Baca Juga
DEFINISI
RISIKO
Risiko didefinisikan dalam kamus webster
sebagai suatu halangan, eksposur terhadap kerugian atau kecelakaan. Jadi,
risiko diartikan sebagai peluang akan terjadinya suatu peristiwa yang tidak
diinginkan.
Contoh
: jika anda melakukan olahraga terjun payung, anda sedang mempertaruhkan nyawa
anda. Terjun payung adalah suatu olahraga yang beresiko, jika anda menempatkan
taruhan pada perlombaan pacuan kuda maka anda mempertaruhkan uang anda.
Risiko suatu aktiva dapat dianalisis
dalam 2 cara :
1. Dengan
basis berdiri sendiri , dimana aktiva tersebut dipertimbangkan dalam suatu
keadaan terisolasi.
2. Dengan
basis portofolio, dimana aktiva dimiliki sebagai salah satu dari sejumlah
aktiva lain didalam suatu fortofolio.
1. RISIKO BERDIRI SENDIRI
Risiko
beridir sendiri (stand alone risk) suatu aktiva merupakan risiko yang akan
dihadapi seorang investor jika ia hanya memiliki satu aktiva itu saja. Sudah
pasti sebagian besar aset akan dimiliki dalam bentuk portofolio, tetapi kita
perlu memahami risiko berdiri sendiri agar dapat memahami risiko dalam konteks
portofolio. Untuk mengistrasikan risiko berdiri sendiri, kita asumsikan seorang
investor membeli surat utang negara jangka pendek senilai $100.000 dengan
perkiraan pengembalian sebesar 5%. Dalam hal ini, tingkat pengembalian
investasi yaitu 5% dapat diestimasikan dengan cukup akurat dan investasi
tersebut pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai investasi bebas risiko.
Investor yang sama juga dapat menginvestasikan uang $100.000 tersebut pada
saham perusahaan yang baru didirikan untuk melihat apakah terdapat minyak bumi
disamudra atlantik bagian tengah. Pengembalian atas saham tersebut akan jauh
lebih sulit diramalkan. Dalam sekenario terburuk perushaan tersebut dapat
bangkrut dan investor kehilangan se;uruh uangnya dalam hal ini pengembaliannya
berati 100%. Sekenario terbaiknya, perusahaan akan menemukan cadangan minyak
bumi dalam jumlah besar dan investor akan menerima pengembalian positif dalam
jumlah yang sangat besar. Ketika mengevaluasi investasi ini, investor mungkin
menganalisis situasi dan mengambil kesimpulan bahwa tingkat pengembalian yang
diharapkan secara statistik adalah 20%.
A. DISTRIBUSI
PROBABILITAS
Probabilitas
suatu peristiwa didefinisikan sebagai peluang terjadinya suatu peristiwa.
Misalkan seorang peramal cuaca mungkin menyatakan, ada peluang 40% terjadi
hujan hari ini dan 60% tidak akan terjadi hujan. Jika seluruh peristiwa atau
hasil yang mungkin akan terjadi disusun daftarnya dan kemudian jika diberikan
probabilitas untuk setiap peristiwa, daftar tersebut akan disebut sebagai
distribusi probabilitas (probability distribution). Probabilitas juga dapat
diberikan untuk kemungkinan hasil (dalam hal ini pengembalian) yang kemungkinan
terjadi dari suatu investasi. Jika anda membeli sebuah obligasi, anda akan berharap
menerima bunga dari obligasi ditambah pengembalian atas investasi awal anda dan
pembayaran – pembayaran tersebut akan memberikan tingkat pengembalian dari
investasi anda. Semakin tinggi probabilitas terjadi gagal bayar, maka semakin
beresiko obligasi tersebut dan semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula
tingkat pengembaliannya. Jika anda berinvestasi dalam saham dan bukannya
membeli sebuah obligasi, anda kembali akan berharap mendapatkan pengembalian
atas uang anda.
