Baca Juga
MANAJEMEN PENJUALAN
6.1. Pengertian Manajemen Penjualan
Istilah
manajemen penjualan telah mengalami perubahan-perubahan selama beberapa tahun.
Pada mulanya, para pengusaha menggunakan istilah tersebut untuk rnenunjukkan
pengarahan tenaga penjualan, atau disebut juga manajemen personal selling.
Kemudian, istilah tersebut diartikan secara lebih luas lagi dengan manajemen
dari seluruh kegiatan pemasaran, distribusi fisik, penetapan harga, dan
perencanaan produk tetapi sekarang, kedua istilah itu sudah dibedakan dengan
menunjukkan bahwa manajemen pemasaran
mempunyai pengertian yang lebih luas daripada manajemen penjualan.
Kemudian,
apa yang dimaksud dengan manajemen penjualan ? Berikut ini adalah definisi yang
dikemukakan oleh Komite Definisi dari Asosiasi Pemasaran Amerika (The Definition Jommittec of the American
Marketing Association).
Manajemen
penjualan adalah perencanaan, pengarahan, dan pengawasan personal
selling, termasuk penarikan, pemilihan, perlengkapan, penentuan rute,
supervisi, pembayaran, dan motivasi sebagai tugas diberikan pada para tenaga
penjualan.
Dari
definisi tentang manajemen penjualan tersebut dapat diketahui bahwa tugas
manajer penjualan cukup luas. Dapat dikatakan pula bahwa tugas manajer
penjualan itu adalah sebagai administrator dalam kegiatan personal selling,
sehingga tugas utamanya banyak berkaitan dengan personalia penjualan.
Bagian
lain dari tugas manajer penjualan adalah berkaitan dengan
pengorganisasian kegiatan penjualan baik di dalam maupun di luar perusahaan. Di
dalam perusahaan, ia harus menyusun struktur organisasi yang dapat menciptakan
komunikasi secara efektif tidak hanya di dalam departemen penjualan itu
sendiri, tetapi juga dengan departemen-departemen lainnya. Ia juga merupakan
penghubung yang paling penting antara perusahaan dengan pembeli dan masyarakat
lain, serta bertanggung-jawab untuk menciptakan dan mempertahankan jaringan
distribusi yang efektif.
Selain
tugas-tugas tersebut, manajer penjualan masih mernpunyai tugas yang lain, yaitu
menggunakan dan berpartisipasi dalam mempersiapkan informasi untuk mengambil
keputusan pemasaran, seperti penentuan anggaran, kuota, dan daerah penjualan.
Juga berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang produk, saluran
pemasaran dan politik distribusi, promosi, serta penetapan harga.
Jadi,
dapat dikatakan bahwa manajer penjualan itu selain sebagai
administrator kegiatan personal selling, juga sebagai anggota kelompok manajer
yang ikut mengambil keputusan pernasaran.
6.2. Tujuan Manajemen Penjualan
Sukses
bisa dicapai bilamana seseorang itu memiliki suatu tujuan atau cita-cita.
demikian pula halnya dengan para pengusaha atau penjual. Tujuan tersebut akan
menjadi kenyaraan apabila dilaksanakan dengar kernauan dan kemampuan yang
memadai. Selain itu,
harus diperhatikan pula -faktor lain seperti :
·
Modal
yang diperlukan,
·
Kemampuan
merencanakan dan membuat produk,
·
Kemampuan
menentukan tingkat harga yang tepat,
·
Kemampuan
memilih penyalur yang tepat.
·
Kemampuan menggunakan cara-cara promosi yang tepat,
·
Unsur
penunjang lainnya.
Pada umumnya, para pengusaha mempunyai
tujuan rnendapatkan laba tertentu
dan mempertahankan atau bahkan berusaha meningkatkannya
untuk jangka waktu lama. Tujuan tersebut dapat direalisir apabila
penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan. Dengan demikian
tidak berarti bahwa barang atau jasa yang terjual selalu akan menghasilkan
laba. Di sinilah faktor-faktor di atas harus mendapatkan perhatian sepenuhnya.
Bagi
perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan umum
dalam penjualannya, yaitu :
dalam penjualannya, yaitu :
1.
Mencapai volume penjualan tertentu
2. Mendapatkan
laba tertentu
3.
Menunjang pertumbuhan perusahaan
Dalam
mencapai ketiga tujuan di muka, pimpinan dapat mendelegasikan sebagian
wewenangnya kepada para fungsionaris di bawahnya, misalnya Kepala Bagian Pemasaran. Dan untuk tugas-tugas
penjualan, Kepala Bagian Pemasaran dapat mendelegasikan sebagian wewenangnya
kepada Sub. Bagian Penjualan.
Proses seperti ini jarang dijumpai pada perusahaan-perusahaan kecil, karena
biasanya kegiatan pemasaran dan penjualan langsung dipegang oleh pimpinan yang
juga merangkap sebagai pemilik. Jadi, dialah yang harus menentukan estimasi
tentang potensi pasarnya, kemampuan tenaga-tenaga penjualnya, dan sebagainya.
Untuk
kegiatan selanjutnya, Bagian Penjualan mernpunyai peranan. yang sangat penting.
Hal ini mendorong pimpinan untuk lebih seksama dalam mengambil keputusan di
bidang pemasaran, penjualan, serta keuntungan yang realistis. Untuk tujuan
perencanaan dan operasinya, pimpinan dapat berpegang pada dua rumus berikut :
Penjualan - Harga Pokok
= Laba Kotor
Laba
Kotor – Biaya lain = Laba Bersih
Secara
periodis, formula itu dipakai pada laporan operasi perusahaan dan digunakan
oleh pengusaha serta pemilik untuk mengadakan penilaian terhadap hasil kerja
perusahaan, termasuk efektivitas penjualan dan pemasarannya. Faktor harga pokok
tidak dapat ditentukan secara langsung oleh Bagian
Penjualan karena pembuatan produknya ditangani oleh Bagian Produksi dalam perusahaan, atau ditangani oleh produsen
lain. Sedangkan volume penjualan diharapkan dapat menutup semua biaya.. Volume
penjualan, laba kotor, dan biaya-biaya lain seperti biaya operasi secara
langsung dipengaruhi oleh hasil kerja dari Bagian
Pemasaran termasuk Sub. Bagian Penjualan, dan semua ini merupakan faktor
penentu untuk rnernperoleh laba bersih.
6.3. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kegiatan Penjualan
Dalarn
praktek, kegiatan penjualan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
tersebut adalah :
I. Kondisi dan Kemampuan Penjual
Transaksi
jual-beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang dan jasa itu
pada prinsipnya melibatkan dua pihak, yaitu penjual sebagai pihak pertama dan pembeli sebagai pihak kedua. Di sini, penjual harus
dapat meyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil rnencapai sasaran
penjualan yang diharapkan.
Untuk
maksud tersebut penjual harus memahami beberapa masalah penting yang
sangat berkaitan, yaitu :
• Jenis
dan karakteristik barang yang ditawarkan.
• Harga
produk.
• Syarat
penjualan, seperti pembayaran, penghantaran, pelayanan sesudah penjualan,
garansi, dan sebagainya.
Masalah-masalah
tersebut biasanya menjadi pusat perhatian pembeli sebelum melakukan pembelian.
Selain itu, manajer perlu memperhatikan jumlah serta sifat-sifat tenaga
penjualan yang akan dipakai. Dengan tenaga penjualan yang baik dapatlah
dihindari timbulnya kemungkinan rasa kecewa pada para pembeli .
Adapun sifat-sifat yarfg perlu dimiliki oleh
seorang penjual yang baik antara lain : sopan,
pandai bergaul, pandai berbicara, mempunyai kepribadian yang menarik, sehal
jasmani, jujur, mengetahui cara-cara penjualan, dan sebagainya.
2. Kondisi Pasar
Pasar,
sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam penjualan, dapat
pula mempengaruhi kegiatan penjualannya. Adapun
faktor-faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan adalah :
·
Jenis pasarnya, apakah pasar konsumen, pasar industri,
pasar penjual, pasar pemerintah, ataukah pasar internasional.
·
Kelompok pembeli atau segmen pasarnya.
·
Daya
belinya.
·
Frekuensi
pembeliannya.
·
Keinginan
dan kebutuhannya.
3. Modal
Akan lebih sulit bagi penjual untuk
menjual barangnya apabila barang yang dijual tersebut belum dikenal oleh calon
pembeli, atau apabila lokasi pembeli jauh dari tempat penjual. Dalam keadaan
seperti ini, penjual harus memperkenalkan
dulu membawa barangnya ke tempat pembeli. Untuk melaksanakan maksud tersebut
diperlukan adanya sarana serta usaha, seperti : alat transport, tempat peragaan
baik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan, usaha promosi, dan
sebagainya. Semua ini hanya dapat dilakukan apabila penjual memiliki sejumlah modal
yang diperlukan untuk itu.
4.
Kondisi Organisasi Perusahaan
Pada perusahaan besar, biasanya
masalah penjualan ini ditangani oleh bagian tersendiri (Bagian Penjualan) yang
dipegang orang-orang yang ahli di bidang penjualan. Lain halnya dengan perusahaan
kecil di mana masalah penjualan ditangani oleh orang yang juga melakukan
fungsi-fungsi lain. Hal ini disebabkan karena jumlah tenaga kerjanya lebih
sedikit, sistem organisasinya lebih sederhana, masalah-masalah yang dihadapi,
serta sarana yang dimilikinya juga tidak sekompleks perusahaan besar. Biasanya,
masalah penjualan ini ditangani sendiri oleh pimpinan dan tidak diberikan
kepada orang lain.
6.4. Fungsi-fungsi Salesman
Salah satu fungsi salesman adalah
melakukan penjualan dengan bertemu muka (face-to-face selling), di mana
seorang penjual dan sebuah perusahaan langsung menemui konsumen untuk
menawarkan produknya. Penjualan dengan bertemu muka ini hanya merupakan satu
dari beberapa fungsi penting lainnya. Fungsi-fungsi
yang lain tersebut adalah :
1.
Mengadakan
Analisa Pasar
Dalam
analisa pasar, termasuk juga mengadakan peramalan tentang penjualan yang akan
datang, mengetahui dan mengawasi para pesaing dan memperhatikan lingkungan,
terutama lingkungan sosial dan perekonomian. Sebenarnya, tugas penjualan ini
tidak mudah. Apa yang dilakukan oleh penjual tersebut dapat berakibat pada
dirinya sendiri. Seorarig tenaga penjualan yang baik harus memahami dan
menyadari tentang apa yang terjadi di beberapa daerah selain di sekitar
perusahaan.
2.
Menentukan
Calon Konsumen
Termasuk dalam fungsi ini antara lain
mencari pembeli potensial, menciptakan pesanan baru dan Iangganan yang ada, dan
mengetahui keinginan pasar.
3. Mengadakan
Komunikasi
Komunikasi ini merupakan fungsi yang menjiwai
fungsi-fungsi tenaga penjualan yang ada. Fungsi ini tidaklah menitik-beratkan
untuk membujuk atau mempengaruhi, tetapi untuk memulai dan melangsungkan
pernbicaraan secara ramah dengan langganan atau calon pembeli. Komunikasi yang
bersifat membujuk hanya merupakan satu elemen saja dari fungsi komunikasi.
4. Memberikan
Pelayanan
Pelayanan yang diberikan kepada langganan dapat
diwujudkan dalam bentuk konsultasi menyangkut keinginan dan masalah-masalah
yang dihadapi langganan, memberikan jasa teknis, rnemberikan bantuan
keuangan/kredit, melakukan penghantaran barang ke rumah, dan sebagainya.
5. Memajukan
Langganan
Dalam memajukan langganan, tenaga penjualan
bertanggung-jawab atas semua tugas yang langsung berhubungan dengan langganan.
Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan tugas-tugasnya agar dapat meningkatkan
laba. Dalam fungsi ini, termasuk juga pemberian saran secara pribadi seperti
saran tentang masalah pengawasan persediaan, promosi. pengembangan barang, dan kebijaksanaan
harga.
6.
Mempertahankan Langganan
Mempertahankan langganan atau penjualan merupakan salah
satu fungsi yang semata-mata ditujukan untuk menciptakan goodwill serta mempertahankan hubungan baik dengan langganan.
7.
Mendefinisikan Masalah
Pendefinisian masalah dilakukan dengan memperhatikan dan
mengikuti permintaan konsumen. Ini berarti penjual harus mengadakan analisa
tentang usaha-usaha konsumen sebagai sumber masalah. Selain itu, juga harus
menemukan masalah-masalah yang berkaitan dengan barang, jasa, harga, dan sistem
penyampaiannya.
8. Mengatasi Masalah
Mengatasi
atau menyelesaikan masalah merupakan fungsi menyeluruh yang pada dasarnya
menyangkut fleksibilitas, penemuan, dan tanggapan. Jika suatu masalah
memerlukan sumber-sumber dari beberapa perusahaan, tenaga penjualan dapat
membentuk untuk memperolehnya. Jadi, tenaga penjualan tersebut semata-mata
bertindak sebagai konsultan umum.
9. Mengatur Waktu
Pengaturan
waktu merupakan satu masalah paling penting yang dihadapi oleh penjual. Sering
terjadi adanya banyak waktu yang terbuang dalam perjalanan, atau untuk
pekerjaan-pekerjaan yang tidak produktif atau terbuang untuk menunggu saja.
Untuk menghernat waktu, rnereka banyak latihan serta mengambil pengalaman dan
orang lain.
10. Mengalokasikan
Sumber-sumber
Pengalokasian
sumber-sumber sering diperlukan dan dilakukan dengan memberikan bahan bagi
keputusan manajemen untuk membuka transaksi baru, menutup transaksi yang tidak
menguntungkan, dan mengalokasikan usaha-usaha ke berbagai transaksi.
11. Meningkatkan Kemampuan Diri
Meliputi
latihan-latihan dan usaha-usaha pribadi untuk mencapai kemampuan fisik dan
mental yang tinggi. Tentu saja tidak terlepas dari masalah motivasi dan kondisi
atau kesehatan dari tenaga penjualan itu sendiri. Latihan yang lain dapat
dilakukan dengan mempelajari konsumen beserta keinginannya, para pesaing
beserta kegiatannya; produk yang dijual, kebijaksanaan dan program dari
perusahaannya.
6.5.
Proses Penjualan
Salah
satu aspek yang ada dalam penjualan adalah penjualan dengan bertemu muka
(face-to-face selling) di mana seorang penjual langsung berhadapan muka dengan
calon pembelinya. Masalah tersebut menjadi titik-berat dalam pembahasan tentang
proses penjualan berikut. Adapun
tahap-tahapnya adalah :
1.
Persiapan
Sebelum Penjualan
Disini kegiatan yang dilakukan adalah
mempersiapkan tenaga penjualan dengan memberikan pengertian tentang barang yang
dijualnya, pasar yang dituju, dan teknik-teknik penjualan yang harus dilakukan.
Selain itu, mereka juga lebih dulu harus mengetahui kemungkinan tentang
motivasi dan perilaku dalam segmen pasar yang dituju.
2.
Penentuan Lokasi Pembeli Potensial
Dengan menggunakan data pembeli yang
lalu maupun sekarang, penjual dapat menentukan karakteristiknya, misalnya
lokasi. Oleh karena itu, pada tahap kedua ini ditentukan lokasi dari segmen
pasar yang menjadi sasarannya. Dari lokasi ini dapatlah dibuat sebuah daftar
tentang orang-orang atau perusahaan yang secara logis merupakan pembeli
potesial dari produk yang ditawarkan. Dari konsumen yang ada dapat pula
ditentukan konsumen manakah yang sudah menggunakan produk-produk saingan.
