Monday, November 6, 2017

TEORI PERILAKU PRODUKSI ISLAM

Baca Juga

TEORI PERILAKU PRODUKSI ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
            Seiring dengan bertambahnya zaman, dinamika kehidupan masyarakat juga berkembang. Mobilitas masyarakat semakin tinggi sejalan dengan kemajuan alat dan sistem transportasi. Dengan semakin majunya teknologi, sebaran informasi semakin cepat dengan kapasitas yang semakin besar, sehingga informasi yang di perlukan semakin beragam dengan menggunakan alat dan cara komunikasi yang berbeda-beda pula. Kehidupan masyarakat yang semakin dinamis ini tentu berkaitan erat dengan ragam kebutuhan yang perlu di penuhi.
            Dengan adanya fenomena diatas kegiatan produksi yang memiliki peran sebagai mata rantai dari kegiatan konsumsi dan distribusi memiliki peranan yang sangat penting di dalam proses pemenuhan kebutuhan karena sektor produksilah yang akan menentukan seberapa besar tingkat keberhasilan suatu wilayah.
            Diera  moderen seperti yang penulis jabarkan di atas perkembangan ekonomi juga berdampaak pada  praktek- praktek ekonomi yang berbau konvensional sehingga disini penulis akan menjabarkan tentang toeri produksi yang sesuai dengan syariat islam.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan pengertian dan ruang lingkup produksi islam ?
2.      Apa tujuan dan motivasi produksi menurut islam ?
3.      Apasaja yang menjadi faktor-faktor produksi?
4.      Apa saja yang mempengaruhi biaya produksi?
5.      Bagaimana etika produsen dalam islam?
6.      Bagaimana konsep produksi dalam al-qur’an dan peradapan islam?
1.3  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksut perilaku produksi dalam islam
2.      Untuk mengetahui tujuan dan motivasi  produksi menurut islam
3.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk faktor produksi
4.      Untuk mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi perubahan biyaya produksi
5.      Untuk mengetahui bagaimana etika yang harus dilakukan sebagai produsen muslim untuk mengetahui tata cara didalam menganalisis biyaya produksi
6.      Untuk mengetahui konsep produksi dalam al-qur’an dan peradapan islam


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. TEORI PRODUKSI ISLAM
2.1.1. Pengertian
            Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari kegiatan konsumsi dan distribusi.
Produksi merupakan suatu proses kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa yang kemudian disalurkan oleh distributor untuk di konsumsi oleh konsumen. Tanpa adanya kegiatan produksi maka kegiatan ekonomi tidak akan berjalan, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan suatu barang dan jasa, kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi. Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu.[1]Produksi juga dimaknai sebagai proses (siklus) kegiatan-kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang atau jasa tertentu dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi dalam waktu tertentu. Faktor produksi adalah fungsi atau persamaan yang menunjukkan kombinasi hubungan antara tingkat output dengan penggunaan input. [2]
2.1.2.  Tujuan Produksi
Membantu mengadakan barang atau jasa yang dibutuhkan dan diperlukan oleh umat agar bisa dimanfaatkan dengan baik, serta mendapatkan keuntungan yang baik lagi halal.
2.1.3.  Faktor-Faktor
Hubungan antara faktor-faktor produksi dengan tingkat produksi yang dihasilkan dinamakan dengan fungsi produksi. Faktor produksi dapat dibedakan dalam beberapa golongan, yaitu : tanah, tenaga, kerja, modal, dan keahlian. Faktor-faktor pdoduksi dikenal dengan istilah input dan jumlah produksi diistilahkan dengan output. Fungsi produksi dinyatakan dalam bentuk rumus, sebagai berikut :
Q = f(K<L<R<T)          Keterangan :
K  = Jumlah stok modal
L   = Jumlah tenaga kerja
R  = Kekayaan alam
T  = Tingkat teknologi yang digunakan
Q = Jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor-faktor produksi tersebut secara bersamaan. [3]
1.      Modal
Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Menurut pengertian ekonomi, modal adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih lanjut. Contoh: seseorang yang membuat jala untuk mencari ikan. Dalam hal ini jala merupakan barang modal, karena jala merupakan hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lain (ikan).
Modal dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu :
a.       Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi dua : modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri adalah m,odal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri. Misal : setoran dari pemilik perusahaan. Sedangkan modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan. Misal : modal yang berupa pinjaman bank.
b.      Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal abstrak. Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misal : mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misal : hak paten, nama baik,  dan hak merek.
c.       Berdasarkan pemiliknya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contoh: rumah pribadi yang disewakan. Sedangkan modal masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses produksi. Contoh : rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan, atau pelabuhan.
d.      Berdasarkan sifatnya, modal tetap dan modal lancer. Modal tetap adalah modal yang dapat digunakan berulang-ulang. Misal: mesin-mesin dan bangunan pabrik. Sedangkan modal lancar adalah modal yang habis digunakan dalam datu kali proses produksi. Misal : bahan-bahan baku. [4]
2.      Tenaga Kerja
Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia, baik jasmani maupun rohani yang dicurahkan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa maupun manfaat suatu barang.
Tenaga kerja diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a.       Tenaga kerja terdidik (skilled labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh pendidikan formal maupun non formal seperti guru, dokter, pengacara, akuntan, psikologi, peneliti.
b.      tenaga kerja terlatih ( trained labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh keahlian berdasarkan latihan dan pengalaman. missal : montir, tukan ukir, sopir, teknisi.
c.       Tenaga kerja tak terdidik dan tak terlatih (unskilled and untrained labour), adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekuatan jasmani daripada ruhani, seperti tenaga kuli pikul, tukang sapu, pemulung, buruh tani.
3.      Tanah
Tanah adalah faktor produksi yang penting mencangkup semua sumber daya alam yang digunakan dalam proses produksi. Ekonomi islam mengakui tanah sebagai faktor ekonomi untuk dimanfaatkan secara maksimal demi mencapai kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi islam. Dengan pengertian, pemanfaatan sumber daya alam tidak boleh dilakukan secara sewenang-wenang dan dapat membahayakan generasi yang akan datang.
4.      Kewirausahaan
Sumber daya pengusaha yang disebut juga kewirausahaan berperan mengatur dan mengkombinasikan faktor-faktor produksi dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif dan efisien.[5]

2.2.MOTIF DAN TUJUAN DARI KEGIATAN PRODUKSI
Adapun tujuan dari kegiatan produksi adalah untuk memperoleh keuntungan. Hal tersebut dikarenakan motif untuk memaksimalkan keuntungan dalam kegiatan produksi di pandang tidak salah dalam islam.  Karena upaya untuk untuk mencari keuntungan merupakan konsekuensi logis dari kegiatan produksi dan keuntungan merupakan rezeki yang di berikan oleh alloh kepada manusia. Sebagaimana terdapat dalam Q. S Al-qosos : 77 yang pada intinya menerangkan bahwa kegiatan produksi yaitu kegiatan dalam rangka memaksimalkan kepuasan dan keuntungan baik di dunia maupun akhirat.
Meskipun demikian ada beberapa perbedaan yang menonjol antara motif dan tujuan ekonomi konvensionl dengan ekonomi islamn yaitu:
a.       Didalam ekonomi islam tujuan utama dari kegiatan produksi yaitu untuk mendapat maslahah maxsimizer sedangkan dalam ekonomi konvensional tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh profit maximizer.
b.      Dalam ekonomi islam produsen mendapat keuntungan berupa berkah sedangkan dalam ekonomi konvensional produsen mendapat keuntungan berupa materi.
c.       Dalam ekonomi islam produsen berproduksi dengan memperhatikan kemaslahatan umat sedangkan dalam ekonomi onvensional produsen mengabaikan maslahah eksternal.
d.      Dalam ekonomi islam yang di capai bersifat maslahah bersama sedangkan dalam ekonomi konvensional keuntungan yang di capai bersifat individu.[6]

2.3.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA PRODUKSI
2.3.1. Pajak
            Pengenaan pajak atas suatu barang yang diproduksi/dijual akan mempengaruhi keseimbangan pasar barang. Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan harga suatu barang tersebut naik. Sebab setelah di kenakan pajak dari adanya faktor produksi  produsen akan mengalihkan beban pajak tersebut ke konsumen. Akibatnya, harga keseimbangan yang tecipta di pasar lebih tinggi dari harga keseimbangan sebelum pajak.[7]

