Monday, November 6, 2017

TEORI PERILAKU PRODUKSI ISLAM

Baca Juga

TEORI PERILAKU PRODUKSI ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
            Seiring dengan bertambahnya zaman, dinamika kehidupan masyarakat juga berkembang. Mobilitas masyarakat semakin tinggi sejalan dengan kemajuan alat dan sistem transportasi. Dengan semakin majunya teknologi, sebaran informasi semakin cepat dengan kapasitas yang semakin besar, sehingga informasi yang di perlukan semakin beragam dengan menggunakan alat dan cara komunikasi yang berbeda-beda pula. Kehidupan masyarakat yang semakin dinamis ini tentu berkaitan erat dengan ragam kebutuhan yang perlu di penuhi.
            Dengan adanya fenomena diatas kegiatan produksi yang memiliki peran sebagai mata rantai dari kegiatan konsumsi dan distribusi memiliki peranan yang sangat penting di dalam proses pemenuhan kebutuhan karena sektor produksilah yang akan menentukan seberapa besar tingkat keberhasilan suatu wilayah.
            Diera  moderen seperti yang penulis jabarkan di atas perkembangan ekonomi juga berdampaak pada  praktek- praktek ekonomi yang berbau konvensional sehingga disini penulis akan menjabarkan tentang toeri produksi yang sesuai dengan syariat islam.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan pengertian dan ruang lingkup produksi islam ?
2.      Apa tujuan dan motivasi produksi menurut islam ?
3.      Apasaja yang menjadi faktor-faktor produksi?
4.      Apa saja yang mempengaruhi biaya produksi?
5.      Bagaimana etika produsen dalam islam?
6.      Bagaimana konsep produksi dalam al-qur’an dan peradapan islam?
1.3  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksut perilaku produksi dalam islam
2.      Untuk mengetahui tujuan dan motivasi  produksi menurut islam
3.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk faktor produksi
4.      Untuk mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi perubahan biyaya produksi
5.      Untuk mengetahui bagaimana etika yang harus dilakukan sebagai produsen muslim untuk mengetahui tata cara didalam menganalisis biyaya produksi
6.      Untuk mengetahui konsep produksi dalam al-qur’an dan peradapan islam


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. TEORI PRODUKSI ISLAM
2.1.1. Pengertian
            Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari kegiatan konsumsi dan distribusi.
Produksi merupakan suatu proses kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa yang kemudian disalurkan oleh distributor untuk di konsumsi oleh konsumen. Tanpa adanya kegiatan produksi maka kegiatan ekonomi tidak akan berjalan, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan suatu barang dan jasa, kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi. Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu.[1]Produksi juga dimaknai sebagai proses (siklus) kegiatan-kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang atau jasa tertentu dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi dalam waktu tertentu. Faktor produksi adalah fungsi atau persamaan yang menunjukkan kombinasi hubungan antara tingkat output dengan penggunaan input. [2]
2.1.2.  Tujuan Produksi
Membantu mengadakan barang atau jasa yang dibutuhkan dan diperlukan oleh umat agar bisa dimanfaatkan dengan baik, serta mendapatkan keuntungan yang baik lagi halal.
2.1.3.  Faktor-Faktor
Hubungan antara faktor-faktor produksi dengan tingkat produksi yang dihasilkan dinamakan dengan fungsi produksi. Faktor produksi dapat dibedakan dalam beberapa golongan, yaitu : tanah, tenaga, kerja, modal, dan keahlian. Faktor-faktor pdoduksi dikenal dengan istilah input dan jumlah produksi diistilahkan dengan output. Fungsi produksi dinyatakan dalam bentuk rumus, sebagai berikut :
Q = f(K<L<R<T)          Keterangan :
K  = Jumlah stok modal
L   = Jumlah tenaga kerja
R  = Kekayaan alam
T  = Tingkat teknologi yang digunakan
Q = Jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis faktor-faktor produksi tersebut secara bersamaan. [3]
1.      Modal
Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Menurut pengertian ekonomi, modal adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih lanjut. Contoh: seseorang yang membuat jala untuk mencari ikan. Dalam hal ini jala merupakan barang modal, karena jala merupakan hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lain (ikan).
Modal dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu :
a.       Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi dua : modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri adalah m,odal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri. Misal : setoran dari pemilik perusahaan. Sedangkan modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan. Misal : modal yang berupa pinjaman bank.
b.      Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal abstrak. Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misal : mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misal : hak paten, nama baik,  dan hak merek.
c.       Berdasarkan pemiliknya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contoh: rumah pribadi yang disewakan. Sedangkan modal masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses produksi. Contoh : rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan, atau pelabuhan.
d.      Berdasarkan sifatnya, modal tetap dan modal lancer. Modal tetap adalah modal yang dapat digunakan berulang-ulang. Misal: mesin-mesin dan bangunan pabrik. Sedangkan modal lancar adalah modal yang habis digunakan dalam datu kali proses produksi. Misal : bahan-bahan baku. [4]
2.      Tenaga Kerja
Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia, baik jasmani maupun rohani yang dicurahkan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa maupun manfaat suatu barang.
Tenaga kerja diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a.       Tenaga kerja terdidik (skilled labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh pendidikan formal maupun non formal seperti guru, dokter, pengacara, akuntan, psikologi, peneliti.
b.      tenaga kerja terlatih ( trained labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh keahlian berdasarkan latihan dan pengalaman. missal : montir, tukan ukir, sopir, teknisi.
c.       Tenaga kerja tak terdidik dan tak terlatih (unskilled and untrained labour), adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekuatan jasmani daripada ruhani, seperti tenaga kuli pikul, tukang sapu, pemulung, buruh tani.
3.      Tanah
Tanah adalah faktor produksi yang penting mencangkup semua sumber daya alam yang digunakan dalam proses produksi. Ekonomi islam mengakui tanah sebagai faktor ekonomi untuk dimanfaatkan secara maksimal demi mencapai kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi islam. Dengan pengertian, pemanfaatan sumber daya alam tidak boleh dilakukan secara sewenang-wenang dan dapat membahayakan generasi yang akan datang.
4.      Kewirausahaan
Sumber daya pengusaha yang disebut juga kewirausahaan berperan mengatur dan mengkombinasikan faktor-faktor produksi dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif dan efisien.[5]

2.2.MOTIF DAN TUJUAN DARI KEGIATAN PRODUKSI
Adapun tujuan dari kegiatan produksi adalah untuk memperoleh keuntungan. Hal tersebut dikarenakan motif untuk memaksimalkan keuntungan dalam kegiatan produksi di pandang tidak salah dalam islam.  Karena upaya untuk untuk mencari keuntungan merupakan konsekuensi logis dari kegiatan produksi dan keuntungan merupakan rezeki yang di berikan oleh alloh kepada manusia. Sebagaimana terdapat dalam Q. S Al-qosos : 77 yang pada intinya menerangkan bahwa kegiatan produksi yaitu kegiatan dalam rangka memaksimalkan kepuasan dan keuntungan baik di dunia maupun akhirat.
Meskipun demikian ada beberapa perbedaan yang menonjol antara motif dan tujuan ekonomi konvensionl dengan ekonomi islamn yaitu:
a.       Didalam ekonomi islam tujuan utama dari kegiatan produksi yaitu untuk mendapat maslahah maxsimizer sedangkan dalam ekonomi konvensional tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh profit maximizer.
b.      Dalam ekonomi islam produsen mendapat keuntungan berupa berkah sedangkan dalam ekonomi konvensional produsen mendapat keuntungan berupa materi.
c.       Dalam ekonomi islam produsen berproduksi dengan memperhatikan kemaslahatan umat sedangkan dalam ekonomi onvensional produsen mengabaikan maslahah eksternal.
d.      Dalam ekonomi islam yang di capai bersifat maslahah bersama sedangkan dalam ekonomi konvensional keuntungan yang di capai bersifat individu.[6]

2.3.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA PRODUKSI
2.3.1. Pajak
            Pengenaan pajak atas suatu barang yang diproduksi/dijual akan mempengaruhi keseimbangan pasar barang. Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan harga suatu barang tersebut naik. Sebab setelah di kenakan pajak dari adanya faktor produksi  produsen akan mengalihkan beban pajak tersebut ke konsumen. Akibatnya, harga keseimbangan yang tecipta di pasar lebih tinggi dari harga keseimbangan sebelum pajak.[7]

2.4.ETIKA PRODUSEN DALAM ISLAM
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnyabahwatujuandariekonomi islamadalah untuk kemaslahahatan bersama untuk mencapai fallah, sehingga islam memandang kegiatan produksi merupakan bentuk usaha seseorang sebagai ibadah kepada Alloh dan jihad di jalan-Nya.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan kegiatan produksi yaitu:
1.      Seluruh kegiatan produksi terikat pada tatanan nilai moral dan teknikal yang islami.
sejak proses mengorganisasi faktor produksi, proses produksi, hingga pemasaran dan pelayanyan terhadap konsumen harus senantiasa mengikuti moralitas islam. Ajaran islam melarang untuk menkonsumsi barang barang dan jasa yang haram baik dari bentuk fisik maupun cara didalam pemerolehannya. Islam juga telah menganjurkan 5 jenis kebutuhan yang di pandang bermanfaat untuk mencapai fallah, yaitu:  kehidupan, harta(materi), kebenaran, ilmu pengetahuan, kelangsungan keturunan dari lima jenis kebutuha inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan produksi. Dan untuk membatasinya islam juga mengajarkan adanya sekala prioritas dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan dan melarang adanya sikap berlebih-lebihan.
2.      Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan.
Kegiatan produksi harus menjaga nilai-nilai keseimbangan dan harmoni dengan lingkungan sosial dan lingkungan hidup dalam masyarakat untuk menciptakan keselarasan dalam pembanguan secara luas tanpa ada ketimpanga diantara keduanya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat dapat ikut serta menikmati hasil produksi yang memadai dan berkulitas. Sehingga kegiatan produksi tidak hanya menguntungkan produsen saja akan tetapi mencangkup produsen dan masyarakat secara luas.
3.      Menyikapi masalah ekonomi yang kompleks.
Masalah ekonomi muncul bukan dikarenakan adanya kelangkaan sumberdaya ekonomi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia saja, akan tetapi juga dikarenakan kemalasan dan eksploitasi segala anugerah Alloh, baik sumber daya alam maupu sumber daya manusia. Sifat tersebut di dalam Al-Qur’an sering disebut dengan kedzaliman/ aniyaya (pengingkaran terhadap nikmat alloh). Dari adanya hal tersebut dapat membawa implikasi bahwa prinsip produsi bukan sehedar evisiensi, tetapi secara luas adalah bagaimana mengoptimalisasikan pemanfaatan suber daya ekonomi dalam rangka pengabdian manusia terhadap Tuhannya.
Selain itu dalam kegiatan produksi juga terdapat nilai-nilai yang harus di perhatikan
1.      Kegiatan produksi merupakan sesuatu yang diwajibkan oleh agama dan dibebankan bagi setiap muslim, Karena dalam kegiatan produksi terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat di junjung tinggi agama. Hal tersebut dikarenakan kegiatan produksi islami bukan hanya semata-mata untuk pemenuhan kepentingan pribadi, tetapi untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, sehingga kegiatan produksi dapat bernilai ibadah di sisi Allah.  Kewajiban berproduksi dengan ihsan terdapat pada hadist nabi yang artinya:
sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal, jika kamu membunuh hewan maka bunuhlah dengan baik, jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik pula”.[8]
2.      Iman, taqwa, maslahah, dan istiqomah.
Iman, taqwa, dan istiqomah merupakan pendorong yang sangat kuat untuk memperbesar produksi dengan kerja keras yang baik. Karena dengan landasan keimanan, ketaqwaan, dan sifat istiqomah yang juga dimotori oleh motifasi untuk mendapatkan maslahah seseorang akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai fallah.
3.      Bekerja pada bidang yang dihalalkan oleh Allah.
Ahlak utama yang harus diperhatikan oleh seorang muslim dalam bidang produksi yaitu bekerja pada bidang yang dihalalkan oleh alloh. Oleh karena itu setiap uasaha yang mengandung unsur kedzaliman dan mengmbil hak orang lain dengan jalan yang batil, seperti mengurangi timbangan dan takaran, memperoleh sesuatu yang tidak di imbangi dengan kerja dan pengorbanan yang setimpal seperti halnya riba dan sejenisnya di haramkan oleh islam. Disinilah titik perbedan yang menonjol antara ekonomi sosialis, kapitalis dengan ekonomi islam. Karen didalam ekonomi sosialis dan kapitalis tidak megenal adanya halal dan kharam.[9]

2.5.KONSEP PRODUKSI DALAM AL-QUR’AN DAN PERADABAN ISLAM
Masyarakat Islam pada masa awal, yaitu di masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin adalah masyarakat yang produktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya seorang penulis muslim dari Thilmizan, Andalus, yaitu Abu Hasan bin Mas’ud Al-Khuza’ie Al-Andalusi dengan buku yang berjudul As Sam’iyyah ‘Ala Ma Kana Fii ‘Ahdi Rasulullah saw. yang merupakan bukti otentik tentang usaha industri di zaman Rasulullah saw. Dari buku tersebut dinyatakan bahwa pada masa Rasulullah terdapat kurang lebih 178 buah usaha industri dan bisnis yang menggerakkan perekonomian masyarakat pada masa itu. Diantara di berbagai industri tersebut terdapat 12 macam yang menonjol yaitu:
1.      Pembuatan senjata dan segala usaha dari besi
2.      Perusahaan tenun-menenun
3.      Perusahaan kayu dan pembuatan rumah atau bangunan
4.      Perusahaan meriam dari kayu
5.      Perusahaan perhiasan dan kosmetik
6.      Arsitektur perumahan
7.      Perusahaan alat timbangan dan jenis lainnya
8.      Perusahaan perkapalan
9.      Perusahaan alat-alat berburu
10.  Pekerjaan kedokteran dan kebidanan
11.  Usaha penterjemahan buku
12.  Usaha kesenian dan kebudayaan lainnya[10]
Al-quran sebagai pedoman hidup manusia telah mencatat beberapa bentuk industri yang telah dilakukan oleh para nabi dan orang-orang terdahulu dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan mereka. Adapun bentuk produksi yang terdapat dalam al-Quran yaitu sebagai berikut.
1.      Industri besi, baja, dan kuningan
Terdapat di dalam al-Quran surah Saba ayat 10-11 yang artinya “dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Daud karunia dari Kami... Dan Kami telah melunakkan besi untuknya. Buatlah  baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya dan kerjakanlah amalan sholeh
Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengolahan besi telah dilakukan sejak zaman Nabi Daud As dan umatnya.
2.      Industri perhiasan emas, perak, mutiara, dan sutra.
Produktifitas perhiasan di atas telah di jelaskan didalam al-qur’an surah al-insan ayat 15-16  yang artinya “ dan di edarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan pial-piala bening laksana kaca, yaitu kaca-kaca yang terbuat dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
3.      Industri kulit, tekstil dan kaca.
Dan Alloh menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia jadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah) dari kulit binatatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya diwaktu kamu berjalan dan di aktu kamu bermukim(dan di jadikannya pula) dari bulu unta, bulu domba, dan bulu kambing alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu tertentu dan dia jadikan bagimu pakaian yang melindungimu dari panas” (Q.S An-Nahl : 80)
dari ayat di  atas terlihat jelas bahwa orang-orang terdahulu juga telah melakukan keiatan produksi yaitu mengolah kulit binatang untuk dijadikan pakaian sebagai pelindung tubuhnya.
itu dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya, berkatalah Sulaiman:’sesungguhnya itu adalah istana licin yang terbuat dari batu kaca”... (Q.S An-Naml:44)
ayat di atas menceritakan kekaguman ratu bilqis terhadap lantai istana nabi Sulaiman yang mengkilat bagi air. Sehingga dari ayat diatas telah menunjukkan bahwa pada masa itu telah ada produksi istana dari kaca (batu pualam)
4.      Industri keramik, batu bata, dan bangunan.
“..maka hai haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi... “(Q.S Ai Qosos: 38)
“ dan berkatalah firaun, ‘hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu langit yang tinggi..”( Q.S AL Mukmin: 36-37)
Kedua ayat ini menceritakan kisah pada nabi musa, yaitu ketika Firaun meminta kepada Hamam untuk membuatkan bangunan yang megah.
5.      Industri perkapalan.
Al-Qur’an telah menceritakan bagaimana nabi Nuh dengan umatnya membangun sebuah bahtera yang besar untuk menampung orang-orang yang beriman dari banjir yang besar.
dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami,...Dan mulailah nuh membuat bahtera...Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung...”(Q.S Huud:37,38,42)
6.      Industri minyak nabati dam pertambangan.
dan pohon kayu yang keluar dari thursina(pohon zaitun) yang menghasilkan minyak dan makanan bagiorang-orang yang makan.”(Q.S Al Mu’minun:20)
“...Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan terdapat berbagai manfaat bagi manusia...”(Q.s Al Hadiid:25).[11]