3. Pendekatan Pendahuluan
Sebelum
melakukan penjualan, penjual harus mernpelajari
semua rnasalah tentang individu atau perusahaan yang dapat diharapkan sebagai
pembelinya. Selain itu, perlu juga mengetahui tentang produk atau merk apa yang
sedang mereka gunakan dan bagaimana reaksinya. Berbagai macam informasi perlu
dikumpulkan untuk mendukung penawaran produknya kepada pembeli, misalnya
tentang kebiasaan membeli, kesukaan dan sebagainya. Semua kegiatan ini
dilakukan sebagai pendekatan pendahuluan terhadap pasarnya.
4. Melakukan Penjualan
Penjualan
yang dilakukan bermula dari suatu usaha untuk memikat perhatian calon konsumen,
kemudian diusahakan untuk mengetahui daya tarik mereka. Dan akhirnya penjual
melakukan penjualan produknya kepada pembeli.
5. Pelayanan
Sesudah Penjualan
Sebenarnya
kegiatan penjualan tidak berakhir pada saat pesanan dari pembeli telah
dipenuhi, tetapi masih perlu dilanjutkan dengan memberikan pelayanan atau
servis kepada mereka. Biasanya kegiatan ini dilakukan untuk penjualan
barang-barang industri seperti instalasi, atau barang konsumsi tahan lama
seperti almari es, televisi, dan sebagainya. Beberapa pelayanan yang diberikan
oleh penjual sesudah penjualan dilakukan
antara lain berupa :
•
Pemberian garansi
•
Pemberian jasa reparasi
• Latihan
tenaga-tenaga operasi dan cara penggunaannya
•
Penghantaran barang ke rumah.
Dalam
tahap terakhir ini penjual harus berusaha mengatasi berbagai macam keluhan atau
tanggapan yang kurang baik dari pembeli. Pelayanan lain yang juga perlu
diberikan sesudah penjualan adalah memberikan jaminan kepada pembeli bahwa
keputusanyang diambilnya tepat, barang yang dibelinya betul-betul bermanfaat,
dan hasil kerja produk tersebut memuaskan.
6.6. Motivasi dan Kompensasi Salesman
Penentuan
rencana kompensasi/penggajjan bagi salesman lebih merupakan suatu seni karena
apabila produk dan pembelinya berbeda, maka rencana kompensasinya juga berbeda.
Lagi pula, rencana kompensasi ini harus selalu diperbaiki untuk menyesuaikan
perubahan-perubahan dalam lingkungan persaingan yang ada, dan hal ini sulit
dibandingkan efisiensinya diantara perusahaan-perusahaan. Biasanya, tingkat
kompensasi itu lebih banyak ditentukan oleh hasil kerja penjualannya. Namun
demikian, kita akan membahas beberapa rnetode yang lebih populer untuk memotivasj salesman. Pada pokoknva ada dua metode, yaitu :
demikian, kita akan membahas beberapa rnetode yang lebih populer untuk memotivasj salesman. Pada pokoknva ada dua metode, yaitu :
1. Insentif Tunai
Insentif
tunai ini merupakan metode pemberian kompensasi yang paling
banyak dipakai, yaitu dengan memberikan sejumlah uang tunai kepada salesman
sebagai insentifnya. Rencana kompensasi secara tunai ini dapat dilakukan dalam
beberapa cara, yaitu :
1. Straight Commission
Straight Commission atau
sering disebut insentif 100 persen ini merupakan suatu rencana
kompensasi yang rnenggambarkan sejumlah komisi sebagai penghasilan minimum bagi
salesman sesuai dengan variasi volume penjualannya. Biasanya, jumlah komisi ini
ditentukan berdasarkan suatu persentase dari harga jual (berkisar antara 5% sampai
10% dari harga jual atau lebih tergantung pada jenis produk dan industrinya).
Semakjn banyak salesman itu dapat rnenjual barang, semakin banyak pula jumlah
komisinya. Namun, biasanya telah ditentukan bahwa seorang salesman harus dapat
rnenjual produk dalam sejumlah minimum tertentu sebagai penghasilan minimumnya.
Tetapi hal ini tidak mengikat, artinya kalau jumlah penjualannya kurang dan
minimum, maka jumlah komisinya juga berkurang.
Adapun keuntungan utama bagi perusahaan
dalam metode straight commission ini
adalah bahwa biaya penjualan merupakan biaya variabel dan perusahaan hanya
membayar menurut jumlah produk yang terjual saja. Sedangkan keburukannya adalah
sulit diawasi dan kurang sesuai untuk penjualan herbagai macam produk dengan
karakteristik yang sangat berbeda secara sekaligus.
2. Straight Salary
Straight
salary ini merupakan sistem pembayaran gaji yang paling
sederhana, dan umumnya diwujudkan dalam bentuk sejumlah uang yang dibayarkan
secara tetap untuk suatu periode (harian, mingguan, atau bulanan). Dalam hal
ini, tugas manajer dalam pengendalian salesman lebih ringan karena hanya
mengawasi berapa lama waktu yang dipakai oleh salesman. Biasanya, metode ini
dipakai bilamana perusahaan ingin memasuki segmen pasar baru (tugas salesman
ini disebut missionary selling).
3. Gaji Plus Komisi
Dalam metode ini,
salesman akan memperoleh gaji tetap untuk suatu periode ditambah sejumlah
komisi sesuai dengan volume yang terjual. Semakin banyak produk yang terjual,
semakin banyak pula jumlah komisinya (misalnya 2% dari penjualan). Tingkat
komisi ini dapat pula bervariasi. Kalau salesman dapat menjual lebih besar dari
jumlah yang ditentukan, maka tingkat komisinya menjadi semakin besar, misalnya
3%.
4. Gaji Plus Bonus Plus Komisi
Metode
ini rnerupakan kombinasi antara metode ketiga dan pemberian bonus. Jadi, selain
gaji dan komisi, salesman masih dapat memperoleh bonus. Misalnya, ditentukan
bahwa salesman dapat menerima bonus 3% jika penjualan per bulannya melebihi
4.250 unit.
2. Insentif Tidak Tunai
Pemberian
insentif tidak tunai ini banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan
sebagai pelengkap dan insentif tunai. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong
salesman agar mau bekerja lebih keras. Insentif tidak tunai ini dapat
diwujudkan dalam bentuk selain uang tunai, seperti :
• Mobil, baik untuk perjalanan dinas maupun
untuk keperluan pribadi.
• Rumah untuk tempat tinggal salesman beserta
keluarganya.
•
Wisata.
•
Produk yang dihasilkan.
·
Dan produk/barang lain yang cukup menarik bagi salesman.
6.8.
Evaluasi Hasil Kerja Penjualan
Evaluasi
hasil kerja penjualan ini merupakan tugas yang cukup kompleks karena salesman
dan daerah penjualannya berbeda-beda. Lagi pula banyak waktu yang diperlukan
untuk tugas-tugas salesman. Selain itu masih dikaitkan pula dengan motivasi
masing-masing salesman terhadap rencana kompensasi yang ditetapkan oleh
perusahaan. Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam evaluasi hasil kerja
penjualan ini adalah :
• Membuat standard kerja.
• Mencatat hasil kerja riil.
• Mengadakan evaluasi, atau pembandingan hasil
kerja dengan standardnya.
·
Mengambil
tindakan yang diperlukan.
Daftar Pustaka
Burton Marcus. (1980). Modern Marketing Management, Edisi Kedua, Random House, New York.
Corl McDaniel
Jr. (1979). Marketing, An Integrated
Approach. Horper & Row. Publishers, Inc, New York.
Philip Kotler, (1997). Manajemen Pemasaran : Analisis,
Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Edisi Revisi. Edisi bahasa
Indonesia. Prentice Hall
Philip Kotler,
Gary Armstrong. (1996). Dasar-dasar
Pemasaran. Jilid 2.Edisi Bahasa Indonesia. Prentice Hall
Swastha
Basu Drs, Irawan Drs, (1983). Manajemen
Pemasaran Modern, Edisi Kedua, Liberty , Yogyakarta
William J.Stanton,
(1978). Fundamentals of Marketing,
Edisi kelima, Kogakhusa, Mc.Graw-Hill, Tokyo.
Sumber : Sri
Retnoningsih
Editor :
Admin Coretan mahasiswa
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas