Thursday, March 7, 2019

Biaya Kualitas dan Produktivitas: Pengukuran, Pelaporan dan Pengendalian

Baca Juga


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Era globalisasi ekonomi dunia saat ini membuat manajemen perusahaan saling bersaing dan berkompetisi dalam berbisnis. Kompetisi yang semakin ketat ini secara langsung memberikan  tekanan kepada perusahaan untuk senantiasa meningkatkan kualitas produknya baik itu barang maupun jasa dalam upaya meningkatkan kepuasaan pelanggan. Keberhasilan suatu perusahaan tidak dapat dicapai begitu saja tanpa adanya usaha yang maksimal dari usaha perusahaan yang bersangkutan. Usaha yang dapat ditempuh oleh perusahaan antara lain dengan jalan menentukan tujuan yang pasti yang harus ditentukan dengan tepat dan metode pencapiannya harus direncanakan serta dilakukan semestinya.
Perusahaan agar dapat mempertahankan aktivitas operasi dan manajemen yang baik, maka harus melakukan perbaikan dari periode ke periode. Perbaikan itu diantaranya   adalah kulitas produk, inovasi, ketepatan waktu saat produksi, dan memangkas biaya   yang tidak perlu terjadi. Perusahaan harus memperluas pangsa pasarnya agar bisa mencapai penjualan produk hingga ke luar negeri, dengan mengikuti standar kualitas internasional. Semakin meningkatnya persaingan dalam dunia usaha maka semakin   banyak perusahaan dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Bagi perusahaan yang profit oriented, laba merupakan hal penting yang ingin dicapai perusahaan untuk mempertahankan eksistensinya. Dengan meningkatkan kualitas dapat   menjadi kunci perjuangan hidup perusahaan. Karena, dengan meningkatnya kualitas dapat memperbaiki keuangan perusahaan dan posisi persaingan. Hal ini membuat   perusahaan untuk tidak dapat memilih alternatif lain selain memperbaiki kembali   produk untuk menghasilkan produk yang baik dan tetap mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Semakin meningkatnya kualitas produk maka akan semakin memperluas daerah pemasaran dan perusahaan dapat menjadi lebih bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain dengan cara meningkatkan produktifitas dan memperbaiki kualitas. Memperbaiki kualitas secara terus menerus merupakan sesuatu yang penting dalam membangun masa depan bisnis yang berkelanjutan. Pertanyaannya adalah bagaimana kualitas ini dapat diukur sehingga dapat digunakan sebagai alat perencanaan, pengendalian, atau bahkan pengambilan keputusan atas kualitas dari suatu produk yang dihasilkan. Pengukuran kualitas melalui biaya kualitas dapat dilakukan   karena kualitas tidak hanya dapat ditentukan oleh gambaran visual bentuk fisik saja, tetapi juga dapat dilihat dari biaya-biaya yang dilkeluarkan untuk memperoleh produk yang berkualitas tersebut.

2.1   Rumusan Masalah
a.       Bagaimana menjelaskan konsep tentang biaya kualitas?
b.      Bagaimana menjelaskan konsep tentang produktifitas?
c.       Bagaimana menjelaskan pengukuran, pelaporan, dan  pengendalian biaya kualitas dan produktifitas?
2.2  Tujuan
a.       Untuk menjelaskan konsep tentang biaya kualitas.
b.      Untuk menjelaskan konsep tentang produktifitas.
c.  Untuk menjelaskan pengukuran, pelaporan, dan pengendalian biaya kualitas dan produktifitas.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi Kualitas
Definisi kamus yang umum digunakan untuk kualitas adalah “derajat atau tingkat kesempuranaan”dalam hal ini, kualitas adalah ukuran relative dari kebaikan (goodness). Mendefenisikan kualitas sebagai kebaikan merupakan makna sangat umum yang tidak dimiliki makna operasional. Dengan kata lain, kualitas adalah kepuasan pelanggan. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan “harapan pelanggan?” harapan pelanggan dapat digambarkan melalui atribut-atribut kualitas atau yang sering disebut “dimensi kualitas”Jadi, produk atau jasa yang berkualitas adalah yang memenuhi atau melebihi harapan palanggan dalam delapan dimensi berikut:
a.       Kinerja: seberapa konsisten dan seberapa baik produk tersebut dapat berfungsi
b.      Aestetik: berhubungan dengan wujud fisik dari produk, misal: gaya
c.       Keberlayanan: kemudahan dalam pemeliharan dan atau perbaikan produk
d.      Fitur (kualitas desain): karakteristik produk yang membedakannya dengan produk lain yang sejenis
e.       Keandalan: kemungkinan bahwa produk atau jasa akan berfungsi sesuai yang diharapkan selama jangka waktu tertentu
f.       Tahan lama: jangka waktu berfungsinya produk
g.      Kualitas kesesuaian: seberapa baik produk memenuhi spesifikasi yang diinginkan
h.      Kesesuaian penggunaan: kesinambungan produk dalam melakukan fungsi yang diharapkan.
Empat dimensi pertama merupakan atribut kualitas yang penting, tetapi sulit untuk diukur.Kinerja mengacu pada konsistensi dan seberapa baik fungsi-fungsi sebuah produk. Dalam jasa, Prinsip tidak terpisahkan mengandung arti bahwa jasa dilakukan secara langsung di hadapan pelanggan. Jadi dimensi kinerja untuk jasa dapat didefinisikan lebih jauh sebagai atribut daya tanggap, kepastian, dan empati. Daya tanggap (Responsiveness) adalah keinginan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang konsisten dan bersifat segera. Kepastian (Assurance), mengacu pada pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan mereka membangun kepercayaan dan keyakinan pelanggan. Empati berarti peduli dan memberikan perhatian individual terhadap pelanggan. Estetika sehubungan dengan penampilanwujud produk (misalnya, gaya dan keindahan) serta penampilan fasilitas, peralatan, pegawai, dan materi komunikasi yang berkaitan dengan jasa. Kemudahan perawatan dan perbaikan berkaitan dengan tingkat kemudahanmerawat dan memperbaiki produk. Fitur (kualitas desain) adalah karakteristik produk yang berbeda dari produk produk sejenis yang fungsinya sama. Misalnya,fungsi mobil adalah sebagai alat transportasi. Namun, sebuah mobil dilengkapi dengansebuah mesin empat silinder, transmisi manual, tempat duduk dari vinyl,tempat duduk untuk empat penumpang, dan rem pada roda depan, sementara  mobil lainnya mungkin dilengkapi dngan mesin enam silinder, transmisi otomatis, tempat duduk kulit, tempat duduk  untuk enam penumpang, dan rem cakram antikejut. Demikian juga, penerbangan kelasutama dan kelas ekonomi mencerminkan perbedaan kualitas desain. Penerbangan kelas utama, misalnya, menawarkan tempat kaki yang lebih lapang, makanan yang lebih baik dan tempat duduk yang lebih mewah.Tentu saja dalam kedua contoh diatas menggambarkan perbedaan dalam fitur-fitur penduduk. Kualitas desain yang lebih baik biasanya tercermin pada biaya produksi yang lebih tinggi. Kualitas desain membantu erusahaan menetukan asarnya. Terdapat pasar baik untuk mobil empat silinder serta penerbagan serta penerbanngan kelas utama dan kelas ekonomi.
Keandalan adalah probabilitas produk atau jasa menjalankan fungsi seperti yang dimaksudkan dalam jangka waktu tertentu tahanlama didefinisikan sebagai jangka waktu produk dapat berfungsi. Kualitas kesesuaian adalah ukuran mengenai apakah sebuah produk telah memenuhi spesifikasinya atau tidak sebagai contok spesifikasi dari sebuah mein adalah memiliki lubang berdiameter 3 inci dengan tingkat kesalahan lebih kurang 1/8 inci. Bagian yang berada dalam batasan-batasan ini disebut bagian yang memenuhi tigkat kesesuaiannya. Kecocokan penggunaan adalah kecocokan dari sebuah produk menjalani fingsi-fungsi sebagai mana yang di iklankan. Jika sebuah produk mengandung cacat desain yang parah, maka produk tersebut dianggap gagal, meskipun tingkat kesesuaiannya sesuai dengan spesifikasinya. Produk yang ditarik kembali seringkali disebabkan oleh adanya masalah dalam dimensi kecocokan penggunaan.
Dengan demikian, perbaikan kualitas berarti perbaikan pada satu atau lebih dari delapan dimensi tersebut di atas. Sambil tetap mempertahankan kinerja dimensi lainnya. Menyediakan produk yang lebih baik kualitasnya daripada pesaing berarti mengungguli produk pesaing dalam setidaknya satu dimensi sementara kinerja dimensi lainnya tetap setara. Meskipun kedelapan dimensi tersebut penting dan mampu mempengaruhi kepuasan pelanggan, namun atribut kualitas yang dapat diukur cenderung lebih mendapat perhatian  teingkat kesesuaian, terutama adalah dimensi yangmendapat perhatian paling besar, Bahkan banyak pakar kualitas percaya bahwa “kualitas adalah kesesuaian” (Quality is compermance) merupakan definisi operasional yang terbaik, Sikap ini didasarkan pada beberapa logika.Spesifikasi produk harus secara eksplisit mempertimbangakan beberapa hal seperti kandalan, durabilitas, kecocokan penggunaan, dan kinerja. Secara inflisit, produk yang dapat memenuhi tingkat kesesuaiannya adalahproduk yang andal, tahan lama, bernanfaat, dan berkinerja baik. Produk tersebut harus dibuat menurut spesifikasi desainnya.Kesesuaian adalah dasar untuk mendefinisikan apa yang disebut produk yang tidak sesuai (noncompormance) atau produk cacat (detective).
Produk cacat adalah produk yang tidak sesuai dengan spesifikasinya. Cacat 0 (Zero defect) berarti semua produk yang diproduksi sesuai dengan spesifikasinya. Tetapi, apa yang dimaksud dengan produk yang “produk yang sesuai dengan spesifikasinya’? pandangan tradisioanal mengenai kesesuaian mengasumsikan bahwa terdapat rentang nilai yang dapat diterima  bagi setiap karakteristik spesifikasi atau kualitas. Nilai target ditetapkan dan batas atas serta batas bawah ditentukan agar diperoleh penyimpangan produk yang bisa diterima untuk suatu karakteristik kualitas yang ditentukan. Setiap produk  yang berada didalam batas-batas yang telah ditentukan dianggap sebagai produk tanpa cacat (nondevective), sebagai contoh, kemampuan menghasilkan putaran waktu yang tepat dalam satu bulan tanpa terlambat atau lebih cepat satu menitpun mungkin adalah nilai target untuk sebuah jam, dan setiap jam yang menghasilkan putaran dalam tentang selalu lambatatau terlalu cepat dua menit dalam satu bulan dianggap dapat diterima. Di lain pihak, penganut  pandangan kualitas kokoh mengenai kesesuaian lebih menekankan pada kecocokan penggunaan. Kekokohan berarti selalu memenuhi nilai target. Dalam pandangan ini tidak dikenal rentang variasi yang bisa diterima. Jam tanpa cacat menurut pandangan ini adalah jam yang tidak mengalami keterlambatan atau kecepatan waktu bahkan satu menitpundalam satu bulan. Oleh karena telah terbukti bahwa variasi produk dapat menjadi beban bagi perusahaan, maka definisi kualitas kokoh mengungguli definisi tradisional.

2.2  Definisi Biaya Kualitas
Kegiatan yang berhubungan dengan kualitas adalah kegiatan yang dilakukankarena mungkin atau telah terdapat kualitas yang buruk. Biaya-biaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut disebut biaya kualitas. Jadi,biaya kualitas adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau talah terdapat produk yangburuk kualitasnya. Definisi ini mengimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan dua subkategori dari kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kualitas : Kegiantan pengendalian dan kegiatan karena kegagalan.
Kegiatan pengandalian dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk (karena kualitas yang buruk mungkin terjadi). Jadi, kegiatan penendalian terdiri dari kegiatan-kegiatan pencegahan dan penilaian.
Biaya pengendalian adalah biaya-biaya yng dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pengendalian. Kegiatan karena kegagalan dilakukan oleh perusahaan atau oleh pelanggannya untuk merespon kualitas yang buruk (kualitas buruk memang telah terjadi). Jika respons terhadap kualitas yang buruk dilakukan sebelum produk cacat ( tidak memiliki kesesuaian, tidak bisa di andalkan, tidak tahan lama,dan seterusnya sampai ke pelanggan, maka kegiatannya diklasifikasikan sebagai kegiatan kegagalan internal.Sebaliknya, jika respons muncul setelah produk sampai ke pelanggan, maka kegiatannya diklasifikasikan sebagai kegagalan eksternal. Biaya kegagalan (failure cost) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan karena telah terjadi kegiatan karena kegagalan.





Empat kategori biaya kualitas adalah sebagai berikut:
a.       Biaya pencegahan
terjadi untuk mencegah kualitas yang buruk pada produk atau jasa yang dihasilkan.  sejalan dengan peningkatan biaya pencegahan, kita mengharapkan biaya kegagalannya turun. Contoh dari biaya pencegahan adalah biaya rekayasa kualitas, program pelatihan kualitas, perencanaan kualitas, pelaporan kualitas, pemilihan dan evaluasi pemasok, audit kualitas, siklus kualitas, uji lapangan, dan peninjauan desain.
b.      Biaya penilaian
terjadi untuk menentukan apakah produk dan jasa telah sesuai dengan persyaratan atau kebutuhan pelanggan. Contoh biaya ini termasuk biaya pemeriksaan dan pengujian bahan baku, pemeriksaan kemasan, pengawasan kegiatan penilaian, penerimaaan produk, penerimaan proses, peralatan pengukuran (pemeriksaan dan pengujian) dan pengesahan dari pihak luar. Dua dari istilah istilah tersebut membbutuhkan penjelasan lebih lanjut.
·         Penerimaan produk (product acceptance) meliputi pengambilan sampel dari batch barang jadi untuk menentukan apakah telahmemenuhi standar kualitasnya bisa memenuhi, produk diterima.
·         Penerimaan proses (process acceptance) meliputi penarikan sampel barang dalam proses untuk mengetaahui apakah prosesnya berada dalam kendali dan memproduksi barang tanpa cacat; bila tidak, proses akan dihentikan dan menunggu sampai tindakan perbaikan dilakukan.
·         Tujuan utama dari fungssi penilaian adalah untuk mencegah disampaikannya barang cacat kepada pelanggan.
c.       Biaya kegagalan internal
Terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan pelanggan. Ketidak sesuaian ini dideteksi sebelum dikirim kepihak luar. Ini adalah kegagalan yang dideteksi oleh kegiatan penilaian. Contoh dari biaya kegagalan internal adalah sisa bahan, pengerjaan ulang, penghentian mesin ( karena adanya produ buruk yang dihasilkan oleh mesin tersebut), pemeriksaan ulang, penngujian ulang, dan perubahan desain, biaya biaya diatas tidak akan terjadi apabila tidak ada produk cacat.

d.      Biaya kegagalan eksternal
Terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan gagal memenuhui persyaratan atau tidak memuaskan kebutuha pelanggan setelah produk disampaikan kepada pelanggan. Dari semua biaya-biaya kualitas, kategori biaya ini dapat menjadi yang paling merugikan. Biaya penarikan produk dari pasar, misalnya bisa mencapai ratusan juta dolar. Contoh lainnya termasuk biaya kehilangan penjualan karena kinerja produk yang buruk serta retur dan potongan penjualan karena kualitas yang buruk, biaya garansi, perbaikan, tanggung jawab hukum yang timbul, ketidakpuasan pelanggan, hilangnya pangsa pasar, dan biaya untuk mengatasi keluhan pelanggan. Biaya kegagalan eksternal, seperti juga biaya kegagalan internal, hilang jika tidak ada produk yang cacat.

