Baca Juga
Makalah
Kompensasi - Sumber Daya Manusia - Bagian 2
A.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompensasi
1. Faktor Intern
Organisasi
Faktor intern organisasi yang mempengaruhi
besarnya kompensasi adalah:
a. Dana
Organisasi
Terhimpunnya dana tentunya sebagai akibat
prestasi-prestasi kerja yang telah ditujukan oleh karyawan. Maka Makin besarnya
prestasi kerja maka makin besar pula keuntungan organisasi/perusahaan. Besarnya
keuntungan perusahaan akan memperbesar himpunan dana untuk kompensasi, maka
pelaksanaan kompensasi akan makin baik. Begitu pula sebaliknya.
b. Serikat
pekerja
Para pekerja yang tergabung dalam seikat pekerja
juga dapat mempengaruhi pelaksanaan atau penetapan kompensasi dalam suatu
perusahaan. Serikat pekerja dapat menjadi simbol kekuatan pekerja di dalam
menuntut perbaikan nasib. Keberadaan serikat pekerja perlu mendapatkan
perhatian atau perlu diperhitungkan oleh pihak manajemen.
2. Faktor Pribadi
Karyawan
a. Produktivitas
kerja
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh prestasi
kerja. Prestasi kerja merupakan faktor yang diperhitungkan dalam penetapan
kompensasi. Pengaruh ini memungkinkan karyawan pada posisi dan jabatan yang
sama mendapatkan kompensasi yang berbeda. Pemberian kompensasi ini dimaksud
untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
b. Posisi dan
Jabatan
Posisi dan jabatan berbeda berimplikasi pada
perbedaan besarnya kompensasi. Posisi dan jabatan seseorang dalam organisasi
menunjukkan keberadaan dan tanggung jawabnya dalam hierarki organisasi. Semakin
tinggi posisi dan jabatan seseorang dalam organisasi, semakin besar tanggung
jawabnya, maka semakin tinggi pula kompensasi yang diterimanya.
c. Pendidikan
dan Pengalaman
Selain posisi dan jabatan, pendidikan dan
pengalaman kerja juga merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi.
Pegawai yang lebih berpengalaman dan berpendidikan lebih tinggi akan mendapat
kompensasi yang lebih besar dari pegawai yang kurang pengalaman dan atau lebih
rendah tingkat pendidikannya. Pertimbangan faktor ini merupakan wujud
penghargaan organisasi pada keprofesionalan seseorang. Pertimbangan ini juga
dapat memacu karyawan untuk meningkatkan pengetahuannya.
d. Jenis dan Sifat
Pekerjaan
Besarnya kompensasi pegawai yang bekerja di
lapangan berbeda dengan pekerjaan yang bekerja dalam ruangan, demikian juga
kompensasi untuk pekerjaan klerikal akan berbeda dengan pekerjaan
adminsitratif. Begitu pula halnya dengan pekerjaan manajemen berbeda dengan
pekerjaan teknis. Pemberian kompensasi yang berbeda ini selain karena
pertimbangan profesionalisme pegawai juga karena besarnya resiko dan tanggung
jawab yang dipikul oleh pegawai yang bersangkutan. Sebagai contoh, kebanyakan
organisasi/perusahaan pegawai yang bertugas di lapangan biasanya mendapatkan
kompensasi antara 2-3 kali lipat dari pekerjaan di dalam ruangan/kantor.
Besarnya kompensasi sejalan dengan besarnya resiko dan tanggung jawab yang
dipikulnya.
3. Faktor Ekstern
a. Penawaran
dan Permintaan kerja
Mengacu pada hukum ekonomi pasar bebas, kondisi
dimana penawaran (supply) tenaga kerja ebih dari permintaan (demand)
akan menyebabkan rendahnya kompensasi yang diberikan. Sebaiknya bila kondisi
pasar kerja menunjukkan besarnya jumlah permintaan tenaga kerja sementara
penawaran hanya sedikit, maka kompensasi yang diberikan akan besar. Besarnya
nilai kompensasi yang ditawarkan suatu organisasi merupakan daya tarik calon
pegawai untuk memasuki organisasi tersebut. Namun dalam keadaan dimana jumlah
tenaga kerja lebih besar dari lapangan kerja yang tersedia, besarnya kompensasi
sedikit banyak menjadi terabaikan.
b. Biaya hidup
Besarnya kompensasi terutama upah/gaji harus
disesuaikan dengan besarnya biaya hidup (cost of living). Yang dimaksud
biaya hidup disini adalah biaya hidup minimal. Paling tidak kompensasi yang
diberikan harus sama dengan atau diatas biaya hidup minimal. Jika kompensasi
yang diberikan lebih rendah dari biaya hidup minimal, maka yang terjadi adalah
proses pemiskinan bangsa.
c. Kebijaksanaan
Pemerintah
Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah berupaya
melindungi rakyatnya dari kesewenang-wenangan dan keadilan. Dalam kaitannya dengan
kompensasi, pemerintah menentukan upah minimum, jam kerja/hari, untuk pria dan
wanita, pada batas umur tertentu. Dengan peraturan tersebut pemerintah menjamin
berlangsungnya proses pemakmuran bangsa hingga dapat mencegah praktek-praktek
organisasi yang dapat memiskinkan bangsa.
d. Kondisi
Perekonomian Nasional
Kompensasi yang diterim oleh pegawai di
negara-negara maju jauh lebih besar dari yang diterima negara-negara berkembang
dan atau negara miskin. Besarnya rata-rata kompensasi yang diberikan oleh
organsasi-organisasi dalam suatu negara mencerminkan kondisi perekonomian
negara tersebut dan penghargaan negara terhadap sumber daya manusianya.
B. Tantangan Yang
Mempengaruhi Kebijakan Kompensasi
1. Suplai dan
Permintaan Tenaga Kerja
Beberapa jenis pekerjaan mungkin harus dibayar
lebih tinggi daripada yang ditunjukkan oleh nilai relatifnya karena desakan
kondisi pasar. Sebagai contoh, pada tahun 1970-an, kelangkaan tenaga akuntan
menyebabkan perusahaan (organisasi) harus memberikan tunjangan kelangkaan
disamping kompensasi dasar untuk memperoleh tenaga kerja akuntan.
2. Produktivitas
Perusahaan harus memperoleh laba untuk menjaga
kelangsungan hidup dan tumbuh. Tanpa hal ini, perusahaan tidak akan bias
bersaing lagi. Oleh karena itu, perusahaan tidak dapat membayar para
karyawannya melebihi kontribusi mereka kepada perusahan melalui produktivitas
mereka. Bila ini terjadi (bisa karena kelangkaan atau kekuatan serikat
karyawan), perusahaan biasanya merancang kembali pekerjaan-pekerjaan, melatih
para karyawan baru untuk menaikkan suplai atau melakukan automaisasi.
3. Kesediaan
Untuk Membayar
Bukan merupakan suatu pernyataan yang berlebihan
bahwa perusahaan sebenarnya ingin membayar kompensasi secara adil dan layak.
Oleh karena itu, perusahaan juga merasa bahwa para karyawan seharusnya
melakukan pekerjaan sesuai dengan upah yang mereka terima. Manajemen perlu
mendorong para karyawan untuk meningkatkan produktivitas mereka agar kompensasi
yang lebih tinggi dapat dibayarkan.
4. Berbagai
Kebijaksanaan Pengupahan dan Penggajian
Hampir semua organisasi mempunyai kebijaksanaan
yang mempengaruhi pengupahan dan penggajian. Salah satu kebijaksanaan yang umum
adalah memberikan kenaikan upah yang sama besarnya pada karyawan angota serikat
buruh maupun karyawan yang bukan angota serikat. Banyak perusahaan mempunyai
kebijaksanaan pembayaran bonus (premium) diatas upah dasar untuk meminimumkan
perputaran karyawan atau untuk menarik para karyawan terbaik.
Perusahaan-perusahaan lain mungkin juga menetapkan kenaikan kompensasi secara
otomatis bila indeks biaya hidup naik.
5. Kendala-kendala
pemerintah
Tekanan-tekanan eksternal dari pemerintah dengan
segala peraturannya mempengaruhi penetapan kompensai perusahaan. Peraturan upah
minimum, upah kerja lembur, dan pembatasan umur untuk tenaga kerja anak-anak
merupakan beberapa contoh kendala kebijaksanaan kompensasi yang berasal dari
pemerintah
C. Keadilan dan Kelayakan
Dalam Pemberian Kompensasi
Selain hal-hal diatas, dalam pemberian kompensasi
perlu dipertimbangkan unsur keadilan dan
kelayakan.
1. Keadilan
Dalam pemberian kompensasi apakah itu berupa
upah, gaji, bonus atau bentuk-bentuk lainnya, penting sekali diperhatikan
masalah keadilan terebut. Keadilan bukan berarti sama rasa sama rata tanpa
pandang bulu, tetapi harus terkait adanya hubungan antara pengorbanan (input)
dengan output. Semakin tinggi pengorbanan, semakin tinggi penghasilan
yang diharapkan, sehingga oleh karenanya yang harus dinilai adalah pengorbanan
(input) yang diperlukan suatu jabatan. Input dalam satu jabatan
ditujukan dari persyaratan-persyaratan (spesifikasi) yang harus dipenuhi oleh
orang yang memangku jabatan tersebut. Oleh karena itu semakin tinggi pula
penghasilan (output) yang diharapkan. Output ini ditunjukkan dari
upah yang diterima para karyawan yang bersangkutan, dimana didalamnya tercantum
rasa keadilan yang sangat diperhatikan oleh setiap karyawan penerima kompensasi
tersebut. Bila tuntutan keadilan seperti seperti ini telah terpenuhi ini
berarti perusahaan telah memiliki internal consistency dalam sistem
kompensasinya.
2. Kelayakan
Di samping masalah keadilan dalam pemberian
kompensasi perlu diperhatikan masalah kelayakan. Pengertian layak ini berkaitan
dengan standar hidup seperti kebutuhan pokok minuman atau upah minimum sesuai
dengan ketentuan pemerintah. Kelayakan juga dilihat dengan cara membandingkan
pengupahan di perusahaan lain. Bila kelayakan ini sudah tercapai, maka
perusahaan sudah mencapai apa yang disebut external consistency (Konsistensi
Eksternal). Apabila upaya di dalam perusahaan yang bersangkutan lebih
rendah dari perusahaan-perusahaan lain, maka hal ini dapat mengakibatkan
kesulitan bagi perusahaan untuk memperoleh tenaga kerja. Oleh karena itu untuk
memenuhi kedua konsistensi tersebut (internal dan eksternal) perlu digunakan
suatu evaluasi pekerjaan.
D. Evaluasi
Pekerjaan
Evaluasi Pekerjaan (job
evaluation) adalah proses penilaian atas suatu pekerjaan berkaitan dengan
pekerjaan baik dalam organisasi maupun pada organisasi yang berbeda. Tujuan
utama dari evaluasi pekerjaan adalah menghilangkan ketidakadilan baik internal
maupun eksternal dalam pembayaran kompensasi yang terjadi dalam organisasi.
Sering ketidakadilan dialami oleh seorang karyawan ketika menerima bayaran yang
lebih rendah dibandingkan karyawan lain dengan pekerjaan sama dalam organisasi.
Banyak organisasi menggunakan evaluasi pekerjaan untuk tujuan, mengidentifikasi
pekerjaan, menghilangkan ketidakadilan dalam pembayaran, pengembangkan tingkatan
nilai pekerjaan sebagai dasar untuk menentukan upah atau gaji setiap pekerjaan.
Dengan
tercapainya konsistensi diharapkan kedua belah pihak, antara karyawan dengan
manajer merasa puas atau tidak saling merugikan dalam hal pemberian kompensasi.
berdasarkan hal itu, maka evaluasi pekerjaan merupakam saalah satu cara yang
baik dalam menentukan kompensasi yang adil. Jadi, keadilan internal dan
eksternal adalah sasaran langsung dari evaluasi pekerjaan dan sasaran akhirnya
adalah kepuasan kerja. Dalam menentukan atau pemberian nilai bagi setiap
pekerjaan, terdapat beberapa persyaratan yang perlu antara lain, deskripsi
pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan yang jelas, dan keputusan yang diambil
berkaitan dengan kelompok-kelompok karyawan atau pekerja yang akan diliput oleh
sistem evaluasi tunggal. Dalam menentukannya sering sekali perusahaan mempunyai
sistem-sistem yang terpisah untuk karyawan-karyawan pada bidang produksi
dan pemeliharaan, administrasi, ilmiah dan profesional, dan manajerial. Jika
semua jenis karyawan ini dianggap berada dalam satu perusahaan, akan diperlukan
beberepa alat untuk menghubungkan sistem-sistem itu untuk menjamin perlakuan
yang adil. Persyaratan lain adalah penjualan ide mengenai evalusai pekerjaan
bagi semua peserta dalam sistem itu.
Cek
Bagian Selanjutnya disini ....
Sumber
: Vika Lutfiyani Bilgis Adilah
Admin
: Admin Coretan Mahasiswa
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas