Friday, March 8, 2019

TINGKAT MATERIALITAS DAN RESIKO PROSES AUDIT

Baca Juga


BAB I
PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang
Kertas kerja merupakan suatu dasar dalam penerapan standar auditing terutama dalam hal pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Pentingnya konsep materialitas yakni sebagai pertimbangan seorang auditor dalam menjalankan tugasnya.
Definisi materialitas mengharuskan seorang auditor dalam mempertimbangkan keadaan baik yang berkaitan dengan entitas dan kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaannya. Oleh karena itu pentingnya Materialitas, risiko dan strategi audit awal guna memeperlancar tugas seorang auditor serta sebagai bahan pertimbangannya untuk selanjutnya akan dibahas pada bab II makalah ini.
2.     Rumusan Masalah
1.     Apa definisi dari Materialitas?
2.     Bagaimana pertimbangan awal mengenai Materialitas ?
3.     Bagaimana hubungan antara materialitas denga bukti audit?
4.     Bagaimana model risiko audit?
5.     Bagaimana menilai komponen risiko audit?
6.     Bagaimana hubungan risiko audit pada tingkat laporan keuangan dan tingkat  saldo akun?
7.     Bagaimana hubungan antara risiko audit dan bukti audit?
8.     Bagaimana timbal balik antara materialita,risiko audit dan bukti audit?
9.     Apa saja yang termasuk audit tambahan?
10.  Bagaimana hubungan antara strategi dan siklus transaksi?

BAB II
PEMBAHASAN

A.   KONSEP MATERIALITAS
Materialitas merupakan dasar penerapan standar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Oleh karena itu, materialitas mempunyai pengaruh yang mencakup semua aspek audit dalam audit atas laporan keuangan. Dalam SA Seksi 319 Risiko Audit dan Materialitas Audit dalam Pelaksanaan Audit mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan materialitas dalam perencanaan audit, dan penilaian terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
Pengertian Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.
B.   PERTIMBANGAN AWAL TENTANG MATERIALITAS
Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif yang berkaitan dengan hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan keuangan dan kualitatif yang berkaitan dengan penyebab salah saji.
Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada dua tingkat berikut ini :
a.     Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor atas kewajaran mencakup laporan keuangan sebagai keseluruhan.
b.    Tingkat saldo akun, karena auditor memverifikasi saldo akun dalam mencapai kesimpulan menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan. 
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pertimbangan awal tentang materialitas pada setiap tingkat dijelaskan berikut ini :
1.     Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan
Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama, auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan kedua, pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit. Pada saat merencanakan audit, auditor perlu membuat estimasi materialitas karena terdapat hubungan terbalik antara jumlah dalam laporan keuangan yang dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit yang diperlukan untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan.
Laporan keuangan mengandung salah saji material jika laporan tersebut berisi kekeliruan atau kecurangan yang dampaknya, secara individual atau secara gabungan, sedemikian signifikan sehingga mencegah penyajian secara wajar laporan keuangan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Dalam keadaan ini, salah saji dapat terjadi sebagai akibat penerapan secara keliru prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, penyimpangan dari fakta, atau penghilangan informasi yang diperlukan.
Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan keuangan. Kenyataannya, setiap laporan keuangan dapat memiliki dari satu tingkat materialitas. Untuk laporan laba-rugi, materialitasnya dapat dihubungkan dengan total pendapatan, laba bersih usaha, laba bersih sebelum pajak, atau laba bersih setelah pajak. Untuk neraca, materialitas dapat didasarkan pada total aktiva, aktiva lancar, modal kerja, atau modal saham.
Pertimbangan awal auditor tentang materialitas seringkali dibuat enam sampai dengan sembilan bulan sebelum tanggal neraca. Oleh karena itu, pertimbangan tersebut dapat didasarkan atas data laporan keuangan yang dibuat tahunan. Sebagai alternatif, pertimbangan tersebut dapat didasarkan atas hasil keuangan satu tahun atau lebih yang telah lalu, yang disesuaikan dengan perubahan terkini, seperti keadaan ekonomi umum dan trend industri.
Sampai dengan saat ini, tidak terdapat panduan resmi yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tentang ukuran kuantitatif materialitas. Berikut ini diberikan contoh beberapa panduan kuantitatif yang digunakan dalam praktik :
a.     Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat salah saji 5 % sampai 10 % dari laba sebelum pajak.
b.     Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat salah saji ½ % sampai 1 % dari total aktiva.
c.      Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat salah saji 1 % dari total pasiva.
d.     Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika terdapat salah saji ½ % sampai 1 % dari pendapatan bruto.
2.     Materialitas pada Tingkat Saldo Akun
Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada timgkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material. Saldo akun material adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan.
Saldo suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan batas atas lebih saji ( overstatement ) dalam akun tersebut. Oleh krena itu, akun dengan saldo yang jauh lebih kecil dibandingkan materialitas seringkali disebut sebagai tidak material mengenai risiko lebih saji. Namun, tidak ada batas jumlah kurang saji dalam suatu akun dengan saldo tercatat yang sangat kecil. Oleh karena itu, harus disadari oleh auditor, bahwa akun yang kelihatannya bersaldo tidak material, dapat berisi kurang saji ( understatement ) yang melampaui materialitasnya.

3.     Alokasi Materialitas Laporan Keuangan ke Akun
Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan dikuantifikasikan, penaksiran awal tentang materialitas untuk setiap akun dapat diperoleh dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan kea kun secara individual. Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut. 
C.   HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS DENGAN BUKTI AUDIT
Materialitas merupakan satu di antara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kuantitas (kecukupan) bukti audit. Dalam membuat generalisasi hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. (hubungan terbalik). Semakin besar atau semakin signifikan suatu saldo akun, semakin banyak jumlah bukti yang diperlukan.
D.   RISIKO AUDIT
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit. Menurut SA Seksi 312Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit, risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Semakin pasti auditor dalam menyatakan pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang auditor bersedia untuk menanggungnya.
Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan atas dasar bukti yang diperoleh dari verifikasi asersi yang berkaitan dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi. Tujuannya adalah untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir proses audit, risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah.
E.   MODEL RISIKO AUDIT
Model  risiko audit dapat dinyatakan secara kuantitatif sebagai berikut :
AR = IR × CR × DR
Di mana :
     AR = Risiko audit (Audit Risk)
     IR = Risiko bawaan (Inherent Risk)
     CR = Risiko pengendalian (Control Risk)
     DR = Risko deteksi (Detection Risk)
Untuk menggambarkan penggunaan model tersebut, asumsikan bahwa auditor membuat pertimbangan professional untuk asersi tertentu, seperti asersi penilaian atau asersi penilaian atau alokasi untuk piutang usaha sebagai berikut :
AR = 5%, IR = 90%, dan CR = 20%
Risko deteksi dapat ditentukan dengan menyelesaikan model tersebut sebagai berikut :
                                  DR   = (AR)/(IR × CR)
                                          = 0,05/(0,9 × 0,2)
                                          = 0,28
F.    MENILAI KOMPONEN RISIKO AUDIT
a.  Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait.
Penilaian risiko bawaan merupakan pertimbangan mengenai hal-hal yang mungkin memiliki dampak yang mendalam terhadap asersi-asersi untuk semua atau banyak akun dan hal-hal ang hanya berkaitan dengan asersi spesitifk untk suatu akun spesifik.
Risiko bawaan dapat lebih besar untuk beberapa asersi daripada untuk asersi-asersi lainnya. Risiko bawaan muncul secara independent dari audit laporan keuangan. Oleh karena itu, auditor tidak dapat mengubah tingkat actual dari risiko bawaan. Akan tetapi, auditor dapat mengubah tingkat risiko bawaan yang dinilai. 
b.  Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern entitas.
c.      Risiko Deteksi
Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mandeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.
Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai suatu kombinasi dari risiko prosedur analitis dan risiko pengujian terinci. Dalam menentukan risiko deteksi auditor juga harus mempertimbangkan kemungkinan akan membuat suatu kekeliruan.
Dalam perencanaan audit, suatu tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat diterima untuk prosedur analitis dan pengujian terinci ditentukan untuk setiap asersi yang signifikan dengan menggunakan model risiko audit.
G.  RISIKO AUDIT PADA TINGKAT LAPORAN KEUANGAN DAN TINGKAT SALDO AKUN
Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan tentang ketepatan informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan mengharuskan auditor mempertimbangkan baik materialitas maupun risiko audit, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atau suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Risiko audit, seperti materialitas, dibagi menjadi dua bagian :
1.     Risiko audit keseluruhan yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai keseluruhan.
2.     Risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap saldo akun individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan.
a. Risiko Audit Keseluruhan (Overall Audit Risk)
Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus menentukan risiko audit keseluruhan yang direncanakan, yang merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi salah saji material. 
b.   Risiko Audit Individual
Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara individual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepaada akun-akun yang berkaitan. Risiko audit individual perlu ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat penting karena besar saldonya atau frekuensi transaksi perubahan. Dari pengalaman audit di tahun sebelumnya, auditor dapat menaksir risiko audit atas akun tertentu.
H.  HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, BUKTI AUDIT
Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan risiko audit digambarkan sebagai berikut :
1.     Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat meterialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
2.     Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
3.     Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :
a. Menambah tingkat meterialiras, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
b. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.
c. Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama.
I.      STRATEGI AUDIT AWAL
Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit, dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam, yaitu pendekatan terutama substantif (primarily substantive approach), dan pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah (lower assessed level of control risk approach).
Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam :
1.          Pendekatan Terutama Substantif.
Dalam strategi audit ini, auditor mengumpulkan semua atau hampir semua bukti audit dengan menggunakan pengujian substantif dan auditor sedikit meletakkan kepercayaan atau tidak mempercayai pengendalian intern. Pada dasarnya ada tiga alasan mengapa auditor menggunakan pendekatan ini :
a.     Hanya terdapat sedikit ( jika ada ) kebijakan atau prosedur pengendalian intern yang relevan dengan perikatan audit atas laporan keuangan.
b.     Kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang berkaitan dengan asersi untuk akun dan golongan transaksi signifikan tidak efektif.
c.      Peletakkan kepercayaan besar terhadap pengujian substantive lebih efisien untuk asersi tertentu.

2.     Pendekatan Risiko Pengendalian Rendah.
Dalam pendekatan ini, auditor meletakkan kepercayaan moderat atau pada tingkat kepercayaan penuh terhadap pengendalian, dan sebagai akibatnya auditor hanya melaksanakan sedikit pengujian substantif.
UNSUR STRATEGI AUDIT AWAL
Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor menetapkan empat unsur berikut ini :
1.     Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
2.     Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
3.     Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
4.     Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.
I.  STRATEGI AUDIT TAMBAHAN
a.     Pendekatan Substantif Utama yang Menekankan Pada Prosedur Analitis
Menurut pendekatan substantive utama yang menekankan pada prosedur analitis, auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit berikut :
        Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti kompeten dari prosedur analitis untuk mendukung suatu penilaian risiko sedang atau rendah dari bukti tersebut.
        Gunakan suatu tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat maksimum)
        Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian relevan dari pengendalian intern.
        Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian relevan dari pengendalian intern.
        Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
        Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko yang diberikan prosedur analitis.
b.    Penekanan pada Risiko Bawaan dan Prosedur Analitis
        Risiko bawaan dinilai pada tingkat di bawah maksimum.
        Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai serendah mungkin.
        Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat maksimum).
        Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian yang relevan dari pengendalian intern.
        Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
        Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko bawaan dan prosedur analitis yang lebih rendah.
J. HUBUNGAN ANTARA STRATEGI DAN SIKLUS TRANSAKSI
Seringkali suatu strategi yang serupa diterapkan pada sekelompok asersi yang dipengaruhi oleh golongan transaksi dalam suatu siklus transaksi. Logikanya adalah bahwa banyak pengendalian intern berfokus pada pemrosesan satu jenis transaksi dalam satu siklus. Meskipun, kantor akuntan menggunakan nama yang berbeda untuk golongan transaksi, dan dalam beberapa kasus bahkan berbeda dalam menspesifikasikan golongan transaksi mana yang masuk dalam siklus tertentu.
          Siklus                             Golongan transaksi
          - Pendapatan        -  Penjualan,penerimaan kas ,penyesuaian
          - Pengeluaran       -  Pembelian dan pengeluaran kas
          - Jasa personil      -  Penggajian
          -  Produksi           -  Memproses persediaan
          - Investasi             - Investasi dalam aktiva tetap
- Pembiayaan       - Pembiayaandari hutang jangka panjang
                                  
BAB III
KESIMPULAN

Materialitas dibagi menjadi dua golongan yaitu materialitas pada tingkat laporan keuangan dan materialitas pada tingkat saldo akun. Sedangkan Risiko audit juga digolongkan menjadi dua yakni risiko audit keseluruhan dan risiko audit individual. Dalam hal ini risiko audit terdiri dari tiga unsur (1) risiko bawaan, yakni kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait, (2) risiko pengendalian, yakni risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern entitas dan (3) risiko deteksiadalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mandeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.
Adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau kelompok asersi.

DAFTAR PUSTAKA

Puradireja, Kanaka dan Mulyadi.Auditing, Edisi 5, Cetakan ke 1. Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 1997.
Halim, Abdul MBA. Akuntansi, Edisi 2. Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2001.

Sumber : Anggraini Sinta P.


Editor : Admin Coretan Mahasiswa

AUDITING BUKTI AUDIT

Baca Juga


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bukti audit sangat besar pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya. Oleh karena itu auditor harus mengumpulkan dan mengevaluasi bukti yang cukup dan kompeten agar kesimpulan yang diambilnya tidak menyesatkan bagi pihak pemakai dan juga untuk menghindar dari tuntutan pihak – pihak yang berkepentingan di kemudian hari apabila pendapat yang diberikannya tidak pantas. Tipe bukti audit berupa dokumentasi (bukti dokumenter) juga penting bagi auditor.
Namun, dokumentasi pendukung yang dibuat dan hanya digunakan dalam organisasi klien merupakan bukti audit yang kualitasnya lebih rendah karena tidak adanya pengecekan dari pihak luar yang bebas. Dalam makalah ini berbagai tipe bukti audit yang dikumpulkan oleh auditor selama auditnya dan berbagai faktor yang harus diperhatikan oleh auditor dalam pengumpulan bukti audit. Makalah ini diakhiri dengan pembahasan berbagai pengambilan keputusan yang harus dilakukan oleh auditor dalam proses pengumpulan bukti audit.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahannya, yaitu:
1.      Apa hakekat bukti audit?
2.      Bagaimana keputusan bahan bukti audit?
3.      Bagaimana keandalan bahan bukti yang menyimpulkan?
4.      Apa sajakah tujuan bukti audit?
5.      Apa sajakah jenis-jenis bahan bukti audit?

C.    Tujuan Masalah
Adapun penulis dalam pembuatan makalah tentang Bukti Audit ini, yaitu:
1.      Mengetahui hakekat bukti audit?
2.      Mengetahui keputusan bahan bukti audit?
3.      Mengetahuikeandalan bahan bukti yang menyimpulkan?
4.      Mengetahuitujuan bukti audit?
5.      Mengetahuijenis-jenis bahan bukti audit?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakekat Bukti Audit
Keputusan utama yang harus ditetapkan oleh auditor adalah menyangkut banyaknya bukti pendukung yang memadai untuk dikumpulkan, agar auditor merasa yakin bahwasannya unsur-unsur laporan keuangan dan semua laporan lainnya dari klien dibuat sewajarnya. Pertimbangan ini penting karena tingginya biaya pemeriksaan dan penilaian seluruh bukti yang tersedia.
Sebagai dasar menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, auditor mengumpulkan bukti audit. Meskipun secara akuntansi menyediakan bukti audit yang cukup untuk mendukung pendapat auditor, namun catatan tersebut bukan merupakan satu-satunya bukti audit yang dikumpulkan oleh auditor. Bahwasannya auditor juga mengumpulkan bukti audit dengan melakukan pengmatan langsung terhadap penghitungan fisik sediaan, mengjukan permintaan keterangan dan mendapatkan bukti dari berbagai sumber dari luar perusahaan klien.
Adapun pengertian dari bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya. Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat (corroborating information) yang tersedia bagi auditor.

B.     Keputusan Bahan Bukti Audit
Keputusan auditor mengenai bukti pendukung audit dapat dipisahkan menjadi empat golongan, yaitu sebagai berikut;
1.      Prosedur audit mana yang akan digunakan.
2.      Jumlah sampel yang akan dipilih untuk suatu prosedur tertentu.
3.      Item (transaksi) mana yang akan dipilih dari keseluruhan data/populasi.
4.      Kapan prosedur-prosedur itu akan dilaksanakan.
Prosedur audit.Prosedur audit adalah petunjuk terinci mengenai pengumpulan jenis bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada suatu saat selama proses audit. Contoh, bukti seperti penghitungan fisik pesediaan, perbandingan antara cek-cek yang telah diuangkan dengan pengeluaran kas, ayat-ayat jurnal dan perincian dikumen pengiriman yang semuanya dikumpulkan dengan menggunakan prosedur audit.Dalam merancang prosedur audit, biasanya perlu perumusan dengan menggunakan istilah-istilah yang cukup jelas agar prosedur tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk dalam pelaksanaan audit.
Ukuran sampel.Setelah prosedur audit dipilih, adalah mungkin bagi auditor untuk mengubah ukuran sampel dari satu sampai seluruh bagian populasi yang sedang diuji. Dalam prosedur audit, misalkan terdapat 6.000 cek yang tercatat dalam jurnal pengeluaran kas. Auditor dapat memilih ukuran sampel sebanyak 200 untuk dibandingkan dengan jurnal pengeluaran kas. Kemudian, auditor harus membuat keputusan tentang berapa banyak item yang harus diuji untuk setiap prosedur audit. Adapun ukuran sampel untuk suatu prosedur dapat berubah-ubah dari satu audit ke audit lainnya.
Item-item yang dipilih.Sesudah ukursn sampel ditentukan untuk suatu prosedur audit tertentu, maka masih perlu diputuskan item-item tertentu yang harus diperiksa. Misalnya, jika auditor memilih 200 cek yang dibatalkan dari populasi 6.600 sebagai perbandingan dengan jurnal pengeluaran kas, berbagai metode yang berbeda dapat digunakan untuk memilih cek-cek tertentu yang akan diperiksa. Auditor dapat (1) memilih satu minggu dan memilih 200 cek pertama; (2) memilih 200 cek dengan jumlah yang terbesar; (3) memilih cek-cek secara acak; atau (4) memilih cek-cek yang menurut pendapat auditor mengandung kekeliruan. Atau menggunakan kombinas dari metode-metode yang sudah dijelaskan di atas.
Pengaturan waktu (timing). Audit laporan keuangan biasanya meliputi jangka waktu misalnya satu tahun, dan audit tersebut biasanya akan diselesaikan sampai lewat beberapa minggu atau beberapa bulan setelah akhit periode. Pengaturan waktu peosedur audit dapat berkisar dari awal periode akuntan yang panjang sampai periode itu berakhir. Dalam mengaudit laporan keuangan, biasanya klien menginginkan agar audit diselesaikan satu samapai tiga bulan setelah akhir tahun.
Program audit. Uraian terperinci mengenai hasil-hasil dari keempat golongan keputusan dengan bukti audit tertentu disebut program audit. Program audit selalu memuat daftar prosedut audit. Biasanya dinyatakan juga ukuran sampel, item-item tertentu yang dipilih dan pengaturan waktu pengujian. Lazimnya, terdapat bagian program audit untuk setiap komponen audit. Oelh sebab itu, akan terdapat bagian program audit untuk piutang usaha, untuk penjualan dan lainnya.

C.    Keadaan Bukti Audit yang Menyimpulkan
Standar ketiga kerja lapangan mensyaratkan bahwa auditor harus menumpulkan bukti yang kompeten untuk mendukung pendapat yang dikeluarkan. Karena hakikatnya bukti audit dan pertimbangan biaya pelaksanaan audit itu sendiri, yidak memungkinkan bagi auditor untuk yakin seratus persen bahwa pendapat yang dikeluarkannya adalah benar. Namun, seorang auditor harus memiliki pendirian bahwasannya pendapatnya adalah benar tanpa ada keragu-raguan sedikit pun. Dengan menggabungkan seluruh bukti audit secara keseluruhan, auditor dapat memutuskan untuk mengeluarkan laporan audit juka sudah tidak ada lagi keraguan dipihaknya.
            Ada tiga faktor penentu dari bukti yang meyakinkan adalah kompetensi, kecukupan dan ketepatan waktu. Perhatikan bahwa faktor yang disebutkan terdahulu diambil langsung dari standar ketiga kerja lapangan.
1.      Kompetensi
Kompetensi merupakan tingkatan samapai di mana suatu bukti dianggap kompeten sekali. Bukti tersebut akan banyak membantu auditor dalam menyakinkan bahwasannya laporan keuangan disajikan dengan wajar. Sebagai contoh, jika seorang auditor menghitung persediaan, maka bukti yang ditemukannya akan lebih kompeten daripada jika memejemen memberikan auditor angka-angkanya sendiri. Kebanyakan auditor menggunakan istilahdapat dipercayakan buktisebagai sinonim dari kompetensi.
Kompetensi bukti hanya menyangkut prosedur-prosedur audit yang dipilih. Kompetensi tidak dapat ditingkatkan dengan memilih sampel yang lebih besar atau pemilihan item (transaksi) lain dari populasi. Kompetensi hanya dapat ditingkatkan dengan memiliki prosedur audit yang bermutu tinggi dari salah satu atau lebih dari keenam ciri-ciri bukti yang kompeten, yaitu;
a.       Relevansi
Bukti harus berhubungan atau relevan denga tujuan yang sedang diuji oleh auditor sebelum dapat dianggap meyakinkan. Misalnya, anggaplah auditor menduga bahwa seorang klien tidak menagih pelanggan atas pengiriman barang (tujuan kelengkapan). Jika auditor memilih sampel salinan fuktur penjualan dan menelusuri masing-masing faktur ke dokumen pengiriman yang bersangkutan, maka bukti yang diperoleh tidak akan relevan dengan tujuan kelngkapan. Prosedur yang relevan seharusnya membandingkan sampel dikumen pengiriman dengan salinan faktur penjualan yang bersangkutan untuk menetapkan bahwa masing-masing pengiriman telah ditagih.
b.      Independensi pemberi bukti
Bukti yang diperoleh dari sumber di luar perusahaan adalah lebih dapat dipercaya daripada yang didapat dari perusahaan. Sebagai contoh, bukti eksternal seperti yang diperoleh dari bank, pengacara, atau pelanggan biasanya dapat lebih dipercaya daripada jawaban yang diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan terhadap klien dan dari dokumen yang bukan organisasi klien.
c.       Keefektifan struktur pengendalian internal klien
Apabila struktur pengendalian internal klien efektif, bukti yang didapat dari klien akan lebih dapat dipercaya daripada jika pengendalian internalnya lemah. Sebagai contoh, jika pengendalian internal terhadap penjualan dan penagihan efektif, auditor dapat memperoleh bukti yang kompeten dari faktir penjualan dan dikumentasi pengiriman daropada jika pengendaliannya tidak memadai,
d.      Penegtahuan langsung dari auditor
Bukti yang didapat secara langsung oleh auditor melalui pemeriksaan fisik, observasi, penghitungan dan pengawasan adalah lebih kompeten dari marjin kotor sebagai persentase penjualan dan membandingkannya dengan periode-periode sebelumnya., bukti yang ditemukannya akan lebih dapat dipercaya daripada jika auditor percaya pada perhitungan yang dibuat oleh kontroler.
e.       Kualifikasi orang-orang yang memberikan informasi
Meskipun sumber informasi adalah independen, bukti tidak akan dapat dipercaya kecuali jika orang yang memberikannya benar-benar mematuhi persyaratan untuk itu. Karena itu, konfirmasi pengacara dan bank lebih dihargai daripada konfirmasi piutang usaha yang berasal dari orang-orang yang tidak akan dapat dipercaya jika dia tidak berpengalaman dalam dunia usaha. Selain itu juga, bukti yang didapatkan langsung oleh auditor tidak akan dapat dipercaya jika auditor tidak memenuhi persyaratan untuk mengevaluasi bukti itu. Misalnya, pemeriksaan penyediaan berupa berlian oleh seorang auditor yang tidak dididik untuk membedakan antara berlian dan kaca biasa, maka tidak akan menghasilkan bukti yang dapat dipercaya mengenai keberadaan berlian tersebut.
f.       Tingkat obyektivitas
Bukti yang obyektif akan lebih dapat diandalkan daropada bukti yang banyak membutuhkan pertimbangan untuk memutuskan apakah bukti itu benar. Contoh bukti yang obyektif adalah konfirmasi mengenai piutang usaha dan saldo bank, usaha untuk mencek apakah jumlahnya sama dengansaldo dalam buku besar.
2.      Kecukupan bukti
Kuantitas bukti yang diperoleh akan menentukan apakah bukti itu cukup. Karena itu, ukuran sampel yang dipilih oleh auditor adalah penting dalam menentukan kecukupan bukti. Untuk prosedur audit tertentu, bukti yang diperoleh dari sampel sebanyak dua ratus umumnya akan lebih memadai daripada sampel sebanyak seratus.
Disamping ukuran sampel, transaksi (item) tertentu yang diuji akan mempengaruhi kecukupan bukti. Sampel yang terdiri dari transaksi (item) dengan jumlah rupiah yang besar, dengan kemungkinan kekeliruan yang tinggi, dan item yang mewakili keseluruhan data biasanya dianggap cukup. Dilain pihak, kebanyakan auditor menganggap bahwa sampel yang hanya terdiri dari transaksi (item) dengan jumlah rupiaah terbanayk dari populasi adalah tidak cukup.
3.      Ketepatan waktu
Ketepatan waktu dari bukti audit dapat menyangkut saat dicakup oleh audit. Biasanya bukti audit untuk perkiraan neraca akan lebih meyakinkan apabila bukti itu didapat sedekat mungkin dengan tanggal neraca. Contohnya, penghitungan auditor atas surat-surat berharga yang dapat dipasarkan pada tanggal neraca akan lebih meyakinkan daripada penghitungan dua bulan sebelumnya. Kemudian, untuk perkiraan perhitungan rugi-laba, bukti akan lebih menyakinkan jika ada sampel dari seluruh periode yang dicakupaudit daripada hanya sebagian periode. Misalnya, suatu sampel acak dari transaksi penjualan untuk keseluruhan tahun akan lebih meyakinkan daripada sampel dari hanya enam bulan pertama.
4.      Hasil gabungan
Masalah menyakinkan bukti hanya dapat dievaluasi setelah mempertimbangkan gabungan dari kompetensi, kecukupan dan ketepatan waktu. Sempel dari bukti yang sangat kompeten tidak meyakinkan kecuali jika bukti itu juga tepat waktu. Demikian juga, sampel yang besar dari bukti yang tidak dapat dipercaya adalah tidak meyakinkan.
5.      Masalah biaya dan meyakinkan bukti
Pengambilan keputusan mengenai bukti untuk audit tertentu, baik biaya dan masalah meyakinkannya bukti harus dipertimbangkan. Jarang terjadi bahwa hanya ada satu macam bukti untuk pengujian informasi. Biaya dan meyakinkannya bukti dari semua alternatif yang ada harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis-jenis bukti yang terbaik. Tujuan auditor adalah untuk mendapatkan bukti yang tepat waktu dan dapat dipercaya dalam jumlah yang cukup, yang dapat diterapkan pada informasi yang sedang diuji dan melaksanakannya dengan biaya total yang serendah mungkin.

D.    Tujuan Bukti Audit
Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk meyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. Sebab, kewajaran laporan keuangan sangatlah ditentukan integritas berbagai asersi manajmen yang terkandung dalam laporan keuangan, maka hubungan antara asersi manajemen dengan tujuan umum audit dapat digambarkan pada bagan dibawah ini;

Asersi Manajemen
Tujuan Umum Audit
Keberadaaan atau keterjadian
Aktiva dan kewajiban entitas ada pada tanggal tertentu dan transaksi pendapatan serta biaya terjadi dalam periode tertentu.
Kelengkaoan
Semua transaksi dan akun yang seharusnya telah disajikan dalam laporaan keuangan.
Hak dan kewajiban
Aktiva adalah hak entitas dan utang adalah kewajiban entitas pada tanggal tertentu.
Penilaian dan alokasi
Komponen aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah yang semestinya.
Penyajian dan pengungkapan
Komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, digambarkan dan ditungkan secara semestinya.

E.     Jenis-jenis Bahan Baku Audit
Dalam memutuskan prosedur audit aman yang akan digunakan, ada tujuh kategori umum bukti audit yang dapat dipilih oleh auditor. Kategori ini yang disebut juga jenis, yaitu sebagai berikut;
1.      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan atau perhitungan oleh dihubungkan dengan persediaan dan kas, tetapi dapat juga ditetapkan dalam verifikasi surat-surat berharga, wesel tagihan dan aktifa tetap berwujud. Pemeriksaan fisik yang merupakan cara langsung untuk menguji apakh aktiva memang benar-benar ada, biasanya dipandang sebagai salah satu jenis bukti audit yang paling dapat dipercaya dan berguna. Umumnya, pemeriksaan fisik merupakan cara obyektif untuk mengecek kuantitas maupun keterangan ,engenai aktiva. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan fisik juga merupakan metode yang bermanfaat untuk mengevaluasi kondisi atau kualitas aktiva. Akan tetapi, pemeriksaan fisik bukan merupakan bukti yang cukup untuk menguji bahwa aktiva yang benar-benar dimiliki oleh kalien, dan dalam banyak kasus auditor tidak mampu meniali faktor-faktor kualitatif, seperti masalah keusangan atau keaslian. Penilaian yang wajar untuk tujuan laporan kuangan biasanya juga tidak dapat ditetapkan dengan pemerikasan fisik.
2.      Konfirmasi
Konfirmasi adalah penerimaan jawaban tertulis dari pihak ketiga yang independen, yang menguji ketetapan informasi yang diminta auditor. Karena konfirmasi datang dari sumber yang independen dan klien, konfirmasi ini sayang dihargai dan merupakan jenis bukti yang seringkali digunakan. Namun, konfirmasi akan menelan biaya dan dapat menyulitkan/mengganggu bagi orang yang diminta untuk memberikannya. Karena itu, konfirmasi tidak selalu digunakan dalam setiap kesempatan meskipun dapat dilakukan.
3.      Dokumentasi
Dokumentasi atau yang sering disebut vouching adalah pemeriksaan auditor atas dokumen-dokumen dan catatan-catatan klien untuk melengkapi/membuktikan informasi yang dicantumkan atau harus dicantumkan dalam laporan keuangan. Dokumen yang diperiksa oleh auditor adalah catatan yang digunakan klien untuk mengumpulkan informasi dalam pengelolaan usahanya secara terorganisir. Karena setiap transaksi dalam perusahaan, klien biasanya didukung oleh paling sedikit satu dokumen dan akan ada banyak jenis bukti semacam ini yang tersedia.
4.      Observasi
Observasi adalah penggunaan indera untuk menilai kegiatan-kegiatan tertentu. Selama proses audit berjalan terdapat banyak kesempatan untuk menggunakan penglihatan, pendengaran, perasaan dan penciuman untuk menilai berbagai macam hal.
5.      Pertanyaan terhadap klien
Pertanyaan adalah usaha untuk memperoleh informasi tertulis atau lisan dari klien sebagai jawaban atas pertanyaan auditor. Meskipun banyak bukti diperoleh dari klien melalui pertanyaan, namun bukti tersebut biasanya tidak dapat dianggap meyakinkan karena sumbernya tidak independen dan dapat besifat berat sebelah, yaitu menguntungkan klien.
6.      Ketepatan mekanis
Pengujian ketepatan mekanis menyangkut penelitian kembali terhadap sampel perhitungan dan pemindahan informasi yang dibuat oleh klien selama periode yang diaudit. Penelitian mencakup prosedur seperti pengalihan kembali faktur penjuaan dan penjualan, penjumlahan angka-angka jurnal dan buku tambahan serta penegcekan kalkulasi beban penyusutan dan beban yang dibayar di muka.
7.      Prosedur analitis
Prosedur analitis menggunakan berbagai perbandingan dan hubungan untuk menentukan apakah saldo-saldo perkiraan tampak wajar. Perhitungan auditor sendiri umumnya merupkan informasi yang dipakai untuk prosedur analitis, prosedur analitis harus dilaksanakan pada tahap awal audit untuk membantu memutuskan perkiraan-perkiraan mana yang tidak membutuhkan verifikasi lanjut, di mana bukti lain dapat dikurangi dan bidang audit mana yang harus diselidiki lebih teliti.
           
BAB III
KESIMPULAN

Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya.Kemudian, Keputusan auditor mengenai bukti pendukung audit dapat dipisahkan menjadi empat golongan, yaitu; (1) Prosedur audit mana yang akan digunakan; (2) Jumlah sampel yang akan dipilih untuk suatu prosedur tertentu; (3) Item (transaksi) mana yang akan dipilih dari keseluruhan data/populasi; dan (4) Kapan prosedur-prosedur itu akan dilaksanakan. Ada tiga faktor penentu dari bukti yang meyakinkan adalah kompetensi, kecukupan dan ketepatan waktu. Perhatikan bahwa faktor yang disebutkan terdahulu diambil langsung dari standar ketiga kerja lapangan, yaitu hasil gabungan serta masalah biaya dan meyakinkannya bukti.

Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk meyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. Kemudian, dalam memutuskan prosedur audit aman yang akan digunakan, ada tujuh kategori umum bukti audit yang dapat dipilih oleh auditor, yaitu; pemeriksaan fisik, konfirmasi, dokumentasi, observasi, pertanyaan terhadap klien, ketepaan mekanis dan prosedur analitis.

DAFTAR PUSTAKA 

Alvin A. Arens, James K. Loebbecke.Auditing Suatu Pendekatan Terpadu. Jakarta: ERLANGGA. 1995.
Mulyadi.Auditing. Jakarta: Salemba Empat. 2002.

Sumber : Anggraini Sinta P.


Editor : Admin Coretan Mahasiswa

PAJAK, BUMI DAN BANGUNAN

1.Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perai...