Baca Juga
Pengertian Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi berfungsi sebagai dasar dalam menentukan
harga jual. Untuk menetapkan harga jual, penting bagi perusahaan untuk
mengetahui besarnya biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi barang yang akan
dijual. Biaya tersebut sering disebut sebagai harga pokok produksi.
Terdapat beberapa pengertian harga pokok produksi yang
dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu:
Garrison dan Norren yang diterjemahkan oleh Budisantoso (2000)
menyatakan “Harga pokok produksi merupakan biaya manufaktur yang berkaitan
dengan barang- barang yang diselesaikan dalam periode tertentu” (h.61).
Witjaksono (2006) mendefinisikan ”Harga pokok adalah sejumlah
nilai aktiva, tetapi apabila selama tahun berjalan aktiva tersebut dimanfaatkan
untuk membantu memperoleh penghasilan” (h.10).
Horngren et al. menyatakan, “Harga pokok produksi menunjukkan
biaya barang yang sampai diselesaikan, apakah dimulai sebelum atau selama
periode akuntansi berjalan” (h.46).
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa harga pokok produksi
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa.
Harga pokok memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Harga pokok sebagai penetapan harga jual.
Harga pokok merupakan hal penting yang perlu diketahui oleh
perusahaan karena harga pokok dapat memberikan pengaruh terhadap penentuan
harga jual produk tertentu.
2. Harga pokok sebagai dasar penetapan laba.
Apabila perusahaan telah membuat perhitungan harga pokok maka
perusahaan dapat menetapkan laba yang diharapkan yang akan mempengaruhi tingkat
harga jual suatu produk tertentu.
3. Harga pokok sebagai dasar penilaian efisiensi.
Harga pokok dapat dijadikan dasar untuk mengontrol pemakaian bahan, upah dan biaya produksi tidak langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan harga pokok standar terlebih dahulu dan kemudian membandingkan dengan harga pokok yang aktual atau yang sebenarnya terjadi. Apakah terdapat selisih antara perhitungan kedua harga pokok tersebut, apabila ada selisih negatif berarti proses produksi yang dilaksanakan belum efisien dan perusahaan perlu menngetahui penyebab terjadinya selisih tersebut, sehingga dapat diambil tindakan koreksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut sedangkan bila ada selisih positif maka perlu ditelusuri terlebih lanjut atas selisih tersebut apakah karena perusahaan telah menjalankan proses produksi secara efisien atau perhitungan harga pokok standar yang kurang tepat.
4. Harga pokok sebagai dasar pengambilan berbagai keputusan
manajemen.
Harga pokok merupakan suatu pedoman penting sekaligus sebagai
suatu dasar untuk pengambilan keputusan khusus perusahaan, misalnya:
1. Menetapkan perubahan harga penjualan.
2. Menetapkan penyesuaian proses produksi.
3. Menetapkan strategi persaingan di pasaran
luas. d. Merencanakan ekspansi perusahaan.
4. Pengambilan keputusan-keputusan khusus
manajemen, seperti apakah akan membeli atau membuat sendiri suatu suku cadang,
apakah menerima suatu pesanan khusus dengan harga khusus atau tidak.
Unsur-Unsur Harga Pokok Produksi
Menurut beberapa ahli terdapat 3(tiga) unsur-unsur harga pokok
produksi. Mengacu pada pendapat Rayburn (1999), unsur-unsur harga pokok
produksi terdiri dari:
1. Bahan Langsung (Direct Material)
Adalah setiap bahan baku yang menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari produk jadi. Sebagai contoh, dalam membuat pakaian pria, kain
merupakan bahan langsung.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
Adalah upah yang diperoleh pekerja yang mengubah bahan dari
keadaan mentah menjadi produk jadi. Sebagai contoh, upah yang dibayarkan kepada
pekerja pabrik pakaian yang memotong kain dan menjahit hasil potongan tersebut
adalah biaya tenaga kerja langsung.
3. Overhead Pabrik
Terkadang biaya ini disebut sebagai overhead produksi
(manufacturing overhead) atau beban pabrik (factory burden). Overhead pabrik
mencakup semua biaya produksi selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
Penekanannya disini adalah pada istilah biaya produksi. Sebagai contoh, upah
pengendali persediaan adalah overhead pabrik. Namun, gaji seorang tugas
penjualan merupakan beban pemasaran. Contoh-contoh overhead pabrik terdiri
dari:
1. Bahan tidak langsung (indirect materials),
yaitu perlengkapan operasi, reparasi, dan kebersihan yang digunakan dalam
pabrik. Bahan tidak langsung bisa juga termasuk jenis-jenis biaya bahan yang
kecil dan tidak signifikan di mana biaya bahan itu relatif kecil dibandingkan
dengan semua biaya bahan baku lainnya, seperti benang yang digunakan dalam
menjahit pakaian.
2. Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect
labor), yaitu pengawas pabrik dan pekerja terlatih lainnya serta tidak terlatih
lainnya, seperti pesuruh, petugas reparasi, dan pengawas yang secara nyata
tidak mengerjakan produk dan hasil usaha mereka tidak mudah ditelusuri ke
produk jadi.
3. Biaya lainnya diluar biaya bahan tidak
langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti, biaya sewa, pajak,
asuransi, penyusutan atas fasilitas pabrik dan tenaga listrik yang digunakan
dalam fasilitas pabrik.
Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi
Menurut Carter dan Usry yang diterjemahkan oleh Krista (2006),
“Ada 2 (dua) sistem akumulasi biaya, yaitu:
1. Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan (job order
costing)
Dalam perhitungan biaya berdasarkan pesanan (job order costing),
biaya produksi diakumulasikan untuk setiap pesanan (job) yang terpisah. Suatu
pesanan adalah output yang diidentifikasikan untuk memenuhi pesanan pelanggan
tertentu atau untuk mengisi kembali suatu item dari persediaan.
Menurut Witjaksono (2006), perhitungan estimasi biaya produksi
untuk menentukan harga jual sebagai berikut :
Estimasi Biaya Tenaga Kerja xxx Estimasi Biaya Bahan Baku xxx
Estimasi biaya overhead xxx Total Estimasi Biaya Produksi xxx ditambah
Margin Laba yang Diharapkan xxx
Harga Jual yang Dibebankan pada Pemesan xxx
Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses (process
costing).
Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan proses, bahan baku,
tenaga kerja, dan overhead pabrik dibebankan ke pusat biaya. Biaya yang
dibebankan ke setiap unit ditentukan dengan membagi total biaya yang dibebankan
ke pusat biaya dengan total unit yang diproduksi. Pusat biaya biasanya adalah
departemen, tetapi bisa juga pusat pemrosesan dalam satu departemen.Persyaratan
utama adalah semua produk yang diproduksi dalam suatu pusat biaya selama suatu
periode harus sama dalam hal sumber daya yang dikonsumsi, bila tidak,
perhitungan biaya berdasarkan proses dapat mendistorsi biaya produk”.
Blocher, Chen dan Lin yang diterjemahkan oleh Ambrriani (2001)
mencatat, “Perbedaan antara sistem biaya pesanan (job costing) dan sistem biaya
proses (process costing) sebagai berikut:
Sistem Biaya Pesanan (job Costing):
a. Biaya diakumulasikan berdasarkan biaya.
b. Produk dan jasa berbeda-beda.
c. Biaya per unit dihitung dengan cara membagi biaya pesanan total
dengan unit produk atau jasa yang diproduksi. Perhitungan biaya per unit
dilakukan pada saat pesanan telah selesai.
Sistem Biaya Proses (Process Costing):
·
Biaya diakumulasikan
berdasarkan proses atau departemen.
·
Produk atau jasa
homogen dan diproduksi secara massal.
·
Biaya per unit
dihitung dengan cara membagi biaya proses total dalam suatu periode dengan unit
produk atau jasa yang dihasilkan. Perhitungan biaya per unit dilakukan pada
setiap akhir periode” (h.585).
Sumber :
Nur Litta
Editor :
Admin Coretan Mahasiswa
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas