Thursday, March 7, 2019

Biaya Kualitas dan Produktivitas: Pengukuran, Pelaporan dan Pengendalian

Baca Juga


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Era globalisasi ekonomi dunia saat ini membuat manajemen perusahaan saling bersaing dan berkompetisi dalam berbisnis. Kompetisi yang semakin ketat ini secara langsung memberikan  tekanan kepada perusahaan untuk senantiasa meningkatkan kualitas produknya baik itu barang maupun jasa dalam upaya meningkatkan kepuasaan pelanggan. Keberhasilan suatu perusahaan tidak dapat dicapai begitu saja tanpa adanya usaha yang maksimal dari usaha perusahaan yang bersangkutan. Usaha yang dapat ditempuh oleh perusahaan antara lain dengan jalan menentukan tujuan yang pasti yang harus ditentukan dengan tepat dan metode pencapiannya harus direncanakan serta dilakukan semestinya.
Perusahaan agar dapat mempertahankan aktivitas operasi dan manajemen yang baik, maka harus melakukan perbaikan dari periode ke periode. Perbaikan itu diantaranya   adalah kulitas produk, inovasi, ketepatan waktu saat produksi, dan memangkas biaya   yang tidak perlu terjadi. Perusahaan harus memperluas pangsa pasarnya agar bisa mencapai penjualan produk hingga ke luar negeri, dengan mengikuti standar kualitas internasional. Semakin meningkatnya persaingan dalam dunia usaha maka semakin   banyak perusahaan dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Bagi perusahaan yang profit oriented, laba merupakan hal penting yang ingin dicapai perusahaan untuk mempertahankan eksistensinya. Dengan meningkatkan kualitas dapat   menjadi kunci perjuangan hidup perusahaan. Karena, dengan meningkatnya kualitas dapat memperbaiki keuangan perusahaan dan posisi persaingan. Hal ini membuat   perusahaan untuk tidak dapat memilih alternatif lain selain memperbaiki kembali   produk untuk menghasilkan produk yang baik dan tetap mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Semakin meningkatnya kualitas produk maka akan semakin memperluas daerah pemasaran dan perusahaan dapat menjadi lebih bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain dengan cara meningkatkan produktifitas dan memperbaiki kualitas. Memperbaiki kualitas secara terus menerus merupakan sesuatu yang penting dalam membangun masa depan bisnis yang berkelanjutan. Pertanyaannya adalah bagaimana kualitas ini dapat diukur sehingga dapat digunakan sebagai alat perencanaan, pengendalian, atau bahkan pengambilan keputusan atas kualitas dari suatu produk yang dihasilkan. Pengukuran kualitas melalui biaya kualitas dapat dilakukan   karena kualitas tidak hanya dapat ditentukan oleh gambaran visual bentuk fisik saja, tetapi juga dapat dilihat dari biaya-biaya yang dilkeluarkan untuk memperoleh produk yang berkualitas tersebut.

2.1   Rumusan Masalah
a.       Bagaimana menjelaskan konsep tentang biaya kualitas?
b.      Bagaimana menjelaskan konsep tentang produktifitas?
c.       Bagaimana menjelaskan pengukuran, pelaporan, dan  pengendalian biaya kualitas dan produktifitas?
2.2  Tujuan
a.       Untuk menjelaskan konsep tentang biaya kualitas.
b.      Untuk menjelaskan konsep tentang produktifitas.
c.  Untuk menjelaskan pengukuran, pelaporan, dan pengendalian biaya kualitas dan produktifitas.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi Kualitas
Definisi kamus yang umum digunakan untuk kualitas adalah “derajat atau tingkat kesempuranaan”dalam hal ini, kualitas adalah ukuran relative dari kebaikan (goodness). Mendefenisikan kualitas sebagai kebaikan merupakan makna sangat umum yang tidak dimiliki makna operasional. Dengan kata lain, kualitas adalah kepuasan pelanggan. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan “harapan pelanggan?” harapan pelanggan dapat digambarkan melalui atribut-atribut kualitas atau yang sering disebut “dimensi kualitas”Jadi, produk atau jasa yang berkualitas adalah yang memenuhi atau melebihi harapan palanggan dalam delapan dimensi berikut:
a.       Kinerja: seberapa konsisten dan seberapa baik produk tersebut dapat berfungsi
b.      Aestetik: berhubungan dengan wujud fisik dari produk, misal: gaya
c.       Keberlayanan: kemudahan dalam pemeliharan dan atau perbaikan produk
d.      Fitur (kualitas desain): karakteristik produk yang membedakannya dengan produk lain yang sejenis
e.       Keandalan: kemungkinan bahwa produk atau jasa akan berfungsi sesuai yang diharapkan selama jangka waktu tertentu
f.       Tahan lama: jangka waktu berfungsinya produk
g.      Kualitas kesesuaian: seberapa baik produk memenuhi spesifikasi yang diinginkan
h.      Kesesuaian penggunaan: kesinambungan produk dalam melakukan fungsi yang diharapkan.
Empat dimensi pertama merupakan atribut kualitas yang penting, tetapi sulit untuk diukur.Kinerja mengacu pada konsistensi dan seberapa baik fungsi-fungsi sebuah produk. Dalam jasa, Prinsip tidak terpisahkan mengandung arti bahwa jasa dilakukan secara langsung di hadapan pelanggan. Jadi dimensi kinerja untuk jasa dapat didefinisikan lebih jauh sebagai atribut daya tanggap, kepastian, dan empati. Daya tanggap (Responsiveness) adalah keinginan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang konsisten dan bersifat segera. Kepastian (Assurance), mengacu pada pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan mereka membangun kepercayaan dan keyakinan pelanggan. Empati berarti peduli dan memberikan perhatian individual terhadap pelanggan. Estetika sehubungan dengan penampilanwujud produk (misalnya, gaya dan keindahan) serta penampilan fasilitas, peralatan, pegawai, dan materi komunikasi yang berkaitan dengan jasa. Kemudahan perawatan dan perbaikan berkaitan dengan tingkat kemudahanmerawat dan memperbaiki produk. Fitur (kualitas desain) adalah karakteristik produk yang berbeda dari produk produk sejenis yang fungsinya sama. Misalnya,fungsi mobil adalah sebagai alat transportasi. Namun, sebuah mobil dilengkapi dengansebuah mesin empat silinder, transmisi manual, tempat duduk dari vinyl,tempat duduk untuk empat penumpang, dan rem pada roda depan, sementara  mobil lainnya mungkin dilengkapi dngan mesin enam silinder, transmisi otomatis, tempat duduk kulit, tempat duduk  untuk enam penumpang, dan rem cakram antikejut. Demikian juga, penerbangan kelasutama dan kelas ekonomi mencerminkan perbedaan kualitas desain. Penerbangan kelas utama, misalnya, menawarkan tempat kaki yang lebih lapang, makanan yang lebih baik dan tempat duduk yang lebih mewah.Tentu saja dalam kedua contoh diatas menggambarkan perbedaan dalam fitur-fitur penduduk. Kualitas desain yang lebih baik biasanya tercermin pada biaya produksi yang lebih tinggi. Kualitas desain membantu erusahaan menetukan asarnya. Terdapat pasar baik untuk mobil empat silinder serta penerbagan serta penerbanngan kelas utama dan kelas ekonomi.
Keandalan adalah probabilitas produk atau jasa menjalankan fungsi seperti yang dimaksudkan dalam jangka waktu tertentu tahanlama didefinisikan sebagai jangka waktu produk dapat berfungsi. Kualitas kesesuaian adalah ukuran mengenai apakah sebuah produk telah memenuhi spesifikasinya atau tidak sebagai contok spesifikasi dari sebuah mein adalah memiliki lubang berdiameter 3 inci dengan tingkat kesalahan lebih kurang 1/8 inci. Bagian yang berada dalam batasan-batasan ini disebut bagian yang memenuhi tigkat kesesuaiannya. Kecocokan penggunaan adalah kecocokan dari sebuah produk menjalani fingsi-fungsi sebagai mana yang di iklankan. Jika sebuah produk mengandung cacat desain yang parah, maka produk tersebut dianggap gagal, meskipun tingkat kesesuaiannya sesuai dengan spesifikasinya. Produk yang ditarik kembali seringkali disebabkan oleh adanya masalah dalam dimensi kecocokan penggunaan.
Dengan demikian, perbaikan kualitas berarti perbaikan pada satu atau lebih dari delapan dimensi tersebut di atas. Sambil tetap mempertahankan kinerja dimensi lainnya. Menyediakan produk yang lebih baik kualitasnya daripada pesaing berarti mengungguli produk pesaing dalam setidaknya satu dimensi sementara kinerja dimensi lainnya tetap setara. Meskipun kedelapan dimensi tersebut penting dan mampu mempengaruhi kepuasan pelanggan, namun atribut kualitas yang dapat diukur cenderung lebih mendapat perhatian  teingkat kesesuaian, terutama adalah dimensi yangmendapat perhatian paling besar, Bahkan banyak pakar kualitas percaya bahwa “kualitas adalah kesesuaian” (Quality is compermance) merupakan definisi operasional yang terbaik, Sikap ini didasarkan pada beberapa logika.Spesifikasi produk harus secara eksplisit mempertimbangakan beberapa hal seperti kandalan, durabilitas, kecocokan penggunaan, dan kinerja. Secara inflisit, produk yang dapat memenuhi tingkat kesesuaiannya adalahproduk yang andal, tahan lama, bernanfaat, dan berkinerja baik. Produk tersebut harus dibuat menurut spesifikasi desainnya.Kesesuaian adalah dasar untuk mendefinisikan apa yang disebut produk yang tidak sesuai (noncompormance) atau produk cacat (detective).
Produk cacat adalah produk yang tidak sesuai dengan spesifikasinya. Cacat 0 (Zero defect) berarti semua produk yang diproduksi sesuai dengan spesifikasinya. Tetapi, apa yang dimaksud dengan produk yang “produk yang sesuai dengan spesifikasinya’? pandangan tradisioanal mengenai kesesuaian mengasumsikan bahwa terdapat rentang nilai yang dapat diterima  bagi setiap karakteristik spesifikasi atau kualitas. Nilai target ditetapkan dan batas atas serta batas bawah ditentukan agar diperoleh penyimpangan produk yang bisa diterima untuk suatu karakteristik kualitas yang ditentukan. Setiap produk  yang berada didalam batas-batas yang telah ditentukan dianggap sebagai produk tanpa cacat (nondevective), sebagai contoh, kemampuan menghasilkan putaran waktu yang tepat dalam satu bulan tanpa terlambat atau lebih cepat satu menitpun mungkin adalah nilai target untuk sebuah jam, dan setiap jam yang menghasilkan putaran dalam tentang selalu lambatatau terlalu cepat dua menit dalam satu bulan dianggap dapat diterima. Di lain pihak, penganut  pandangan kualitas kokoh mengenai kesesuaian lebih menekankan pada kecocokan penggunaan. Kekokohan berarti selalu memenuhi nilai target. Dalam pandangan ini tidak dikenal rentang variasi yang bisa diterima. Jam tanpa cacat menurut pandangan ini adalah jam yang tidak mengalami keterlambatan atau kecepatan waktu bahkan satu menitpundalam satu bulan. Oleh karena telah terbukti bahwa variasi produk dapat menjadi beban bagi perusahaan, maka definisi kualitas kokoh mengungguli definisi tradisional.

2.2  Definisi Biaya Kualitas
Kegiatan yang berhubungan dengan kualitas adalah kegiatan yang dilakukankarena mungkin atau telah terdapat kualitas yang buruk. Biaya-biaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut disebut biaya kualitas. Jadi,biaya kualitas adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau talah terdapat produk yangburuk kualitasnya. Definisi ini mengimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan dua subkategori dari kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kualitas : Kegiantan pengendalian dan kegiatan karena kegagalan.
Kegiatan pengandalian dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk (karena kualitas yang buruk mungkin terjadi). Jadi, kegiatan penendalian terdiri dari kegiatan-kegiatan pencegahan dan penilaian.
Biaya pengendalian adalah biaya-biaya yng dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pengendalian. Kegiatan karena kegagalan dilakukan oleh perusahaan atau oleh pelanggannya untuk merespon kualitas yang buruk (kualitas buruk memang telah terjadi). Jika respons terhadap kualitas yang buruk dilakukan sebelum produk cacat ( tidak memiliki kesesuaian, tidak bisa di andalkan, tidak tahan lama,dan seterusnya sampai ke pelanggan, maka kegiatannya diklasifikasikan sebagai kegiatan kegagalan internal.Sebaliknya, jika respons muncul setelah produk sampai ke pelanggan, maka kegiatannya diklasifikasikan sebagai kegagalan eksternal. Biaya kegagalan (failure cost) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan karena telah terjadi kegiatan karena kegagalan.





Empat kategori biaya kualitas adalah sebagai berikut:
a.       Biaya pencegahan
terjadi untuk mencegah kualitas yang buruk pada produk atau jasa yang dihasilkan.  sejalan dengan peningkatan biaya pencegahan, kita mengharapkan biaya kegagalannya turun. Contoh dari biaya pencegahan adalah biaya rekayasa kualitas, program pelatihan kualitas, perencanaan kualitas, pelaporan kualitas, pemilihan dan evaluasi pemasok, audit kualitas, siklus kualitas, uji lapangan, dan peninjauan desain.
b.      Biaya penilaian
terjadi untuk menentukan apakah produk dan jasa telah sesuai dengan persyaratan atau kebutuhan pelanggan. Contoh biaya ini termasuk biaya pemeriksaan dan pengujian bahan baku, pemeriksaan kemasan, pengawasan kegiatan penilaian, penerimaaan produk, penerimaan proses, peralatan pengukuran (pemeriksaan dan pengujian) dan pengesahan dari pihak luar. Dua dari istilah istilah tersebut membbutuhkan penjelasan lebih lanjut.
·         Penerimaan produk (product acceptance) meliputi pengambilan sampel dari batch barang jadi untuk menentukan apakah telahmemenuhi standar kualitasnya bisa memenuhi, produk diterima.
·         Penerimaan proses (process acceptance) meliputi penarikan sampel barang dalam proses untuk mengetaahui apakah prosesnya berada dalam kendali dan memproduksi barang tanpa cacat; bila tidak, proses akan dihentikan dan menunggu sampai tindakan perbaikan dilakukan.
·         Tujuan utama dari fungssi penilaian adalah untuk mencegah disampaikannya barang cacat kepada pelanggan.
c.       Biaya kegagalan internal
Terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan pelanggan. Ketidak sesuaian ini dideteksi sebelum dikirim kepihak luar. Ini adalah kegagalan yang dideteksi oleh kegiatan penilaian. Contoh dari biaya kegagalan internal adalah sisa bahan, pengerjaan ulang, penghentian mesin ( karena adanya produ buruk yang dihasilkan oleh mesin tersebut), pemeriksaan ulang, penngujian ulang, dan perubahan desain, biaya biaya diatas tidak akan terjadi apabila tidak ada produk cacat.

d.      Biaya kegagalan eksternal
Terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan gagal memenuhui persyaratan atau tidak memuaskan kebutuha pelanggan setelah produk disampaikan kepada pelanggan. Dari semua biaya-biaya kualitas, kategori biaya ini dapat menjadi yang paling merugikan. Biaya penarikan produk dari pasar, misalnya bisa mencapai ratusan juta dolar. Contoh lainnya termasuk biaya kehilangan penjualan karena kinerja produk yang buruk serta retur dan potongan penjualan karena kualitas yang buruk, biaya garansi, perbaikan, tanggung jawab hukum yang timbul, ketidakpuasan pelanggan, hilangnya pangsa pasar, dan biaya untuk mengatasi keluhan pelanggan. Biaya kegagalan eksternal, seperti juga biaya kegagalan internal, hilang jika tidak ada produk yang cacat.

2.3  Pengukuran Biaya Kualitas
Biaya kualitas dapat dilihat dari data yang tersedia dalam catatan akuntansi perusahaan (observable costs), namun ada biaya-biaya kesempatan yang muncul sebagai akibat adanya kualitas yang buruk dan tidak terdapat dalam catatan akuntansi (hidden costs). Ada tiga metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi biaya kualitas yang tersembunyi, yaitu:
1.                  Metode Multiplier (Multiplier Method)
Metode yang mengasumsikan bahwa biaya kegagalan total merupakan perkalian dari beberapa biaya kegagalan.
Biaya kegagalan eksternal total = k(biaya kegagalan total yang terukur), dimana k = efek pengganda.
2.                  Metode Penelitian Pasar (Market Research Method)
Metode ini menggunakan metode penelitian pasar yang formal untuk menilai pengaruh kualitas yang rendah terhadap penjualan dan pangsa pasar. Misal: melalui survey pelanggan dan wawancara dengan tenaga penjualan perusahaan.
3.                  Fungsi Kerugian Kualitas Taguchi (Taguchi Loss Function Function)
Metode ini mengasumsikan bahwa variasi dari suatu nilai target dalam suatu karakteristik kualitas dapat menyebabkan biaya kualitas tersembunyi.

Text Box: L(y) = k(y - T)2
 





Dimana:
k = konstanta terkait dengan struktur biaya kegagalan eksternal
y = nilai aktual dari karakteristik kualitas
T = nilai target dari karakteristik kualitas
L = kerugian atas kualitas

Ini bearti bahwa kita harus mengestimasi kerugian akibat deviasi dari nilai target. Salah satu dari dua metode pertama, metode pengali atau metode penelitian pasr, dapat digunakn untuk membatu estimasi ini  (penilaian pada satu titik waktu diperlukan). Jika k diketahui, maka biaya kualitas tersembunyi bila diestimmasi untuk setiap tingkat penyimpangan dari nilai target.

2.4  Pelaporan Informasi Biaya Kualitas
Sebuah sistem pelaporan biaya kualitas memiliki arti penting bagi perusahaan yang menaruh perhatian serius terhadap  perbaikan dan pengendalian biaya kualitas.
a.    Laporan biaya kualitas
Pentingnya biaya kualitas terhadap segi keuangan perusahaan dapat lebih mudah dimulai dengan menampilkan biaya-biaya kualitas sebagai presentasi dari penjualan aktual.
b.   Fungsi biaya kualitas: pandangan kualitas yang dapat diterima
Pandangan kualitas yang dapat diterima mengasumsikan bahwa terdapat perbandingan berbalik antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan. Ketika biaya pengendalian meningkat, biaya kegagalan seharusnya turun. Selama penurunan biaya kegagalan lebih besar daripada kenaikan biaya pengendalian,perusahaan harus terus meningkatkan usahanya untuk mencegah atau mendeteksi  unit-unit yang tidak sesuai.

1.      Fungsi biaya Kualitas: Pandangan Cacat Nol
Model cacat nol menekankan pada biaya kualitas dan potensi penghematan dari upaya yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas.
Strategi pengurangan biaya kualitas yang direkomendasikan oleh amerika Society for Quality Control:
Srategi untuk menekan biaya kualitas adalah cukup sederhana: (1) lakukan serangan langsung terhadap biaya kegagalan untuk memaksanya menuju titik nol; (2)lakukan inventasi pada kegiatan pencegahan yang “tepat” untuk menghasilkan perbaikan; (3) kurangi biaya penilaian sesuai dengan hasil yang dicapai; dan (4) melakukan efaluasi secara berkelanjutan dan arahkan kembali upaya pencegahan untuk mendapatkan perbaikan lebih lanjut. Strategi ini didasarkan pada premis bahwa:
         Dalam setiap kegagalan selalu ada akar penyebabnya.
         Penyebab dapat dicegah.
         Pencegahan selalu lebih murah

Kemampuan untuk menekan total biaya kualitas secara dramatis pada seluruh kategori ini di peroleh melalui  berbagai pengalaman nyata. Sebagai contoh, perusahaan Tennant, selama periode delapan tahun, mengurangi biaya kualitasnya dari 17 persen dari penjualan menjadi 2,5 persen dari penjualan, dan pada saat yang sama, mengubah secara nyata distribusi relative kategori biaya kualitasnya. Pada awalnya, biaya kegagalan adalah 50 persen dari total biaya kualitas( 8,5 persen dari penjualan) dan biaya pengendalian juga 50 persen dari total biaya kualitas (8,5 persen dari penjualan). Ketika tingkat 2,5 persen tercapai, biaya kegagalan turun menjadi 15 persen dari total biaya kualitas ( 0,375 persen dari penjualan) dan biaya pengendalian meningakat menjadi 85 persen dari total biaya ( 2,125 persen dari penjualan). Tennant berhasil meningkatkan kualitas dan menekan biaya kualitas di setiap kategori, serta secara keseluruhan memindahkan distribusi biaya kualitas ke kategori pengendalian dengan lebih menekankan pada pencegahan. Hasil ini membantah model biaya kualitas tradisional yang digambarkan dalam tampilan 11-5. Menurut model tradisional, total biaya kualitas hanya bisa di tekan melalui pertukaran(Trade-off)antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan (menambah yang satu ketika mengurangi yang lain). Dukungan lebih lanjut terhadap model pengendalian kualitas total disediakan oleh Westinghouse Electric. Sama seperti  tennant ,Westinghouse Electricmenentukan bahwa laba perusahaan terus mengalami peningkatan hingga biaya pengendalian mencapai 70 hingga 80 persen dari total biaya kualitas. “ Berdasarkan pengalaman kedua perusahaan tersebut, diketahui bahwa mengurangi  total  biaya kualitas--dalam semua kategori—secara signifikan adalah memungkinkan, bahwa prosesnya akan mengubah secara radikal distribusi relatifkategori  biaya kualitas.
d.      Manajemen Berbasis Kegiatan Dan Biaya Kualitas Optimal
Manajeman berbasis kegiatan (actifity-besed management-- ABM) mengklasifikasikan berbagai kegiatan sebagai bernilai tambah dan tidak bernilai tambah serta hanya mempertahankan kegiatan-kegiatan yang memberikan nilai tambah. Prisip ini dapat diaplikasikan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kualitas. Kegiatan-kegiatan kegagalan dan penilaian serta biaya-biaya yang terkait tidak menghasilkan nilai tambahdn harus di hilangkan. Kegiatan pencegahan yang dilakukan secara efesien dapat diklasifikasikan sebagai kegiatan bernilai tambah dan perlu di pertahankan. Meskipun demikian, pada awalnya kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien, dan pengurangan kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien, dan pengurangan kegiatan serta pemilihan kegiatan ( atau mungkin bahkan pembagian kegiatan) dapat digunakan untuk mencapai sasaran nilai tambah yang diinginkan. Grede Found ries Inc. Di Milwaukee, perusahaan peleburan besi terbesar di dunia, telah menelusuri ke 4 kategori biaya kualitas selama lebih dari 15 tahun. Akan tetapi, perusahaan kersebut tidak melaporkan biaya pencegahan sebagai bagian dari angka biaya kualitas akhirnya karena perusahan tidak ingin para manejer mengurangi biaya kualitas dengan memotong kegiatan pencegahan. Perusahaan yakin bahwa perusahaan uang untuk kegiatan pencegahan akan diberi hasil yang baik. Sebagai contoh perusahaan menemukan bahwa pengurangan 1% dari sisa bahan baku dapat mengurangi kegagalan eksternal hingga sekitar 5% .
Setelah berbagai kegiatan untuk masing-masing kategori didentifikasi, pendorong timbulnya penggunaan sumber daya ( Resource drivers) dapat digunakan untuk memperbaiki pembagian biaya kepada masing –masing kegiatan.pendorong (biaya) akar juga dapat diidentifikasi, kususnya untuk kegiatan-kegiatan yang gagal, dan berguna untuk membantu para menejer memahami hal-hal yang menyebabkan biaya kegiatan.informasi ini selanjutnya dapat digunakan untuk memilih cara mengurangi biaya kualitas sampai ke tingkat tertentu . Hasilnya, manajemen berbasis kegiatan (ABN) mendukung pandangan cacat nol robust mengenai biaya kualitas. Tidak ada perbandingan terbalik optimal antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan; biaya kegagalan adalah biaya yang tidak menghasilkan nilai tambah dan karena itu harus dikurangi sampai nol. Beberapa kegiatan pengendalian tiadak menawarkan nilai tambah dan karena itu harus dihilangkan. Kegiatan pengendalian lainnya mengasilkan nilai tambah tetapi mungkin dijalankan dengan tidak efesien, dan biaya yang disebabkan oleh kegiatan yang tidak efesien adalah tidak bernilai tambah. Jadi, biaya untuk kategori –kategori tersebut juga dapat dikurangi ketingkat yang lebih rendah.
e.       Analisi Tren
Laporan biaya kualitas menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas diantara ke 4 kategori, sehingga menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Setelah ukuran-ukuran peningkatan kualitas ditentukan, adalah hal yang penting bagi perusahaan untuk menentukan apakah biaya kualitas telah berkurang sebagai mana yang direncanakan. Laporan biaya kualitas tidak akan memperlihatkan apakah perbaikan telah menjadi atau tidak. Akan berguna bagi perusahaan untuk mendapatkan gambaran mengenai bagaimana keberhasilan program perbaikan kualitas sejak diterapkan. Apakah tren multi periode-perubahan keseluruhan dalam biaya kualitas—bergerak kearah yang tepat? Apakah peningkatan kualitas yang dihasilkan dari waktu kewaktu cukup signifikan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan menggunakan bagan atau grafik tren yang menggambarkan perubahan biaya kualitas dari waktu kewaktu. Grafik demikian disebut laporantren kualitas multi periode (Multiple-Period Kuality Trend Resport). Dengan menggambarkan biaya kualitas sebagai persentase dari penjualan, makan keseluruhan tren program kualitas dapat dinilai. Tahun pertama yang digambarkan adalah tahun sebelum implementasi program perbaikan kualitas. 

2.5 penggunaaan informasi biaya kualitas
Tujuan utama dari pelaporan biaya kualitas adalah untuk memperbaikai dan mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengabilan keputusan manajerial. Sebagai contoh dalam memutuskan pengimplementasian program seleksi pemasok guna memperbaiki kualitas bahan baku, seorang manajer memerlukan penilaian terhadap biaya kualitas saat ini menurut bagian dan kategori, penilaian biaya tamahan yang dibutuhkan berkaitan deng program tersebut, dan penilaian terhadap proyeksi penghematan  menurut jenis dan kategori. Selain itu, perlu juga dibuat proyeksi  kapan biaya dan penghematan ttersebut akan terjadi. Setelah dampak-dampak tunai diproyeksikan, maka analisis penggaran modal dapat dilakukan untuk menilai manfaat program yang diusulkkan. Jika hasilnya menguntungkan dan program mulai dijalankan, maka menjadi penting untuk memantau program dengan menggunakan pelaporan kinerja sstandar.
Pengguanaan informasi biaya kualitas untuk keputusan keputusan implementasi program kualitas dan untuk mengevaluasi efektivitas program tersebut, setelah diimplementasikan, hanya merupakan salah satu potensi penggunaan dari sistem biaya kualitas.

2.6 produktivitas : pengukuran dan pengendalian
Produktivitas berkaitan dengan memproduksi output secara efisien dan secara spesifik, mengacu pada hubungan antara output dan input yang digunakan untuk memproduksi output.  Efisiensi produktif total adalah Suatu titik dimana dua kondisi terpenuhi: (1) pada setiap bauraan input untuk memproduksi output tertentu, tidak satu input pun yang digunakan lebih dari yang diperlukan untuk menghasilkan output dan (2) atas bauran bauran yang memenuhi kondisi pertama, dipilih bauran dengan biaya terendah.

a.       Pengukuran produktivitas parsial
1.      pengukuran produktivitas 
Pengukuran produktivitas adalah penilaian kuantitatif atas peerubahan produktivitas. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menilai apakah efisiensi produktif telah meningkat atau menurun. Pengukuran produktivitas dapat berupa aktual atau prospektif. Pengukuran produktivitas aktual memungkinkan manajer untuk menilai, memanatau dan mengendalikan perubahan. Pengukuran prospektif melihat kemasa depan dan berguna sebagai input bagi pengambilan keputusan strategis.
2.      Definisi pengukuran produktivitas parsial
Pengukuran produktivitas parsial disebut juga dengan pengukuran produktivitas untuk satu input pada suatau waktu. Produktivitas dari satu input tunggal biasanya diukur dengan menghitung rasio output terhadap input:
Rasio produktivitas = output/input
3.      Keunggulan ukuran parsial
Ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memfokuskan perhatiannya pada penggunaan tertentu. Penggunaan pengukuranparsial memiliki keunggulan, yaitu mudah diinterpretasikan oleh semua pihak didalam perusahaan, sehingga ukuran tersebut mudah digunakan untuk menialai kenerja produktivitas dari karyawan operasional.
4.      Kelemahan ukuran parsial
*      Adanya kemungkinan terjadinya trade off, menyebabkan perlu adanya ukuran produktivitas total untuk menilai kelebihanberbagai keputusan produktivitas.
*      Adanya kemungkinan terjadiya trade off, maka ukuran produktivitas total harus mempertimbangkan konsekuensi keuangan agregat dan oleh karena ituharuslah dalam bentuk sebuah ukuran keuangan.
b.      Pengukuran produktivitas total
Pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total. Pengukuran produktivitas total dapat didefinisikan sebgai pemokusan perhatian pada beberapa input yang secara total, menujukkan keberhasilan perusahaan.
·         Pengukuran profil produktivitas
Pengukuran profil menyediakan serangakain atau sebuah vektor ukuran operasionla parsial yang berbeda dan terpisah. Profil dapat dibandingkan dari waktu ke waktu untuk memberikan informasi mengenai perubahan produktivitas.
2.7 kualitas dan produktivitas
Meningkatkan kualitas akan meningkatkan produktivitas, begitu pula
sebaliknya. Karena sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan untuk memproduksi dan menjual output perusahaan, maka produktivitas akan meningkat. Peningkatan kualitas biasanya akan tercermin dalam ukuran produktivitas.

Namun, dimungkinkan suatu kondisi perusahaan menghasilkan produk yang hanya memiliki sedikit kerusakan atau tidak ada cacat sama sekali tetapi
memiliki proses yang tidak efisien. Untuk meningkatkan efisiensi, proses manufaktur hendaknya didesain ulang. Dengan proses yang efisien, akan dihasilkan lebih banyakoutput dengan input yang lebih sedikit. Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas, saat ini banyak perusahaan yang menawarkan gain sharing, yaitu insentif berupa kas yang diberikan kepada paramanajer dan karyawan jika target kualitas dan produktivitas terpenuhi.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Biaya kualitas merupakan biaya yang bisa lebih besar dari estimasi karena kurang pengetahuannya seorang manager dalam menganalisis biaya kualitas. Dengan mempelajari dan mengaplikasikan system informasi biaya kualitas, diharapkan seorang manager nantinya mampu mengestimasi biaya kualits dengan baik. Dalam suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi akan lebih efisien biaya jika seorang manager / akuntannya sudah mampu menelusuri biaya kualitas yang tersembunyi maupun yang tidak tersembunyi. Informasi biaya kualitas dapat berguna untuk seorang manajer dalam pengambilan keputusan,   mengevaluasi   kinerja   program   peningkatan   kualitas   secara   menyeluruh dan membantu perbaikan berbagai keputusan manajerial. Karena begitu pentingnya biaya kualitas wajib bagi sebuah perusahaan untuk menelusuri biaya kualitasnya. Selain pentingnya biaya kualitas, perusahaan juga harus memperhatikan hubungan output maupun input  dalam  sebuah kegiatan produktivitas. Karena   akan  mempengaruhi harga, laba usaha, dan insentif bagi karyawan. Pengukuran produktivitas untuk satu input pada suatu waktu disebut pengukuran produktivitas parsial.  Sedangkan, pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran  produktivitas total. Dengan adanya kombinasi antara biaya kualitas dan produktifitas maka  perusahaan akan   mampu mengalokasikan biaya-biaya secara efektif dan efisien.

Sumber : Anggraini Sinta P.
Editor : Admin Coretan Mahasiswa

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Komentarnya, Akan Segera Kami Balas

PAJAK, BUMI DAN BANGUNAN

1.Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perai...