B. TINGKAT
PENGEMBALIAN YANG DIHARAPKAN
Pengembalian yang diharapkan adalah
nilai rata – rata dari distribusi probabilitas pengembalian. semakin besar
probabilitas pengembalian, semakin besar risiko yang berdiri sendiri
(stand-alone). Tingkat pengembalian yang diharapkan atas saham umumnya sama
dengan pengambilan yang diperlukan namun, sesuatu dapat terjadi yang
menyebabkan tingkat pengembalian yang diperlukan berubah. Tingkat pengembalian
dapet dihitung dengan menggunakan beberapa rumus yaitu :
Untuk
menghirung return yang diharapkan dari suatu sekuritas yang harus dipahami oleh
seorang investor adalah dengan mamahami probabilitas dari kejadian yang akan
terjadi.
Rumusnya
:
Dimana
:
E(R) = Expected return atau return yang
diharapkan dari suatu sekuitas
Ri = Return ke-i yang mungkin terjadi
Pri = Probabilitas kejadian return ke-i
n = Banyaknya return yang mungkin
terjadi
Dimana :
E (RP) = Expevted return portofolio
E (RA) = Expetced Return Saham A
E(RB) = Expetced Return Saham B
XA = Uang yang diinvestasikan pada saham A
XB = Uan diinvestasikan pada saham B
E (RA) = Expetced Return Saham A
E(RB) = Expetced Return Saham B
XA = Uang yang diinvestasikan pada saham A
XB = Uan diinvestasikan pada saham B
Dimana
:
r = Keuntungan yang
D1 = Dividen tahub 1
PO = Harga beli
P1 = Harga jual
D1 = Dividen tahub 1
PO = Harga beli
P1 = Harga jual
2. RISIKO DALAM KONTEKS PORTOFOLIO
Seperti yang akan kita lihat, sebuah aktiva yang dimiliki sebagai bagian dari suatu portofolio kurang berisiko jika dibandingkan dengan aktiva yang sama yang dimiliki secara terpisah. Karenanya sebagia besar aktiva keuangan dimiliki sebagai bagian dari portofolio. Bank, Dana pensiun, Perusahaan asuransi, reksadana, dan institusikeuangan lainnya diharuskan oleh hukum untuk memiliki portofolio yang terdiversifikasi. Bahkan investor – investor individual paling tidak yang lepemilikan atas sekuritasnya menjadi bagian yang signifikan dari selurus kekayaan mereka umumnya memiliki portofolio, bukan saham dari satu perusahaan saja. Dalam kondisi seperti ini dari sudut pandang investor adanya fakta bahwa suatu saham tertentu akan naik atau turun bukanlah hal yang sangat penting, yang penting adahal tingkat pengembalian dariportofolionya dan risiko portofolio tersebut. Logikanya risiko dan tingkat pengembalian dari masing – masing sekuritas harus dianalisis dari segi bahgaimana sekuritas tersebut mempengaruhi risiko dan tingkat pengembalian portofolio dimana sekuritas dimiliki.
RISIKO PORTOFOLIO
Risiko Portofolio adalah varian return sekurutas –
sekuritas yang membentuk portofolio tersebut. Salah satu pengukur risiko adalah
deviasi standar (standard deviation) atau varian (variance) yang merupakan
kuadrat dari deviasi standar. Meskipun tingkat pengembalian portofolio yang
diharapkan hanyalah rata – rata tertimbang dari tingkat pengembalian yang
diharapkan atas setiap asetdidalam portofolio, tingkat risiko portofolio sp, bukanlah
merupakanrata – rata tertimbang dari standar deviasi setiap aset. Risiko
fortofolio umumnya lebih kecil dari
rata – rata s aset. Apa yang akan terjadi jika kita memasukkan
lebih dari dua saham dalam portofolip. aturannya, risiko portofolio akan turun
seiring dengan meningkatnya jumla saham dalam portofolio. Jika kita menambahkan
cukup saham yang memiliki kolerasi parsial, dapatkah kita menghilangkan risiko
sepenuhnya? Secara umum jawabannya adalah tidak tetapi ada dua hal yang patut
untuk dicatat yaitu :
1)
Sampai
sejauh apa penambahan saham ke suatu portofolio akan mengurangi risiko
portofolio tersebut bergantung pada tingkat korelasi diantara saham semakin
kecil koofisien korelasi, maka semakin kecil risiko dalam suatu portofolio
besar. Jika kita dapat menemukan sekumpulan saham yang korelasinya nol atau
negatif maka seluruh risiko dapat dihilangkan. Alan tetapi didunia nyata
korelasi yang ada diantara setiap saham umumnya positif tetapi lebih kecil dari
+1. Jadi hanya sebagian dan bukan seluruh risiko yang dapat dihilangkan.
2)
Beberapa
saham secara individual lebih berisiko dibandingkan saham – saham lainnya
sehingga beberapa saham akan lebih membantu dibandingkan saham lain dalam hal
penurunan risiko portofolio.
Risiko yang Dapat Didiversifikasikan versus Risiko Pasar
Menemukan saham – saham yang tingkat pengembaliannya
saling berkolerasi secara negatif adalah suatu hal yang sulit jika tidak bisa
disebut mustahil. Kebanyakan saham cenderung menunjukkan hasil yang baik ketika
perekonomian nasional menguat dan hasil yang buruk ketika perekonomian melemah.
Jadi bahkan portofolio yang sangat besar sekalipun akhirnya kan memiliki risiko
yang substansial tetapi tentunya risiko tersebut tidak sebesar jika seluruh
uang diinvestasikan dalam satu saham saja. Sebuah portofolio yang memiliki
seluruh saham, yang disebut sebagai portofolio pasar (market portofolio). Jadi
hampir setengah dari tingkat risiko inheren dalam rata-rata saham industrial
akan dapat dihilangkan jika saham tersebut dimiliki dalam sebuah portofolio
yang terdiversifikasi dengan baik, yang artinya portofolio tersebut terdiri
atas 40 atau lebih saham.
Namun beberapa risiko akan tetap selalu ada,
sehingga hal yang bisa dibilang mustahil jika kita ingin mendiversifikasikan
sepenuhnya pengaruh – pengaruh dari pergerakan bursa saham secara luas yang
mempengaruhi hampir seluruh saham. Bagian dari risiko saham yang dapat
dihilangkan disebut risiko yang dapat didiversifikasikan, sedangkan bagian yang
tidak dapat dihilangkan disebut risiko pasar. Risiko yang dapat di diversifikasikan disebabkan oleh
peristiwa – peristiwa acak seperti tuntutan hukum, pemogokan, program pemasaran
yang berhasil dan gagal, memenangkan atau kalah dalam kontrak besar, dan
peristiwa – peristiwa lain yang khusus bagi suatu perusahaan tertentu. Karena
bersifat acak pengaruh berbagai peristiwa ini pada suatu portofolio dapat
dihilangkan dengan melakukan
diversifikasi peristiwa merugikan yang terjadi pada satu perusahaan akan
dihilangkan oleh peristiwa menguntungkan diperusahaan yang lain.
Risiko Pasar, dilain pihak tumbuh dari faktor –
faktor yang secara sistematis akan
mempengaruhi sebagian besar perusahaan, perang, inflasi, resesi dan
tingkat suku bunga yang tinggi karena kebanyakan saham akan dipengaruhi secara
negatif oleh faktor – faktor ini, risiko pasar tidak dapat dihilangkan dengan
diversifikasi.
KONSEP
BETA
Kecenderungan
saham bergerak naik dan turun mengikuti pasar, akan tercermin dalam koefisien
betanya (beta coefficient). Beta adalah elemen kunci dari CAPM. Sebuah saham
dengan risiko rata – ratadinyatakan sebagai saham yang cenderung bergerak naik
dan turun sesuai dengan pasar umum yang diukur dengan suatu indeks tertentu.
Analisis mengenai risiko diatas adalah bagian dari model penetapan aktiva modal
(CAPM) dan kita dapat merangkum pembahasan yang telah kita lakukan sampai saat
ini :
1)
Risiko
sebuah saham terdiri atas 2 unsur, risiko pasar dan risiko yang dapat
didiversifikasikan
2)
Risiko
yang dapat didiversifikasikan dapat dihilangkan melalui diversifikasi dan kebanyak
investor memang melakukan diversifikasi baik itu dengan memiliki fortofolio
yang besar atau dengan membeli saham dalam bentuk reksadana. Risiko pasar
adalah satu – satunya risiko yang relevan bagi seorang investor yang rasional
dan terdiversifikasi karena investor seperti itu akan menghilangkan risiko yang
dapat didiversifikasikan-nya
3)
Para
investor harus mendapatkan konpensasi untuk menanggung risiko. Semakin besar
tingkat risiko sebuah saham maka akan semakin tinggi pula tinggkat pengembalian
yang diminta. Akan tetapi konpensasi hanya dibutuhkan untuk risiko yang tidak
dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Jika terdapat premi risiko pada saham
yang diakibatkan oleh risiko yang dapat didiversifikasi, para investor yang
terdiversifikasi dengan baik akan mulai membeli sekuritas – sekuritas tersebut
(yang tidak akan terlalu berisiko bagi investor seperti itu) sehingga akan
mengangkat harga penawarannya dan expetasi tingkat pengembalian akhir
(equilibrium) saham hanya akan tinggal mencerminkan risiko yang tidak dapat didiversifikasikan.
3.
HUBUNGAN
ANTARA RISIKO DAN TINGKAT PENGEMBALIAN
Dari bagian sebelumnya, kita telah melihat bahwa
menurut teori CAPM beta adalah ukuran yang tepat dari risiko relevan sebuah
saham. Kini kita harus melihat hubungan antara risiko dan tingkat pengembalian
untuk suatu tingkat risiko tertentu yang diukur oleh beta. Di dalam pasar uang
dimana saham dan obligasi dijual para pemakai uang seperti perusahaan yang
melakukan investasi harus bersaing satu sama lain untuk mencari modal. Untuk
melakukan pembiayaan atas proyek yang akan bermanfaa bagi pemegang saham
perusahaan, perusahaan haus menawarkan kepada investor, tingkat pengembalian
yang mampu bersaing dengan alternatif investasi yang tersedia bagi investor
tersebut. Tingkat pengembalian dari alternatif investasi terbaik berikutnya ini
dikenal sebagai biaya kesempatan dana (opportunity cost of fund).
Dalam menjalankan sebuah bisnis oerusahaan kecil
lebih berisiko dalam tingkat pengembalian dari pada perusahaan besar. Mengapa?
Karena pengalaman bisnis perusahaan kecil mengandung risiko operasi yang lebih
besar, mereka lebih sensitif terhadap kecenderungan bisnis yang menurun dan
beberapa beroperasi dalam pasar yang kecil yang dengan cepat muncul dan
kemudian dengan cepat lenyap. Selain itu perusahaan kecil mengandalkan
pembiayaan melalui utang dibandingkan perusahaan yang besar. Perbedaab ini
menciptakan variabilitas yang lebi pada jumlah laba dan arus kas yang diartikan
sebagai risiko yang lebih besar.
KESIMPULAN
Risiko dan tingkat pengembalian keuangan mempunyai
hubungan yang positif, semakin besar risiko yang ditanggung maka semakin besar
pengembalian yang harus dikompensasikan. Sebaliknya semakin kecil return yang
diharapkan maka semakin kecil risiko yang ditanggung.
DAFTAR PUSTAKA
Yulianto, akbar
ali (Penterjemah).2009.Fundamental of
financial manajemen.Edisi 10.Jakarta: PT Salemba Empat
Yulianto, akbar
ali (Penterjemah).2014.Dasar – dasar
manajemen keuangan.Edisi 10.Jakarta: PT Salemba Empat
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas