Baca Juga
Makalah Sumber Daya Manusia (SDM)
2.3. Fungsi Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) karyawan harus mendapat
perhatian yang sungguh – sungguh dari manajer. Karena jika pemeliharaan
karyawan ini kurang mendapat perhatian, akibatnya semangat kerja, sikap dan
loyalitas karyawan menurun. Absensi dan turn over meningkat, disiplin
akan menurun, sehinggapengadaan, pengembangan, kompensasi dan pengintegrasian
yang telah dilakukan dengan baik dan biaya yang besar kurang berarti untuk
menunjang tujuan perusahaan.
Supaya karyawan bersemangat kerja, berdisiplin tinggi, dan
bersikap loyal dalam menunjang tujuan perusahaan maka fungsi pemeliharaan ini
mutlak mendapat perhatian manajer. Tidak mungkin karyawan bersemangat kerja dan
berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaannya, jika kesejahteraan mereka tidak
diperhatikan dengan baik.
Pengertian pemeliharaan (maintenance) menurut Hasibuan
(2000;176), adalah “usaha mempertahankan dan atau meningkatkan kondisi
fisik, mental, dan sikap karyawan, agar mereka tetap loyal dan bekerja
produktif untuk menunjang tercapainya tujuan perusahaan”.
Pemilihan metode yang tepat sangat penting, supaya
pelaksanaannya efektif dalam mendukung tercapainya tujuan organisasi
perusahaan. Manajer yang cakap akan menerapkan metode yang sesuai dan efektif
dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Pemeliharaan keamanan, kesehatan dan sikap
loyal karyawan hendaknya dengan metode yang efektif dan efisien supaya tercapai
manfaat yang optimal.
Menurut Hasibuan ( 2000; 178 ), metode - metode pemeliharaan terdiri
dari
- Komunikasi
- Insentif
- Kesejahteraan karyawan
- Kesadaran dan keselamatan kerja
- Hubungan industrial Pancasila
2.4. Pengertian Insentif
Metode insentif yang adil dan layak merupakan daya penggerak
yang merangsang terciptanya pemeliharaan karyawan. Karena dengan pemberian
insentif karyawan merasa mendapat perhatian dan pengakuan terhadap prestasi
yang dicapainya, sehingga semangat kerja dan sikap loyal karyawan akan lebih
baik.
Pelaksanaan pemberian insentif dimaksudkan perusahaan
terutama untuk meningkatkan prestasi kerja karyawandan mempertahan karyawan
yang mempunyai produktivitas tinggi untuk tetap berada di dalam perusahaan.
Insentif itu sendiri merupakan rangsangan yang diberikan kepada karyawan dengan
tujuan untuk mendorong karyawan dalam bertindak dan berbuat sesuatu untuk
tujuan perusahaan. Hal ini berarti insentif merupakan suatu bentuk motivasi
bagi karyawan agar dalam diri mereka timbul semangat yang lebih besar untuk
berprestasi bagi perusahaan.
Ada beberapa defenisi yang dikemukakan para ahli mengenai insentif seperti :
- Menurut Sarwoto (1996;144), Insentif merupakan sarana motivasi, dapat berupa perangsang atau pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada para pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang yang lebih besar untuk berprestasi bagi organisasi”.
- Adapun defenisi insentif menurut Terry (Terry , 1964) adalah :
“Incentive is an important actuating tool. Human being tend
to strive more itensely when the reward for accomplishing satisfies their
personal demand”.
Artinya
: Insentif adalah suatu alat penggerak yang penting . Manusia cenderung untuk
berusaha lebih giat apabila balas jasa yang diterima memberikan kepuasan
terhadap apa yang diminta.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
insentif merupakan salah satu bentuk rangsangan atau motivasi yang sengaja
diberikan kepada karyawan untuk mendorong semangat kerja karyawan agar mereka
bekerja lebih produktif lagi, meningkatkan prestasinya dalam mencapai tujuan
perusahaan.
2.5. Jenis-Jenis Insentif
Pada dasarnya ada dua jenis insentif yang umum diberikan
,seperti yang diuraikan oleh Sarwoto (1996;155) yaitu:
- Insentif Finansial : merupakan insentif yang diberikan kepada karyawan atas hasil kerja mereka dan biasanya diberikan dalam bentuk uang berupa bonus, komisi, pembagian laba, dan kompensasi yang ditangguhkan , serta dalam bentuk jaminan sosial berupa peberian rumah dinas, tunjangan lembur, tunjangan kesehatan dan tunjangan-tunjangan lainnya.
- Insentif Non Finansial : Insentif non finansial dapat diberikan dalam berbagai bentuk, antara lain :
- Pemberian piagam penghargaan
- Pemberian pujian lisan ataupun tertulis, secara resmi ataupun pribadi
- Ucapan terima kasih secara formal maupun informal
- Promosi jabatan kepada karyawan yang baik selama masa tertentu serta dianggap mampu.
- Pemberian tanda jasa / medali kepada karyawan yang telah mencapai masa kerja yang cukup lama dan mempunyai loyalitas yang tinggi.
- Pemberian hak untuk menggunakan sesuatu atribut jabatan (misalnya pada mobil atau lainnya).
- Pemberian perlengkapan khusus pada ruangan kerja.
2.6. Program Insentif yang Efektif
Sebuah sistem insentif biasanya akan memiliki kesempatan
sukses yang lebih besar jika semua karyawan di dalam organisasi diberi
kesempatan berpartisipasi. Jika beberapa karyawan dikucilkan, mereka mungkin
akan menjadi iri dan benci kepada kepada orang-orang yang memiliki kesempatan
memperoleh bayaran insentif ekstra, dan akibatnya akan kurang mau bekerja sama
sampai maksimal.
Program insentif yang dirancang dengan baik akan berjalan
karena program tersebut didasarkan pada dua prinsip psikologis yang diterima
dengan baik, yaitu :
- motivasi yang meningkat menyebabkan melejitnya kinerja.
- dan pengakuan merupakan faktor utama dala motivasi.
sayangnya,
banyak program insentif yang dirancang secara tidak tepat, dan program tersebut
akhirnya tersendat-sendat. Seperti yang diungkapkan oleh Simamora (1997;635)
bahwa program insentif yang baik harus memenuhi beberapa aturan sebagai berikut:
1.
Sederhana
Aturan
sistem insentif haruslah ringkas, jelas, dan dapat dimengerti.
2.
Spesifik
Tidaklah
cukup untuk mengatakan: “Hasilkan lebih banyak,” atau “ Hentikankecelakaan
kerja.” Para karyawan perlu mengetahui secara rinci apa yang diharapkan supaya
mereka kerjakan.
3.
Dapat dicapai
Setiap
karyawan harus memiliki kesempatan yang masuk akal untuk memperoleh sesuatu.
4.
Dapat diukur
Tujuan
yang terukur merupakan landasan dimana rencana insentif dibangun. Program
bernilai rupiah merupakan pemborosan jika pencapaian spesifik tidak dapat
dikaitkan dengan uang dikeluarkan.
2. 7. Pengertian Prestasi Kerja
Setiap perusahaan pada dasarnya menginginkan dan menuntut
agar seluruh karyawan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik mungkin.
Namun karyawan tidak dapat diperlakukan seenaknya seperti menggunakan
faktor-faktor produksi lainnya (mesin, modal, dan bahan baku). Karyawan juga
harus selalu diikutsertakan dalam setiap kegiatan serta memberikan peran aktif
untuk menggunakan alat-alat yang ada. Karena tanpa peran aktif karyawan,
alat-alat canggih yang dimiliki tidak ada artinya bagi perusahaan untuk
mencapai tujuannya.
Menurut Hasibuan (2000;93), Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang
dicapai seseorang di dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya
yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu. Prestasi
kerja ini merupakan gabungan dari tiga faktor penting, yaitu kemampuan dan
minat seorang pekerja, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas,
serta peran dan tingkat motivasi seorang pekerja.
Sedangkan menurut Saydam (1996;55), defenisi prestasi
kerja adalah hasil pelaksanaan pekerjaan yang dicapai seorang karyawan dalam
melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Prestasi kerja seseorang
dipengaruhi oleh kecakapan, ketrampilan, pengalaman, kesungguhan, dan
lingkungan kerja itu sendiri.
Dari kedua defenisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
prestasi kerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang, atas tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya yang dipengaruhi oleh kecakapan, pengalaman,
ketrampilan, kesungguhan dan lingkungan kerja itu sendiri.
Baca Bagian Terakhir....(disini)
Sumber : Nur Laeli
Editor : Admin Coretan Mahasiswa
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas