteria pilihan.
Strategi
yang kedua dapat mengambil beberapa bentuk. Kadang-kadang atribut yang
ada dapat dibuat lebih menyolok/menonjol; atau kadang-kadang
atribut
baru ditambahkan untuk memperpanjang siklus kehidupan produk tersebut.
Sedangkan ketiga strategi lainnya (c, d & e) melibatkan penentuan posisi
merk perusahaan dalam persaingan.
5.7.
Proses Penentuan Tujuan Periklanan
Sekarang
kita akan membahas tentang proses penentuan tujuan periklanan dalam sebuah
perusahaan dengan investasi modal sebesar Rp 100.000.000,-. Direktur
perusahaan tersebut telah rnenetapkan tujuan
perusahaan, yaitu untuk mendapatkan 10% pada modal yang diinvestasikan. ini berarti laba yang
harus diperoleh adalah 10% x (Rp 100.000.000,-) = Rp 10.000.000,-. Tujuan
laba tersebut harus diterapkan ke dalam tujuan pemasaran.
Ada suatu
anggapan bahwa tujuan laba di dalam pemasaran itu dapat dicapai apabila
penjualan perusahaan sebesar Rp 40.000.000,-. Sekali tingkat penjualan telah
ditemukan, maka dana yang disediakan untuk periklanan dapat diperoleh dengan
mengurangi :
·
Biaya
produksi
·
Biaya
overhead
·
Laba
dan pendapatan potensial
Apabila jumlah biaya selain biaya
periklanan adalah Rp 25.000.000,- maka Rp 5.000.000,00 tersedia
untuk periklanan. Proses penentuan tujuan ini melibatkan suatu hirarki dan
kemampuan mendapatkan laba (profitability),
penjualan, dan komunikasi. Dalam contoh ini, manajer periklanan merasa
bahwa pengeluaran untuk periklanan sebesar Rp 5.000.000,- diperlukan
untuk mencapai tujuan penjualan; sedangkan manajer pemasaran merasa bahwa
tujuan penjualan yang ada dapat dicapai dengan menyediakan Rp .5.000.000,- untuk
periklanan. Dapat terjadi bahwa dana yang tersedia kurang dari jumlah yang
diinginkan. Dalam hal ini tujuannya perlu diperbaiki atau disesuaikan, serta
meninjau tujuan perusahaan akan memaksimumkan laba.
Dapat
dikatakan bahwa tujuan pokoknya adalah mencari laba Rp 10.000.000,- tetapi
apakah tujuan tersebut optimal? Dengan menguji hubungan antara penjualan dan biaya, maka
hubungan antara biaya dan laba dapat diperoleh. Pada kenyataannya pengaruh
periklanan terhadap laba atau penjualan itu sangat relatif.
5.8. Anggaran Periklanan
Manajer
pemasaran memerlukan suatu metode untuk menetapkan anggaran periklanan. Teknik-teknik yang dapat dipakai
antara lain :
·
Pendekatan
subyektif
·
Pendekatan
pedoman tetap
·
Pendekatan
tugas
·
Pendekatan
normatif
Pemilihan
metode-metode ini tergantung pada besarnya pengembalian atau manfaat dari
periklanan.
1. Pendekatan Subyektif
Pendekatan
ini dapat dipakai untuk menyusun anggaran berdasarkan pendapat dan pengalaman
dari seorang manajer. Umumnya manajer mempunyai tugas mengalokasikan anggaran
tetap (fixed budget) diantara biaya
periklanan dan biaya pemasaran lainnya. Bila perusahaan menghendaki biaya yang
lebih rendah, maka biasanya periklanan akan dikurangi.
2.
Pendekatan
Pedoman Tetap
Pendekatan ini menyangkut penentuan
anggaran periklanan dalam bentuk persentase dari penjualan, jumlah tetap per
unit, atau seperti yang ditentukan oleh perusahaan saingan. Beberapa perusahaan
telah menentukan anggaran mereka sebagai persentase dari volume penjualan yang
diramalkan untuk periode dimana anggaran periklanan itu akan digunakan.
Anggaran periklanannya ditentukan untuk setiap unitnya. Hal ini dianggap lebih
fleksibel karena tinggal mengalihkan antara volume penjualan (dlm unit) yang
diperkirakan dengan jumlah rupiah per unitnya (rupiah untuk periklanan)
3.
Pendekatan
Tugas
Pendekatan
ini menyangkut penentuan tujuan, kemudian
menentukan pelaksanaan untuk mencapai tujuan tersebut. Pendekatan ini dipakai
oleh perusahaan mulai dengan menentukan tujuan untuk periklanannya. Misalnya,
sebelum periklanan dimulai Perusahaan ‘‘X” telah memiliki market share
kira-kira 5%. Dalam jangka pendek periklanan ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran konsumen tlentang produknya sebesar 10% (dalam satu
tahun). Kampanye periklanan yang dilakukan dipusatkan pada suatu kenyataan
bahwa produk dari perusahaan “X” lebih baik dari pesaingnya. Sebelum dan
sesudah diadakan penelitian diperoleh data sebagai berikut :
1.
Terdapat kenaikan dan 15,3% menjadi 35,1% dari jumlah responden yang menyatakan
bahwa produk dari perusahaan X adalah
bersih dan warnanya bagus.
2.
Terdapat kenaikan dan 3,6% menjadi 16,3% dari jumlah responden yang beranggapan
bahwa produk X Iebih menarik.
3.
Terdapat kenaikan dan 9,4% menjadi 24,3% dari jumlah responden yang menyatakan
bahwa produk perusahaan X lebih kuat.
Hasil
tersebut jelas menunjukkan bahwa kampanye periklanan itu telah mencapai sasaran
yang ditentukan.
4. Pendekatan Normatif
Pendekatan
normatif ini menyangkut penentuan anggaran periklanan yang optimal untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendekatan ini menggunakan dasar penjualan
karena penjualan ini dapat memaksimumkan laba. Pemilihan pendekatan
normatif mi tergantung pada ada atau tidak adanya faktor pengaruh. Jika
tidak ada faktor yang mempengaruhinya, maka kita hanya perlu memaksimumkan laba
jangka pendek.
Pengaruh
tersebut dapat terjadi apabila biaya pemasaran mempengaruhi penjualan dalam
periode yang akan datang. Dalam hal ini, prosedur tertentu untuk mendapatkan
anggaran yang optimal juga tergantung pada tersedianya data historis yang
diperlukan. Bagi produk baru, metode yang dipakai untuk menyusun anggaran yang
optimal adalah :
1. Metode
Bayesian
Sebuah
perusahaan sedang mempertimbangkan untuk memproduksi produk baru “Z”. Jika
produk baru “Z” tersebut dibuat maka diperkirakan perusahaan akan menambah
biaya tetap sebesar Rp 300.000,- dan biaya variabel Rp 60,- per unit selama
tahun 1999. Harga yang akan ditetapkan adalah Rp 200,- dan perusahaan mempunyai
daftar pengiriman sebanyak 10.000 calon konsumen. Jika perusahaan memutuskan
untuk tidak memproduksi produk “Z”, maka labanya akan meningkat sebesar Rp
20.000,- dalam tahun 1999 dengan menggunakan peralatan yang ada.
Jika
peralatan yang ada juga dipakai untuk membuat produk “Z” maka perusahaan hanya
akan mengadakan promosi dengan direct
mail (pengiriman langsung). Untuk
mendukung keputusan tersebut, manajer pemasaran ingin mengetes hasil dan tiga macam responsi terhadap direct mail
tersebut :
N1
= 20% dan daftar calon pembeli bersedia membeli
N2
= 30% bersedia membeli
N3
= 40% bersedia membeli
Berdasarkan pada pengalaman dan usaha
direct mail yang lampau, manajer telah memperkirakan probabilitas terjadinya
masing-masing tingkatan sebesar 0,5 ; 0,3 dan 0,2 untuk 20%, 30%, dan 40%
tingkat pengembalian secara berturut-turut.
Pertanyaan : Jika tidak tersedia informasi tambahan,
keputusan apakah yang harus diambil ?
Ada suatu anggapan bahwa kriteria
pemilihannya adalah nilai yang diharapkan dan
kenaikan laba tahunan.
Jawaban
Bila
persamaan biaya total adalah TC = 300.000 + 60 Q, maka dapat disusun
tabel penghasilan dan biaya :
![]() |
|
Tabel 5.1. Penghasilan dan Biaya
|
Dimana :
TC = Biaya total
Q = Jumlah penjualan dalam unit
TR
= Pendapatan total
p
=
Kenaikan pendapatan dalam tahun 1999
EV (p) = Nilai yang diharapkan dari
kenaikan laba
Dapat dilihat bahwa strategi “untuk
memproduksi produk baru” akan memberikan kenaikan laba yang diharapkan
sebesar Rp 78.000,-. Jika produk baru tersebut tidak diperkenalkan, maka laba yang diharapkan hanya meningkat
sebesar Rp 20.000,-. Jadi, strategi perusahaan untuk membuat
produk Z adalah optimal.
Dalam
Bayesian, pemecahan di muka disebut prior
analysis. Ada suatu anggapan di sini, bahwa :
• Manajer
dapat menyusun rangkaian strategi yang menyeluruh.
·
Manajer dapat memperkirakan profitabilitas masing-masing strategi atau kombinasinya.
·
Manajer dapat mengkuantifikasikan masing-masing strategi.
Kemudian ia memilih tindakan yang dapat
memberikan profitabilitas optimal.
Manajemen dihadapkan pada dua
strategi, yaitu :
S1 : memperkenalkan produk baru (strategi 1)
S2 : tidak memperkenalkan produk baru (strategi 2)
Metode
Bayesian ini merupakan satu cara penyusunan anggaran yang dapat dipakai bila
tidak terdapat cukup data historis. Oleh karena itu masih ada status strategi
lagi, yaitu :
S3 : menunda keputusan sampai data tambahan dapat dikumpulkan
atau dianalisa (strategi 3)
Jadi,
strategi ketiga ini dimaksudkan untuk memperbaiki strategi sebelumnya. Proses pengumpulan informasi tambahan
sebelum memilih strategi terdahulu disebut prosedur analisa posterior.
1. Model
Matematis
Data historis
dapat dipakai untuk mengestimasi parameter yang tidak diketahui dan suatu model
matematis tentang fungsi responsi periklanan. Jka estimasi tersebut benar, maka
posisi optimal dapat dicapai dengan menyelesaikan model matematis tersebut.
Contoh :
Jumlah produk X yang diminta merupakan
fungsi harga dan periklanan. Hubungan tersebut dapat dinyatakan dengan sebuah
persamaan :
Q = 4.000 + 0,14 A - 0,000006 A2 - 40P
Persamaan mi menganggap bahwa responsi
penjualan terhadap periklanan sama halnya dengan responsi penjualan terhadap
harga. Persamaan ini juga menggambarkan adanya hasil yang menurun dalam
periklanan. Setiap tambahan rupiah untuk periklanan menghasilkan tambahan
penjualan yang lebih kecil.
Fungsi pendapatan
total (R), hiaya
total (C), dan persamaan laba dapat ditunjukkan dengan istilah fungsi
responsi penjualan. Sesuai dengan persamaannya, laba akan rnencapai
rnaksimum Rp 75.000,- pada harga Rp 70,-
per unit dan biaya periklanan Rp 10.000,-. Jika perusahaan tidak memasang
iklan, maka labanya akan berkurang Rp 26.000,- (atau Rp 75.000 - Rp 49.000). Dengan
periklanan tersehut perusahaan dapat mengenakan harga Rp 10,- lebih besar dan
juga dapat menjual 400 unit
produk X lebih banvak.
