BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Era globalisasi ekonomi dunia saat ini membuat
manajemen perusahaan saling bersaing dan berkompetisi dalam berbisnis.
Kompetisi yang semakin ketat ini secara langsung memberikan tekanan kepada perusahaan untuk senantiasa
meningkatkan kualitas produknya baik itu barang maupun jasa dalam upaya
meningkatkan kepuasaan pelanggan. Keberhasilan suatu perusahaan tidak dapat
dicapai begitu saja tanpa adanya usaha yang maksimal dari usaha perusahaan yang
bersangkutan. Usaha yang dapat ditempuh oleh perusahaan antara lain dengan
jalan menentukan tujuan yang pasti yang harus ditentukan dengan tepat dan
metode pencapiannya harus direncanakan serta dilakukan semestinya.
Perusahaan agar dapat mempertahankan aktivitas
operasi dan manajemen yang baik, maka harus melakukan perbaikan dari periode ke
periode. Perbaikan itu diantaranya
adalah kulitas produk, inovasi, ketepatan waktu saat produksi, dan
memangkas biaya yang tidak perlu terjadi.
Perusahaan harus memperluas pangsa pasarnya agar bisa mencapai penjualan produk
hingga ke luar negeri, dengan mengikuti standar kualitas internasional. Semakin
meningkatnya persaingan dalam dunia usaha maka semakin banyak perusahaan dituntut untuk menghasilkan
produk yang berkualitas. Bagi perusahaan yang profit oriented, laba merupakan
hal penting yang ingin dicapai perusahaan untuk mempertahankan eksistensinya.
Dengan meningkatkan kualitas dapat
menjadi kunci perjuangan hidup perusahaan. Karena, dengan meningkatnya
kualitas dapat memperbaiki keuangan perusahaan dan posisi persaingan. Hal ini
membuat perusahaan untuk tidak dapat
memilih alternatif lain selain memperbaiki kembali produk untuk menghasilkan produk yang baik
dan tetap mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Semakin meningkatnya kualitas produk maka akan
semakin memperluas daerah pemasaran dan perusahaan dapat menjadi lebih bersaing
dengan perusahaan-perusahaan lain dengan cara meningkatkan produktifitas dan
memperbaiki kualitas. Memperbaiki kualitas secara terus menerus merupakan
sesuatu yang penting dalam membangun masa depan bisnis yang berkelanjutan.
Pertanyaannya adalah bagaimana kualitas ini dapat diukur sehingga dapat
digunakan sebagai alat perencanaan, pengendalian, atau bahkan pengambilan
keputusan atas kualitas dari suatu produk yang dihasilkan. Pengukuran kualitas
melalui biaya kualitas dapat dilakukan
karena kualitas tidak hanya dapat ditentukan oleh gambaran visual bentuk
fisik saja, tetapi juga dapat dilihat dari biaya-biaya yang dilkeluarkan untuk
memperoleh produk yang berkualitas tersebut.
2.1 Rumusan Masalah
a. Bagaimana
menjelaskan konsep tentang biaya kualitas?
b. Bagaimana
menjelaskan konsep tentang produktifitas?
c. Bagaimana
menjelaskan pengukuran, pelaporan, dan
pengendalian biaya kualitas dan produktifitas?
2.2 Tujuan
a. Untuk
menjelaskan konsep tentang biaya kualitas.
b. Untuk
menjelaskan konsep tentang produktifitas.
c. Untuk
menjelaskan pengukuran, pelaporan, dan pengendalian biaya kualitas dan produktifitas.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kualitas
Definisi
kamus yang umum digunakan untuk kualitas adalah “derajat atau tingkat
kesempuranaan”dalam hal ini, kualitas adalah
ukuran relative dari kebaikan (goodness). Mendefenisikan kualitas sebagai
kebaikan merupakan makna sangat umum yang tidak dimiliki makna operasional.
Dengan kata lain, kualitas adalah kepuasan pelanggan. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan “harapan pelanggan?”
harapan pelanggan dapat digambarkan melalui atribut-atribut kualitas atau yang
sering disebut “dimensi kualitas”Jadi, produk atau jasa yang berkualitas adalah
yang memenuhi atau melebihi harapan palanggan dalam delapan dimensi berikut:
a. Kinerja:
seberapa konsisten dan seberapa baik produk tersebut dapat berfungsi
b. Aestetik:
berhubungan dengan wujud fisik dari produk, misal: gaya
c. Keberlayanan:
kemudahan dalam pemeliharan dan atau perbaikan produk
d. Fitur
(kualitas desain): karakteristik produk yang membedakannya dengan produk lain
yang sejenis
e. Keandalan:
kemungkinan bahwa produk atau jasa akan berfungsi sesuai yang diharapkan selama
jangka waktu tertentu
f. Tahan
lama: jangka waktu berfungsinya produk
g. Kualitas
kesesuaian: seberapa baik produk memenuhi spesifikasi yang diinginkan
h. Kesesuaian
penggunaan: kesinambungan produk dalam melakukan fungsi yang diharapkan.
Empat
dimensi pertama merupakan atribut kualitas yang penting, tetapi sulit untuk
diukur.Kinerja mengacu pada konsistensi dan seberapa baik fungsi-fungsi sebuah
produk. Dalam jasa, Prinsip tidak terpisahkan mengandung arti bahwa jasa
dilakukan secara langsung di hadapan pelanggan. Jadi dimensi kinerja untuk jasa
dapat didefinisikan lebih jauh sebagai atribut daya tanggap, kepastian, dan
empati. Daya tanggap (Responsiveness) adalah keinginan untuk membantu pelanggan
dan menyediakan pelayanan yang konsisten dan bersifat segera. Kepastian
(Assurance), mengacu pada pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan
mereka membangun kepercayaan dan keyakinan pelanggan. Empati berarti peduli dan
memberikan perhatian individual terhadap pelanggan. Estetika sehubungan dengan
penampilanwujud produk (misalnya, gaya dan keindahan) serta penampilan
fasilitas, peralatan, pegawai, dan materi komunikasi yang berkaitan dengan
jasa. Kemudahan perawatan dan perbaikan berkaitan dengan tingkat
kemudahanmerawat dan memperbaiki produk. Fitur (kualitas desain) adalah
karakteristik produk yang berbeda dari produk produk sejenis yang fungsinya
sama. Misalnya,fungsi mobil adalah sebagai alat transportasi. Namun, sebuah
mobil dilengkapi dengansebuah mesin empat silinder, transmisi manual, tempat
duduk dari vinyl,tempat duduk untuk empat penumpang, dan rem pada roda
depan, sementara mobil
lainnya mungkin dilengkapi dngan mesin enam silinder, transmisi otomatis,
tempat duduk kulit, tempat duduk untuk
enam penumpang, dan rem cakram antikejut. Demikian juga, penerbangan kelasutama
dan kelas ekonomi mencerminkan perbedaan kualitas desain. Penerbangan kelas
utama, misalnya, menawarkan tempat kaki yang lebih lapang, makanan yang lebih
baik dan tempat duduk yang lebih mewah.Tentu saja dalam kedua contoh diatas
menggambarkan perbedaan dalam fitur-fitur penduduk. Kualitas desain yang lebih
baik biasanya tercermin pada biaya produksi yang lebih tinggi. Kualitas desain
membantu erusahaan menetukan asarnya. Terdapat pasar baik untuk mobil empat
silinder serta penerbagan serta penerbanngan kelas utama dan kelas ekonomi.
Keandalan
adalah probabilitas produk atau jasa menjalankan fungsi seperti yang
dimaksudkan dalam jangka waktu tertentu tahanlama didefinisikan sebagai jangka
waktu produk dapat berfungsi. Kualitas kesesuaian adalah ukuran mengenai apakah
sebuah produk telah memenuhi spesifikasinya atau tidak sebagai contok
spesifikasi dari sebuah mein adalah memiliki lubang berdiameter 3 inci dengan
tingkat kesalahan lebih kurang 1/8 inci. Bagian yang berada dalam
batasan-batasan ini disebut bagian yang memenuhi tigkat kesesuaiannya.
Kecocokan penggunaan adalah kecocokan dari sebuah produk menjalani
fingsi-fungsi sebagai mana yang di iklankan. Jika sebuah produk mengandung
cacat desain yang parah, maka produk tersebut dianggap gagal, meskipun tingkat
kesesuaiannya sesuai dengan spesifikasinya. Produk yang ditarik
kembali seringkali disebabkan oleh adanya masalah dalam dimensi kecocokan
penggunaan.
Dengan
demikian, perbaikan kualitas berarti perbaikan pada satu atau lebih dari
delapan dimensi tersebut di atas. Sambil tetap mempertahankan kinerja dimensi
lainnya. Menyediakan produk yang lebih baik kualitasnya daripada pesaing
berarti mengungguli produk pesaing dalam setidaknya satu dimensi sementara
kinerja dimensi lainnya tetap setara. Meskipun kedelapan dimensi tersebut
penting dan mampu mempengaruhi kepuasan pelanggan, namun atribut kualitas yang
dapat diukur cenderung lebih mendapat perhatian teingkat kesesuaian, terutama adalah
dimensi yangmendapat perhatian paling besar, Bahkan banyak pakar kualitas
percaya bahwa “kualitas adalah kesesuaian” (Quality is compermance) merupakan
definisi operasional yang terbaik, Sikap ini didasarkan pada beberapa
logika.Spesifikasi produk harus secara eksplisit mempertimbangakan beberapa hal
seperti kandalan, durabilitas, kecocokan penggunaan, dan kinerja. Secara
inflisit, produk yang dapat memenuhi tingkat kesesuaiannya adalahproduk yang
andal, tahan lama, bernanfaat, dan berkinerja baik. Produk tersebut harus
dibuat menurut spesifikasi desainnya.Kesesuaian adalah dasar untuk
mendefinisikan apa yang disebut produk yang tidak sesuai (noncompormance) atau
produk cacat (detective).
Produk
cacat adalah produk yang tidak sesuai dengan spesifikasinya. Cacat 0 (Zero
defect) berarti semua produk yang diproduksi sesuai dengan spesifikasinya.
Tetapi, apa yang dimaksud dengan produk yang “produk yang sesuai dengan
spesifikasinya’? pandangan tradisioanal mengenai kesesuaian mengasumsikan bahwa
terdapat rentang nilai yang dapat diterima bagi setiap karakteristik spesifikasi
atau kualitas. Nilai target ditetapkan dan batas atas serta batas bawah
ditentukan agar diperoleh penyimpangan produk yang bisa diterima untuk suatu
karakteristik kualitas yang ditentukan. Setiap produk yang berada didalam batas-batas yang
telah ditentukan dianggap sebagai produk tanpa cacat (nondevective), sebagai
contoh, kemampuan menghasilkan putaran waktu yang tepat dalam satu bulan tanpa
terlambat atau lebih cepat satu menitpun mungkin adalah nilai target untuk
sebuah jam, dan setiap jam yang menghasilkan putaran dalam tentang selalu
lambatatau terlalu cepat dua menit dalam satu bulan dianggap dapat diterima. Di
lain pihak, penganut pandangan
kualitas kokoh mengenai kesesuaian lebih menekankan pada kecocokan penggunaan.
Kekokohan berarti selalu memenuhi nilai target. Dalam pandangan ini tidak
dikenal rentang variasi yang bisa diterima. Jam tanpa cacat menurut pandangan ini
adalah jam yang tidak mengalami keterlambatan atau kecepatan waktu bahkan satu
menitpundalam satu bulan. Oleh karena telah terbukti bahwa variasi produk dapat
menjadi beban bagi perusahaan, maka definisi kualitas kokoh mengungguli
definisi tradisional.
2.2 Definisi Biaya
Kualitas
Kegiatan
yang berhubungan dengan kualitas adalah kegiatan yang dilakukankarena mungkin
atau telah terdapat kualitas yang buruk. Biaya-biaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut disebut
biaya kualitas. Jadi,biaya kualitas adalah biaya-biaya yang timbul karena
mungkin atau talah terdapat produk yangburuk kualitasnya. Definisi ini
mengimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan dua subkategori dari
kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kualitas : Kegiantan pengendalian dan
kegiatan karena kegagalan.
Kegiatan
pengandalian dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mencegah atau mendeteksi
kualitas yang buruk (karena kualitas yang buruk mungkin terjadi). Jadi,
kegiatan penendalian terdiri dari kegiatan-kegiatan pencegahan dan penilaian.
Biaya
pengendalian adalah biaya-biaya yng dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan
pengendalian. Kegiatan karena kegagalan dilakukan oleh perusahaan atau oleh
pelanggannya untuk merespon kualitas yang buruk (kualitas buruk memang telah
terjadi). Jika respons terhadap kualitas yang buruk dilakukan sebelum produk
cacat ( tidak memiliki kesesuaian, tidak bisa di andalkan, tidak tahan lama,dan
seterusnya sampai ke pelanggan, maka kegiatannya diklasifikasikan sebagai
kegiatan kegagalan internal.Sebaliknya, jika respons muncul setelah produk
sampai ke pelanggan, maka kegiatannya diklasifikasikan sebagai kegagalan
eksternal. Biaya kegagalan (failure cost) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan karena telah terjadi kegiatan karena kegagalan.
Empat
kategori biaya kualitas adalah sebagai berikut:
a. Biaya pencegahan
terjadi untuk mencegah
kualitas yang buruk pada produk atau jasa yang dihasilkan. sejalan dengan peningkatan biaya
pencegahan, kita mengharapkan biaya kegagalannya turun. Contoh dari biaya
pencegahan adalah biaya rekayasa kualitas, program pelatihan kualitas,
perencanaan kualitas, pelaporan kualitas, pemilihan dan evaluasi pemasok, audit
kualitas, siklus kualitas, uji lapangan, dan peninjauan desain.
b. Biaya penilaian
terjadi untuk menentukan
apakah produk dan jasa telah sesuai dengan persyaratan atau kebutuhan
pelanggan. Contoh biaya ini termasuk biaya pemeriksaan dan pengujian bahan
baku, pemeriksaan kemasan, pengawasan kegiatan penilaian, penerimaaan produk,
penerimaan proses, peralatan pengukuran (pemeriksaan dan pengujian) dan
pengesahan dari pihak luar. Dua dari istilah istilah tersebut membbutuhkan
penjelasan lebih lanjut.
·
Penerimaan produk (product acceptance) meliputi pengambilan
sampel dari batch barang jadi untuk menentukan apakah telahmemenuhi standar
kualitasnya bisa memenuhi, produk diterima.
·
Penerimaan proses (process acceptance) meliputi penarikan sampel
barang dalam proses untuk mengetaahui apakah prosesnya berada dalam kendali dan
memproduksi barang tanpa cacat; bila tidak, proses akan dihentikan dan menunggu
sampai tindakan perbaikan dilakukan.
·
Tujuan utama dari fungssi penilaian adalah untuk mencegah
disampaikannya barang cacat kepada pelanggan.
c. Biaya kegagalan
internal
Terjadi karena produk
dan jasa yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan
pelanggan. Ketidak sesuaian ini dideteksi sebelum dikirim kepihak luar. Ini
adalah kegagalan yang dideteksi oleh kegiatan penilaian. Contoh dari biaya
kegagalan internal adalah sisa bahan, pengerjaan ulang, penghentian mesin (
karena adanya produ buruk yang dihasilkan oleh mesin tersebut), pemeriksaan
ulang, penngujian ulang, dan perubahan desain, biaya biaya diatas tidak akan
terjadi apabila tidak ada produk cacat.
d. Biaya kegagalan
eksternal
Terjadi karena produk
dan jasa yang dihasilkan gagal memenuhui persyaratan atau tidak memuaskan
kebutuha pelanggan setelah produk disampaikan kepada pelanggan. Dari semua
biaya-biaya kualitas, kategori biaya ini dapat menjadi yang paling merugikan.
Biaya penarikan produk dari pasar, misalnya bisa mencapai ratusan juta dolar.
Contoh lainnya termasuk biaya kehilangan penjualan karena kinerja produk yang
buruk serta retur dan potongan penjualan karena kualitas yang buruk, biaya garansi,
perbaikan, tanggung jawab hukum yang timbul, ketidakpuasan pelanggan, hilangnya
pangsa pasar, dan biaya untuk mengatasi keluhan pelanggan. Biaya kegagalan
eksternal, seperti juga biaya kegagalan internal, hilang jika tidak ada produk
yang cacat.
2.3 Pengukuran Biaya Kualitas
Biaya kualitas dapat dilihat dari data yang tersedia
dalam catatan akuntansi perusahaan (observable costs), namun ada biaya-biaya
kesempatan yang muncul sebagai akibat adanya kualitas yang buruk dan tidak
terdapat dalam catatan akuntansi (hidden costs). Ada tiga metode yang dapat
digunakan untuk mengestimasi biaya kualitas yang tersembunyi, yaitu:
1.
Metode Multiplier (Multiplier Method)
Metode yang
mengasumsikan bahwa biaya kegagalan total merupakan perkalian dari beberapa
biaya kegagalan.
Biaya kegagalan
eksternal total = k(biaya kegagalan total yang terukur), dimana k = efek
pengganda.
2.
Metode Penelitian Pasar (Market Research
Method)
Metode ini menggunakan
metode penelitian pasar yang formal untuk menilai pengaruh kualitas yang rendah
terhadap penjualan dan pangsa pasar. Misal: melalui survey pelanggan dan
wawancara dengan tenaga penjualan perusahaan.
3.
Fungsi Kerugian Kualitas Taguchi
(Taguchi Loss Function Function)
Metode ini
mengasumsikan bahwa variasi dari suatu nilai target dalam suatu karakteristik
kualitas dapat menyebabkan biaya kualitas tersembunyi.
Dimana:
k = konstanta terkait dengan struktur biaya
kegagalan eksternal
y = nilai aktual dari karakteristik kualitas
T = nilai target dari karakteristik kualitas
L = kerugian atas kualitas
Ini bearti bahwa kita
harus mengestimasi kerugian akibat deviasi dari nilai target. Salah satu dari
dua metode pertama, metode pengali atau metode penelitian pasr, dapat digunakn
untuk membatu estimasi ini (penilaian
pada satu titik waktu diperlukan). Jika k diketahui, maka biaya kualitas
tersembunyi bila diestimmasi untuk setiap tingkat penyimpangan dari nilai
target.
2.4 Pelaporan
Informasi Biaya Kualitas
Sebuah
sistem pelaporan biaya kualitas memiliki arti penting bagi perusahaan yang
menaruh perhatian serius terhadap perbaikan
dan pengendalian biaya kualitas.
a. Laporan biaya kualitas
Pentingnya
biaya kualitas terhadap segi keuangan perusahaan dapat lebih mudah dimulai
dengan menampilkan biaya-biaya kualitas sebagai presentasi dari penjualan
aktual.
b. Fungsi biaya kualitas: pandangan
kualitas yang dapat diterima
Pandangan
kualitas yang dapat diterima mengasumsikan bahwa terdapat perbandingan berbalik
antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan. Ketika biaya pengendalian
meningkat, biaya kegagalan seharusnya turun. Selama penurunan biaya kegagalan
lebih besar daripada kenaikan biaya pengendalian,perusahaan harus terus
meningkatkan usahanya untuk mencegah atau mendeteksi unit-unit yang tidak sesuai.
1. Fungsi biaya Kualitas:
Pandangan Cacat Nol
Model
cacat nol menekankan pada biaya kualitas dan potensi penghematan dari upaya
yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas.
Strategi
pengurangan biaya kualitas yang direkomendasikan oleh amerika Society for
Quality Control:
Srategi
untuk menekan biaya kualitas adalah cukup sederhana: (1) lakukan serangan
langsung terhadap biaya kegagalan untuk memaksanya menuju titik nol; (2)lakukan
inventasi pada kegiatan pencegahan yang “tepat” untuk menghasilkan perbaikan;
(3) kurangi biaya penilaian sesuai dengan hasil yang dicapai; dan (4) melakukan
efaluasi secara berkelanjutan dan arahkan kembali upaya pencegahan untuk
mendapatkan perbaikan lebih lanjut. Strategi ini didasarkan pada premis bahwa:
Dalam setiap kegagalan selalu ada
akar penyebabnya.
Penyebab dapat dicegah.
Pencegahan selalu lebih murah
Kemampuan
untuk menekan total biaya kualitas secara dramatis pada seluruh kategori ini di
peroleh melalui berbagai
pengalaman nyata. Sebagai contoh, perusahaan Tennant,
selama periode delapan tahun, mengurangi biaya kualitasnya dari 17 persen dari
penjualan menjadi 2,5 persen dari penjualan, dan pada saat yang sama, mengubah
secara nyata distribusi relative kategori biaya kualitasnya. Pada awalnya,
biaya kegagalan adalah 50 persen dari total biaya kualitas( 8,5 persen dari
penjualan) dan biaya pengendalian juga 50 persen dari total biaya kualitas (8,5
persen dari penjualan). Ketika tingkat 2,5 persen tercapai, biaya kegagalan
turun menjadi 15 persen dari total biaya kualitas ( 0,375 persen dari
penjualan) dan biaya pengendalian meningakat menjadi 85 persen dari total biaya
( 2,125 persen dari penjualan). Tennant berhasil meningkatkan kualitas dan
menekan biaya kualitas di setiap kategori, serta secara keseluruhan memindahkan
distribusi biaya kualitas ke kategori pengendalian dengan lebih menekankan pada
pencegahan. Hasil ini membantah model biaya kualitas tradisional yang
digambarkan dalam tampilan 11-5. Menurut model tradisional, total biaya
kualitas hanya bisa di tekan melalui pertukaran(Trade-off)antara biaya
pengendalian dan biaya kegagalan (menambah yang satu ketika mengurangi yang
lain). Dukungan lebih lanjut terhadap model pengendalian kualitas total
disediakan oleh Westinghouse
Electric. Sama seperti tennant
,Westinghouse Electricmenentukan bahwa laba perusahaan terus mengalami
peningkatan hingga biaya pengendalian mencapai 70 hingga 80 persen dari total
biaya kualitas. “ Berdasarkan pengalaman kedua perusahaan tersebut, diketahui
bahwa mengurangi total biaya kualitas--dalam semua
kategori—secara signifikan adalah memungkinkan, bahwa prosesnya akan mengubah
secara radikal distribusi relatifkategori biaya kualitas.
d. Manajemen Berbasis Kegiatan Dan
Biaya Kualitas Optimal
Manajeman
berbasis kegiatan (actifity-besed management-- ABM) mengklasifikasikan berbagai
kegiatan sebagai bernilai tambah dan tidak bernilai tambah serta hanya
mempertahankan kegiatan-kegiatan yang memberikan nilai tambah. Prisip ini dapat
diaplikasikan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kualitas.
Kegiatan-kegiatan kegagalan dan penilaian serta biaya-biaya yang
terkait tidak menghasilkan nilai tambahdn harus di hilangkan. Kegiatan
pencegahan yang dilakukan secara efesien dapat diklasifikasikan sebagai
kegiatan bernilai tambah dan perlu di pertahankan. Meskipun demikian, pada
awalnya kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien, dan
pengurangan kegiatan pencegahan mungkin tidak dilakukan secara efesien, dan
pengurangan kegiatan serta pemilihan kegiatan ( atau mungkin bahkan pembagian
kegiatan) dapat digunakan untuk mencapai sasaran nilai tambah yang diinginkan.
Grede Found ries Inc. Di Milwaukee, perusahaan peleburan besi terbesar di
dunia, telah menelusuri ke 4 kategori biaya kualitas selama lebih dari 15
tahun. Akan tetapi, perusahaan kersebut tidak melaporkan biaya pencegahan
sebagai bagian dari angka biaya kualitas akhirnya karena perusahan tidak ingin
para manejer mengurangi biaya kualitas dengan memotong kegiatan pencegahan.
Perusahaan yakin bahwa perusahaan uang untuk kegiatan pencegahan akan diberi
hasil yang baik. Sebagai contoh perusahaan menemukan bahwa pengurangan 1% dari
sisa bahan baku dapat mengurangi kegagalan eksternal hingga sekitar 5% .
Setelah berbagai
kegiatan untuk masing-masing kategori didentifikasi, pendorong timbulnya
penggunaan sumber daya ( Resource drivers) dapat digunakan untuk memperbaiki
pembagian biaya kepada masing –masing kegiatan.pendorong (biaya) akar juga
dapat diidentifikasi, kususnya untuk kegiatan-kegiatan yang gagal, dan berguna
untuk membantu para menejer memahami hal-hal yang menyebabkan biaya
kegiatan.informasi ini selanjutnya dapat digunakan untuk memilih cara
mengurangi biaya kualitas sampai ke tingkat tertentu . Hasilnya, manajemen
berbasis kegiatan (ABN) mendukung pandangan cacat nol robust mengenai biaya
kualitas. Tidak ada perbandingan terbalik optimal antara biaya pengendalian dan
biaya kegagalan; biaya kegagalan adalah biaya yang tidak menghasilkan nilai tambah
dan karena itu harus dikurangi sampai nol. Beberapa kegiatan pengendalian
tiadak menawarkan nilai tambah dan karena itu harus dihilangkan. Kegiatan
pengendalian lainnya mengasilkan nilai tambah tetapi mungkin dijalankan dengan
tidak efesien, dan biaya yang disebabkan oleh kegiatan yang tidak efesien
adalah tidak bernilai tambah. Jadi, biaya untuk kategori –kategori tersebut
juga dapat dikurangi ketingkat yang lebih rendah.
