Wednesday, October 18, 2017

Obligasi dan Valuasinya

Baca Juga

Obligasi dan Valuasinya

A.    OBLIGASI
1.     PENGERTIAN
Obligasi (bond) merupakan suatu kontrak jangka panjang dimana pihak peminjam setuju untuk melakukan pembayaran bunga dan pokok pinjaman pada tanggal tertentu kepada pemegang obligasi tersebut.
Obligasi dapat dikelompokkan menjadi empat jenis utama, yaitu obligasi pemerintah (treasury bonds), obligasi perusahaan (corporate bonds), obligasi pemerintah daerah (municipal bonds), dan obligasi luar negeri (foreign bonds). Setiap jenis obligasi berbeda dalam hal tingkat pengembalian harapan dan risikonya.
Obligasi pemerintah (treasury bonds), yang terkadang disebut juga obligasi negara, diterbitkan oleh pemerintah federal. Sangatlah beralasan untuk berasumsi bahwa pemerintah federal akan memenuhi pembayaran yang dijanjikan sehingga obligasi pemerintah tidak memiliki risiko gagal bayar. Namun, harga obligasi ini telah menurun ketika tingkat bunga naik sehingga obligasi ini tidak sepenuhnya bebas risiko.
Obligasi perusahaan (corporate bonds), tidak seperti obligasi pemerintah, obligasi perushaan memiliki risiko gagal bayar- jika perusahaan memiliki masalah, perusahaan tersebut mungkin tidak mampu melakukan pembayaran atas bunga dan pokok seperti yang dijanjikannya. Setiap perusahaan memiliki risiko gagal bayar yang berbeda-beda, bergantung pada karakteristik perusahaan emiten dan ketentuan spesifik dari setiap obligasi. Risiko gagal bayar sering disebut sebagai “risiko kredit”. makin besar risiko gagal bayar, makin tinggi tingkat bunga yang diminta oleh investor.
Obligasi pemerintah daerah (municipal bonds) diterbitkan oleh pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal. Obligasi pemerintah daerah juga memiliki risiko gagal bayar. Akan tetapi, obligasi pemerintah daerah memberikan satu keunggulan penting dibandingkan jenis-jenis obligasi yang lain. Bunga yang diterima atas sebagian besar oblgasi pemerintah daerah dikecualikan dari pajak federal, dan dari pajak negara bagian jika pemegangnya merupakan penduduk dari negara bagian yang menerbitkan. Akibatnya, tingkat bunga obligasi pemerintah daerah jauh lebih rendah daripada obligasi pemerintah dengan risiko yang ekuivalen.
Obligasi luar negeri (foreign bonds), diterbitkan oleh pemerintah luar negeri atau perusahaan luar negeri. Obligasi perusahaan luar negeri tentunya juga memiliki risiko gagal bayar. Munculnya risiko tambahan jika obligasi dinyatakan dalam mata uang selain mata uang negara investor.

2.     Karakteristik Obligasi dapat dilihat dari Syarat-Syarat Obligasi
  1. Nilai Pari (Par Value), merupakan nilai pari obligasi yang dinyatakan; untuk tujuan ilustrasi. Nilai pari biasanya mencerminkan jumlah uang yang dipinjam oleh perusahaan dan dijanjikan untuk dilunasi kembali pada saat tanggal jatuh tempo.
  2. Tingkat Bunga Kupon (Coupon Interest Rate), yaitu tingkat bunga tahunan yang dinyatakan atas suatu obligasi. Ketika pembayaran kupon (coupon payment) tahunan, dibagi dengan nilai parinya hasilnya adalah tingkat bunga kupon.
  3. Tanggal Jatuh Tempo (Maturity Date), yaitu suatu tanggal yang telah ditentukan untuk melunasi nilai pari suatu obligasi. Obligasi memiliki jatuh tempo 15 tahun pada saat diterbitkan. Kebanyakan obligasi memiliki jatuh tempo awal (original maturity), atau waktu jatuh tempo saat obligasi tersebut pertama kali diterbitkan, yang berkisar antara 10 hingga 40 tahun.
  4. Ketentuan Penebusan (Call Provision), yaitu ketentuan dalam kontrak suatu obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk menebus kembali obligasi berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan sebelum tanggal jatuh tempo normal. Ketentuan penebusan biasanya menyatakan bahwa emiten harus membayar jumlah yang lebih besar dari nilai pari kepada pemegang obligasi jika obligasi tersebut ingin ditebus. Jumlah tambahan tersebut, disebut sebagai premi penebusan, sering kali ditentukan sama dengan bunga selama satu tahun.
  5. Ketentuan Dana Pelunasan (Sinking Fund Provision), yaitu ketentuan dalam kontrak suatu obligasi yang meminta emiten melunasi sebagian emisi obligasi setiap tahunnya.
  6. Fitur lain :

  • Obligasi yang dapat dikonversi (convertible bond), adalah obligasi yang dapat ditukar dengan lembar saham biasa pada suatu harga tetap berdasarkan opsi pemegang obligasi.
  • Waran (warrant), adalah opsi yang memungkinkan pemegang obligasi membeli saham pada satu harga yang telah ditentukan sehingga memberikan suatu keuntungan modal jika harga saham tersebut naik.
  • Obligasi yang dapat dijual kembali (putable bond), memungkinkan investor menjual obligasi kembali pada perusahaan sebelum jatuh tempo pada harga yang telah ditentukan.
  • Obligasi pendapatan (income bond) yang hanya akan membayarkan bunga jika perusahaan memiliki laba yang cukup untuk membayar bunga.
  • Obligasi terindeks atau oblgasi daya beli (indexed/purchasing power bond). Tingkat bunga obligasi ini didasarkan pada suatu indeks inflasi seperti indeks harga konsumen sehingga bunga yang dibayarkan akan naik secara otomatis ketika tingkat inflasi meningkat.

B. VALUASI OBLIGASI
Arus kas untuk untuk obligasi standar dengan kupon, seperti allied food, terdiri atas pembayaran bunga sepanjang usia 15 tahun obligasi ditambah jumlah pinjaman ( biasanya nilai pari ) ketika obligasi tersebut jatuh tempo. Arus kas tediri atas suatu anuitas selama N tahun ditambah pembayaran sekaligus ( lump sum ) pada akhir tahun N. Sederhananya kita dapat mendiskontokan setia arus kas kembali ke nilai sekarang dan menjumlahkan nilai-nilai PV ( arus kas keluar bagi investor ) untuk mendapatkan obligasi.
     Contoh :
Obligasi dijual pada harga yang sama dengan nilai parinya. Ketika tingkat bunga berlaku, sama dengan tingkat kupon, suatu obligasi tingkat bunga tetap akan dijual pada nilai parinya. Tingkat kupon akan tetap sama setelah obligasi diterbitkan, tetapi tingkat bunga di pasar akan bergerak naik dan turun.
     Suatu kenaikan tingkat bunga pasar akan menyebabkan turunya harga obligasi beredar, sedangkan kenaikan tingkat bunga akan menyebabkan naiknya hara obligasi. Misalnya :
Jika tingkat bunga pasar obligasi alliend naik 15% setelah obligasi diterbitkan, kita akan menghitung menggunakan nilai tingkat bunga pasar yang baru.
Gambar 1
Ketika tingkat bunga yang berlaku naik di atas tingkat kupon, harga obligasi tingkat bunga akan tetap turun di bawah nilai parinya, ini disebut diskon obligasi ( discound bond ).
Sebaliknya missal obligasi alliend turun menjadi 5%, dan harga obligasi akan naik ketika tingkat bunga pasar turun.
gambar 2
Ketika tingkat bunga berlaku turun di bawah nilai kupon, harga obligasi tingkat bunga akan tetap naik di atas nilai parinya, ini disebut obligasi premium ( premium bond ).
A.     IMBAL HASIL OBLIGASI

Pada tabel bursa obligasi yang diberikan diler obligasi umumnya kita akan melihat informasi tanggal jatuh tempo, harga, tingkat bunga kupon setiap obligasi dan imbal hasil yang dilaporkan. Berbeda dengan tingkat bunga kupon yang nilainya tetap, imbal hasil obligasi yang dilaporkan akan bervariasi dari hari ke hari, bergantung pada kondisi pasar saat itu. Ada tiga cara menghitung imbal hasil obligasi, yaitu :
1.      Imbal Hasil saat Jatuh Tempo
Adalah tingkat bunga yang akan diterima atas investasi jika membeli dan memiliki obligasi sampai pada jatuh tempo. Imbal hasil saat jatuh tempo juga dapat dilihat sebagai tingkat pengembalian obligasi yang dijanjikan. Hal itu merupakan pengembalian yang akan diterima oleh investor jika seluruh pembayaran yang dijanjikan terlaksanakan. Namun, imbal hasil saat jatuh tempo akan sama dengan tingkat pengembalian yang diharapkan hanya jika 1. Probabilitas gagal bayar adalah nol dan 2. Obligasi tidak dapat ditebus.
2.      Imbal hasil saat Pelunasan
Jika kita membeli obligasi yang dapat ditebus dan perusahaan , kemudian menebusnya, kita tidak akan memiliki pilihan untuk menahannya sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Jadi, imbal hasil saat jatuh tempo tidak akan diterima. Missal tingkat bunga saat ini jauh di bawah tingkat kupon obligasi yang beredar, maka obligasi yang dapat ditepus kemungkinan besar akan ditebus dan investor akan memperkirakan tingkat pengembalian yang diharapkan sebagai imbal hasil saat penebusan (yield to call-YTC).
2.      Imbal Hasil Saat Ini
Laporan perusahaan tentang obligasi sering kali mencatumkan imbal hasil saat ini (current yield) yang didefinisikan sebagai pembayaran bunga tahunan dibagi dengan harga obligasi saat ini. Berbeda dengan imbal hasil saat jatuh tempo, imbal hasil saat ini tidak mencerminkan total pengembalian yang seharusnya akan diterima investor dari obligasi karena ia tidak memperhitungkan keuntungan atau kerugian modal yang akan terealisasikanjika obligasi ditahan sampai jatuh tempo ( atau ditebus ).

B.       MENILAI TINGKAT RESIKO OBLIGASI

1.      Risiko Tingkat Bunga ( Interest Rate Risk ) atau Risiko Harga Tingkat Bunga ( Interest Rate Price Risk )
Adalah tingkat bunga akan terus berflutuasi dari waktu ke waktu, dan kenaikan tingkat bunga akan mengarah pada penurunan nilai obligasi beredar. Risiko penurunan nilai obligasi yang diakibatkan oleh naiknya tingkat bunga. Risiko tingkat bunga akan lebih tinggi pada obligasi dengan jatuh tempo yang lebih panjang dibandingkan dengan obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Hal ini terjadi karena semakin panjang waktu jatuh tempo, makin lama obligasi tersebut akan dilunasi dan semakin lama pula pemegang obligasi dapat menggantikannya dengan obligasi yang memiliki kupon lebih tinggi.
2.   Risiko tingkat reinvestasi ( reinvestasi rate risk )
Adalah risiko terjadinya penurunan pendapatan akibat turunnya tingkat bunga. Risiko tingkat reinvestasi ini sudah pasti akan tinggi pada obligasi yang dapat ditebus, risiko ini juga tinggi pada obligasijangka pendek, karena semakin pendek waktu jatuh tempo obligasi, makin sedikit jumlah tahun sebelum obligasi lama dengan kupon relatif tinggi digantikan dengan emisi baru dengan kupon rendah.
3.      Membandingkan Risiko Tingkat Bunga Dan Tingkat Reinvestasi
Jika kita memiliki obligasi jangka panjang, kita akan menghadapi risiko tingkat bunga yang signifikan karena nilai portfolio akan turun jika tingkat bunga meningkat, tetapi kita tidak akan banyak menghadapi risiko tingkat reinvestasi karena pendapatan kita akan tetap stabil. Jenis resiko yang lebih relevan bagi seorang investor akan sangat bergantung pada lamnya investor tersebut berencana memiliki obligasi atau disebut sebagai cakrawala investasi ( investmen horizon ). Investor dapat menghilangkan risiko tingkat bunga dengan membeli efek pemerintah satu tahun karena dijamin akan menerima nilai pari obligasi satu tahun dari sekarang ( cakrawala investasi ).
Satu cara mudah meminimalkan risiko tingkat bunga dan risiko tingkat reinvestasi adalah membeli obligasi pemerintah kupon nol dengan waktu jatuh tempo yang sama dengan cakrawala investasi investor.
3.      Risiko Gagal Bayar
Kemungkinan gagal bayar merupakan risiko penting yang dihadapi oleh pemegang obligasi. Jika emiten gagal bayar, jumlah uang diterima oleh investor akan lebih sedikit daripada pengembalian yang dijanjikan. Semakin tinggi kemungkinan gagal bayar, makin tinggi preminya dan berakibat pada imbal hasilnya jatuh tempo. Risiko gagal bayar untuk efek pemerintah adalah nol, tetapi beresiko subtansial untuk perusahaan dan obligasi pemerintah daerah dengan mutu yang lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Houston,Brigham.2010.”Dasar - Dasar Manajemen Keuangan”.Edisi Ke-11.Jakarta Selatan : Salemba Empat.

Sumber  : Dinda Julia C.
Editor    : Admin Coretan Mahasiswa



Makalah Etika Profesi (Prinsip-Prinsip Etika Bisnis)

Baca Juga


Makalah Etika Profesi

(Prinsip-Prinsip Etika Bisnis)

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Etika Profesi. Ucapan terima kasih pun tidak lupa kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu masukan maupun kritikan dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Akhir kata kita, kiranya makalah ini dapat berguna dan bisa menjadi pedoman bagi mahasiswa untuk dapat memahami dan mempelajari tentang etika profesi. Sekian dan terima kasih.
Semarang, 09 Oktober 2017
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Moralitas berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela, dan karenanya diperbolehkan atau tidak, dari perilaku manusia. Moralitas selalu berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia, dan kegiatan ekonomis merupakan suatu bidang perilaku manusia yang penting. Selama perusahaan memiliki produk yang berkualitas dan berguna untuk masyarakat disamping itu dikelola dengan manajemen yang tepat di bidang produksi, finansial, sumber daya manusia dan lain-lain tetapi tidak mempunyai etika, maka kekurangan ini cepat atau lambat akan menjadi batu sandungan bagi perusahaan tersebut. Bisnis dengan menjunjung kode etik merupakan suatu unsure mutlak yang perlu dalam masyarakat modern.
Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kegiatan berbisnis, sebagai kegiatan sosial, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat modern. Dalam kegiatan berbisnis, mengejar keuntungan adalah hal yang wajar, asalkan dalam mencapai keuntungan tersebut tidak merugikan banyak pihak. Jadi, dalam mencapai tujuan dalam kegiatan berbisnis ada batasnya, kepentingan dan hak-hak orang lain perlu diperhatikan. Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang.  Bisnis yang  baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, tetap ibisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik, juga dalam konteks bisnis, merupakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral.
Bisnis juga terikat dengan hukum, dalam praktek hukum, banyak masalah timbul dalam hubungan dengan bisnis, baik pada taraf nasional maupun taraf internasional. Walaupun terdapat hubungan erat antara norma hukum dan norma etika, namun dua macam hal itu tidak sama. Ketinggalan hukum, dibandingkan dengan etika, tidak terbatas pada masalah-masalah baru, misalnya, disebabkan perkembangan teknologi. Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa dan wajar pada masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan banyak pelanggaran etika bisnis dalam kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Berbagai hal tersebut merupakan bentuk dari persaingan yang tidak sehat oleh para pebisnis yang ingin menguasai pasar. Selain untuk menguasai pasar, terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi para pebisnis untuk melaku kanpelanggaranetikabisnis, antara lain untuk memperluas pangsa pasar, serta mendapatkan banyak keuntungan. Ketiga faktor tersebut merupakan alasan yang umum untuk para pebisnis melakukan pelanggaran etika dengan berbagai cara.

1.1  Rumusan Masalah
1.      Apa saja prinsip – prinsip dari etika bisnis ?
2.      Bagaimana penerapan prinsip – prinsip etika bisnis dalam perusahaan ?
3.      Apa saja contoh kasus prinsip etika bisnis ?

1.2  Tujuan Penulisan
1.      Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Etika Profesi.
2.      Untuk mengetahui prinsip – prinsip etika bisnis.
3.      Untuk mengetahui penerapan prinsip etika bisnis.
4.      Untuk mengetahui kasus yang terjadi.




BAB 2
PEMBAHASAN

2.1   Beberapa Prinsip Umum Etika Bisnis
Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam kegiatan bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia. Demikian pula, prinsip-prinsip itu sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh masing – masing masyarakat. Bisnis Jepang akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat Jepang. Eropa dan Amerika Utara akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat tersebut dan seterusnya. Demikian pula, prinsip – prinsip etika bisnis yang berlaku di Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat kita.  Namun, sebagai etika khusus atau etika terapan, prinsip-prinsip etika yang berlaku dalam bisnis sesungguhnya adalah penerapan dari prinsip etika pada umumnya.  Disini secara umum dapat dikemukakan beberapa prinsip etika bisnis tersebut.

2.1.1        Prinsip Otonomi
Prinsip otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran diri sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Seseorang dikatakan memiliki prinsip otonomi dalam berbisnis jika ia sadar sepenuhnya akan kewajibannya dalam dunia bisnis. Ia tahu mengenai bidang kegiatannya, situasi yang dihadapi, tuntutan dan aturan yang berlaku bagi kegiatannya. Ia sadar dan tahu akan keputusan dan tindakan yang akan diambilnya serta risiko atau akibat yang akan timbul baik bagi dirinya dan perusahaan maupun bagi pihak lain.
Di samping itu juga ia tahu bahwa keputusan dan tindakan yang akan diambilnya akan sesuai atau sebaliknya bertentangan denga nilai atau moral tertentu. Orang otonom bukan hanya sekedar mengikuti begitu saja norma dan nilai moral yang ada, melainkan ia tahu dan sadar bahwa apa yang dilakukannya itu adalah sesuatu yang baik.
Hal dmeikian juga berlaku juga dalam bidang bisnis. Misalnya seorang pelaku bisnis hanya mungkin bertindak secara etis kalau dia diberi kebebasan dan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan apa yang dianggapnya baik. Tanpa kebebasan ini para pelaku bisnis hanya akan menjadi robot yang hany bisa tunduk pada tuntutan perintah dan kendali di luar dirinya. Hanya dalam kebebasan seperti itu ia dapat menentukan dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya, dan prinsip otonomi sangatlah penting dalam dunia bisnis.
Pertama, dengan otonomi pelaku bisnis dan karyawan dalam perusahaan manapun tidak lagi diperlakukan sebagai sekadar tenaga yang dieksploitasi sesuai kebutuhan bisnis dan demi kepentingan bisnis. Dengan kata lain, dengan otonomi para pelaku bisnis benar – benar menjadi subyek moral yang bertindak secara bebas dan bertanggung jawab atas tindakannya. Ini berarti sebagai subyek moral tidak lagi sekedar bertindak dan berbisnis seenaknya dengan merugikan hak dan kepentingan pihak lain.
 Kedua, Otonomi juga memungkinkan inovasi, mendorong kreativitas, meningkatkan produktivitas,  yang semuanya akan sangat berguna bagi bisnis modern yang terus berubah dalam persaingan yang ketat.
Ketiga, dengan prinsip otonomi, tanggung jawab moral juga tertuju kepada semua pihak terkait yang berkepentingan (stakeholders).

2.1.2        Prinsip Kejujuran
Kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam mendukung keberhasila perusahaan. Kejujuran harus diarahkan pada semua pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan. Jika prinsip kejujuran ini dapat dipegang teguh oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kepercayaan dari lingkungan perusahaan tersebut.
Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran, yaitu :
a.       Pertama,  jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kejujuran ini sangat penting artinya bagi masing – masing pihak dan sangat menentukan relasi dan kelangsungan bisnis masing-masing pihak selanjutnya. Karena seandainya salah satu pihak berlaku curang dalam memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut, selanjutnya tidak mungkin lagi pihak yang dicurangi itu mau menjalin relasi bisnis dengan pihak yang curang tadi. 
b.       Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Dalam pasar yang terbuka dengan barang dan jasa yang beragam dan berlimpah ditawarkan kedalam pasar, dengan mudah konsumen berpaling dari satu produk ke produk yang lain. Maka cara-cara bombastis, tipu menipu, bukan lagi cara bisnis yang baik dan berhasil. Kejujuran adalah prinsip yang justru sangat penting dan relevan untuk kegiatan bisnis yang baik dan tahan lama.
c.       Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Kejujuran dalam perusahaan adalah inti dan kekuatan perusahaan itu. Perusahaan itu akan hancur kalau suaana kerja penuh dengan akal-akalan dan tipu-menipu. Kalau karyawan diperlakukan secara baik dan manusiawi, diperlakukan sebagai manusia yang punya hak-hak tertentu, kalau sudah terbina sikap saling menghargai sebagai manusia antara satu dan yang lainnya, ini pada gilirannya akan terungkap keluar dalam relasi dengan perusahaan lain atau relasi dengan konsumen. Selama kejujuran tidak terbina dalam perusahaan, relasi keluar pun sulit dijalin atas dasar kejujuran.

Cek bagian selanjutnya disini.....

Sumber : Dinda Julia C.
Editor   : Admin Coretan Mahasiswa

PAJAK, BUMI DAN BANGUNAN

1.Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perai...