Perhitungannya
adalah sebagai berikut :
• A =
biaya periklanan (Rp 10.000,-)
• P = harga jual per unit (Rp 70,-)
• Q = 4.000 + 0,14 A - 0,000006
A2 40 P
= 4.000 + (0,14 x 10.000) - (0,000006 x 10.0002) (40 x
7)
= 4.000 + 1.400 - 600 - 2.800
= 2.000 unit.
·
R
= pendapatan total (total revenue)
= Q x P
= 2.000 x 70
= Rp 140.000,-
·
O
= biaya total (total cost)
= 15.000 + 20 Q (lihat
persamaan bab 10)
= 15.000 + (20 x 2.000)
= 15.000 + 40.000
= Rp. 55.000,- (tanpa biaya periklanan)
• C
dengan biaya periklanan = Rp 55.000,- + Rp 10.000,-
= Rp 65.000,-
·
Laba = R - C
= Rp 140.000 - Rp 65.000
= Rp 75.000,-
Jika produk X tidak diiklankan, harga yang
bisa dicapai hanya Rp 60,- per unit dengan jumlah penjualan sebanyak 1.600 unit
.
·
Q =
4.000 - 40 P
= 4.000 - (40 x 60)
= 4.000 - 2.400
= 1.600 unit
‘• R
= P.Q
= 60 (1.600)
= Rp 96.000,-
I
·
C = 15.000 + 20 Q
= 15.000 + (20 x 1.600)
= 15.000 + 32.000
= Rp 47.000,-
I
·
Laba
= R - C
= Rp 96.000 - Rp 47 .000
=
Rp 49.000,-
Kesimpulannya
:
Dengan
mengeluarkan biaya periklanan sebesar Rp 10.000,- maka :
·
Keuntungan meningkat dan Rp 49.000,- menjadi Rp 75.000,-.
·
Jumlah
permintaan meningkat dan 1.600 unit menjadi 2.000 unit.
·
Harga
jual naik dan Rp 60,- per unit menjadi Rp 70,- per unit
5.9.
Pemilihan Media
Tujuan
didalam perencanaan media adalah untuk memilih apakah menggunakan :
·
Televisi
·
Radio
·
Majalah
·
Surat kabar
·
Atau
media lain
Tentu saja media yang dipilih adalah
media yang akan memaksimumkan laba dengan anggaran yang ada. Dalam hal ini kita
dapat menggunakan metode kuantitatif seperti Operation research.
Media merupakan alat yang digunakan
dalam kegiatan periklanan.
Media bukanlah suatu alat penyampaian berita yang pasif, bahkan sering media itu dapat mempengaruhi efektivitas beritanya. Adapun factor-faktor yang perlu dperhatikan di dalam pemilihan media ini adalah :
Media bukanlah suatu alat penyampaian berita yang pasif, bahkan sering media itu dapat mempengaruhi efektivitas beritanya. Adapun factor-faktor yang perlu dperhatikan di dalam pemilihan media ini adalah :
1. Produk
yang diiklankan
2. Sistem
distribusi produknya
3.
Editorial
4.
Kemampuan teknis media
5.
Strategi periklanan saingan
6.
Sasaran yang dapat dicapai
7.
Karakteristik media
8. Biaya
Setiap
media yang ada rnemiliki
kesan dan kepribadian sendiri-sendiri. Ada yang lebih menonjol sebagai “prestise”
seperti majalah Tempo dan Eksekutif. Ada pula yang lebih menonjol dalam “keahlian
“ seperti majalah Management dan Usahawan Indonesia.
Sumber : Sri
Retnoningsih
Editor :
Admin Coretan mahasiswa