2.3  Pengukuran Biaya Kualitas
Biaya kualitas dapat dilihat dari data yang tersedia dalam catatan akuntansi perusahaan (observable costs), namun ada biaya-biaya kesempatan yang muncul sebagai akibat adanya kualitas yang buruk dan tidak terdapat dalam catatan akuntansi (hidden costs). Ada tiga metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi biaya kualitas yang tersembunyi, yaitu:
1.                  Metode Multiplier (Multiplier Method)
Metode yang mengasumsikan bahwa biaya kegagalan total merupakan perkalian dari beberapa biaya kegagalan.
Biaya kegagalan eksternal total = k(biaya kegagalan total yang terukur), dimana k = efek pengganda.
2.                  Metode Penelitian Pasar (Market Research Method)
Metode ini menggunakan metode penelitian pasar yang formal untuk menilai pengaruh kualitas yang rendah terhadap penjualan dan pangsa pasar. Misal: melalui survey pelanggan dan wawancara dengan tenaga penjualan perusahaan.
3.                  Fungsi Kerugian Kualitas Taguchi (Taguchi Loss Function Function)
Metode ini mengasumsikan bahwa variasi dari suatu nilai target dalam suatu karakteristik kualitas dapat menyebabkan biaya kualitas tersembunyi.

Text Box: L(y) = k(y - T)2
 





Dimana:
k = konstanta terkait dengan struktur biaya kegagalan eksternal
y = nilai aktual dari karakteristik kualitas
T = nilai target dari karakteristik kualitas
L = kerugian atas kualitas

Ini bearti bahwa kita harus mengestimasi kerugian akibat deviasi dari nilai target. Salah satu dari dua metode pertama, metode pengali atau metode penelitian pasr, dapat digunakn untuk membatu estimasi ini  (penilaian pada satu titik waktu diperlukan). Jika k diketahui, maka biaya kualitas tersembunyi bila diestimmasi untuk setiap tingkat penyimpangan dari nilai target.

2.4  Pelaporan Informasi Biaya Kualitas
Sebuah sistem pelaporan biaya kualitas memiliki arti penting bagi perusahaan yang menaruh perhatian serius terhadap  perbaikan dan pengendalian biaya kualitas.
a.    Laporan biaya kualitas
Pentingnya biaya kualitas terhadap segi keuangan perusahaan dapat lebih mudah dimulai dengan menampilkan biaya-biaya kualitas sebagai presentasi dari penjualan aktual.
b.   Fungsi biaya kualitas: pandangan kualitas yang dapat diterima
Pandangan kualitas yang dapat diterima mengasumsikan bahwa terdapat perbandingan berbalik antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan. Ketika biaya pengendalian meningkat, biaya kegagalan seharusnya turun. Selama penurunan biaya kegagalan lebih besar daripada kenaikan biaya pengendalian,perusahaan harus terus meningkatkan usahanya untuk mencegah atau mendeteksi  unit-unit yang tidak sesuai.

1.      Fungsi biaya Kualitas: Pandangan Cacat Nol
Model cacat nol menekankan pada biaya kualitas dan potensi penghematan dari upaya yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas.
Strategi pengurangan biaya kualitas yang direkomendasikan oleh amerika Society for Quality Control:
Srategi untuk menekan biaya kualitas adalah cukup sederhana: (1) lakukan serangan langsung terhadap biaya kegagalan untuk memaksanya menuju titik nol; (2)lakukan inventasi pada kegiatan pencegahan yang “tepat” untuk menghasilkan perbaikan; (3) kurangi biaya penilaian sesuai dengan hasil yang dicapai; dan (4) melakukan efaluasi secara berkelanjutan dan arahkan kembali upaya pencegahan untuk mendapatkan perbaikan lebih lanjut. Strategi ini didasarkan pada premis bahwa:
         Dalam setiap kegagalan selalu ada akar penyebabnya.
         Penyebab dapat dicegah.
         Pencegahan selalu lebih murah

Kemampuan untuk menekan total biaya kualitas secara dramatis pada seluruh kategori ini di peroleh melalui  berbagai pengalaman nyata. Sebagai contoh, perusahaan Tennant, selama periode delapan tahun, mengurangi biaya kualitasnya dari 17 persen dari penjualan menjadi 2,5 persen dari penjualan, dan pada saat yang sama, mengubah secara nyata distribusi relative kategori biaya kualitasnya. Pada awalnya, biaya kegagalan adalah 50 persen dari total biaya kualitas( 8,5 persen dari penjualan) dan biaya pengendalian juga 50 persen dari total biaya kualitas (8,5 persen dari penjualan). Ketika tingkat 2,5 persen tercapai, biaya kegagalan turun menjadi 15 persen dari total biaya kualitas ( 0,375 persen dari penjualan) dan biaya pengendalian meningakat menjadi 85 persen dari total biaya ( 2,125 persen dari penjualan). Tennant berhasil meningkatkan kualitas dan menekan biaya kualitas di setiap kategori, serta secara keseluruhan memindahkan distribusi biaya kualitas ke kategori pengendalian dengan lebih menekankan pada pencegahan. Hasil ini membantah model biaya kualitas tradisional yang digambarkan dalam tampilan 11-5. Menurut model tradisional, total biaya kualitas hanya bisa di tekan melalui pertukaran(Trade-off)antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan (menambah yang satu ketika mengurangi yang lain). Dukungan lebih lanjut terhadap model pengendalian kualitas total disediakan oleh Westinghouse Electric. Sama seperti  tennant ,Westinghouse Electricmenentukan bahwa laba perusahaan terus mengalami peningkatan hingga biaya pengendalian mencapai 70 hingga 80 persen dari total biaya kualitas. “ Berdasarkan pengalaman kedua perusahaan tersebut, diketahui bahwa mengurangi  total  biaya kualitas--dalam semua kategori—secara signifikan adalah memungkinkan, bahwa prosesnya akan mengubah secara radikal distribusi relatifkategori  biaya kualitas.
d.      Manajemen Berbasis Kegiatan Dan Biaya Kualitas Optimal
Manajeman berbasis kegiatan (actifity-besed management-- ABM) mengklasifikasikan berbagai kegiatan sebagai bernilai tambah dan tidak bernilai tambah serta hanya mempertahankan kegiatan-kegiatan yang memberikan nilai tambah. Prisip ini dapat diaplikasikan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kualitas. Kegiatan-kegiatan kegagalan dan penilaian serta biaya-biaya yang terkait tidak menghasilkan nilai tambahdn harus di hilangkan. Kegiatan pencegahan yang dilakukan secara efesien dapat diklasifikasikan sebagai kegiatan bernilai tambah dan perlu di pertahankan. Meskipun demikian, pada awalnya kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien, dan pengurangan kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien, dan pengurangan kegiatan serta pemilihan kegiatan ( atau mungkin bahkan pembagian kegiatan) dapat digunakan untuk mencapai sasaran nilai tambah yang diinginkan. Grede Found ries Inc. Di Milwaukee, perusahaan peleburan besi terbesar di dunia, telah menelusuri ke 4 kategori biaya kualitas selama lebih dari 15 tahun. Akan tetapi, perusahaan kersebut tidak melaporkan biaya pencegahan sebagai bagian dari angka biaya kualitas akhirnya karena perusahan tidak ingin para manejer mengurangi biaya kualitas dengan memotong kegiatan pencegahan. Perusahaan yakin bahwa perusahaan uang untuk kegiatan pencegahan akan diberi hasil yang baik. Sebagai contoh perusahaan menemukan bahwa pengurangan 1% dari sisa bahan baku dapat mengurangi kegagalan eksternal hingga sekitar 5% .
Setelah berbagai kegiatan untuk masing-masing kategori didentifikasi, pendorong timbulnya penggunaan sumber daya ( Resource drivers) dapat digunakan untuk memperbaiki pembagian biaya kepada masing –masing kegiatan.pendorong (biaya) akar juga dapat diidentifikasi, kususnya untuk kegiatan-kegiatan yang gagal, dan berguna untuk membantu para menejer memahami hal-hal yang menyebabkan biaya kegiatan.informasi ini selanjutnya dapat digunakan untuk memilih cara mengurangi biaya kualitas sampai ke tingkat tertentu . Hasilnya, manajemen berbasis kegiatan (ABN) mendukung pandangan cacat nol robust mengenai biaya kualitas. Tidak ada perbandingan terbalik optimal antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan; biaya kegagalan adalah biaya yang tidak menghasilkan nilai tambah dan karena itu harus dikurangi sampai nol. Beberapa kegiatan pengendalian tiadak menawarkan nilai tambah dan karena itu harus dihilangkan. Kegiatan pengendalian lainnya mengasilkan nilai tambah tetapi mungkin dijalankan dengan tidak efesien, dan biaya yang disebabkan oleh kegiatan yang tidak efesien adalah tidak bernilai tambah. Jadi, biaya untuk kategori –kategori tersebut juga dapat dikurangi ketingkat yang lebih rendah.
e.       Analisi Tren
Laporan biaya kualitas menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas diantara ke 4 kategori, sehingga menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Setelah ukuran-ukuran peningkatan kualitas ditentukan, adalah hal yang penting bagi perusahaan untuk menentukan apakah biaya kualitas telah berkurang sebagai mana yang direncanakan. Laporan biaya kualitas tidak akan memperlihatkan apakah perbaikan telah menjadi atau tidak. Akan berguna bagi perusahaan untuk mendapatkan gambaran mengenai bagaimana keberhasilan program perbaikan kualitas sejak diterapkan. Apakah tren multi periode-perubahan keseluruhan dalam biaya kualitas—bergerak kearah yang tepat? Apakah peningkatan kualitas yang dihasilkan dari waktu kewaktu cukup signifikan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan menggunakan bagan atau grafik tren yang menggambarkan perubahan biaya kualitas dari waktu kewaktu. Grafik demikian disebut laporantren kualitas multi periode (Multiple-Period Kuality Trend Resport). Dengan menggambarkan biaya kualitas sebagai persentase dari penjualan, makan keseluruhan tren program kualitas dapat dinilai. Tahun pertama yang digambarkan adalah tahun sebelum implementasi program perbaikan kualitas. 

2.5 penggunaaan informasi biaya kualitas
Tujuan utama dari pelaporan biaya kualitas adalah untuk memperbaikai dan mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengabilan keputusan manajerial. Sebagai contoh dalam memutuskan pengimplementasian program seleksi pemasok guna memperbaiki kualitas bahan baku, seorang manajer memerlukan penilaian terhadap biaya kualitas saat ini menurut bagian dan kategori, penilaian biaya tamahan yang dibutuhkan berkaitan deng program tersebut, dan penilaian terhadap proyeksi penghematan  menurut jenis dan kategori. Selain itu, perlu juga dibuat proyeksi  kapan biaya dan penghematan ttersebut akan terjadi. Setelah dampak-dampak tunai diproyeksikan, maka analisis penggaran modal dapat dilakukan untuk menilai manfaat program yang diusulkkan. Jika hasilnya menguntungkan dan program mulai dijalankan, maka menjadi penting untuk memantau program dengan menggunakan pelaporan kinerja sstandar.
Pengguanaan informasi biaya kualitas untuk keputusan keputusan implementasi program kualitas dan untuk mengevaluasi efektivitas program tersebut, setelah diimplementasikan, hanya merupakan salah satu potensi penggunaan dari sistem biaya kualitas.

2.6 produktivitas : pengukuran dan pengendalian
Produktivitas berkaitan dengan memproduksi output secara efisien dan secara spesifik, mengacu pada hubungan antara output dan input yang digunakan untuk memproduksi output.  Efisiensi produktif total adalah Suatu titik dimana dua kondisi terpenuhi: (1) pada setiap bauraan input untuk memproduksi output tertentu, tidak satu input pun yang digunakan lebih dari yang diperlukan untuk menghasilkan output dan (2) atas bauran bauran yang memenuhi kondisi pertama, dipilih bauran dengan biaya terendah.

a.       Pengukuran produktivitas parsial
1.      pengukuran produktivitas 
Pengukuran produktivitas adalah penilaian kuantitatif atas peerubahan produktivitas. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menilai apakah efisiensi produktif telah meningkat atau menurun. Pengukuran produktivitas dapat berupa aktual atau prospektif. Pengukuran produktivitas aktual memungkinkan manajer untuk menilai, memanatau dan mengendalikan perubahan. Pengukuran prospektif melihat kemasa depan dan berguna sebagai input bagi pengambilan keputusan strategis.
2.      Definisi pengukuran produktivitas parsial
Pengukuran produktivitas parsial disebut juga dengan pengukuran produktivitas untuk satu input pada suatau waktu. Produktivitas dari satu input tunggal biasanya diukur dengan menghitung rasio output terhadap input:
Rasio produktivitas = output/input
3.      Keunggulan ukuran parsial
Ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memfokuskan perhatiannya pada penggunaan tertentu. Penggunaan pengukuranparsial memiliki keunggulan, yaitu mudah diinterpretasikan oleh semua pihak didalam perusahaan, sehingga ukuran tersebut mudah digunakan untuk menialai kenerja produktivitas dari karyawan operasional.
4.      Kelemahan ukuran parsial
*      Adanya kemungkinan terjadinya trade off, menyebabkan perlu adanya ukuran produktivitas total untuk menilai kelebihanberbagai keputusan produktivitas.
*      Adanya kemungkinan terjadiya trade off, maka ukuran produktivitas total harus mempertimbangkan konsekuensi keuangan agregat dan oleh karena ituharuslah dalam bentuk sebuah ukuran keuangan.
b.      Pengukuran produktivitas total
Pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total. Pengukuran produktivitas total dapat didefinisikan sebgai pemokusan perhatian pada beberapa input yang secara total, menujukkan keberhasilan perusahaan.
·         Pengukuran profil produktivitas
Pengukuran profil menyediakan serangakain atau sebuah vektor ukuran operasionla parsial yang berbeda dan terpisah. Profil dapat dibandingkan dari waktu ke waktu untuk memberikan informasi mengenai perubahan produktivitas.
2.7 kualitas dan produktivitas
Meningkatkan kualitas akan meningkatkan produktivitas, begitu pula
sebaliknya. Karena sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan untuk memproduksi dan menjual output perusahaan, maka produktivitas akan meningkat. Peningkatan kualitas biasanya akan tercermin dalam ukuran produktivitas.

Namun, dimungkinkan suatu kondisi perusahaan menghasilkan produk yang hanya memiliki sedikit kerusakan atau tidak ada cacat sama sekali tetapi
memiliki proses yang tidak efisien. Untuk meningkatkan efisiensi, proses manufaktur hendaknya didesain ulang. Dengan proses yang efisien, akan dihasilkan lebih banyakoutput dengan input yang lebih sedikit. Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas, saat ini banyak perusahaan yang menawarkan gain sharing, yaitu insentif berupa kas yang diberikan kepada paramanajer dan karyawan jika target kualitas dan produktivitas terpenuhi.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Biaya kualitas merupakan biaya yang bisa lebih besar dari estimasi karena kurang pengetahuannya seorang manager dalam menganalisis biaya kualitas. Dengan mempelajari dan mengaplikasikan system informasi biaya kualitas, diharapkan seorang manager nantinya mampu mengestimasi biaya kualits dengan baik. Dalam suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi akan lebih efisien biaya jika seorang manager / akuntannya sudah mampu menelusuri biaya kualitas yang tersembunyi maupun yang tidak tersembunyi. Informasi biaya kualitas dapat berguna untuk seorang manajer dalam pengambilan keputusan,   mengevaluasi   kinerja   program   peningkatan   kualitas   secara   menyeluruh dan membantu perbaikan berbagai keputusan manajerial. Karena begitu pentingnya biaya kualitas wajib bagi sebuah perusahaan untuk menelusuri biaya kualitasnya. Selain pentingnya biaya kualitas, perusahaan juga harus memperhatikan hubungan output maupun input  dalam  sebuah kegiatan produktivitas. Karena   akan  mempengaruhi harga, laba usaha, dan insentif bagi karyawan. Pengukuran produktivitas untuk satu input pada suatu waktu disebut pengukuran produktivitas parsial.  Sedangkan, pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran  produktivitas total. Dengan adanya kombinasi antara biaya kualitas dan produktifitas maka  perusahaan akan   mampu mengalokasikan biaya-biaya secara efektif dan efisien.

Sumber : Anggraini Sinta P.
Editor : Admin Coretan Mahasiswa

Thursday, March 8, 2018

MAKALAH KEPUTUSAN PEMBELIAN PERILAKU KONSUMEN

Baca Juga

MAKALAH KEPUTUSAN PEMBELIANPERILAKU KONSUMEN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 
Keputusan pembelian menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan karena hal ini tentu akan menjadi suatu pertimbangan bagaimana suatu strategi pemasaran yang akan dilakukan oleh perusahaan berikutnya. Keberhasilan perusahaan dalam mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian sangat didukung melalui upaya membangun komunikasi kepada konsumen dengan membangun merek kepada konsumen dengan strategi pemasaran, serta melakukan inovasi untuk varians-varians baru pada suatu produk.
Proses pengambilan keputusan pembelian yang rumit seringkali melibatkan beberapa keputusan. Suatu keputusan melibatkan pilihan diantara dua atau lebih alternatif tindakan. Persaingan yang begitu ketat sekarang ini membuat perusahaan-perusahaan harus mampu memainkan strategi pemasaran yang handal dan mampu menarik minat konsumen sehingga mampu memenangkan pasar. Produk yang memiliki kualitas yang baik dengan diferensiasi yang juga baik akan menjadi  produk yang kemungkinan besar memiliki konsumen loyal.
Dengan memahami bagaimana perilaku konsumen akan memberi sumbangsih bagi perusahaan untuk merumuskan strategi pemasaran yang nantinya akan diimplementasikan dalam memperkenalkan dan mempromosikan  produk mereka ke pasar. Artinya ketika suatu produk hendak diproduksi, jauh sebelumnya telah diketahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen.

1.2. Rumusan Masalah
  1. Apa itu keputusan pembali ?
  2. Bagaimana proses keputusan pembeli ?
  3. Apa dalam keputusan peran dalam keputusan pembeli ?
  4. Apa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah dalam proses keputusan pembelian?


BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1 Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian dalam arti yang umum adalah “a decision is the selection of an option from two or more alternative choices” yaitu suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada. Definisi keputusan pembelian menurut Nugroho (2003:38) adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya.Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disampaikan bahwa keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada dan proses integrasi yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya.
2.2 Proses Keputusan Pembelian
Proses keputusan konsumen bukanlah berakhir dengan pembelian, namun berlanjut hingga pembelian tersebut menjadi pengalaman bagi konsumen dalam menggunakan produk yang dibeli tersebut. Pengalaman itu akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan pembelian dimasa depan (Ma’ruf,2005:14).
Menurut Kotler (2005:223) tahap evaluasi alternatif dan keputusan pembelian terdapat minat membeli awal, yang mengukur kecenderungan pelanggan untuk melakukan suatu tindakan tertentu terhadap produk secara keseluruhan. Para ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan model lima tahap, meliputi:
a. Pengenalan masalah
Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau kebutuhan, yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal misalnya dorongan memenuhi rasa lapar, haus dan seks yang mencapai ambang batas tertentu. Sedangkan rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan melihat roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa laparnya.
b. Pencarian informasi
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen yaitu:
  1. Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga dan kenalan. 
  2. Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen, kemasan dan penjualan. 
  3. Sumber publik: media massa dan organisasi penilai konsumen. 
  4. Sumber pengalaman: penanganan, pemeriksaan dan menggunakan produk. 
c. Evaluasi alternatif
Konsumen memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan dan penting menurut manfaat yang mereka cari. Kumpulan keyakinan atas merek tertentu membentuk citra merek, yang disaring melalui dampak persepsi selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.
d. Keputusan pembelian
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak dapat diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelian termasuk faktor-faktor penghambat pembelian. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian, yaitu: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu dan keputusan metode pembayaran.
e.Perilaku pasca pembelian
Para pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen melakukan pembelian ulang.
2.3 Peran Dalam Pembelian
Ali Hasan (2008:138) menjelaskan bahwa faktor pendorong yang sangat kuat dalam pengambil keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh sejumlah orang memiliki keterlibatan dalam keputusan pembelian. Dan orang yang memiliki keterlibatan dalam keputusan pembelian adalah sebagai berikut : 
Intitator adalah orang yang menyadari pertama kali adanya kebutuhan yang belum terpenuhi dan berinisiatif mengususlkan untuk membeli produk tertentu.  
 Influencer adalah orang yang sering berperan sebagai pemberi pengaruh yang karena pandangan nasihat atau pendapatnya mempengaruhi keputusan pemeblian.  
Decider adalah orang berperan sebagai pengambil keputusan dalam menentukan apakah produk jadi dibeli, produk apa yang dibeli, bagaimana cara membeli, dan dimana produk itu dibeli.  
Buyer adalah orang yang melakukan pembelian aktual. 
User adalah orang yang mengonsumsi atau menggunakan produk yang dibeli.
2.4 Proses Pengambilan Keputusan Oleh Konsumen
1.      Model Proses Pengambilan Keputusan
 Ada banyak cara untuk mengambil keputusan, dalam hal ini di klasifikasi berdasarkan bentuk model:  
Tujuanya : model latihan , model penelitian, model keputusan, model perencanaan, dan lain sebagainya.  
Bidang penerapannya : model tentang transportasi, model tentang persediaan barang, model tentang kesehatan,dan sebagainya. 
Tingkatkanya : model tingkat manejemen kantor, tingkat kebijakan nasional, kebijakan rasional, kebijakan regional, kebijakan local, dan sebagainya 
Ciri waktunya : model statis dan model dinamis. 
Bentuknya : model dua sisi, satu sisi, tiga dimensi, model konflik,dan sebagainya. 
Pengembangan analitik : tingkat dimana matematika perlu digunakan. 
Kompleksitas : model sangat terinci, model sederhana, model global, model keseluruhan, dan sebagainya. 
Formalisasi : model mengenai dimana interaksi itu telah digunakan dan hasilnya  sudah dapat diramalkan, namun secara formal perlu di bicarakan juga.
2. Tipe Tipe Proses Pengambilan Keputusan
Tipe Pengambilan adalah tindakan manejemen dalam penelitian alternatif untuk mencapai sasaran. Keputusannya di bagi 3 tipe : 

  1. Keputusan terprogram : keputusan yang berulang-ulang dan rutin, sehingga dapat di program keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manejemen tingkat bawah.
  2. Keputusan setengah terprogram : keputusan yang sebagian dapat diprogram sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagaian tidak terstruktur.
  3. Keputusan tidak terprogram : keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manejemen tingkat atas informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk di dapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemecahan Masalah
Konsumen menggunakan pemecahan masalah yang terbatas ketika mereka melakukan sedikit usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini sering dilakukan oleh konsumen ketika membeli suatu produk yang telah mereka gunakan sebelumnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi jangkauan pemecahan masalah :

  • Alternatif-alternatif dibedakan dengan cara yang relevan, misalnya pembelian rumah. 
  • Tersedianya waktu yang memadai untuk pertimbangan yang mendalam untuk membeli produk.
  • Terdapat tingkat keterlibatan yang tinggi dalam menyertai pembelian.
  • Terdapat 5 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian Motivasi merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu. 
  • Persepsi merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut. 
  • Pembentukan sikap merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka atau tidak suka seseorang akan suatu hal.
  • Integrasi merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan.
  • Pembelajaran merupakan proses belajar yang dilakukan seseorang setelah membeli produk tersebut dengan melihat apakah produk tersebut memiliki kegunaan dan akan dijadikan sebagai alternatif dalam pembelian selanjutnya.

4. Pembelian
Struktur keputusan membeli penting karena sesudah menentukan kebutuhan dan mempunyai keinginan akan produk tertentu, konsumen diharapkan untuk memunculkan keputusan untuk membeli. Ada tujuh struktur keputusan membeli yang mempengaruhi konsumen :

  • Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat memutuskan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli produk X atau tujuan lain selain melakukan pembelian.
  • Keputusan tentang jenis produk
Konsumen memutuskan untuk membeli produk X dengan bentuk tertentu (ukuran, mutu, corak,dan sebagainya).
  • Keputusan tentang merek  : Konsumen memutuskan merk yang akan diambil.
Keputusan tentang penjualan
Konsumen memutuskan dimana akan membeli ( termasuk pedagang besar, pengecer) Harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
5. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen memutuskan jumlah produk yang akan dibeli.
6. Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen memutuskan kapan harus membeli (kapan uang/kesempatan tersedia).

7. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen memutuskan mode pembelanjaan yang disukainya.
5. Diagnosa Perilaku Konsumen 
Pemahaman akan perilaku konsumen dapat diaplikasikan dalam beberapa hal,yaitu:

  1. Merancang sebuah strategi pemasaran yang baik.
  2. Perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan publik. Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket transportasi di hari raya tersebut.
  3. Pemasaran sosial (social marketing) yaitu penyebaran ide di antara konsumen.

Dengan memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang dapat menyebarkan ide dengan lebih cepat dan efektif. Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen yaitu :

  • Pendekatan pertama adalah pendekatan interpretif. Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. 
  • Pendekatan kedua adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi. 
  • Pendekatan ketiga disebut sebagai sains marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika.
  • Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen serta strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keterkaitan antara keputusan membeli, kepuasan, loyalitas, dan tanggung jawab social
3.2 Tanggung jawab terhadap Pelanggan
Tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan jauh lebih luas daripada hanya menyediakan barang atau jasa. Perusahaan mempunyai tanggung jawab ketika memproduksi dan menjual produknya, yang akan didiskusikan kemudian.
a. Praktik tanggung jawab produksi
Produk sebaiknya dihasilkan dengan cara yang menjamin keselamatan pelanggan. Produk sebaiknya memiliki label peringatan yang semestinya guna mencegah kecelakaan yag dapat ditimbulkan dari penggunaan yang salah. Untuk beberapa produk, informasi mengenai efek samping yang mungkin terjadi perlu disediakan.
b. Praktik Tanggung Jawab Penjualan
Perusahaan perlu petunjuk yang membuat karyawan tidak berani menggunakan strategi penjualan yang terlalu agresif atau advertensi yamg menyesatkan dan juga memakai survei kepuasan pelanggan untuk meyakinkan bahwa pelanggan diperlakukan dengan semestinya oleh karyawan bagian penjualan.
c. Cara Perusahaan Menjamin Tanggung Jawab Sosial kepada Pelanggan
Perusahaan dapat menjamin tanggung jawab social kepada pelanggannya dengan beberapa tahap yaitu:
  1. Ciptakan kode etik. Perusahaan dapat menciptakan kode etik bisnis yang memberikan serangkaian petunjuk untuk kualitas produk, sekaligus sebagai petujuk bagaimana karyawan, pelanggan, dan pemilik seharusnya dipelihara.
  2. Pantaulah semua keluhan. Perusahaan harus yakin bahwa pelanggan mempunyai telephone yang dapat mereka hubungi apabila mereka mempunyai keluhan mengenai kualitas produk atau bagaimana mereka diperlakukan oleh para karyawan. Perusahaan dapat berusaha mencari sumber keluhan dan harus dapat menyakinkan bahwa problem tersebut tidak timbul lagi.
  3. Umpan balik pelanggan. Perusahaan dapat meminta pelanggan untuk memberikan umpan balik atas barang atau jasa yang mereka beli akhir-akhir ini, walaupun pelanggan tidak menghubungi untuk memberikan keluhan. Proses ini dapat mendeteksi beberapa masalah lain dengan kualitas produk atau cara perlakuan terhadap pelanggan.
d. Cara Konsumerisme Menjamin Tanggung Jawab terhadap Pelanggan.
Tanggung jawab perusahaan terhadap pelanggan didorong tidak hanya oleh perusahaan, tetapi juga oleh sekelompok konsumen tertentu. Konsumerisme mewakili permintaan kolektif pelanggan dimana bisnis memenuhi kebutuhan mereka.
e. Cara Pemerintah Menjamin Tanggung Jawab terhadap Pelanggan
Sebagai tambahan dari kode tanggung jawab perusahaan dan gelombang konsumerisme, pemerintah cenderung menjamin tanggung jawab kepada pelanggan dengan berbagai hukum atas keamanan produk, iklan,dan kompetisi industry.
BAB IV
KESIMPULAN
Keputusan pembelian dalam arti yang umum adalah “a decision is the selection of an option from two or more alternative choices” yaitu suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada. Definisi keputusan pembelian menurut Nugroho (2003:38) adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya. Menurut Kotler (2005:223) tahap evaluasi alternatif dan keputusan pembelian terdapat minat membeli awal, yang mengukur kecenderungan pelanggan untuk melakukan suatu tindakan tertentu terhadap produk secara keseluruhan. Para ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan model lima tahap yaitu; Pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, perilaku pasca pembelian.
Tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan jauh lebih luas daripada hanya menyediakan barang atau jasa. Perusahaan mempunyai tanggung jawab ketika memproduksi dan menjual produknya, yang akan didiskusikan kemudian. Diantaranya meliputi Praktik tanggung jawab produksi, Praktik Tanggung Jawab Penjualan, Cara Perusahaan Menjamin Tanggung Jawab Sosial kepada Pelanggan, Cara Konsumerisme Menjamin Tanggung Jawab terhadap Pelanggan, dan  Cara Pemerintah Menjamin Tanggung Jawab terhadap Pelanggan.
Editor : Coretan Mahasiswa
Sumber : -

STRATEGI PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PROSES PRODUKSI BARANG ATAU JASA

Baca Juga

STRATEGI PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PROSES PRODUKSI BARANG ATAU JASA
MAKALAH PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PRODUKSI

1.1    Latar Belakang
Setiap organisasi perlu melakukan suatu perencanaan dalam setap kegiatan organisasinya, baik Perencanaan produksi, perencanaan rekrutmen karyawan baru, program penjualan produk baru, maupun perencanaan anggarannya. Perencanaan (planning) merupakan proses dasar bagi organisasi untuk memilih sasaran dan menetapkan bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai sebelum melakukan proses-proses perencanaan.

Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

Dan didalam organisasi proses pengawasan sangatlah penting dalam manajemen karena merupakan salah satu fungsi dalam manajemen suatu organisasi. Dimana memiliki arti proses mengawasi dan mengevaluasi suatu kegiatan. Suatu pengawasan dikatakan penting karena tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan  yang kurang memuaskan , baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya. Di dalam suatu organisasi terdapat tipe-tipe pengawasan yang digunakan, seperti pengawasan pendahuluan  (preliminary control), pengawasan pada saat kerja berlangsung ( cocurrent control), pengawasan feed back ( pengawasan feed back control).

1.2    RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari perencanaan dan pengawasan produksi?
2.      Apa manfaat dari perencanaan dan proses produksi ?
3.      Bagaimana proses pengawasan produksi?
4.      Apa tujuan dari perencanaan dan pengawasan produksi?
5.      Apa saja yang ada didalam pengawasan?
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Perencanaan & Pengendalian Produksi

Secara umum perencanaan & pengendalian produksi dapat diartikan sebagai aktivitas merencanakan dan mengendalikan material masuk, mengalir, dan keluar dari sistem produksi sehingga permintaan pasar dapat dipenuhi dengan jumlah yang tepat, waktu penyerahan yang tepat dan biaya produksi yang minimum.

Sedangakan jika kita definisikan secara terpisah akan mencakup dua aktivitas yakni :
  • Perencanaan produksi : aktivitas untuk menetapkan produk yang diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, kapan produk tersebut harus selesai dan sumber-sumber yang dibutuhkan.
  • Pengendalian produksi : aktivitas yang menetapkan kemampuan sumber-sumber yang digunakan dalam memenuhi rencana, kemampuan produksi berjalan sesuai rencana, melakukan perbaikan rencana.

Tujuan perencanaan dan pengendalian produksi
  • Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi secara efisien dan efektif
  • Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan modal seoptimal mungkin
  • Mengusahakan agar pabrik dapat menguasai pasar yang luas
  • Untuk dapat memperoleh keuntungan yang cukup bagi perusahaan.
  • Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu.
  • Memonitor permintaan yang aktual, membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpangan.
  • Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli
  • Menetapkan sistem persediaan yang ekonomis
  • Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
  • Memonitor tingkat persediaan, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan.
  • Membuat jadwal produksi, penugasan, serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci.

Tingkat perencanaan & pengendalian produksi :
1.   Perencanaan jangka panjang
Kegiatan peramalan usaha, perencanaan jumlah produk dan penjualan, perencanaan produksi, perencanaan kebutuhan bahan, dan perencanaan finansial.
2.   Perencanaan jangka menengah
Perencanaan kebutuhan kapasitas, perencanaan kebutuhan material, jadwal induk produksi, dan perencanaan kebutuhan distribusi.
3.   Perencanaan jangka pendek
Kegiatan penjadwalan perakitan produk akhir, perencanaan dan pengendalian input-output, pengendalian kegiatan produksi, perencanaan dan pengendalian purchase, dan manajemen proyek .
Perencanaan & pengendalian produksi yang dilakukan adalah mencakup beberapa aktivitas sebagai berikut :
  1. Peramalan kuantitas permintaan
  2. Perencanaan persediaan: jenis, jumlah, dan waktu
  3. Perencanaan kapasitas (Menyusun Rencana Agregat) tenaga kerja, mesin, fasilitas untuk penyesuaian permintaan dengan kapasitas. Rencana agregat bertujuan untuk membuat skenario pembebanan kerja untuk mesin dan tenaga kerja (reguler, lembur, subkontrak) secara optimal untuk keseluruhan produk dan sumber daya secra terpadu (tidak per produk).
  4. Membuat jadwal induk produksi (JIP). JIP adalah suatu rencana terperinci mengenenai “apa & berapa unit” yang harus diproduksi pada suatu periode tertentu untuk setiap item produksi. JIP dibuat dengan cara (salah satunya) memecah (disagregat) rencana agregat ke dalam rencana produksi (apa, kapan, berapa) yang akan direalisasikan.
  5. Perencanaan pembelian/pengadaan: jenis, jumlah, dan waktu
  6. Penjadwalan pada mesin & fasilitas produksi. Penjadwalan ini meliputi unrutan pengerjaan, waktu penyelesaian pesanan, kebutuhan waktu penyelesaian, prioritas pengerjaan, dsb.
  7. Monitoring aktivitas produksi
  8. Pelaporan dan pendataan
 Klasifikasi Sistem Produksi
Berdasarkan tipe produksinya  system produksi dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni:
1. Engineering To Order (ETO) 
Yaitu system produksi yang dilakukan bila pemesan meminta produsen untuk membuat produk yang dimulai dari proses perancangannya (rekayasa).
2.   Assembly To Order (ATO)
Yaitu system produksi yang dilakukan bila produsen membuat desain standard yang teridri atas beberapa komponen dan merakit (assembly) suatu kombinasi tertentu dari komponen tersebut sesuai dengan pesanan konsumen. Komponen-komponen standar tersebut bias dirakit untuk berbagai tipe produk. Contohnya adalah perusahaan mobil, dimana mereka menyediakan pilihan transmisi secara manual /otomatis, AC, Audio, Interior, dan engine khsusus dengan berbagai varian. Komponen-komponen tersebut telah disiapkan (diproduksi) terlebih sejak awal dan baru akan dirakit menjadi mobil utuh behitu ada pesanan dari agen.
3.   Make To Order (MTO)
Yaitu system produksi yang dilakukan bila produsen membuat (memproduksi) suatu produk/item “jika & hanya jika” telah menerima pesanan dari komsumen untuk produk/item tersebut.
4.   Make To Stock (MTS)
Yaitu system produksi yang dilakukan bila produsen membuat (memproduksi) produk/item sebagai suatu persediaan sebelum pesanan dari komsumen diterima.

Perencanaan dan pengendalian  Produksi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengawasan berasal dari kata “awas” yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang di awas. 

Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.

Ada beberapa pengertian pengawasan menurut para ahli diantaranya sebagai berikut :
1. George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. 
2. Robbin (dalam Sugandha, 1999 : 150) menyatakan pengawasan itu merupakan suatu proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi. 
3. Kertonegoro (1998 : 163) menyatakan pengawasan itu adalah proses melaui manajer berusaha memperoleh  keyakinan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaannya. 
4. Terry (dalam Sujamto, 1986 : 17) menyatakan Pengawasan adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tidakan korektif bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan rencana. 
5.   Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan. 
Menurut para ahli diatas, bahwa pengertian pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan merancang system informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan. Selain itu Pengawasan adalah suatu penilaian yang merupakan suatu proses pengukuran dan pembandingan dari hasil-hasil pekerjaan yang nyata telah di capai dengan hasil-hasil yang seharusnya di capai. Dengan kata lain, hasil pengawasan harus dapat menunjukkan sampai di mana  terdapat kecocokan atau ketidakcocokan serta mengevaluasi sebab-sebabnya. 
Tiga tipe dasar pengawasan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Pengawasan pendahuluan (feedforward control), atau sering disebut steering controls, dirancang untuk mengantisipasi masalah­masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan.
  2. Pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan (concurrent control), sering disebut pengawsan Ya-Tidak , screening controls atau Berhenti-Terus , d ilakukan selama suatu kegiatan berlangsung.
  3. Pengawasan umpan balik (feedback control), sering dikenal sebagai past-action controls, mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Sebab-sebab penyimpangan dari rencana atau standar ditentukan, dan penemuam-penemuan diterapkan untuk kegiatan-kegiatan serupa dimasa yang akan datang. Pengawasan bersifat historis, pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi.
Tujuan PengawasanAdapun dari tujuan pengawasan adalah :
  1. Mengetahui lancar atau tidaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan yang telah direncanakan. 
  2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat dengan melihat kelemahan-kelemahan, kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan-kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan baru. 
  3. Mengetahui apakah penggunaan fasilitas pendukung kegiatan telah sesuai dengan rencana atau terarah pada pasaran. 
  4. Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan semula. 
  5. Mengetahui apakah segala sesuatu berjalan efisien dan dapatkah diadakan perbaikan-perbaikan lebih lanjut sehingga mendapatkan efisiensi yang besar.

Fungsi pengawasan

Setelah sistem produksi dipersiapkan oleh perusahaan dengan baik, maka langkah berikutnya yang dilaksanakan perusahaan adalah melakukan kegiatan proses produksi. Kegiatan proses produksi ini merupakan aktivitas terpenting bagi perusahaan pada umumnya tentang bagaimana bahan baku (input) yang ada diproses menghasilkan produk (output) dengan spesifikasi tertentu sehingga mampu menambah faedah/ nilai suatu barang secara efektif dan efisien.

Namun demikian, sistem produksi yang baik belum tentu menghasilkan pelaksanaan proses produksi yang baik pula apabila tidak diikuti dengan pengawasan atau pengendalian proses produksi yang memadai. Artinya, dengan adanya sistem produksi yang baik serta diikuti dengan pengawasan atau pengendalian proses yang tepat, maka kelancaran pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Menurut Assauri (2008:173) pengawasan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengendalian atas kegiatan yang telah dan sedang dilakukan, agar-agar kegiatan tersebut dapat sesuai dengan apa yang diharapkan atau dirancanakan. Agar pelaksanaan pengendalian proses produksi dapat dilaksanakan dengan baik, maka yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah tentang fungsi pengendalian proses produksi itu sendiri. Menurut Ahyari (1996:4) yang dimaksud dengan fungsi pengendalian proses produksi adalah perencanaan, penentuan urutan kerja, penentuan waktu kerja, pemberian perintah kerja dan tindak lanjut dalam pelaksanaan proses produksi.

Menurut Assauri (2008: 209) untuk dapat melakukan pengawasan dengan  sempurna dan efektif, maka pengawasan produksi yang dilakukan hendaknya mempunyai fungsi sebagai berikut : 

1.   Routing
Routing adalah fungsi menentukan dan mengatur urutan kegiatan pengerjaan yang logis, sistematis dan ekonomis melalui urutan mana bahan-bahan dipersiapkan untuk diproses menjadi barang jadi. Routing merupakan fungsi teknis pertama dalam pengawasan produksi, yang menentukan dan mengatur urutan yang harus dilalui dalam suatu seri pekerjaan serta fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk tiap-tiap operasi pekerjaan. 

2.   Loading dan Scheduling
Loading merupakan penentuan dan pengaturan muatan pekerjaan (work load) pada masing-masing pusat pekerjaan (work centre) sehingga dapat ditentukan berapa lama waktu yang diperlukan pada setiap operasi tanpa adanya penundaan atau kelambatan waktu (time delay). Sedangkan scheduling merupakan pengoordinasian tentang waktu dalam kegiatan berproduksi, sehingga dapat diadakan pengalokasian bahan-bahan baku dan bahan-bahan pembantu, serta perlengkapan kepada fasilitas-fasilitas atau bagian-bagian pengolahan dalam pabrik pada waktu yang telah ditentukan.

3.   Dispatching
Dispatching meliputi pelaksanaan dari semua rencana dan pengaturan dalam bidang routing dan scheduling. Sebagian besar kegiatan dalam dispatching ini terdiri dari penyampaian perintah kepada bagian pengolahan, yang dilakukan sesuai dengan skedul dan urutan pekerjaan yang telah ditentukan.

4.    Follow-up
Follow-up merupakan fungsi penelitian dan pengecekan terhadap semua aspek yang mempengaruhi kelancaran kegiatan pengerjaan atau produksi. Follow-up mencakup usaha-usaha untuk mendapatkan bahan baku yang tidak tersedia tetapi dibutuhkan.
Pentingnya Pengawasan

Suatu organisasi akan berjalan terus dan semakin komplek dari waktu ke waktu, banyaknya orang yang berbuat kesalahan dan guna mengevaluasi atas hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang membuat fungsi pengawasan semakin penting dalam setiap organisasi. Tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya.

Ada beberapa alasan mengapa pengawasan itu penting, diantaranya :
1.      Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan baku baru. Melalui fungsi pengawasannya manajer mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan yang terjadi. 
2.   Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga. Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif. 
3.   Meminimalisasikan tinggiya kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis. 
4.   Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menen-tukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem pengawasan.
Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan koreksi perlu diambil dan kemudian pengambilan tindakan.
Teknik Pengawasan
Pencegahan daripada terjadinya penyimpangan, kekeliruan, kesalahan, kelemahan serta penyalahgunaan dan penyelewengan sangat memerlukan teknik-teknik pengawasan yang dapat dan cepat serta mampu mengendalikan.
Tehnik-tehnik pengawasan dapat dikatakan menjalankan pengawasan terhadap bidang-bidang atau bagian-bagian tertentu saja, tetapi dapat mengendalikan keseluruhan daripada pelaksanaan. Prof. Dr. Mr. S, Prajudi Atmosudirdjo, mengemukakan beberapa tehnik pengawasan yang terpenting, di antaranya adalah : 
  1. Control by exception, artinya perhatian hanya diarahkan terhadap hal-hal yang menonjol saja penyimpangannya. 
  2. Control through cost, artinya pengendalian dilakukan hanya dengan mengawasi pengeluaran- pengeluaran biaya saja. 
  3. Control through time, artinya pengawasan dilakukan hanya dengan menjaga waktu dan saat saja.  
  4. Control through main material, maksudnya pengawasan dilakukan dengan mengendalikan segala sesuatu mengenai bahan pokoknya. 
  5. Contro through key personel, yaitu pengendalian yang dilakukan dengan mengawasi orang-orang yang memegang jabatan. 
  6. Control through output, pengawasan dengan melalui hasilnya saja, tidak mau tahu caranya untuk memeperolehhasil itu. 
  7. Control through process or procedures, pengawasan yang dilakukan melalui pengendalian prosedur dan proses. 
  8. Control trough audits, adalah pengawasan yang dijalankan melalui pemeriksaan-pemeriksaan, verifikasi-verifikasi, audit-audit secara sistematis dan teratur. 
  9. Control through automatic devices, adalah cara pengawasan dengan mempergunakan pesawat-pesawat elektronik, alarm, sinyal dan sebagainya.
Metode Pengawasan
Banyak sekali metode-metode pengawasan yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan dan menilai pelaksanaan baik secara keseluruhan maupun secara bagian-bagian daripada rencana sangat banyak, di antaranya yang terpenting adalah : 
  1. Metode Observasi Langsung yaitu metode pengamatan langsung oleh atasan atau pemimpin terhadap pelaksanaan kerja yang sedang dilakukan oleh pegawai atau petugas dengan tidak mempercayakan orang lain yang akan mengamatinya. 
  2. Metode Statistik, adalah pengamatan dilakukan melalui data-data yang disusun secara statistic dan grafis. Biasanya statistik itu disusun dari data-data yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimengerti dan dipahami. 
  3. Metode Laporan artinya pengawasan itu dilakukan setelah diketahui kesalahan , kekeliruan dan penyalahgunaan dari laporan yang diterima.
Laporan ini biasanya dalam bentuk :
  • Laporan Lisan yaitu laporan melalui orang yang ditugaskan untuk mengawasi ataupun laporan dari pelaksanaan yang melakukan pekerjaan itu. Laporan ini cukup secara lisan saja, tidak perlu diterangkan dengan tulisan.
  • Laporan Tertulis, yaitu laporan yang disampaikan kepada yang berwenang dan bertanggung jawab baik oleh apengawas maupun oleh pelaksana dengan secara tertulis, tidak cukup hanya secara lisan saja.

 Sumber      : Wiwik SulyaniEditor        : Admin Coretan Mahasiswa

PAJAK, BUMI DAN BANGUNAN

1.Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perai...