BAB III. PENUTUPAN
3.1.KESIMPULAN

Produksi yaitu kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa untuk mendapat keuntungan, sedangkan produksi islami yaitu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dalam mewujudkan maslahah untuk mencapai falah.
Faktor-faktor produksi yaitu  modal, tenaga kerja, tanah, kewirausahaan
Tujuan dan motivasi produksi yaitu untuk mendapat keuntungan untuk menciptakan kemaslahatan bersama.
Etika produksi islami yaitu produksi terikat pada tatanan nilai moral dan teknikal yang islami kemudian kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial kemasyarakatan sehingga tidak melampaui hak-hak orang lain
Faktor yang mengakibatkan perubahan biaya produksi yaitu pajak, zakat, infak dan bagi hasil Produksi dlam al-quran dan peradaban islam yaitu segala sesuatu terkait kegiatan ekonomi yang dilakukandimasa lampau dan tercantum didalam Al-Quran.


DAFTAR PUSTAKA
Edwin Nasution, Mustaswa. 2006.  Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup.
Qardhawi , Yusuf. 2006. Norma Dan Etika Ekonomi Islam. Jakarta: Gema Insani.
Rozalinda. 2014. Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sumar’in. 2013. Ekonomi Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu.


[1]Sumar’in. 2013. Ekonomi islam. Yogyakarta. Graha ilmu. Hlm:127-128
[2]Mustaswa edwin nasution dkk. 2006. Pengenalan eksklusif ekonomi islam. Jakarta. Kencana prenada media grup. Hlm:104
[3]Rozalinda. 2014. Ekonomi islam. Jakarta. Raja grafindo persada. Hlm:113
[4],.ibid. hlm:113-114
[5],.ibid. hlm:115-117
[6],.ibid. hlm:125
[7],.ibid. hlm:122
[8],.ibid. hlm:133
[9]Yusuf qardhawi. 2006. Norma dan etika ekonomi islam. Jakarta. Gema insani. Hlm:99-117
[10]Sumar’in. 2013. Ekonomi islam. Yogyakarta. Graha ilmu. Hlm:142
[11],.ibid. hlm:143-145

Sumber  : Sri Retnoningsih
Editor     : Admin Coretan Mahasiswa

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas

PAJAK, BUMI DAN BANGUNAN

1.Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perai...