Resiko Pasar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Risiko
pasar muncul karena harga pasar bergerak dalam arah yang merugikan organisasi. Misal,
suatu perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham yang dibeli dengan harga
Rp 1 miliar.Misalkan harga saham jatuh, sehingga
nilai pasar saham tersebut turun menjadi Rp 800 juta.Perusahaan tersebut
mengalami kerugian karena nilai portofolio sahamnya turun sebesar Rp 200
juta.Kerugian tersebut disebabkan karena harga saham bergerak kearah yang
kurang menguntungkan (dalam hal ini turun).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana metode pengukuran risiko pasar ?
1.3
Tujuan Penulisan
Agar
mengetahui bagaimana metode pengukuran risiko pasar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Metode Pengukuran Risiko Pasar
2.1.1
Definisi Risiko Pasar
Risiko
pasar merupakan kondisi yang dialami oleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh
perubahan kondisi dan situasi pasar di luar dari kendali perusahaan.Risiko
pasar sering disebut juga sebagai risio yang menyeluruh, karena sifat umumnya
adalah bersifat menyeluruh dan di alami oleh seluruh perusahaan. Contohnya
krisis ekonomi dunia tahun 1930-an, krisis ekonomi Indonesia 1997 dan 1998,
coupd’tat yang terjadi di Filipina pada saat presiden Marcos di ambil alih oleh
kekuatan People Power hingga Corazon Aquino menjadi presiden, Amerika Serikat
pada kasus Subrime Mortgage 2007, Thailand pada saat Bank Sentral Thailand
melakukan devaluasi Bath yang menyebabkan terjadinya kegoncangan pada ekonomi
Thailand secara keseluruhan, perang Teluk yang menyebabkan beberapa Negara di kawasan Timur Tengah seperti Irak dan Kuwait mengalami kegoncangan ekonomi, dan
berbagai kasus yang menyeluruh lainnya.
2.1.2
Bentuk-Bentuk Risiko Pasar
Risiko
pasar secara umum ada 2 (dua) bentuk yaitu :
a. General market risk (risiko pasar secara
umum)
General
market risk ini di alami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh suatu
kebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut
mampu memberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.Contohnya pada saat bank
sentral suatu Negara melakukan kebijakan tight money policy (kebijakan uang
ketat) dengan berbagai instrumennya seperti menaikkan suku bunga BI rate.
Dimana kebijakan menaikkan BI rate ini akan membawa pengaruh secaramenyeluruh
pada seluruh sektor bisnis yang berhubungan dengan interest rate related
instrument (berbagai instrument yang berhubungan dengan suku bunga). Bahwa
salah satu pihak yang saling urgen dianggap langsung berhubungan dekat dengan
interest rate related instrument adalah perbankan.
Dengan
begitu mereka mengambil kredit dan mendepositokan sejumlah uangnya ke bank.
Contoh pada saat BI rate dinaikkan maka suku bunga kredit diperbankan akan
mengikuti kondisi tersebut yaitu turut menaikkan suku bunga kredit, terutama
jika perbankan tersebut menerapkan perhitungan bunga secara sliding rate.
Perhitungan berupa kredit secara sliding rate adalah hitungan pada pembebanan
bunga terhadap nilai pokok pinjaman akan mengalami penurunan dari setiap bulan
ke bulan berikutnya, yang mana ini disesuaikan dengan menurunnya besar nilai
dari pokok pinjaman sebagai efek dari adanya pembayaran cicilan pokok pinjaman
yang dilakukan oleh seorang debitur.
b. Specific market risk ( risiko pasar secara
spesifik)
Specific
market risk adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus pada
satu sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh. Contohnya :
a) Pengumuman yang dikeluarkan oleh suatu lembaga penilai dimana lembaga
penilai tersebut memiliki reputasi yang baik dan diakui oleh publik. Bahwa
mereka mengumumkan PT.XYZ memiliki kinerja yang rendah dan memiliki utang yang
besar serta laporan yang dipublikasikan selama ini kepada publik tidak sesuai
dengan sebenarnya. Sehingga atas berita tersebut saham dan obligasi perusahaan
tersebut langsung jatuh. Dan jatuhnya saham serta obligasi perusahaan tersebut
tidak diikuti oleh perusahaan lain
b) Salah satu perusahaan dimana pihak manajemen atau komisaris perusahaan
terlibat tindak kriminal yang luar biasa dan diekspose oleh berbagai media.
Sehingga opini publik telah terbentuk bahwa perusahaan tersebut tidak baik dan
jelek
c) Produk yang dijual oleh
perusahaan tersebut dianggap mengandung bahan yang berbahaya atau bersifat
haram. Contoh suatu produk makanan yang mengandung lemak babi. Secara islam
makanan yang mengandung lemak babi haram hukumnya. Ketika hal itu diekspose
oleh media massa baik cetak maupun elektronik akan menyebabkan terjadinya
penurunan drastis pada penjualan produk perusahaan yang berpengaruh pada
perusahaan laba perusahaan.
2. Kategori yang Masuk Generak Market Risk
Ada
beberapa sebab yang menimbulkan terjadinya general market risk (risiko pasar
secara umum) yaitu :
a.
Foreign exchange risk
Sejarah
awal terjadinya foreign exchange ini berangkat dan diterapkannya sistem
floating exchange rate system pada tahun 1970-an. Sehingga sejak saat itu
kondisi mata uang di dunia telah terintegrasi dalam satu bentuk pasar dimana
secara khusus kita dapat melihat bahwa penerapan sistem tersebut memungkinkan
banyak pihak bias ikut terlibat bermain dalam pasar valas (valuta asing). Jual
beli valas ini memberikan keuntungan dengan konsep pada perolehan angka selisih
pada saat harga beli dan harga jual.
Pada
pasar valas ini kita dapat menggabungkan mata uang dalam dua bentuk kategori
yaitu :
a)
Hard currencies
Hard currencies (mata uang keras) mencakup
mata uang yang berasal dari Negara-negara yang memiliki tingkat kestabilan
moneter tinggi atau biasanya berasal dari Negara maju dan sering berbagai pihak
menjadikan mata uang Negara tersebut sebagai ukuran dalam mengkonversikan
dengan mata uang negaranya.Contohnya USD/JPY atau dollar Amerika dengan Yen
Jepang, USD/EUR atau dollar Amerika dengan Euro, dan sebagainya.
b)
Soft curriencies
Soft curriencies ( mata uang yang lembut)
adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh suatu Negara namun jarang dipakai
sebagai standar acuan dalam transaksi pasar bisnis internasional, dengan alasan
dianggap belum memiliki nilai kelayakan.
b.
Interest rate risk
Risiko
suku bunga adalah risiko yang di alami akibat dari perubahan suku bunga yang
terjadi di pasaran yang mampu memberi pengauh bagi pendapatan perusahaan. Untuk
pembahasan yang lebih dalam tentang interest rate risk ini dapat dilihat pada
bab khusus membahas tentang risiko suku bunga.
c.
Commodity position risk
Commodity
position risk (risiko perubahan nilai komoditi) adalah suatu siuasi dan kondisi
dimana terjadinya kerugian akibat perubahan harga barang komoditi di pasar yang
disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, dimana kondisi ini akan semakin parah
pada saat barang komoditi tersebut telah terikat kontrak dalam suatu kontrak
perjanjian (commodity contrack) serta informasi tersebut telah sampai ke pasar.
Adapun
pengertian commodity position risk dalam perspektif perbankan Masyhud Ali
mengatakan Commodity position risk adalah risiko terjadinya potensial kerugian
bagi bank sebagai akibat dari perubahan yang memberi pengaruh buruk dari
commodity price terhadap posisi bank yang terkait dengan kontrak komoditas.
Lebih jauh Masyud Ali memberi contoh pada perbankan adalah “dimana kerugian
yang diderita oleh investment bank yang melakukan trading atau commodity
derivative product sebagai akibat dari terjadinya volatility atas harga dari
suatu commodity tertentu.
d.
Equity position risk
Equity
position risk (risiko perubahan kekayaan) adalah suatu kondisi dimana kekayaan
perusahaan (stock and share) mengalami perubahan dari biasanyan sehingga
perubahan tersebut memberi dampak pada keuntungan dan kerugian karyawan.
e.
Politic risk
Stabilitas
politik adalah sesuatu sangat pening bagi suatu Negara. Stabilitas politik
menjanjikan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan, namun jika pemimpin dan
pihak terkait di suatu Negara tidak mampu menciptakan iklim kondusif dalam
bidang politik maka artinya seluruh pemimpin dan aparatur di Negara tersebut
tidak memiliki semangat kemimpinan. Jika kondisi ini terus terjadi maka yang
terjadi adalah krisis kepemimpinan. Krisis kepemimpinan akan berakibat pada
pencarian kepemimpinan di luar lembaga resmi, yaitu memungkinkan orang-orang
yang berasal dari masyarakat atau oposisi akan muncul sebagai pemimpin dan
berusaha mengambil alih kepemimpinan.
2.13. Hubungan Foreign Exchange Risk dan
Perbankan
Perbankan
adalah lembaga mediasi yang menghubungkan mereka yang kelebihan dana (surplus)
dan mereka yang kekurangan dana (deficit). Penempatan posisi ini menyebabkan
banyak pihak menjadikan perbankan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam ruang lingkup kerja dan aktivitas bisnis mereka, artinya secara otomatis
perbankan terseret dengan sendirinya untuk masuk ke dalam risiko pasar (market
risk).
Kondisi
dan situasi terbentuknya market risk terjadi karena disebabkan oleh berbagai
faktor yang berada diluar kendali perusahaan atu perbankan. Faktor-faktor
tersebut antara lain seperti naik dan stabil, perubahan nilai tukar, dan lain
sebagainya. Lebih jauh perubahan tersebut telah mampu mendorong untuk ikut
berubahnya beberapa produk perbankan seperti deposito, tabungan , giro,
keputusan kredit, keputusan investasi, dan lain sebagainya.
2.14. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya
Gejolak Harga di Pasar
Menurut
Masyhud Ali ada 6 (enam) faktor yang mempengaruhi terjadinya gejolak harga di
pasar yaitu :
a. Faktor fundamental ekonomi
b. Terjadinya peristiwa besar dalam ekonomi
dan politik
c. Campur tangannya financial authorities
d. Perimbangan kekuatan permintaan dan
penawaran
e. Likuiditas pasar
f. Suburnya kegiatan arbitrage
2.1.5
Pengukuran Risiko Pasar
Risiko
pasar muncul karena harga pasar bergerak dalam arah yang merugikan organisasi.
Pada bab ini akan membahas lebih lanjut mengenai teknik pengukuran risiko pasar
dengan menggunakan deviasi standar, diikuti dengan teknik VAR diteruskan dengan
teknik stress-testing.
1)
Deviasi Standar
Jika
kita membicarakan distribusi normal, maka kita hanya memerlukan dua parameter
yaitu nilai rata- rata (atau disebut juga sebagai nilai yang diharapkan) dan
deviasi standarnya. Konsep deviasi standar, distribusi normal, nilai rata -
rata menjadi landasan bagi perhitungan Value At Risk. Deviasi standar dipakai
untuk menghitung penyimpangan dari nilai rata-rata. Semakin besar deviasi
standar, semakin besar penyimpangan. Penyimpangan dipakai sebagai indikator
risiko. Semakin besar penyimpangan, semakin besar risiko.
Perhitungan deviasi standar :
E(R)
= SRi / N
sRt
= S(Ri – E(R))2 / (N - 1)
sR
= ( sR2 )1/2
2)
VAR ( VALUE AT RISK )
Misal jika besok adalah hari yang jelek,
berapa besar (nilai rupiah) dan berapa besar kemungkinan (probabilitas)
kerugian yang bisa dialami perusahaan besok (atau beberapa hari mendatang),
jawabannya besok ada kemungkinan sebesar 5% bahwa kerugian perusahaan (karena
pergerakan harga pasar yang tidak menguntungkan) sebesar Rp 10 juta atau lebih.