2.4.ETIKA PRODUSEN DALAM ISLAM
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnyabahwatujuandariekonomi islamadalah untuk kemaslahahatan bersama untuk mencapai fallah, sehingga islam memandang kegiatan produksi merupakan bentuk usaha seseorang sebagai ibadah kepada Alloh dan jihad di jalan-Nya.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan kegiatan produksi yaitu:
1.      Seluruh kegiatan produksi terikat pada tatanan nilai moral dan teknikal yang islami.
sejak proses mengorganisasi faktor produksi, proses produksi, hingga pemasaran dan pelayanyan terhadap konsumen harus senantiasa mengikuti moralitas islam. Ajaran islam melarang untuk menkonsumsi barang barang dan jasa yang haram baik dari bentuk fisik maupun cara didalam pemerolehannya. Islam juga telah menganjurkan 5 jenis kebutuhan yang di pandang bermanfaat untuk mencapai fallah, yaitu:  kehidupan, harta(materi), kebenaran, ilmu pengetahuan, kelangsungan keturunan dari lima jenis kebutuha inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan produksi. Dan untuk membatasinya islam juga mengajarkan adanya sekala prioritas dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan dan melarang adanya sikap berlebih-lebihan.
2.      Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan.
Kegiatan produksi harus menjaga nilai-nilai keseimbangan dan harmoni dengan lingkungan sosial dan lingkungan hidup dalam masyarakat untuk menciptakan keselarasan dalam pembanguan secara luas tanpa ada ketimpanga diantara keduanya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat dapat ikut serta menikmati hasil produksi yang memadai dan berkulitas. Sehingga kegiatan produksi tidak hanya menguntungkan produsen saja akan tetapi mencangkup produsen dan masyarakat secara luas.
3.      Menyikapi masalah ekonomi yang kompleks.
Masalah ekonomi muncul bukan dikarenakan adanya kelangkaan sumberdaya ekonomi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia saja, akan tetapi juga dikarenakan kemalasan dan eksploitasi segala anugerah Alloh, baik sumber daya alam maupu sumber daya manusia. Sifat tersebut di dalam Al-Qur’an sering disebut dengan kedzaliman/ aniyaya (pengingkaran terhadap nikmat alloh). Dari adanya hal tersebut dapat membawa implikasi bahwa prinsip produsi bukan sehedar evisiensi, tetapi secara luas adalah bagaimana mengoptimalisasikan pemanfaatan suber daya ekonomi dalam rangka pengabdian manusia terhadap Tuhannya.
Selain itu dalam kegiatan produksi juga terdapat nilai-nilai yang harus di perhatikan
1.      Kegiatan produksi merupakan sesuatu yang diwajibkan oleh agama dan dibebankan bagi setiap muslim, Karena dalam kegiatan produksi terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat di junjung tinggi agama. Hal tersebut dikarenakan kegiatan produksi islami bukan hanya semata-mata untuk pemenuhan kepentingan pribadi, tetapi untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, sehingga kegiatan produksi dapat bernilai ibadah di sisi Allah.  Kewajiban berproduksi dengan ihsan terdapat pada hadist nabi yang artinya:
sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal, jika kamu membunuh hewan maka bunuhlah dengan baik, jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik pula”.[8]
2.      Iman, taqwa, maslahah, dan istiqomah.
Iman, taqwa, dan istiqomah merupakan pendorong yang sangat kuat untuk memperbesar produksi dengan kerja keras yang baik. Karena dengan landasan keimanan, ketaqwaan, dan sifat istiqomah yang juga dimotori oleh motifasi untuk mendapatkan maslahah seseorang akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai fallah.
3.      Bekerja pada bidang yang dihalalkan oleh Allah.
Ahlak utama yang harus diperhatikan oleh seorang muslim dalam bidang produksi yaitu bekerja pada bidang yang dihalalkan oleh alloh. Oleh karena itu setiap uasaha yang mengandung unsur kedzaliman dan mengmbil hak orang lain dengan jalan yang batil, seperti mengurangi timbangan dan takaran, memperoleh sesuatu yang tidak di imbangi dengan kerja dan pengorbanan yang setimpal seperti halnya riba dan sejenisnya di haramkan oleh islam. Disinilah titik perbedan yang menonjol antara ekonomi sosialis, kapitalis dengan ekonomi islam. Karen didalam ekonomi sosialis dan kapitalis tidak megenal adanya halal dan kharam.[9]

2.5.KONSEP PRODUKSI DALAM AL-QUR’AN DAN PERADABAN ISLAM
Masyarakat Islam pada masa awal, yaitu di masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin adalah masyarakat yang produktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya seorang penulis muslim dari Thilmizan, Andalus, yaitu Abu Hasan bin Mas’ud Al-Khuza’ie Al-Andalusi dengan buku yang berjudul As Sam’iyyah ‘Ala Ma Kana Fii ‘Ahdi Rasulullah saw. yang merupakan bukti otentik tentang usaha industri di zaman Rasulullah saw. Dari buku tersebut dinyatakan bahwa pada masa Rasulullah terdapat kurang lebih 178 buah usaha industri dan bisnis yang menggerakkan perekonomian masyarakat pada masa itu. Diantara di berbagai industri tersebut terdapat 12 macam yang menonjol yaitu:
1.      Pembuatan senjata dan segala usaha dari besi
2.      Perusahaan tenun-menenun
3.      Perusahaan kayu dan pembuatan rumah atau bangunan
4.      Perusahaan meriam dari kayu
5.      Perusahaan perhiasan dan kosmetik
6.      Arsitektur perumahan
7.      Perusahaan alat timbangan dan jenis lainnya
8.      Perusahaan perkapalan
9.      Perusahaan alat-alat berburu
10.  Pekerjaan kedokteran dan kebidanan
11.  Usaha penterjemahan buku
12.  Usaha kesenian dan kebudayaan lainnya[10]
Al-quran sebagai pedoman hidup manusia telah mencatat beberapa bentuk industri yang telah dilakukan oleh para nabi dan orang-orang terdahulu dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan mereka. Adapun bentuk produksi yang terdapat dalam al-Quran yaitu sebagai berikut.
1.      Industri besi, baja, dan kuningan
Terdapat di dalam al-Quran surah Saba ayat 10-11 yang artinya “dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Daud karunia dari Kami... Dan Kami telah melunakkan besi untuknya. Buatlah  baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya dan kerjakanlah amalan sholeh
Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengolahan besi telah dilakukan sejak zaman Nabi Daud As dan umatnya.
2.      Industri perhiasan emas, perak, mutiara, dan sutra.
Produktifitas perhiasan di atas telah di jelaskan didalam al-qur’an surah al-insan ayat 15-16  yang artinya “ dan di edarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan pial-piala bening laksana kaca, yaitu kaca-kaca yang terbuat dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
3.      Industri kulit, tekstil dan kaca.
Dan Alloh menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia jadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah) dari kulit binatatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya diwaktu kamu berjalan dan di aktu kamu bermukim(dan di jadikannya pula) dari bulu unta, bulu domba, dan bulu kambing alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu tertentu dan dia jadikan bagimu pakaian yang melindungimu dari panas” (Q.S An-Nahl : 80)
dari ayat di  atas terlihat jelas bahwa orang-orang terdahulu juga telah melakukan keiatan produksi yaitu mengolah kulit binatang untuk dijadikan pakaian sebagai pelindung tubuhnya.
itu dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya, berkatalah Sulaiman:’sesungguhnya itu adalah istana licin yang terbuat dari batu kaca”... (Q.S An-Naml:44)
ayat di atas menceritakan kekaguman ratu bilqis terhadap lantai istana nabi Sulaiman yang mengkilat bagi air. Sehingga dari ayat diatas telah menunjukkan bahwa pada masa itu telah ada produksi istana dari kaca (batu pualam)
4.      Industri keramik, batu bata, dan bangunan.
“..maka hai haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi... “(Q.S Ai Qosos: 38)
“ dan berkatalah firaun, ‘hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu langit yang tinggi..”( Q.S AL Mukmin: 36-37)
Kedua ayat ini menceritakan kisah pada nabi musa, yaitu ketika Firaun meminta kepada Hamam untuk membuatkan bangunan yang megah.
5.      Industri perkapalan.
Al-Qur’an telah menceritakan bagaimana nabi Nuh dengan umatnya membangun sebuah bahtera yang besar untuk menampung orang-orang yang beriman dari banjir yang besar.
dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami,...Dan mulailah nuh membuat bahtera...Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung...”(Q.S Huud:37,38,42)
6.      Industri minyak nabati dam pertambangan.
dan pohon kayu yang keluar dari thursina(pohon zaitun) yang menghasilkan minyak dan makanan bagiorang-orang yang makan.”(Q.S Al Mu’minun:20)
“...Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan terdapat berbagai manfaat bagi manusia...”(Q.s Al Hadiid:25).[11]

BAB III. PENUTUPAN
3.1.KESIMPULAN

Produksi yaitu kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa untuk mendapat keuntungan, sedangkan produksi islami yaitu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dalam mewujudkan maslahah untuk mencapai falah.
Faktor-faktor produksi yaitu  modal, tenaga kerja, tanah, kewirausahaan
Tujuan dan motivasi produksi yaitu untuk mendapat keuntungan untuk menciptakan kemaslahatan bersama.
Etika produksi islami yaitu produksi terikat pada tatanan nilai moral dan teknikal yang islami kemudian kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial kemasyarakatan sehingga tidak melampaui hak-hak orang lain
Faktor yang mengakibatkan perubahan biaya produksi yaitu pajak, zakat, infak dan bagi hasil Produksi dlam al-quran dan peradaban islam yaitu segala sesuatu terkait kegiatan ekonomi yang dilakukandimasa lampau dan tercantum didalam Al-Quran.


DAFTAR PUSTAKA
Edwin Nasution, Mustaswa. 2006.  Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup.
Qardhawi , Yusuf. 2006. Norma Dan Etika Ekonomi Islam. Jakarta: Gema Insani.
Rozalinda. 2014. Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sumar’in. 2013. Ekonomi Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu.


[1]Sumar’in. 2013. Ekonomi islam. Yogyakarta. Graha ilmu. Hlm:127-128
[2]Mustaswa edwin nasution dkk. 2006. Pengenalan eksklusif ekonomi islam. Jakarta. Kencana prenada media grup. Hlm:104
[3]Rozalinda. 2014. Ekonomi islam. Jakarta. Raja grafindo persada. Hlm:113
[4],.ibid. hlm:113-114
[5],.ibid. hlm:115-117
[6],.ibid. hlm:125
[7],.ibid. hlm:122
[8],.ibid. hlm:133
[9]Yusuf qardhawi. 2006. Norma dan etika ekonomi islam. Jakarta. Gema insani. Hlm:99-117
[10]Sumar’in. 2013. Ekonomi islam. Yogyakarta. Graha ilmu. Hlm:142
[11],.ibid. hlm:143-145

Sumber  : Sri Retnoningsih
Editor     : Admin Coretan Mahasiswa

Friday, November 3, 2017

ANALYSIS SHORT STORY PIER

Baca Juga



ANALYSIS SHORT STORY “ PIER ”
Pier
By

Bobette Bryan

"Janil, where are you? I've been worried sick."
 The girl brushed an errant strand of mahogany hair from her face with a manicured hand and sighed before she began.  "I'm fine, Mother!  Like I told you in my letter, I'm in Chicago!"  She sat on the bed, legs dangling over the side  and  patted down the ruffled black Liz Claiborne skirt that she'd purchased for tonight.


 "Chicago!  I don't understand why you--"
"We wanted to be together.  You know that"
There was silence on the other end and Janil, playing with the button on the cuff of her elasticized lace shirt, continued.  "I'm sure that you can understand young love, Mother.  We've been apart for so long and--"
"Janil, you know what the Army said."
'What?"

More silence.  "The serviceman who came here last week to give you the news..."
"I'm sorry, but I don't remember."

"I was home when he dropped by.  I heard what he said to you about Will.  I held you while you cried--"
"Mother, I'm in a hurry.  Can we talk about this later?  Will just stepped out of the bathroom.  We have dinner reservations at the Navy Pier in about an hour and--"

"It's not possible!"
"It's hard to get a reservation on such short notice,  but we managed it, because another couple cancelled at the last moment."

"Janil, Will is not with you.  The Army said he was killed in action.  Remember?  He was killed in Iraq.  Shot by a sniper."
Janil laughed almost hysterically, and then turned to say: "Will, the Army still says you're dead."
"Janil!" came her mother's voice.
"Mother, I assure you it's merely a clerical mistake.  I thought I explained that in my letter."
"No--"

"Like I said, he's here with me.  He's sitting on the chair across from the bed right now, dusting off his black dress shoes, shaking his head and smiling as he listens to our conversation. And--"
"I want to come to Chicago.  See for myself.  Make sure you're okay.  Your father and I are going to fly up  there--"
"Don't, Mother.  I'm fine.  Never better.  I'm happy.  In love.  You're going to have to take my word for it.  It has been more than six months since Will and I were together.  Please understand that we need to be alone now."  She shifted, bringing her legs onto the bed, careful not to snag her hose with the heels of her shiny black pumps.

"Janil, you're confused right now.  That's understandable.  I want to help you.  I need to talk to you--face to face."
"When I get home on Friday, we'll have plenty of time to talk."
There was a long moment of silence. "Oh, Janil..."

"Mother, I..."

"I want you to just sit down and think about what has happened these past few days. I want you to promise me that you'll do that."

"I can't promise you that, because there's nothing to think about. And I want you to stop this.  You're beginning to scare me.  You sound as if I've gone mad.  There's no reason for this.  You just don't understand.  I'm with Will, and he's fine and so am I. I  received a call from Will yesterday, you see. He wanted me to meet him here.  Read the letter I left you."

"Then how can you explain that Mrs. Henderson called last night--said Will's body is supposed to arrive today or tomorrow?"

"I already told you--it's a mistake!  Call Will's mother.  I'm sure she knows the truth by now.  I'm sure Will let her know that he's alive and well."

"Your father went over to Mrs. Henderson's house about an hour ago."

"And?"

"I don't know. He hasn't returned yet."
"Oh, mother. You worry yourself so much about nothing.  It's such a beautiful day and Will and I are so happy, and here you are putting a damper on things when you should be happy for us.  The last time we were here, it was so cold--frigid air--thick ice on the water.  No boats on Lake Michigan.  We couldn't enjoy our vacation.  And we're so glad that tonight we can finally have that dinner cruise we always---"
"Just promise me that you'll visit a friend before you go to dinner."
"A friend?"

"Harry James.  You remember him.  Don't you?  He came to dinner several times when we lived in--"

"I don't need a psychiatrist, Mother.  I told you, I'm fine."
"He needs to see you.  He's not well.  Just lost a son a few weeks ago.  I've tried to contact him.  Haven't been able to.  It won't interfere with your plans. It wouldn't take you long to drop by his place.  It's right on your way to the Pier.  He's just downtown and--"

"No. I'm sorry. I can't do it.  It' not fair of you to ask me to do this.  You know how important the evening is to me and Will."
"I wouldn't ask you unless I thought it was an emergency."

Janil laughed.  "I'm on to you, Mother. I know your little games so well.  I'll stop in and see Harry if you insist.  But not tonight. Tomorrow.  Maybe."

"Why can't you accept the truth about what happened?"

"Why can't you believe that Will is alive and here? By God, you make him sound dangerous. I'm not afraid of him.  I love him very much, and I want to be with him more than anything. Nothing will stop us from being together tonight.  Nothing."

"Prove it."

"What?"

"Prove to me that Will is there. Let me speak to him."

"I can't."

"Why not?"

"He went out a couple of minutes ago, whispered that he'd wait for me in the lobby. I have to go.  I can't let him wait any longer. Goodbye, Mother.  I'll call you tomorrow."

The line went dead.

Margaret tightened her grip on the phone, gritted her teeth, then hung up.  But as quickly as she'd lowered the phone into the cradle, she snatched it up again and redialed the long distance number as she  nervously paced the room.  The phone rang and rang.  No answer.  She hung up a second time, wondering what was going on.  Had Janil had a complete breakdown or was there really a man with her?

She turned toward the door.  John had just came in.  It was raining.  She'd barely noticed.  He shook off his umbrella at the door,  removed his raincoat and did the same with it.  Then he hung both on the brass coat rack next to the door. 

His expression was solemn as he brushed some beads of rain off his balding head.  His gaze met Margaret's briefly, but he said nothing as he claimed his leather chair before the fire. 

She stood beside him, laying her hand over his.  "Did you see Mrs. Henderson?"

He nodded. "It was no mistake. Will is dead.  His body arrived today.  The funeral is set for Thursday at 1 PM. The Jones Funeral home."

"I talked to her on the phone."

"What? To Janil? When?"

"Just before you came in."

His whole being snapped to alert. He sat up in the chair as if lifted by a puppet's strings.

"And?"

"She's in Chicago like she said she'd be in her letter--at the Butler Hotel, down by the Lake where she and Will stayed before.  She claims she's with him."

John's forehead wrinkled into a frown.  "Then how does she explain the Army's notification or the fact that the body was shipped back?"

"Clerical error.  Oh, do you think it's possible. Maybe the body in the coffin is someone else, and--"

Margaret's words died on her tongue for John was firmly shaking his head.  "I saw the body."

They both remained silent for a moment, and then John took a deep breath before he continued.  "I wanted to make sure, but I couldn't bring myself to brooch the subject with Mrs. Henderson.  The woman is obviously having a difficult time coping with her grief.  Instead, I expressed my condolences, and she told me about the body arriving and the funeral, and I went there to see for myself.  I explained the situation to the funeral director, Hank Richardson. We met him at Todd Anderson's parties a few times. Do you remember him?"

She nodded, holding back the tears, and John continued.  "He took me to  a table in the back where they were about to prepare the body.  Showed me the corpse.   It was perfectly preserved.  His injury was lower--in the gut, they said.  His face and head intact.  I saw the purple butterfly shaped birthmark on his lower arm, saw the tiny rose tattoo with 'Janil' on his other, and the little scar above his lip.  There was no mistaking the corpse's identity.  It was Will."

Margaret nervously paced for a moment and then sat across from him in a wing chair, lighting a menthol cigarette with trembling hands as she spoke.  "For a moment, she'd almost convinced me that he was alive. What are we to do?"

"Go to Chicago.  If we head out for MCI now, we should get to Chicago in just over 2 hours."

"That may not be soon enough.  She's going to Lake Michigan, on some kind of dinner cruise.  I have a bad feeling about it.  I'm afraid she's going to do something to herself."

"Call Harry."

"I did.  He said he'd see her, but she refused to see him."

"Call him back.  See if he'll go to her. Tell him its an emergency."  He got to his feet.  "I'll get our bags ready."
***
 
The next time they saw their daughter, she was sitting on a bench at the pier, her body covered by a wool blanket, her hair wet and sticking to her face, tears streaming her pale cheeks. Their old friend, Harry, sat beside her, a protective  arm around her shoulders.  They had to fight a group of onlookers, police, and medics to reach her.   When he saw them, Harry stood to greet them.

He and John talked while Margaret rushed to her daughter. As she held Janil tightly in her arms, the girl's sobbing intensified. 

 "Oh God, Janil. I'm so glad you're all right."

"I'm fine," she said. "I'm glad you're here." And then she looked into her mother's hazel eyes and added,  "I just got him back, and now I've lost him again."

"I know," Margaret said, wiping the hair out of Janil's face and kissing the top of her head as if the girl were 8-years old again.

A cop approached John.  "I need to talk to you, sir?" he said. John nodded and went a few feet away to talk to the officer out of Janil's  earshot.  A few minutes later, Harry was beckoning for Margaret to step aside with him.  Promising to be right back, she gave Janil another hug before she went to speak to him.

"I think she'll be okay, Margaret, but she needs some professional help."

"What happened?"

"From what I gathered, her boyfriend and her--"

"Boyfriend?"

"Yes, she was with a man.  Witnesses on the schooner saw him. They said that the two were apparently having a wonderful evening.  They kept to themselves through the cruise, holding hands and talking over dinner.  Afterward, they danced. As the ship was returning to port, Janil and the man were watching the ships in the distance, when apparently, the boyfriend somehow fell overboard.  She jumped in after him.  A crew member jumped in after her and saved her life.  They searched, are still searching, but the man's body was not found.  He apparently drowned."

"Good God!  What a shock and after--"

He nodded, grasping her hand and holding it tight.

"But who was he?" Margaret asked.

"She claims it was Will Henderson."

"I know, but it couldn't be!"

"I've only been able to talk to her briefly, but from what I've seen, I think she's having a nervous breakdown.  Can't  accept Will's death.  I believe she met someone else, and, in her mind, he became Will. "

"But who?  She never mentioned another man."

"I don't know.  I took a taxi here as soon as I got off work, but the ship had already set out, and so I never met the man. "

"Have the police questioned you?"

"Yes.  But I told them very little and didn't mention the crisis Janil is going through, because I didn't want to implicate her in anything that could result in her being detained here."

"Implicate her--for what? Why?"

"A possible suicide pact."

Margaret closed her eyes for a moment, slowly shaking her head.  Then she massaged her temples with stiff fingers. It was no wonder that she was getting a headache.

"So far no one has any idea who the man was.  Several other passengers said they'd heard her call him Will."

 "I'm so confused." She studied Janil as she spoke. "I feel so helpless.  I don't know what to do for her."

Harry put a hand on her shoulder. "Of course.  It's only natural that you'd feel that way, but just being here and giving her your support is the best thing you can do for her right now.  And as bad as things seem,  I assure you that she'll recover from this.  It will take time, but she will.  You need to get her some counseling as soon as you get back to Kansas City."

 "I'll call someone first thing tomorrow.  Thanks so much for all of your help, Harry. I don't know what we would have done without you. I can't express how grateful--"

"It's okay.  That's what friends are for," he said, putting an arm around her.

She found John who'd been talking to the officer and Arnold Peterson, the ship's Captain. "Harry said she was with--"  she began.

"I know," he said.  "The Captain told me the same thing. She was with a man named Will--or at least she called him that."
"How could it be?  Where could she have met him? On the phone earlier, she told me that Will had called her yesterday and asked her to meet him here."
"He was probably a friend of Will's, someone he met overseas."
"Maybe. I don't know. It just doesn't make sense..."
"It will later. The important thing is that she's safe.  Come on. Let's get her out of here. The police have our names and phone number.  They'll contact us if they need  to."
***
 
Janil sat in the back seat of the rented Lexus, still shivering.  Margaret sat beside her, holding her hand and reassuring her as they drove toward the Butler Hotel.   John and Harry sat in the front seat, saying very little.  It wasn't a good time for pleasant conversation.

Margaret and John didn't plan on staying in Chicago for a minute longer than they had to.  Harry thought it would be best if Janil went to Will's funeral.  It would help her accept that he was dead, give her closure.  They'd get her things and take the next flight out if one was available.  They'd go to Harry's townhouse and make the flight plans.  If they couldn't get an evening flight, they'd stay with him but leave the first thing in the morning.

As the car slowed before the hotel lobby, Margaret clutched Janil's hand tighter. "I'll go in and get your things and check you out."
Janil searched through her Coach purse for a minute and then handed Margaret the key to the room. Then she laid her head back and stared at Lake Michigan as if in a daze.
Margaret entered the lobby, assailed by the shock of tasteless 1970s styling.  The hotel was in a state of glaring decay with it's worn and cracked tiles, outdated orange carpet, and heavily scuffed and peeling walls, but it apparently attracted guests, because of  its lakeside view.  The clerk at the desk was so busy painting her nails red and talking on the phone to an apparent love that she didn't notice Margaret enter the building.  And that was fine with Margaret.  She didn't want to have to explain why she was there.

It took her no time to find the second floor room, and she quickly unlocked the door and went inside, anxious to gather Janil's things and put the day's events in the past.  She found Janil's empty blue suitcase on the unmade bed, and she went about stuffing it full of Janil's clothes, makeup, toiletries, jewelry, and a spare pair of tennis shoes.  She was about to turn and leave when she saw another suitcase next to the bed.

It was small and olive green.  She laid it on the bed and opened it with a gasp, for it was full of men's things--socks, underwear, a shaving kit, toothpaste and brush, shoe polish, and a comb.  There were also military uniforms, desert style Army fatigues, neatly folded.

Hoping to find a clue to the man's identity, she searched the elasticized compartment in the lid, and withdrew a stack of letters bound by a pink ribbon.  She untied it and quickly scanned the contents of the crumpled, yellow papers.  Love letters.  And they were all to Will from Janil.  She carefully put them back and extracted a small box.  She opened it to see a gold engagement ring with a big diamond. Tears in her eyes, she returned it to its rightful place and continued to search, finding various military pins and a name tag. 

The tag sat upside down in her hand and she trembled as she turned it over.  It said: Henderson.  Of course. 

She was confused all over again, and it took her a couple of minutes to collect herself.  But then she reminded herself of John's theory about a friend of Will's.

Will would have doubtlessly entrusted his belongings only to a close friend. Servicemen form strong bonds, especially in times of war.  Perhaps the man had come to deliver these private things of Will's to Janil.  Maybe he'd even known that Janil thought of him as Will and had played along with it, not knowing what else to do. Or maybe he hadn't been such a gentleman and had used the situation to his advantage she thought, eyes scanning the rumpled bed.

Ah, but she was torturing herself with such thoughts.  Like John had said, the truth would come out later.  Now, she needed to focus on her daughter who was obviously in the midst of a complete nervous breakdown.
She returned everything to the suitcase and snapped the lid shut.  Without a backward glance, she exited the room and locked the door.  She made her way down the long hall toward the elevator when she heard something behind her.  She spun to see a man who wore only slacks, leaning out the open door of  the room she'd just exited.  She recognized his face, his eyes, the scar above his lip.  From where she stood, she could even see the little rose tattoo.  It was Will. 

His name had only just left her lips when he smiled and vanished before her.  
 
-The End-

 ANALYSIS SHORT STORY “ PIER ”

1.     TITLE                                      : PIER
2.     AUTHOR                                 : Bobette Bryan
3.     DOWNLOADED FROM        : www.underworldtales.com
4.     MAIN CHARACTERS
     See also: List of Pair characters
·        Janil – The protagonist of the Pier story, she is loved his fiancee, and did not trust her fiance was killed in the Gulf War,
yet she claims to be with him in Chicago.
·        Margaret – she is mother janil, she loved a young.  Janil's parents think she has gone completely mad.
·        Will Henderson – he is the fiance janil, he is a air force which has a characteristic the purple butterfly shaped birthmark on his lower arm, saw the tiny rose tattoo with 'Janil' on his other, and the little scar above his lip. 

5.     PLOT                                      :
Janil is loved his fiancee, Will Henderson was killed in the Gulf War. But she looking a fiancee. We have dinner reservation at the Navy pier in lake michigan, chicago. Janil’s parents in kansas city going to chicago. The janil’s parents afraid about a her life.
6.     SETTING                      : Navy pier in lake michigan, chicago


Sumber       : Gupit A. SPA
Editor         : Admin Coretan Mahasiswa
 

PAJAK, BUMI DAN BANGUNAN

1.Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perai...