e. Analisi Tren
Laporan biaya kualitas
menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas diantara ke 4 kategori,
sehingga menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Setelah ukuran-ukuran
peningkatan kualitas ditentukan, adalah hal yang penting bagi perusahaan untuk
menentukan apakah biaya kualitas telah berkurang sebagai mana yang
direncanakan. Laporan biaya kualitas tidak akan memperlihatkan apakah perbaikan
telah menjadi atau tidak. Akan berguna bagi perusahaan untuk mendapatkan
gambaran mengenai bagaimana keberhasilan program perbaikan kualitas sejak
diterapkan. Apakah tren multi
periode-perubahan keseluruhan dalam biaya kualitas—bergerak kearah yang
tepat? Apakah peningkatan kualitas yang dihasilkan dari waktu kewaktu cukup
signifikan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan
menggunakan bagan atau grafik tren yang menggambarkan perubahan biaya kualitas
dari waktu kewaktu. Grafik demikian disebut laporantren kualitas multi
periode (Multiple-Period
Kuality Trend Resport). Dengan
menggambarkan biaya kualitas sebagai persentase dari penjualan, makan keseluruhan
tren program kualitas dapat dinilai. Tahun pertama yang digambarkan adalah
tahun sebelum implementasi program perbaikan kualitas.
2.5 penggunaaan
informasi biaya kualitas
Tujuan utama dari
pelaporan biaya kualitas adalah untuk memperbaikai dan mempermudah perencanaan,
pengendalian, dan pengabilan keputusan manajerial. Sebagai contoh dalam
memutuskan pengimplementasian program seleksi pemasok guna memperbaiki kualitas
bahan baku, seorang manajer memerlukan penilaian terhadap biaya kualitas saat
ini menurut bagian dan kategori, penilaian biaya tamahan yang dibutuhkan
berkaitan deng program tersebut, dan penilaian terhadap proyeksi
penghematan menurut jenis
dan kategori. Selain itu, perlu juga dibuat proyeksi kapan biaya dan penghematan ttersebut
akan terjadi. Setelah dampak-dampak tunai diproyeksikan, maka analisis
penggaran modal dapat dilakukan untuk menilai manfaat program yang diusulkkan.
Jika hasilnya menguntungkan dan program mulai dijalankan, maka menjadi penting
untuk memantau program dengan menggunakan pelaporan kinerja sstandar.
Pengguanaan informasi
biaya kualitas untuk keputusan keputusan implementasi program kualitas dan
untuk mengevaluasi efektivitas program tersebut, setelah diimplementasikan,
hanya merupakan salah satu potensi penggunaan dari sistem biaya kualitas.
2.6 produktivitas :
pengukuran dan pengendalian
Produktivitas
berkaitan dengan memproduksi output secara efisien dan secara spesifik, mengacu
pada hubungan antara output dan input yang digunakan untuk memproduksi
output. Efisiensi produktif
total adalah Suatu titik dimana dua kondisi terpenuhi: (1) pada setiap bauraan
input untuk memproduksi output tertentu, tidak satu input pun yang
digunakan lebih dari yang diperlukan untuk menghasilkan output dan (2) atas
bauran bauran yang memenuhi kondisi pertama, dipilih bauran dengan biaya
terendah.
a. Pengukuran produktivitas parsial
1.
pengukuran produktivitas
Pengukuran produktivitas adalah penilaian kuantitatif atas
peerubahan produktivitas. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menilai apakah
efisiensi produktif telah meningkat atau menurun. Pengukuran produktivitas
dapat berupa aktual atau prospektif. Pengukuran produktivitas aktual
memungkinkan manajer untuk menilai, memanatau dan mengendalikan perubahan.
Pengukuran prospektif melihat kemasa depan dan berguna sebagai input bagi
pengambilan keputusan strategis.
2.
Definisi pengukuran produktivitas parsial
Pengukuran produktivitas parsial disebut juga dengan pengukuran
produktivitas untuk satu input pada suatau waktu. Produktivitas dari satu input
tunggal biasanya diukur dengan menghitung rasio output terhadap input:
Rasio produktivitas =
output/input
3. Keunggulan ukuran parsial
Ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memfokuskan
perhatiannya pada penggunaan tertentu. Penggunaan pengukuranparsial memiliki
keunggulan, yaitu mudah diinterpretasikan oleh semua pihak didalam perusahaan,
sehingga ukuran tersebut mudah digunakan untuk menialai kenerja produktivitas
dari karyawan operasional.
4. Kelemahan ukuran parsial
Adanya kemungkinan terjadinya trade off, menyebabkan perlu
adanya ukuran produktivitas total untuk menilai kelebihanberbagai keputusan
produktivitas.
Adanya kemungkinan terjadiya trade off, maka ukuran
produktivitas total harus mempertimbangkan konsekuensi keuangan agregat dan
oleh karena ituharuslah dalam bentuk sebuah ukuran keuangan.
b. Pengukuran produktivitas total
Pengukuran
produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total.
Pengukuran produktivitas total dapat didefinisikan sebgai pemokusan perhatian
pada beberapa input yang secara total, menujukkan keberhasilan perusahaan.
·
Pengukuran profil produktivitas
Pengukuran profil
menyediakan serangakain atau sebuah vektor ukuran operasionla parsial yang
berbeda dan terpisah. Profil dapat dibandingkan dari waktu ke waktu untuk
memberikan informasi mengenai perubahan produktivitas.
2.7 kualitas dan
produktivitas
Meningkatkan kualitas akan meningkatkan produktivitas, begitu pula
sebaliknya. Karena sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan untuk memproduksi
dan menjual output perusahaan, maka produktivitas
akan meningkat. Peningkatan kualitas biasanya akan tercermin dalam ukuran produktivitas.
Namun, dimungkinkan suatu kondisi perusahaan menghasilkan produk yang hanya memiliki sedikit
kerusakan atau tidak ada cacat sama sekali tetapi
memiliki proses yang tidak efisien. Untuk meningkatkan efisiensi, proses
manufaktur hendaknya didesain ulang. Dengan proses yang efisien, akan
dihasilkan lebih banyakoutput dengan input yang lebih sedikit. Untuk
meningkatkan kualitas dan produktivitas, saat ini banyak perusahaan yang
menawarkan gain sharing, yaitu insentif berupa kas yang diberikan kepada
paramanajer dan karyawan jika target kualitas dan produktivitas terpenuhi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Biaya
kualitas merupakan biaya yang bisa lebih besar dari estimasi karena kurang
pengetahuannya seorang manager dalam menganalisis biaya kualitas. Dengan
mempelajari dan mengaplikasikan system informasi biaya kualitas, diharapkan
seorang manager nantinya mampu mengestimasi biaya kualits dengan baik. Dalam
suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi akan lebih efisien biaya
jika seorang manager / akuntannya sudah mampu menelusuri biaya kualitas yang
tersembunyi maupun yang tidak tersembunyi. Informasi biaya kualitas dapat
berguna untuk seorang manajer dalam pengambilan keputusan, mengevaluasi kinerja
program peningkatan kualitas
secara menyeluruh dan membantu
perbaikan berbagai keputusan manajerial. Karena begitu pentingnya biaya
kualitas wajib bagi sebuah perusahaan untuk menelusuri biaya kualitasnya.
Selain pentingnya biaya kualitas, perusahaan juga harus memperhatikan hubungan
output maupun input dalam sebuah kegiatan produktivitas. Karena akan
mempengaruhi harga, laba usaha, dan insentif bagi karyawan. Pengukuran
produktivitas untuk satu input pada suatu waktu disebut pengukuran
produktivitas parsial. Sedangkan,
pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total. Dengan adanya kombinasi
antara biaya kualitas dan produktifitas maka
perusahaan akan mampu
mengalokasikan biaya-biaya secara efektif dan efisien.
Sumber : Anggraini Sinta P.
Editor : Admin Coretan Mahasiswa