Dalam hal ini VAR menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan nilai uang
dari kerugian tersebut (Rp 10 juta), dan besar kemungkinannya (5%). Teknik
perhitungan VAR bisa menggunakan metode historis, metode analitis dan simulasi
Monte-Carlo.
a.
VAR Metode Historis ( Back Simulation )
Return
dapat dihitung dengan cara
Return = {[P(t+1) – Pt)] / Pt}*100%
Dimana
Pt = return pada hari t
Pt+1 = return pada hari t+1
Metode historis mempunyai kelebihan yaitu
tidak mengamsumsikan distribusi tertentu dan sederhana. Namun ada juga
kelemahannya seperti asumsi bahwa data masa lalu bisa digunakan untuk
memperediksi masa datang.
VAR
portofolio = [ VAR X2 + VAR Y2 + 2 x PXY X VARX VARY] 1/2
VAR x =
VAR (value at risk saham X)
VARy = VAR (value at risk saham Y)
Pxy = korelasi return saham X dengan saham Y
b.
VAR Metode Modeling (Analytical Metode analitis biasanya mengasumsikan
distribusi tertentu yang mendasari return atau harga). Biasanya distribusi
normal (yang berbentuk bel) yang diasumsikan mendasari pergerakan harga.
Kemudian dapat dihtung nilai yang diharapkan (misal rata-rata) dan penyimpangan
dari nilai yang diharapkan. VAR dapat dihitung dengan parameter yang dideduksi
(diambil) dari distribusi (nilai yang diharapkan dan penyimpangan)
c.
VAR dengan simulasi Monte Carlo
Metode
simulasi akan terbentuk distribusi tertentu, kemudian melalui distribusi
tersebut
VAR dapat dihitung yang memerlukan sumber daya computer yang lebih besar
disbanding kedua etode sebelumnya.
d.
Pemodelan
VAR
Hubungan antara
perubahan tingkat bunga dengan nilai obligasi
dP/P =
-D {dR/(1+R)}
Dimana dP =
Perubahan harga
P = Harga obligasi
D =
Durasi obligasi
dR =
Perubahan tingkat bunga
R =
tingkat bunga
e.
VAR
untuk periode yang lebih panjang
Misal untuk
melikuidasi posisi portofolio, waktu satu hari tidak cukup. Memerlukan waktu,
misal 5 hari. Padahal kita menghitung VAR dengan menggunakan periode harian.
Dalam situasi demikian VAR harian harus dikonversi menjadi VAR 5 hari.
Dengan menggunakan
rumus
VAR(n) = VAR(harian) x
3)
STRESS-TESTING
VAR menjawab beberapa
besar kerugian yang bisa dialami dan berapa besar kemungkinan, tetapi VAR tidak
bisa mendektesi peristiwa ekstrim karena probabilitas sangat kecil.
Secara spesifik, langkah – langkah
stress-testing :
- Mengidentifikasi dan memilih parameter
yang diperkirakan akan berubah
- Menentukan seberapa besar parameter
tersebut akan dirubah ( Di-stress )
- Melihat pengaruh stress-testing tersebut
terhadap nilai portopolio
- Melihat asumsi yang digunakan, merubah
asumsi tersebut jika diperlukan ( misal dalam situasi krisis, asumsi yang biasa
berlaku barangkali tidak jalan lagi )
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Risiko
pasar adalah risiko terjadinya penurunan harga pasar sehingga kita akan
mengalami kerugian. Pengukuran risiko pasar bisa dilakukan dengan deviasi
standar yang praktis dan merupakan cikal bakal teknik berikutnya yaitu VAR
(Value At Risk). VAR merupakan teknik pengukuran risiko pasar yang semakin
popular. Ada beberapa cara untuk menghitung VAR data historis, analitik, dan
simulasi. VAR mempunyai kelemahan karena tidak bisa melihat kondisi ekstrim.
Street-test bisa digunakan untuk melihat pengaruh situasi ekstrim terhadap
portofolio kita.
Sumber : Yuni Mirati
Editor : Admin
Coretan Mahasiswa