Baca Juga
STRATEGI
PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PROSES PRODUKSI BARANG ATAU JASA
MAKALAH
PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PRODUKSI
1.1 Latar
Belakang
Setiap
organisasi perlu melakukan suatu perencanaan dalam setap kegiatan
organisasinya, baik Perencanaan produksi, perencanaan rekrutmen karyawan baru,
program penjualan produk baru, maupun perencanaan anggarannya. Perencanaan (planning)
merupakan proses dasar bagi organisasi untuk memilih sasaran dan menetapkan
bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan
dan sasaran yang hendak dicapai sebelum melakukan proses-proses perencanaan.
Dalam manajemen, perencanaan adalah
proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan
itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan
merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa
perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan
tak akan dapat berjalan.
Dan didalam organisasi proses
pengawasan sangatlah penting dalam manajemen karena merupakan salah satu fungsi
dalam manajemen suatu organisasi. Dimana memiliki arti proses mengawasi dan
mengevaluasi suatu kegiatan. Suatu pengawasan dikatakan penting karena tanpa
adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan , baik bagi
organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya. Di dalam suatu
organisasi terdapat tipe-tipe pengawasan yang digunakan, seperti pengawasan
pendahuluan (preliminary control), pengawasan
pada saat kerja berlangsung ( cocurrent control), pengawasan feed back (
pengawasan feed back control).
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
pengertian dari perencanaan dan pengawasan produksi?
2. Apa
manfaat dari perencanaan dan proses produksi ?
3. Bagaimana
proses pengawasan produksi?
4. Apa
tujuan dari perencanaan dan pengawasan produksi?
5. Apa
saja yang ada didalam pengawasan?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian
Perencanaan & Pengendalian Produksi
Secara umum perencanaan & pengendalian produksi dapat
diartikan sebagai aktivitas merencanakan dan mengendalikan material
masuk, mengalir, dan keluar dari sistem produksi sehingga permintaan pasar
dapat dipenuhi dengan jumlah yang tepat, waktu penyerahan yang tepat dan biaya
produksi yang minimum.
Sedangakan jika kita definisikan secara terpisah akan
mencakup dua aktivitas yakni :
- Perencanaan produksi : aktivitas untuk menetapkan produk yang diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, kapan produk tersebut harus selesai dan sumber-sumber yang dibutuhkan.
- Pengendalian produksi : aktivitas yang menetapkan kemampuan sumber-sumber yang digunakan dalam memenuhi rencana, kemampuan produksi berjalan sesuai rencana, melakukan perbaikan rencana.
Tujuan
perencanaan dan pengendalian produksi
- Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi secara efisien dan efektif
- Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan modal seoptimal mungkin
- Mengusahakan agar pabrik dapat menguasai pasar yang luas
- Untuk dapat memperoleh keuntungan yang cukup bagi perusahaan.
- Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu.
- Memonitor permintaan yang aktual, membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpangan.
- Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli
- Menetapkan sistem persediaan yang ekonomis
- Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
- Memonitor tingkat persediaan, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan.
- Membuat jadwal produksi, penugasan, serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci.
Tingkat perencanaan & pengendalian produksi :
1. Perencanaan jangka panjang
Kegiatan peramalan usaha, perencanaan jumlah produk dan penjualan, perencanaan produksi, perencanaan kebutuhan bahan, dan perencanaan finansial.2. Perencanaan jangka menengah
Perencanaan kebutuhan kapasitas, perencanaan kebutuhan material, jadwal induk produksi, dan perencanaan kebutuhan distribusi.3. Perencanaan jangka pendek
Kegiatan penjadwalan perakitan produk akhir, perencanaan dan pengendalian input-output, pengendalian kegiatan produksi, perencanaan dan pengendalian purchase, dan manajemen proyek .Perencanaan & pengendalian produksi yang dilakukan adalah mencakup beberapa aktivitas sebagai berikut :
- Peramalan kuantitas permintaan
- Perencanaan persediaan: jenis, jumlah, dan waktu
- Perencanaan kapasitas (Menyusun Rencana Agregat) tenaga kerja, mesin, fasilitas untuk penyesuaian permintaan dengan kapasitas. Rencana agregat bertujuan untuk membuat skenario pembebanan kerja untuk mesin dan tenaga kerja (reguler, lembur, subkontrak) secara optimal untuk keseluruhan produk dan sumber daya secra terpadu (tidak per produk).
- Membuat jadwal induk produksi (JIP). JIP adalah suatu rencana terperinci mengenenai “apa & berapa unit” yang harus diproduksi pada suatu periode tertentu untuk setiap item produksi. JIP dibuat dengan cara (salah satunya) memecah (disagregat) rencana agregat ke dalam rencana produksi (apa, kapan, berapa) yang akan direalisasikan.
- Perencanaan pembelian/pengadaan: jenis, jumlah, dan waktu
- Penjadwalan pada mesin & fasilitas produksi. Penjadwalan ini meliputi unrutan pengerjaan, waktu penyelesaian pesanan, kebutuhan waktu penyelesaian, prioritas pengerjaan, dsb.
- Monitoring aktivitas produksi
- Pelaporan dan pendataan
Klasifikasi Sistem Produksi
Berdasarkan tipe produksinya
system produksi dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni:
1. Engineering To Order (ETO)
Yaitu system produksi yang dilakukan bila pemesan meminta produsen untuk membuat produk yang dimulai dari proses perancangannya (rekayasa).2. Assembly To Order (ATO)Yaitu system produksi yang dilakukan bila produsen membuat desain standard yang teridri atas beberapa komponen dan merakit (assembly) suatu kombinasi tertentu dari komponen tersebut sesuai dengan pesanan konsumen. Komponen-komponen standar tersebut bias dirakit untuk berbagai tipe produk. Contohnya adalah perusahaan mobil, dimana mereka menyediakan pilihan transmisi secara manual /otomatis, AC, Audio, Interior, dan engine khsusus dengan berbagai varian. Komponen-komponen tersebut telah disiapkan (diproduksi) terlebih sejak awal dan baru akan dirakit menjadi mobil utuh behitu ada pesanan dari agen.3. Make To Order (MTO)Yaitu system produksi yang dilakukan bila produsen membuat (memproduksi) suatu produk/item “jika & hanya jika” telah menerima pesanan dari komsumen untuk produk/item tersebut.4. Make To Stock (MTS)Yaitu system produksi yang dilakukan bila produsen membuat (memproduksi) produk/item sebagai suatu persediaan sebelum pesanan dari komsumen diterima.
Perencanaan dan pengendalian Produksi
Dalam
kamus besar bahasa Indonesia pengawasan berasal dari kata “awas” yang artinya
memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat dan seksama,
tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan berdasarkan kenyataan yang
sebenarnya dari apa yang di awas.
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai
suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja
standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk
menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil
tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia
digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.
Ada beberapa pengertian pengawasan menurut para ahli
diantaranya sebagai berikut :
1. George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
2. Robbin (dalam Sugandha, 1999 : 150) menyatakan pengawasan itu merupakan suatu proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi.
3. Kertonegoro (1998 : 163) menyatakan pengawasan itu adalah proses melaui manajer berusaha memperoleh keyakinan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaannya.
4. Terry (dalam Sujamto, 1986 : 17) menyatakan Pengawasan adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tidakan korektif bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan rencana.
5. Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan.
Menurut para ahli diatas, bahwa pengertian pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan merancang system informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan. Selain itu Pengawasan adalah suatu penilaian yang merupakan suatu proses pengukuran dan pembandingan dari hasil-hasil pekerjaan yang nyata telah di capai dengan hasil-hasil yang seharusnya di capai. Dengan kata lain, hasil pengawasan harus dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan atau ketidakcocokan serta mengevaluasi sebab-sebabnya.
Tiga tipe dasar pengawasan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
- Pengawasan
pendahuluan (feedforward control), atau sering disebut steering controls,
dirancang untuk mengantisipasi masalahmasalah atau
penyimpangan-penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinkan
koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan.
- Pengawasan
yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan (concurrent control),
sering disebut pengawsan Ya-Tidak , screening controls atau Berhenti-Terus
, d ilakukan selama suatu kegiatan berlangsung.
- Pengawasan
umpan balik (feedback control), sering dikenal sebagai past-action
controls, mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah
diselesaikan. Sebab-sebab penyimpangan dari rencana atau standar
ditentukan, dan penemuam-penemuan diterapkan untuk kegiatan-kegiatan
serupa dimasa yang akan datang. Pengawasan bersifat historis, pengukuran
dilakukan setelah kegiatan terjadi.
Tujuan PengawasanAdapun dari tujuan pengawasan adalah :
- Mengetahui lancar atau tidaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan yang telah direncanakan.
- Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat dengan melihat kelemahan-kelemahan, kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan-kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan baru.
- Mengetahui apakah penggunaan fasilitas pendukung kegiatan telah sesuai dengan rencana atau terarah pada pasaran.
- Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan semula.
- Mengetahui apakah segala sesuatu berjalan efisien dan dapatkah diadakan perbaikan-perbaikan lebih lanjut sehingga mendapatkan efisiensi yang besar.
Fungsi pengawasan
Setelah
sistem produksi dipersiapkan oleh perusahaan dengan baik, maka langkah
berikutnya yang dilaksanakan perusahaan adalah melakukan kegiatan proses
produksi. Kegiatan proses produksi ini merupakan aktivitas terpenting bagi
perusahaan pada umumnya tentang bagaimana bahan baku (input) yang ada diproses
menghasilkan produk (output) dengan spesifikasi tertentu sehingga mampu
menambah faedah/ nilai suatu barang secara efektif dan efisien.
Namun
demikian, sistem produksi yang baik belum tentu menghasilkan pelaksanaan proses
produksi yang baik pula apabila tidak diikuti dengan pengawasan atau
pengendalian proses produksi yang memadai. Artinya, dengan adanya sistem
produksi yang baik serta diikuti dengan pengawasan atau pengendalian proses
yang tepat, maka kelancaran pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan dapat
dicapai secara efektif dan efisien.
Menurut
Assauri (2008:173) pengawasan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengendalian atas
kegiatan yang telah dan sedang dilakukan, agar-agar kegiatan tersebut dapat
sesuai dengan apa yang diharapkan atau dirancanakan. Agar pelaksanaan
pengendalian proses produksi dapat dilaksanakan dengan baik, maka yang perlu
diketahui terlebih dahulu adalah tentang fungsi pengendalian proses produksi
itu sendiri. Menurut Ahyari (1996:4) yang dimaksud dengan fungsi pengendalian
proses produksi adalah perencanaan, penentuan urutan kerja, penentuan waktu
kerja, pemberian perintah kerja dan tindak lanjut dalam pelaksanaan proses
produksi.
Menurut Assauri (2008: 209) untuk dapat melakukan pengawasan dengan sempurna dan efektif, maka pengawasan produksi
yang dilakukan hendaknya mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Routing
Routing adalah fungsi menentukan dan mengatur urutan kegiatan pengerjaan yang logis, sistematis dan ekonomis melalui urutan mana bahan-bahan dipersiapkan untuk diproses menjadi barang jadi. Routing merupakan fungsi teknis pertama dalam pengawasan produksi, yang menentukan dan mengatur urutan yang harus dilalui dalam suatu seri pekerjaan serta fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk tiap-tiap operasi pekerjaan.
Routing adalah fungsi menentukan dan mengatur urutan kegiatan pengerjaan yang logis, sistematis dan ekonomis melalui urutan mana bahan-bahan dipersiapkan untuk diproses menjadi barang jadi. Routing merupakan fungsi teknis pertama dalam pengawasan produksi, yang menentukan dan mengatur urutan yang harus dilalui dalam suatu seri pekerjaan serta fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk tiap-tiap operasi pekerjaan.
2. Loading dan Scheduling
Loading
merupakan penentuan dan pengaturan muatan pekerjaan (work load) pada
masing-masing pusat pekerjaan (work centre) sehingga dapat ditentukan berapa
lama waktu yang diperlukan pada setiap operasi tanpa adanya penundaan atau
kelambatan waktu (time delay). Sedangkan scheduling merupakan pengoordinasian
tentang waktu dalam kegiatan berproduksi, sehingga dapat diadakan pengalokasian
bahan-bahan baku dan bahan-bahan pembantu, serta perlengkapan kepada
fasilitas-fasilitas atau bagian-bagian pengolahan dalam pabrik pada waktu yang
telah ditentukan.
3. Dispatching
Dispatching meliputi pelaksanaan dari semua rencana dan pengaturan dalam bidang routing dan scheduling. Sebagian besar kegiatan dalam dispatching ini terdiri dari penyampaian perintah kepada bagian pengolahan, yang dilakukan sesuai dengan skedul dan urutan pekerjaan yang telah ditentukan.
4. Follow-up
Follow-up merupakan fungsi penelitian dan pengecekan terhadap semua aspek yang mempengaruhi kelancaran kegiatan pengerjaan atau produksi. Follow-up mencakup usaha-usaha untuk mendapatkan bahan baku yang tidak tersedia tetapi dibutuhkan.
Pentingnya Pengawasan
Suatu organisasi akan berjalan terus dan semakin komplek
dari waktu ke waktu, banyaknya orang yang berbuat kesalahan dan guna
mengevaluasi atas hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang membuat
fungsi pengawasan semakin penting dalam setiap organisasi. Tanpa adanya
pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan,
baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya.
Ada
beberapa alasan mengapa pengawasan itu penting, diantaranya :
1. Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan baku baru. Melalui fungsi pengawasannya manajer mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan yang terjadi.
2. Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga. Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.
3. Meminimalisasikan tinggiya kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
4. Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menen-tukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem pengawasan.
Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan koreksi perlu diambil dan kemudian pengambilan tindakan.
Teknik Pengawasan
Pencegahan daripada terjadinya penyimpangan, kekeliruan, kesalahan, kelemahan serta penyalahgunaan dan penyelewengan sangat memerlukan teknik-teknik pengawasan yang dapat dan cepat serta mampu mengendalikan.
Tehnik-tehnik pengawasan dapat dikatakan menjalankan pengawasan terhadap bidang-bidang atau bagian-bagian tertentu saja, tetapi dapat mengendalikan keseluruhan daripada pelaksanaan. Prof. Dr. Mr. S, Prajudi Atmosudirdjo, mengemukakan beberapa tehnik pengawasan yang terpenting, di antaranya adalah :
- Control by exception, artinya perhatian hanya diarahkan terhadap hal-hal yang menonjol saja penyimpangannya.
- Control through cost, artinya pengendalian dilakukan hanya dengan mengawasi pengeluaran- pengeluaran biaya saja.
- Control through time, artinya pengawasan dilakukan hanya dengan menjaga waktu dan saat saja.
- Control through main material, maksudnya pengawasan dilakukan dengan mengendalikan segala sesuatu mengenai bahan pokoknya.
- Contro through key personel, yaitu pengendalian yang dilakukan dengan mengawasi orang-orang yang memegang jabatan.
- Control through output, pengawasan dengan melalui hasilnya saja, tidak mau tahu caranya untuk memeperolehhasil itu.
- Control through process or procedures, pengawasan yang dilakukan melalui pengendalian prosedur dan proses.
- Control trough audits, adalah pengawasan yang dijalankan melalui pemeriksaan-pemeriksaan, verifikasi-verifikasi, audit-audit secara sistematis dan teratur.
- Control through automatic devices, adalah cara pengawasan dengan mempergunakan pesawat-pesawat elektronik, alarm, sinyal dan sebagainya.
Metode Pengawasan
Banyak sekali metode-metode pengawasan yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan dan menilai pelaksanaan baik secara keseluruhan maupun secara bagian-bagian daripada rencana sangat banyak, di antaranya yang terpenting adalah :
- Metode Observasi Langsung yaitu metode pengamatan langsung oleh atasan atau pemimpin terhadap pelaksanaan kerja yang sedang dilakukan oleh pegawai atau petugas dengan tidak mempercayakan orang lain yang akan mengamatinya.
- Metode Statistik, adalah pengamatan dilakukan melalui data-data yang disusun secara statistic dan grafis. Biasanya statistik itu disusun dari data-data yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimengerti dan dipahami.
- Metode Laporan artinya pengawasan itu dilakukan setelah diketahui kesalahan , kekeliruan dan penyalahgunaan dari laporan yang diterima.
Laporan ini biasanya dalam bentuk :
- Laporan Lisan yaitu laporan melalui orang yang ditugaskan untuk mengawasi ataupun laporan dari pelaksanaan yang melakukan pekerjaan itu. Laporan ini cukup secara lisan saja, tidak perlu diterangkan dengan tulisan.
- Laporan Tertulis, yaitu laporan yang disampaikan kepada yang berwenang dan bertanggung jawab baik oleh apengawas maupun oleh pelaksana dengan secara tertulis, tidak cukup hanya secara lisan saja.
Sumber : Wiwik SulyaniEditor : Admin Coretan Mahasiswa
No comments:
Post a Comment
Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas